Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Mengerjai Klara


__ADS_3

Namun sialnya dia saat aku hendak pergi dan berpamitan kepadanya dia justru malah menahanku lagi dan kembali memberikan aku perintah untuk mengambilkan air untuk dirinya saat itu.


"Baiklah tuan saya akan kembali, permisi" ucapku yang baru saja hendak pergi pamit kembali ke kamarku dan bobo dengan nyenyak saat itu.


"Ohok....ohok...ahhhh....aku tidak bisa menikmati apel Tampa minum tenggoroka ku terasa kesat dan kering, bisakah kau mengambilkan dahulu minum untukku?" Ucap tuan Arfanka yang terlihat terbatuk beberapa kali.


Aku membelalakkan mataku dalam beberapa saat dan merasa sangat kesal saat itu, rasanya aku ingin sekali membentak dia dan memarahinya dengan sekuat dan sepuas yang aku bisa namun lagi-lagi aku harus sadar diri dengan posisiku di rumah ini, apalah dayaku yang hanya seorang pelayan dan harus mematuhi semua perintahnya karena aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku akan menjadi seorang pelayan yang baik baginya.


Meski aku sangat kesal dan begitu dongkol terhadapnya saat itu tapi aku berusaha menahan emosi di dalam diriku, segera aku tarik nafas dengan cukup panjang dan membuangnya perlahan aku berusaha untuk memasang senyum kepadanya dan mengikuti apa yang dia perintahkan kepadaku.


"Baik tuan saya akan mengambilkannya" ucapku kepadanya sambil tersenyum menahan emosi,


"Ya sudah cepat sana ambil tunggu apa lagi hah?" Bentak dia yang semakin membuat aku jengkel dan aku hanya bisa mengeratkan gigiku dan melipat bibirku dengan kuat.


Aku segera berlabik dan berjalan dengan cepat pergi keluar tanpa menutup kembali pintu ruangan tuan Arfanka saat itu, bahkan disaat dia terdengar berteriak memanggil namaku dan meminta aku untuk menutup pintunya aku terus saja berjalan berpura-pura seakan aku tidak mendengar teriakkannya saat itu, karena aku sangat kesal dan aku sendiri juga sudah terlanjur berjalan keluar menuruni tangga saat itu jadi aku malas sekali jika harus kembali naik ke atas hanya untuk menutupkan pintu baginya.


"Hey.... Kau aishh.... Tutup pintunya sialan!" Teriak tuan Arfanka kepadaku saat itu,


"Bodoh amat aku tidak perduli, teriak saja sesukamu dasar manusia sialan dan sangat merepotkan aarrgghhh" gerutuku sambil terus berjalan penuh emosi menuju dapur.


Aku mengambilkan minum untuknya dan segera membawanya kembali ke ruang kerja pribadinya, sampai ketika sudah dekat di depan pintu yang masih terbuka aku berusaha menenangkan diriku lalu langsung saja masuk sambil menaruh gelas berisi air putih tersebut dengan cukup keras diatas meja kerjanya.


"Tuan ini air minumnya, apa sekarang aku sudah bisa pergi, ini sudah larut malam dan saya juga perlu beristirahat" ucapku kepadanya dengan tersenyum dan bicara tegas,


"Tidak....kau sudah mengabaikan teriakkanku sebelumnya dan lihat kau tidak menutup pintunya lagi, aku merasa kedinginan untuk beberapa waktu disaat kau sangat lama sekali mengambilkan minum ini jadi kau harus mendapatkan hukuman dariku" ujarnya begitu saja.


Aku kaget dan merasa sangat tidak terima dengan apa yang dia katakan kepadaku saat itu, sebab diriku sendiri tidak merasa bahwa aku melakukan sebuah kesalahan kepadanya, aku sudah menuruti semua keinginannya dan aku bahkan berusaha menahan emosi kepadanya, aku terus berusaha memenuhi semua kebutuhan dirinya tapi dia sekan malah terus saja seperti mempermainkan aku dan aku tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Ta...ta..tapi tuan tadi itu hanya sebentar mana mungkin kau kedinginan lagi pula ini juga tidak hujan dan pintunya hanya terbuka sedikit" ucapku protes kepadanya,


"Tetap saja kau tidak akan tahu karena kau sama sekali tidak merasakannya sudah cepat bereskan semua berkas disana dan susun ke dalam rak buku dengan rapih sesuai dengan barusan yang paling pendek hingga yang paling tinggi juga harus sesuai dengan nomor yang ada disana, apa kau mengerti? Ayo cepat kerjakan sekarang" ucapnya memerintah aku begitu saja.


Dia seenaknya mengatakan bahwa pekerjaan itu adalah hukuman untukku tapi kenyataannya dia hanya dengan sengaja memenfaatkan aku untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya tidak aku kerjakan karena aku seorang pelayan di rumah itu bukan sekretaris dia yang harus menyusun semua berkas berantakan yang berserakan di lantai saat itu.

__ADS_1


Aku sangat kaget dan terperangah ketika pertama kali melihat arah tunjuk dari jarinya yang menunjuk pada segudang berkas berantakan di atas meja yang ada disana juga banyak yang ada di lantai.


Padahal sebelumnya aku masih ingat dengan jelas semuanya masih rapih tidak seberantakan itu bahkan yang aku tahu hanya ada beberapa berkas saja yang terlihat berada diatas meja tersebut namun kini justru terlihat seperti ada banyak berkas yang berserakan dan berhamburan tidak jelas di lantai juga di kursi dan meja tersebut.


"Astaga...tuan apa yang sudah terjadi sebelumnya kan tidak seperti ini? Siapa yang mengacak semuanya sampai seperti ini?" Tanyaku kepadanya sangking merasa sangat kaget saat itu,


"Tentu saja itu karena pintu yang tidak kau tutup, angin berhembus masuk ke dalam dan membuat semua berkas yang sudah di tumpuk dan di tata sangat rapih oleh Jeni sekretaris ku kini berantakan seperti itu, dan kau harus bertanggung jawab karena semua itu berkat ulahmu sendiri" balas tuan Arfanka yang menurutku sangat tidak masuk akal sekali.


Aku mengerutkan kedua alisku secara bersamaan dengan cepat dan membuka mulutku dengan lebar, pasalnya semua yang dikatakan eh tuan Arfanka sangat tidak mungkin terjadi sebab letak meja dan kursi tamu itu berada di pojok dekat jendela dan itu tidak berjajar lurus dengan pintu masuk sehingga jika sekalipun angin menghembus dengan kencang dari pintu masuk tentu saja itu akan langsung menerpa wajah tuan Arfanka dan meja di hadapannya dan itu seharusnya membuat berkas yang ada di mejanya berantakan bukan berkas yang ada di meja tamu tersebut.


"Tuan.....itu sama sekali tidak masuk akal, apa kau hanya mempermainkan aku saja?" Tanyaku kepadanya tidak mempercayai ucapan darinya saat itu.


"Aishhh...apa kau pikir aku membohongimu hah? Untuk apa aku membohongi dirimu, dan apa maksudmu aku sendiri yang mengacak semua berkas itu secara sengaja agar kau membereskannya iya? Aaiaihhh.... Sudah jangan berpikiran macam-macam dan cepat bereskan semuanya jika kau mau pergi dan beristirahat" ucap tuan Arfanka kepadaku dengan wajahnya yang terlihat gemas dan kesal padaku.


Aku hanya bisa mengerutkan kedua alisku dengan heran sebab aku sama sekali tidak mengira semua yang dia ucapkan aku bahkan tidak terpikir sedikitpun bahwa kemungkinan dia yang mengacak semua berkas itu sendiri secara sengaja hanya demi aku yang membereskannya.


Aku tidak bisa memberontak atau menolak lagi darinya sehingga aku mau tidak mau tetap harus membersihkan semua itu, segera saja aku berjalan dengan kesal dan penuh emosi menuju tempat yang berserakan banyak berkas tidak teratur itu, aku langsung memunguti semua berkas disana sambil terus menggerutu kesal sendiri dan memikirkan semua ucapan yang dikatakan oleh tuan Arfanka kepadaku barusan.


"Huh... Apa-apaan dia ini, tidak mungkin jika dia benar-benar memberantakkan semua berkas miliknya sendiri hanya demi mengerjai aku untuk membereskan semuanya bukan? Tapi dia sendiri yang berbicara begitu barusan aku sama sekali tidak mengatakan hal semacam itu kepadanya, bahkan aku sama sekali tidak terlintas sedikitpun di kepalaku dengan hal semacam itu" gerutuku terus memikirkan.


Hingga setelah beberapa jam akhirnya aku selesai membereskan semua berkas tersebut dan sudah berhasil menyusun semuanya sama seperti semua walau aku sendiri tidak terlalu yakin apakah susunan itu benar atau tidak, tapi aku sudah mengikuti angka yang ada disana juga sudah membacanya untuk memastikan, hingga sekarang aku bisa sedikit beristirahat dan memegangi pinggangku yang terasa sangat pegal sekali.


"Haduuuhhh.....pinggangku pegal sekali, aaahhh dia benar-benar mau menyiksaku dengan hal seperti ini!" Ucapku pelan sambil segera saja aku merebahkan diriku di sofa kecil yang ada disana.


Aku terus saja merasakan pinggangku yang terasa pegal sebab aku terus membungkuk mengumpulkan semua berkas yang berserakan sebelumnya.


Apalagi semua berkas itu sangatlah banyak, kini aku tinggal memasukkan semua berkas itu ke dalam rak bekas yang ada di samping tempat duduk tuan Arfanka saat itu.


Aku menarik nafasku berkali-kali dan berusaha untuk menenangkan diriku juga terus mengipasi diriku agar tidak kepanasan saat itu, sebab aku benar-benar berkeringat sangat banyak setelah memunguti semua berkas sialan yang sangat menjengkelkan itu.


Tubuhku yang sebelumnya baru saja selesai mandi kini sudah di penuhi dengan keringat lagi dan sangat lengket dalam tubuhku, rasanya aku sangat ingin segera mandi lagi saat ini, namun sayangnya jangankan untuk pergi mandi dan membersihkan diri, keluar dari sini saja aku tentu belum bisa karena berkas itu belum aku susun dengan benar ke dalam rak berkas yang ada di ruangan kerja tuan Arfanka disana.


"Istirahat sebentar tidak papa kan, aku sangat lelah sekali aaahhh" ucapku sambil terus merebahkan diriku di sofa itu.

__ADS_1


Dan tidak terasa lama kelamaan aku merasa sangat mengantuk sedikit demi sedikit hingga aku sudah menguap beberapa kali dan sungguh tidak bisa menahan rasa kantukku sendiri saat itu, sebab saat itu sudah tengah malam dan aku tidak bisa terus terjaga dengan lama sebab tubuhku sudah sangat lelah dan aku ingin segera tidur menutup mataku dan mengistirahatkan tubuhku secepatnya.


Aku tidak menyadari apapun lagi ketika rasa kantuk mulai melanda dan aku hanya bisa menikmati rasa kantuk itu sampai tidak sadar kalau saat itu sebenarnya aku masih berada di dalam ruang kerja pribadi tuan Arfanka, aku langsung saja menaikkan kedua kakiku ke sofa dan segera tidur di sofa itu hanya dengan beralaskan tanganku sendiri.


Saking mengantuknya aku bahkan tidak memperdulikan aku tidur dimana dan ada dimana saat itu, sehingga aku terus saja tertidur dengan lelap.


Sedangkan disisi lain tuan Arfanka terus saja menahan tawa dan terus tidak bisa fokus selama menyelesaikan tugasnya di depan komputer miliknya.


Dia terus memikirkan momen dimana sebenarnya memang dirinya yang dengan sengaja mengacak semua berkas yang sudah disusul oleh sahabat sekaligus sekretarisnya Senonsaat terakhir kali datang ke ruang kerja pribadinya beberapa hari yang lalu.


Dia sengaja melakukan semua itu untuk memberikan uluran waktu kepada Klara dan sengaja mengerjainya karena sudah tidak mendengarkan teriakkan darinya untuk menutup pintu sebelumnya dan dia kini sudah berhasil menjahili Klara sampai dia tidak sadar kalau saat itu Klara sampai ketiduran disana saking lelahnya bekerja menuruti semua ucapan dan perintah darinya.


Hingga dia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari ini hingga larut malam dan dia mulai merasa aneh karena tidak melihat Klara menyelesaikan tugas yang dia berikan untuk menyusun semua berkas itu hingga ke dalam rak.


"Ehh.... Kemana anak itu, apa dia tidak mendengarkan perintahku yah?" Gerutu tuan Arfanka sambil merasa heran sendiri.


Dia pun segera bangkit berdiri dan pergi melihatnya sendiri, sampai ketika melihat kesana dia justru malah menemukan Klara yang tertidur di sofa dengan rambut cukup berantakan karena handuk yang dia pakai di kepalanya terjatuh ke lantai juga setumpuk berkas yang sudah selesai di susul diatas meja seperti semula.


Tuan Arfanka tersenyum cukup luas ketika melihat Klara yang tertidur dengan keadaan seperti itu, keningnya terlihat mengucurkan keringat dan tuan Arfanka merasa sedikit tidak enak hati karena dia sudah membuat Klara sampai selelah itu akibat dia yang terus mengerjai dia di tengah malam seperti itu.


"Haha.... Ternyata dia bisa tumbang juga, apa aku terlalu berlebihan kepadanya yah?" Ucap tuan Arfanka sambil berjalan mendekatinya.


Dia segera menggendong Klara dan mindahkannya ke kamar lalu dia juga membantu Klara untuk mengeringkan rambutnya secara pelan menggunakan hair dryer di kamar Klara saat itu, seorang tuan Arfanka terlihat sangat serius dan begitu berhati-hati ketika membantu Klara mengeringkan rambutnya tersebut, dia juga terus tersenyum manis ketika melihat wajah Klara yang tertidur disana.


"Dia tidak terlalu buruk jika tertidur dan seandainya saja dia tidak keras kepala aku tidak perlu memberikan dia banyak pelajaran dan hukuman aaahhh sayang sekali dia selalu membuat aku naik darah ketika bangun" ucap tuan Arfanka lagi.


Hingga rambut Klara sudah benar-benar kering barulah dia menyelimuti Sela hingga menarikkan selimut itu sampai menutupi dada Klara lalu dia juga tidak lupa membantunya mematikan lampu kamar tersebut dan mengucapkan selamat malam kepala Klara dengan lembut.


"Selamat malam pelayan keras kepala!" Ucap tuan Arfanka sambil tersenyum kecil lalu dia segera menutup pintunya nya dengan rapat.


Setelah memindahkan Klara dan mengurusinya tuan Arfanka segera kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur namun seperti biasanya dia selalu kesulitan untuk tidur dan selalu tidakmbisa tidur dengan cepat sebelum dia belum meminum obat tidur miliknya, dia merasa sangat kesal dan frustasi dengan dirinya sendiri yang selalu harus meminum obat penenang seperti itu dalam setiap malamnya hanya demi dia agar bisa tertidur dengan tenang.


"Aaarrghhh.... Kapan aku akan sembuh dari penyakit sialan ini aishhh!" Gerutu tuan Arfanka sambil segera mengambil obat di dalam laci kecil yang ada di samping ranjangnya lalu dia segera meminum obat tersebut sekaligus dua tablet agar bisa tidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

__ADS_1


Setelah meminum obat tersebut barulah dia mulai merasa lemah dan sedikit mengangguk hingga tidak butuh lama dia langsung menutup matanya dan tertidur dengan cepat berkat efek dari obatnya tersebut.


__ADS_2