Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Mendaftarkan Kirei


__ADS_3

Tiba-tiba saja Kirei langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan langsung memeriksa cincin di tanganku saat itu, hingga tidak lama dia langsung menutup mulutnya dengan kaget dan seperti orang yang benar-benar aneh sekali.


Entah apa yang membuatnya sampai sekaget itu ketika melihat cincin yang di berikan oleh tuan Arfanka kepadaku ini.


Saat itu tentu saja aku juga merasa sangat heran dengan apa yang diperlihatkan oleh Kirei kepadaku, dia terlihat sangat kaget dan malah tersenyum kecil menatapku dengan sangat lekat kepadaku saat itu seperti tengah menyelidiki sesuatu dariku saat itu, padahal aku hanya memakai sebuah cincin saja tetapi dia sudah menatapku seperti itu membuat aku merasa semakin heran kepadanya.


"Kau..kenapa kamu malah memberikan tatapan seperti itu pada kakak, memangnya apa salah kakak kepadamu?" Tanyaku kepadanya saat itu.


"Kak...ayolah kamu harus sadar bahwa tuan Arfanka itu pasti dia sangat menyukai kamu sejak awal kenapa kamu malah memilih pergi dari sampingnya, padahal dia sudah sangat baik membantumu selama ini bukan?" Ucap Kirei kepadaku saat itu.


Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada saat ini dan aku juga baru tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Kirei saat ini, setelah aku memikirkan semuanya lagi, aku mulai tahu bahwa apa yang dia katakan itu memang benar, bisa saja tuan Arfanka benar-benar sangat menyukai aku karena dia selalu bersikap baik padaku padahal sudah cukup jelas dia bukanlah orang baik di mata orang lain.


Bahkan dia juga tidak mudah dekat dengan siapapun selain itu dia juga sudah menyatakan cintanya padaku, hanya saja selama ini justru malah aku sendiri yang terus saja merasa ragu kepadanya, aku ragu karena dia bukan orang yang sama denganku, dia kata raya dan sangat dikagumi banyak orang, sedangkan aku berasal dari keluarga yang sangat kacau, ibuku seperti itu dan semua orang mengetahuinya, begitu juga dengan adik laki-lakiku dia juga sama sekongkol dengan ibuku dan kami tidak bisa lagi berhubungan dengan mereka berdua.


Aku sungguh tidak bisa berbicara lagi saat itu terus termenung dan diam terus saja memikirkan semua yang dikatakan oleh adikku Kirei saat itu.


Sampai tidak lama Kirei kembali mengajak aku bicara lagi dan dia mulai menyadarkan aku lagi saat itu.


"Kak....kak...kak Klara...kak ada apa denganmu kak!" Ucap Kirei menyadarkan aku dengan cepat saat itu juga.


"Aahh... Kirei kakak baik-baik saja kok," ucapku kepadanya sambil tersenyum pada dia saat itu.


Kirei semakin mendekati aku dan dia memeluk tanganku dengan erat saat itu dia mulai bicara dengan pelan sambil menenangkan aku dan memberikan solusi yang tengah aku pikirkan dan membuat aku bimbang sedari tadi, seakan dia mengetahui apa yang sebenarnya tengah mengganggu pikiranku sejak tadi, dia memang adik yang sangat pengertian sekali kepadaku dan aku sangat menyayangi dia dibandingkan apapun dalam dunia dan hidupku.


"Kak....jika kakak ragu dan terus memikirkan tentang tuan Arfanka itu, aku rasa kakak lebih baik menerimanya, meski tuan Arfanka itu sudah memiliki tunangan tetapi bukan berarti tuan Arfanka menyukai tunangannya itu, dia tetap menyukai kakak, dan kakak tahu kan bagaimana perasaan tuan Arfanka disaat kakak malah pergi memilih dengan adik angkatnya, dia pasti akan sangat terluka, dan adiknya itu juga belum tentu bisa sebaik dan setulus tuan Arfanka yang sudah kakak kenal lebih dulu dan kakak rasakan kebaikannya. Jika kakak mencintai seseorang maka kakak harus berani untuk memperjuangkan cinta itu, jangan hanya menyerah begitu saja," ucap Kirei membuat aku mulai merasa yakin dengan perlahan.


Aku mulai tersadar sekarang dan aku sudah menekad kan diriku sendiri bahwa mulai saat ini, aku akan lebih mengutamakan kebahagiaan aku di bandingkan apapun dan aku akan memperjuangkan orang yang aku sukai.


"Baiklah Kirei kamu memang benar dan terimakasih karena kamu sudah menyadarkan kakak, kakak benar-benar menyayangimu dan merasa sangat beruntung memiliki kamu selama ini," ucapku kepada Kirei sambil membalas pelukannya saat itu.


"Kak...aku juga sangat menyayangimu dan aku begitu bersyukur memiliki sosok kakak yang begitu luar biasa seperti kamu," balas Kirei kepadaku.


Aku mulai membawa Kirei untuk masuk ke kamar dan kami menyiapkan tempat tidur bersama, kami bisa kembali merasakan tidur bersama dan bisa terus saja saling memeluk satu sama lain, saling menyayangi dan sudah saling melindungi selama ini, aku bahkan tidak akan pernah membiarkan siapapun mencoba untuk menyakiti Kirei lagi bahkan jika taruhannya adalah nyawaku sendiri maka aku akan memberikannya hanya demi Kirei seorang.

__ADS_1


Setelah Kirei tidur malam ini, aku segera pergi mencari informasi sekolah tersebut yang ada di sekitar sana agar aku bisa kembali memasukkan Kirei ke sekolah dan dia bisa kembali duduk di bangku sekolah dan belajar dengan normal layaknya siswa SMP lainnya.


Dia masih cukup muda dan masih harus memiliki banyak pertemanan dengan semua orang, dia harus bisa merasakan indahnya masa sekolah dan belajar untuk meraih mimpinya aku akan selalu mendukung apapun yang dia impikan, dan untungnya di sekitar sini memang terdapat sekolah yang cukup bagus aku bisa mendaftar Kirei ke sana nantinya.


Selain itu aku juga mencoba untuk mencari lowongan kerja agar aku bisa kembali menghasilkan uang untuk membiayai semua kebutuhan Kirei juga kebutuhan hidupku selama ini, selain itu aku juga masih harus membayar biaya sewa apartemen ini juga termasuk untuk membayar hutang yang masih ada pada Kevin selama ini.


Setelah mendapatkan beberapa toko swalayan dan beberapa tempat lain untuk aku bisa melamar pekerjaan nantinya, barulah aku segera pergi tidur dan beristirahat tepat di samping Kirei saat ini.


"Kirei kakak akan memperjuangkan masa depanmu karena dulu kakak pernah gagal maka kamu jangan pernah merasakan apa yang kakak rasakan," ucapku sambil mengusap lembut kepala Kirei dan mengecup keningnya pelan.


Barulah saat itu aku bisa tertidur dengan nyaman dan menarik selimutku dengan cepat.


Sampai ke esokan paginya aku sudah bangun lebih awal segera membangunkan Kirei dan mengajaknya untuk pergi melakukan pendaftaran ke sekolah baru yang akan dia pakai untuk menuntut ilmu ke depannya nanti.


"Kak ayo aku sudah siap," ucap Kirei yang sudah mengganti pakaiannya.


Aku mengangguk kepadanya dan kami segera pergi dari sana menuju ke sekolah, semua rencanaku berjalan dengan lancar hingga ketika kami baru saja keluar dari sekolah aku berpapasan dengan tuan Arfanka secara tidak disengaja saat itu, tetapi ada dua hal yang membuat aku aneh, pertama tiba-tiba tuan Arfanka muncul dari belakangku saat itu disaat aku berjalan menyusuri jalan baru saja keluar dari sekolah dengan Kirei dan yang kedua dia mengetahui bahwa saat itu aku baru saja mendaftar Kirei ke sekolah.


"Tuan? Kenapa anda bisa ada disini?" Tanyaku penuh dengan keheranan dan mengerutkan kedua alisku saat itu.


"Ohh..tadi aku tidak sengaja lewat dan melihatmu di pinggir jalan jadi aku menghentikan mobilku disana dan berlari untuk menghentikanmu sekarang, kamu pasti baru dari sekolah kan, wahh.... Aku turun senang sekarang Kirei sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala lagi." Ucap tuan Arfanka yang semakin membuat aku menaruh banyak curiga kepadanya.


"Tunggu tuan darimana kamu tahu bahwa aku baru saja keluar dari sekolah? Bukannya tadi kamu bilang melihat aku di pinggir jalan?" Tanyaku kepadanya dengan tatapan yang semakin tajam.


Tuan Arfanka terlihat cukup gugup karena hampir saja dia akan ketahuan bahwa selama ini secara diam-diam tuan Arfanka sudah memerintahkan anak buahnya untuk memata-matai semua kegiatan yang dilakukan oleh Klara, maka dari itu dia mengetahui semua yang dilakukan oleh Klara di luar apartemennya tersebut, hal tersebut untuk berjaga-jaga agar Kevin adik angkatnya itu tidak melakukan hal yang di luar batas kepada Klara di belakangnya.


Tapi kini justru malah tuan Arfanka sendiri yang kebingungan bagaimana cara dia membalas pertanyaan dari Klara saat itu dan dia tidak bisa beralasan sama sekali, namun untungnya disaat tuan Arfanka tengah mencari alasan dengan pemikiran dia yang sempit karena lebih banyak gugup di hadapan Klara, tapi Kirei dengan cepat membantu dia dengan mengesampingkan pembicaraan itu dan dia mengubah topiknya dengan cepat.


"Aahh....siapa ini, apa dia tuan Arfanka yang kau ceritakan kepadaku semalam?" Tanya Kirei langsung saja memotong pembicaraan tersebut dengan cepat.


Sehingga fokus Klara mulai terpecah dan dia sudah tidak meminta tuan Arfanka untuk menjelaskannya lagi kepada dia tentang hal janggal sebelumnya yang dikatakan oleh tuan Arfanka kepada dia sebelumnya.


Tuan Arfanka merasa sangat senang dan dia benar-benar merasa sangat terbantu sekali oleh Kirei yang memotong pembicaraannya saat itu, dia langsung saja mengulurkan tangannya dan segera memperkenalkan diri kepada Kirei saat itu juga, sekaligus dia memberikan kode kepada Kire untuk mengucapkan terimakasih padanya karena sudah mau membantu tuan Arfanka sebelumnya.

__ADS_1


"Ohhh kenalkan aku Arfanka, memangnya kakakmu selalu menceritakan apa tentangku kepadamu gadis kecil?" Tanya tuan Arfanka dengan penasaran saat itu.


Kirei baru saja hampir mengatakan semua yang dikatakan oleh Klara dengan jujur kepada tuan Arfanka saat itu, namun untung saja Klara bisa menahan Kirei dengan cepat dengan membekap mulutnya dengan kuat sambil membisikkan kepada Kirei untuk tidak mengatakan apapun kepada tuan Arfanka saat itu.


"Aahh...kakak sering bicara bahwa ka....eumm..eumm," ucap Kirei yang tidak sampai selesai saat itu.


"Astaga jangan sampai Kirei bicara dia tidak bisa berbohong, aahhh untung saja aku masih sempat menutup mulutnya," batinku merasa sedikit tenang saat itu.


"Jangan bicara Kirei kau akan membuat kakakmu menahan malu nantinya, sudah tutup mulutmu itu," bisikku kepada Kirei yang langsung saja dianggukkan olehnya dengan cepat.


Aku baru saja bisa melepaskan bekapan pada mulutnya ketika dia sudah mengangguk padaku dan mau menuruti aku saat itu, aku juga hanya bisa tersenyum menatap tuan Arfanka disaat dia menatapku dengan Kirei sambil menaikkan kedua alisnya menatap kebingungan saat itu. Aku segera saja memalingkan pembicaraan agar bisa segera pergi dari sana dan tidak bisa berhadapan lagi dengan tuan Arfanka saat itu, karena sudah sangat malu untuk bicara dengannya dan aku merasa sangat gugup sekali.


"AA...AA ..aahh tuan kalau begitu kami pergi duluan ya, permisi tuan," ucapku kepadanya hendak menarik tangan Kirei dan membawanya pergi.


Namun tuan Arfanka malah menarik tangan Kirei yang satunya dan dia menawarkan tumpangan kepada kami berdua saat itu, sayangnya disaat aku ingin menolak tawaran darinya Kirei benar-benar tidak sependapat denganku saat itu dan dia malah menjawabnya lebih cepat di bandingkan aku dalam menyetujui ajakan dari tuan Arfanka saat itu bahkan dia melepaskan tanganku lalu langsung mengikuti tuan Arfanka masuk ke dalam mobilnya dengan begitu senang.


"Ehh..tunggu kalian ikut saja denganku aku bisa mengantar kalian berdua karena kita searah," ucap tuan Arfanka mengajak kami.


"Ya....tentu saja aku juga tidak mau menunggu taxi atau naik bus itu pemborosan dan kakak belum mendapatkan pekerjaan jadi tentu aku akan ikut denganmu tuan, ayo....kak ayo cepat kenapa kamu diam saja." Ucap Kirei sambil melambaikan tangannya kepadaku.


Aku hanya bisa dia berdiri mematung dengan kedua mata yang menatap terperangkap dan benar-benar sangat tidak habis pikir mengapa Kirei bisa langsung menurut dan terlihat cukup dekat dengan tuan Antonio seperti ini, padahal bisa dikatakan bahwa saat ini adalah pertemuan pertama Kirei dengannya sebab sebelumnya Kirei tidak sadar ketika tuan Arfanka menolong dia, Kirei hanya tahu semua ceritanya dariku saja.


Mungkin karena tuan Arfanka yang sudah menyelamatkan hidup serta harga dirinya yang membuat Kirei begitu menyukai dia juga sangat mempercayai sosok tuan Arfanka saat ini.


Bahkan dia yang biasanya sangat sulit untuk bersosialisasi ataupun dekat dengan orang baru, kini malah terlihat begitu mudah untuk percaya dan ikut masuk ke dalam mobil tuan Arfanka di hadapan Klara secara langsung jadi tentu hal itu membuat Klara sangat kaget sebab kejadian seperti ini adalah yang pertama kalinya terjadi pada Kirei setahu Klara.


"Waahhh....kenapa Kirei bisa begitu percaya dengan tuan Arfanka dan kenapa dia malah ikut dengan mudahnya seperti ini, ada yang salah dengan Kirei," gerutuku yang masih tidak habis pikir sampai tuan Arfanka kembali memanggil namaku dan mengajak aku untuk segera masuk ke mobilnya dengan cepat.


"Klara apa yang kamu tunggu, ayo cepat kita pergi!" Teriak tuan Arfanka kepadaku.


Bahkan saat itu tuan Arfanka juga membukakan pintu mobilnya untukku dan aku benar-benar merasa di perlakukan dengan sangat baik olehnya, walau hanya sebuah pintu yang dia bantu bukakan malah hatiku yang meleleh karena perlakuannya yang manis ini, bahkan meski dia yang terus berbicara dan mengobrol ria dengan Kirei, malah aku yang terpanah melihat senyuman di wajahnya yang begitu indah.


Cara dia memperlakukan Kirei dan cara dia bersikap kepadanya membuat aku sangat luluh dan semakin jatuh hati padanya, karena aku sangat menyayangi Kirei jadi aku juga ingin pasanganku kelak bisa menyayangi Kirei seperti aku menyayanginya dan kali ini di hadapan mata kepalaku sendiri aku bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana tuan Arfanka memperlakukan Kirei dengan sangat baik dan Kirei juga begitu dekat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2