Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Bertemu Tuan Arfanka


__ADS_3

"Ini aku kembalikan pakaian tidak berguna yang kau berikan, aaahh membuat repot tidak jelas." Ucapku sambil melemparkannya kepada Kevin dengan cepat.


Dia memang menangkapnya dengan benar tapi tentu saja Kevin terus menggerutu kesal dan penuh emosi kepadaku, aku tidak memperdulikannya dan terus saja pergi dari sana menunggu Kevin keluar dari toko pakaian itu tepat di depan mobilnya hingga tidak lama tiba-tiba saja muncul tuan Arfanka dan dia menarik tanganku dengan kuat begitu saja, aku juga tidak tahu dengan pasti darimana tuan Arfanka muncul karena tiba-tiba saja dia menarik tanganku dari samping dan menyeret aku berusaha untuk membawa aku masuk ke dalam mobilnya saat itu.


"Klara ayo cepat ikut aku." Ucap tuan Arfanka sambil menarik aku begitu saja.


"Hei ..hei..lepaskan aku, kamu...tuan Arfanka kenapa denganmu, lepaskan aku tuan, aku sudah bukan pelayanmu lagi kenapa kamu menyeret aku begini, lepaskan!" Ucapku berontak sambil menghempaskan tanganku dengan kuat yang dia pegang saat itu.


Untungnya aku berhasil melepaskan tanganku dengan cepat dari pegangan tangan tuan Arfanka yang terus menyeret aku sangat kuat saat itu, tapi tuan Arfanka terlihat menatapku dengan lekat dan tajam, diaterus memaksa aku untuk pergi dengannya, tanpa memberikan alasan yang jelas kepadaku saat itu.


"Klara apa kau sudah berani membantahku sekarang hah? Ayo cepat ikut denganku dan siapa bilang kau sudah bukan pelayanku apa kau lupa dengan semua kebaikan yang aku berikan padamu? Aku sudah melakukan semua yang aku bisa untukmu Klara, hanya kau yang aku perlakukan sebaik itu, harusnya kau bersyukur dan ikut denganku." Ucap tuan Arfanka kepadaku.


Aku termenung mengerutkan kedua alisku tidak mengerti dengan ucapannya saat itu, sampai tidak lama muncul Kevin, dia baru saja keluar dari toko pakaian tersebut dan berteriak memanggil nama tuan Arfanka sehingga membuat kami berdua refleks langsung menatap ke arahnya, tuan Arfanka kembali menarik tanganku dengan kuat, dia terus berusaha untuk membawaku dengan paksa sampai membuat Kevin terlihat naik pitam, dia bahkan langsung berlari ke arahku melepaskan belanjaan di tangannya dengan cepat lalu menahan tangan tuan Arfanka yang menarik tanganku saat itu.


"Arfanka cukup! Apa yang kau lakukan lepaskan tangan Klara!" Ucap Kevin dengan sorot mata yang tidak kalah taja dari tuan Arfanka sendiri saat itu.


"Siapa kau berani memerintahku, dia adalah pelayanku kau sama sekali tidak pantas menahanku!" Balas tuan Arfanka saat itu.


Kevin langsung saja terlihat berdecak pelan dengan menaikkan ujung bibirnya sedikit dan langsung kembali menatap tajam sambil mengeluarkan ponsel dari kantung celananya lalu menunjukkan sebuah transaksi yang sudah dia kirimkan sesuai nominal semua pembayaran yang pernah tuan Arfanka berikan kepada Klara sebelumnya.


"CK....apa kau lupa tidak melihat notifikasi pemasukan di ponselmu, lihat ini aku sudah membawa semuanya beberapa jam yang lalu, dan kau sama sekali tidak berhak membawanya lagi, dia sudah bukan pelayanmu, dia juga tidak memiliki hutan apapun denganmu lagi, apa kau sudah mengerti sekarang?" Balas Kevin dengan nada suara yang lantang.


Tuan Arfanka terbelalak kaget melihat lah tersebut dia langsung melepaskan genggaman tangannya dariku dan segera merampas ponsel milik Kevin dia masih tidak mempercayainya namun dengan cepat Kevin merampas kembali ponsel miliknya itu dan menyuruh tuan Arfanka untuk memeriksanya sendiri.


"Tidak...ini tidak mungkin dan kau juga tidak bisa membayarnya begitu saja kepadaku, dia sudah membuat kontrak dan surat perjanjian yang resmi dariku, kau tidak bisa membawa dia begitu saja," ucap tua Arfanka.


"Hahah....surat perjanjian, aku sudah menghancurkannya silahkan saja kau lihat di ponselmu ataupun di ruang kerjamu itu, semua salinannya sudah tidak ada lagi, aku tidak sebodoh dirimu Arfanka dan sebaiknya kau periksa sendiri semua kebenaranya sebelum berani membawa Klara pergi dariku!" Balas Kevin sambil segera membukakan pintu mobil untukku dan dia langsung menyuruh aku untuk segera masuk ke dalam sana saat itu.


Disaat tuan Arfanka tengah kebingungan da dia memeriksa di ponselnya mendapatkan apa yang dikatakan oleh Kevin semuanya benar, dia juga sudah mendapatkan pemasukan dana dari Kevin, itu membuat tuan Arfanka sangat kesal dia tidak bisa membiarkan Klara pergi darinya begitu saja, kini dia sudah sadar bahwa ternyata saat melihat Klara dengan pria lain dia marah dan tidak bisa membiarkannya begitu saja, dia tau bahwa dirinya sudah mencintai Klara sejak awal namun baru menyadarinya saat ini.


Sehingga disaat Kevin menyuruh Klara untuk segera masuk ke mobilnya, tuan Arfanka kembali menahan Klara dengan tangannya, dia meminta sedikit waktu pada Kevin untuk bicara dengan Klara saat itu.


"Klara ayo masuk, tidak ada gunanya berbincang dengan manusia seperti dia," ujar Kevin kepadaku saat itu.


Aku sebenarnya tidak tega melihat tuan Arfanka kaget seperti itu, mau bagaimana pun dia sudah pernah membantu aku dalam banyak hal, aku tidak bisa bersikap jahat kepadanya, dan entah kenapa aku merasa tidak rela pergi jauh darinya, padahal seharusnya hal inilah yang aku inginkan sejak lama, bebas darinya dan bisa menjalani hidup seperti sebelumnya.


"Klara apa lagi yang kau tunggu, ayo masuk!" Tambah Kevin kepadaku lagi.


"Tunggu! Kevin biarkan aku memiliki waktu sedikit saja dengannya, adahal penting yang belum sempat aku katakan kepadanya selama ini." Ujar tuan Arfanka menatap begitu lekat kepadaku.

__ADS_1


Sayangnya Kevin tidak membiarkan itu terjadi, dan dia melarangnya namun dengan cepat aku meminta pada Kevin agar dia memberikan sedikit waktu saja untuk tuan Arfanka bisa bicara denganku, dia tidak pernah jahat dan memperlakukan aku dengan buruk, jadi aku tidak bisa membiarkan Kevin bersikap kasar padanya hanya untuk membelaku.


"Tidak, kau sudah tidak memiliki ikatan apapun dengannya, pergi kau dari sini dan Klara ayo masuk!" Ucapnya tetap saja tidak berubah.


"Kevin aku ingin bicara dengan tuan Arfanka, dia juga bukan orang sembarangan ataupun jahat, aku tahu niatmu baik kamu ingin membantuku, tetapi tuan Arfanka juga membantu aku walau dengan cara yang berbeda dengan apa yang kamu lakukan padaku saat ini, namun aku tahu dia orang baik, biarkan aku bicara dengannya sebentar saja." Ucapku kepada Kevin saat itu.


"Baiklah aku akan menunggu kalian di dalam tapi awas saja jika sampai kau berani membawa kabur Klara aku akan mencarimu walau sampai ke dasar lautan!" Ucap Kevin memberikan ancaman pada tuan Arfanka.


"Aku bukan orang licik sepertimu yang tiba-tiba membawa dia pergi dariku," balas tuan Arfanka kepada Kevin.


Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan hanya tinggal aku juga tuan Arfanka saat itu, berdiri saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat saat itu, aku mulai mempersilahkan tuan Arfanka untuk memulainya sebab aku memang memberikan waktu ini untuk dia.


"Tuan silahkan bicara aku akan mendengarkan mu," ucapku kepadanya.


"Klara... Sebenarnya aku sedikit kecewa denganmu, kenapa kau tidak bicara denganku jika kau tidak nyaman tinggal di rumahku selama ini, jika kau mengatakannya aku bisa membiarkanmu pergi ke luar dengan bebas juga meski melanggar peraturan pelayan di rumahku, dan kenapa juga kau harus memilih pergi dengan Kevin adik angkatku yang selalu bermusuhan denganku sejak kecil, apa kau tidak bisa kabur sendiri saja, itu lebih membuatku tenang dibandingkan kau ikut dengannya," ucap tuan Arfanka kepadaku dengan wajahnya yang memang terlihat agak berbeda saat itu.


"Maafkan aku tuan, kamu sangat baik kepadaku selama ini, aku tidak bisa terus hidup mengandalkan mu dan terus membuatmu susah sendiri, aku tidak ingin keberadaanku akan terus menjadi ancaman bagimu, aku hanya tidak ingin menyulitkan dirimu saja, tolong jangan berperasangka buruk seperti itu," ucapku kepadanya berusaha untuk menjelaskan.


Tuan Arfanka terlihat tersenyum kecil menanggapi ucapanku lalu dia mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya yang aku sendiri juga tidak tahu darimana dia bisa membawa cincin tersebut secara tiba-tiba.


Dan yang lebih tidak aku duga adalah, tua Arfanka meraih tanganku lalu memakaikan cincin itu di jari manismu begitu saja.


"Aahh...tuan apa maksudnya semua ini?" Tanyaku dengan keheranan dan menatap bingung kepadanya.


"Aku menyukaimu Klara sejak awal aku sudah tertarik denganmu, apa kau pikir orang seperti aku akan menerima orang luar untuk masuk dan tinggal di rumahku dengan begitu mudahnya, semua kontrak itu hanya sebuah hal biasa yang bisa membuat aku terikat denganmu, sebenarnya aku tidak ingin kehilanganmu, aku menyukaimu. Aku tidak perduli apakah kamu menyukaiku juga atau tidak, tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa hanya ada satu perempuan yang bisa dekat denganku dan yang aku cintai, orang itu adalah kau." Ucap tuan Arfanka membuat aku tersentak kaget dan terus saja termenung mendengarnya.


Ada sebuah perasaan senang di dalam hatiku ketika tuan Arfanka mengatakan hal itu, tetapi disaat baru saja aku hendak membalas ucapannya Kevin keluar dari mobil dan langsung menarik tanganku dia mengatakan bahwa waktunya sudah habis dan dia terus membawa aku masuk ke dalam mobil dengan cepat begitu saja.


"Sudah... Waktunya habis, Klara ayo masuk jangan bicara lagi dengan manusia seperti dia ini," ucap Kevin padaku.


Aku tidak bisa melawannya karena Kevin terus mendorong aku sampai masuk ke dalam mobil dan dia langsung ikut masuk sampai melajukan mobil pergi dari sana dengan cepat.


Meski mobil sudah melaju aku masih terus menatap ke arah tuan Arfanka lewat kaca spion mobil saat itu, aku lihat dia masih berdiri di tempat itu memandangi mobil yang aku tumpangi hingga sangat jauh dan dia sudah tidak terpandang oleh mataku lagi.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu saat ini, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan dan hanya bisa memegangi cincin pemberian dari dia sebelumnya, bahkan disaat aku sudah kabur dan terkesan mengkhianati dia, tuan Arfanka tetap saja mau mecari aku seperti ini, aku sungguh merasa tidak karuan.


"Kevin apa menurutmu aku kabur dari tuan Arfanka dengan cara seperti ini adalah sebuah kesalahan?" Tanyaku kepada Kevin saat itu.


"Klara ayolah ada apa denganmu, apa yang sudah dia bicarakan padamu dalam waktu sesingkat itu sampai sekarang kau sudah berubah pikiran seperti ini, aahhh itulah kenapa aku tidak mau memberikan kau berhadapan dengan orang sepertinya, dia mudah untuk mempengaruhi dirimu karena kau terlalu baik." Ucap Kevin padaku saat itu.

__ADS_1


Tapi perasaanku memang tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku juga mencintai tuan Arfanka aku tanpa sadar mulai tertarik kepadanya disaat dia mau menolong adikku Kirei dia mau menyelamatkan aku dan adikku dari para pria bejat itu dengan semua cara yang dia kerahkan sendiri, bahkan dia memberikan tempat paling layak untuk adikku, dia memberikan aku kamar yang bagus dan tempat yang begitu nyaman dibandingkan pelayan lainnya, dia mengijinkan aku untuk duduk di meja makannya, berhadapan langsung dengan dia.


Dia mempercayai aku tapi aku malah melakukan semua ini dengan musuhnya sendiri, aku mulai merasa bersalah sekarang.


"Kevin aku rasa semua ini salah, aku tidak ingin tinggal denganmu, tolong bantu aku carikan kosan atau tempat lain untuk tinggal, aku tidak bisa tinggal satu atap denganmu," ucapku kepadanya saat itu.


Kevin sangat kaget mendengar ucapanku dan dia langsung menghentika laju mobilnya secara tiba-tiba.


"APA KAU BILANG? Kau tidak ingin tinggal denganku? Apa yang membuatmu tiba-tiba saja berubah pikiran seperti ini Klara? Apa kau yakin ingin pergi dariku?" Ucap Kevin dengan matanya yang terbuka sangat lebar saat itu.


"Apa kamu harus se kaget itu mendengarnya?" ujarku pada dia dengan cukup kaget akibat bentakkan Kevin.


Aku mengangguk kepadanya, karena memang aku tidak bisa merasa tenang jika aku harus tetap tinggal bersamanya sedangkan aku kabur dari tuan Arfanka.


"Klara maaf tapi aku tidak bisa membiarkan itu, kau harus tetap tinggal di apartemenku, biar aku saja yang pergi dari sana aku punya dia apartemen, kau bisa tinggal disana aku akan pindah ke depan apartemenmu, tapi jika kamu meminta aku mecarikan tempat lain yang jauh dariku, maaf aku tidak bisa melakukannya," balas Kevin padaku.


Aku sudah merasa senang meski seperti itu setidaknya aku tidak tinggal satu atap dalam ruangan yang sama dengannya, jadi nanti tidak akan membuat kesalahpahaman dengan tuan Arfanka maupun ayah mereka.


"Tidak papa Kevin aku sangat berterima kasih karena kamu mau memahami aku, aku hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman saja nantinya." Balasku kepada dia.


"CK....apanya yang kesalah pahaman, kau menolak tinggal satu tempat denganku, tapi kau sudah tinggal cukup lama dengan Arfanka apakah itu adil untukku?" Balas dia dengan wajahnya yang terlihat kesal.


"Kevin itu berbeda di rumah tuan Arfanka ada pak Tino dan bi Evi disana juga banyak pengawas lainnya, aku tidak berdua saja dengan tuan Arfanka sedangkan di apartemenmu kita hanya berdua saja, jadi aku tidak bisa karena kita bukan pasangan sah," ucapku kepadanya dengan jujur.


"Aku bisa menikahimu saat ini juga, jika kau mau," balas dia yang membuat aku sangat kaget dan langsung membelalakkan mata dengan lebar kepadanya.


"Hah?...apa kau bilang? Tanyaku dengan kaget dan masih tidak bisa mempercayainya.


Namun beberapa saat berselang dia langsung saja tertawa sangat lebar dan terus saja mengejek wajahku yang terperangah kaget sebelumnya, rupanya dia hanya menggodaku saja dan sengaja melakukan semua itu untuk menjahili aku.


"Fffttt...thahaha...kau sangat konyol sekali, benar-benar lucu sekali, wajahmu itu sudah jelek sekarang dikagetkan begitu semakin konyol saja ahahah, aku tidak kuat menahan tawa melihatnya." Ucap dia menertawakan aku begitu puas.


"Aishhh...jadi kau mengerjai aku ya, eugh....buk...buk...buk kau benar-benar menjengkelkan," ucapku sambil terus saja menepuk pundaknya saat itu dengan sepuasnya yang aku bisa.


Aku benar-benar harus melampiaskan kekesalan ku kepadanya karena dia sudah berani menertawakan aku seperti itu, padahal sebelumnya aku benar-benar sangat kaget ketika mendengar jawaban dari dia seperti itu, aku bahkan sampai berhenti bernafas dan terus saja membelalakkan mataku sangat lebar dan begitu tegang.


Namun dia malah asik menertawakan aku dengan begitu puas, seakan begitu mudah bagi dia terus meledeki aku dan membuat aku salah paham dengan semua itu, aku sungguh ingin menghajar dia lebih dari sebuah tepukan kecil.


Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena aku juga takut dia akan mengusirku atau meminta aku membayar semua tunggakan kepadanya sekaligus saat itu juga, terlebih dia tidak seperti tuan Arfanka.

__ADS_1


__ADS_2