
Arfanka langsung melepaskan genggaman tangannya pada Kevin dan mendorong tubuh Kevin cukup kuat sampai membuat Kevin terjatuh ke belakang, tuan Arfanka langsung saja berjalan cepat mendekati aku dan dia tiba-tiba saja memegangi kedua pundakku dengan raut wajahnya yang terlihat aneh bagiku.
Kevin langsung meringis dan menggerutu kesal kepada tuan Arfanka saat itu karena dia tidak terima tuan Arfanka mendorongnya sekasar itu padahal dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
"Aaahhh...dasar bodoh, berani sekali dia mendorongku" gerutu Kevin sambil merapihkan kembali pakaiannya dan berdiri di belakang tuan Arfanka melihat bagaimana tuan Arfanka sangat mencemaskan Klara saat itu.
Tentu saja Kevin menatap penuh curiga ketika melihat hal tersebut sebab dia tahu bahwa kakak angkatnya itu sama sekali tidak pernah memberikan perhatian kepada siapapun entah wanita ataupun sahabatnya sendiri.
"Klara apa kau baik-baik saja, apa Kevin memperlakukanmu dengan buruk, apa saja yang sudah dia lakukan padamu, ayo bicara Klara, cepat jawab aku!" Ucap tuan Arfanka yang sangat panik.
"Tuan aku baik-baik saja, tuan muda Kevin juga tidak melakukan apapun padaku, sedari tadi aku hanya membersihkan rumah dan dia mengotorinya," balasku bicara jujur pada tuan Arfanka.
Setelah mendengar jawaban dari Klara, barulah Arfanka bisa tenang dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap tajam ke arah Kevin yang menatapnya dengan tatapan datar.
Tidak lama setelah dia sudah merasa lebih baik juga sudah mematikan Kevin ternyata tidak melakukan apapun pada Klara, barulah tuan Arfanka segera kembali ke perusahaannya karena dia tahu bahwa sahabatnya sekretaris Jeno akan kesulitan mengurusi masalah perusahaan seorang diri tanpa dirinya.
"Kevin....awas saja jika kau sampai berani melakukan sesuatu di luar batas pada Klara aku akan menendang mu dan memastikan kau berakhir di rumah sakit!" Ancam tuan Arfanka saat itu.
"Aku tidak tertarik dengan pelayanan sepertinya, tidak akan menguntungkan jika aku mengganggunya" balas Kevin dengan wajahnya yang cukup menyebalkan.
Tuan Arfanka kemudian pergi begitu saja tanpa bicara kepadaku lagi, aku hanya bisa menatap punggung dia yang menjauh dan keluar dari rumah dengan cepat saat itu, tentu saja aku merasa bingung dan saling tatap dengan Kevin melihat tingkah tuan Arfanka yang seperti itu.
"Apa hah? CK..... Dia sangat mencemaskanmu dan terus mencurigai aku, dasar sialan!" ucap Kevin sangat kesal dan segera pergi ke kamarnya.
Aku hanya bisa menahan senyum sendiri karena sedikit senang bisa melihat ada orang yang mencemaskan aku di dunia ini untuk pertama kalinya selain dari adikku sendiri Kirei dan sahabatku yang sekarang tidak bisa aku temui.
Namun disisi lain tuan Briantoro yang tiba-tiba saja menghubungi sahabat terbaik tuan Arfanka yakni sekretaris Jeno, tuan Briantoro mengirimkan sebuah pesan singkat pada sekretarias Jeno yang mengajaknya untuk melakukan pertemuan dengan dirinya secara rahasia untuk membahas suatu hal dengannya.
Sehingga setelah melakukan meeting dengan tuan Arfanka di perusahaan dan sudah selesai bekerja, sekretaris Jeno segera pergi ke alamat yang di berikan oleh tuan Briantoro saat itu, selama di perjalanan sekretaris Jeno terus saja merasa aneh dan kebingungan karena tidak biasanya tuan Briantoro menghubungi dirinya seperti ini.
Dia juga tidak bisa menolak permintaan dari tuan Briantoro sebab dia hanyalah seorang sekretaris biasa di perusahaan tersebut jadi tidak bisa menentang siapapun.
"Asa apa tuan besar memintaku menemuinya secara diam-diam seperti ini, apa yang mau dia katakan padaku?" Batin sekretaris Jeno memikirkan saat itu.
Meski dia merasa sangat takut dan ragu untuk pergi menemui tuan besar Briantoro tetapi dia juga tidak bisa menolaknya begitu saja dan tetap harus pergi ke sana, kini setelah beberapa saat di perjalanan akhirnya sekretaris Jeno sampai juga di sebuah restoran private yang sudah di pesan secara khusus oleh tuan Briantoro.
Pada awalnya sekretaris Jeno berpikir hanya akan ada tuan Briantoro saja di ruangan tersebut namun saat dia masuk dan membuka pintunya dia cukup kaget dengan mengerutkan kedua alisnya melihat ternyata ada empat petinggi perusahaan lainnya yang dia pikir ke empat petinggi itu adalah tim yang bekerjasama dengan perusahaan Briantoro di bawah pimpinan tuan Arfanka selama ini.
__ADS_1
Tuan Briantoro yang duduk di tengah-tengah dia bisa langsung melihat kedatangan sekretaris Jeno dan langsung saja tersenyum sambil menyambut kedatangannya saat itu, dia segera mempersilahkan sekretaris Jeno untuk masuk dan bergabung di tengah-tengah orang-orang tersebut.
"Ohh... sekretaris Jeno rupanya anda sudah tiba, silahkan masuk dan duduklah di kursi yang sudah aku sediakan untukmu secara khusus" ujar sang tuan Briantoro dengan wajahnya yang terus tersenyum pada sekretarias Jeno.
Padahal sebelumnya tuan Briantoro sama sekali jarang tersenyum bahkan bisa dikatakan tidak pernah tersenyum kepada sekretaris Jeno di belakang tuan Arfanka, namun kali ini di belakang tuan Arfanka dia mengajaknya untuk datang pada pertemuan rahasia seperti ini dengan adanya para petinggi perusahaan lain, tentu itu membuat sekretaris Jeno terus berpikiran kesana kemari dan menaruh banyak kecurigaan terhadap tuan Briantoro saat itu.
Sekretaris Jeno segera membungkuk memberi hormat kepada mereka semua dan dia segera menurut untuk masuk ke dalam lalu duduk di salah satu bangku yang sudah di siapkan untuk dirinya, sedangkan salah satu petinggi perusahaan lain yang ada disana mulai bertanya denga wajah yang kebingungan kepada tuan Briantoro mengenai kedatangan sekretaris Jeno di tempat tersebut diamana mereka semua mengetahui bahwa sekretaris Jeno adalah orang terdekat dan kepercayaan tuan Arfanka selama ini.
"Tuan Briantoro apa yang anda lakukan apakah anda ingin berkhianat kepada kami, mengapa menghadirkan dia, bukankah dia adalah sekretaris Kepercayaannya anak angkatku itu?" Tanya salah satu petinggi perusahaan disana.
Mendengar itu sekretaris Jeno mulai merasa semakin curiga terlebih lagi ketika tuan Briantoro menenangkan petinggi tersebut dan menyuruhnya untuk diam sejenak sedang dia mulai menjelaskan saat itu.
"Haha...tenang dulu tuan, bukan saya yang akan berkhianat kepada kalian semua tetapi dialah yang akan bergabung pada kita" ujar tuan Briantoro yang membuat para petinggi perusahaan tersebut tersenyum mencurigakan dan mereka mendadak langsung bersikap baik pada sekretarias Jeno dan langsung saja tertawa untuk beberapa saat.
Sekretaris Jeno yang masih merasa kebingungan dia segera menanyakan semua kejalasan mengenai apa yang mereka bicarakan di hadapannya saat itu, dia langsung menanyakannya secara langsung kepada tuan besar Briantoro saat itu.
"Ahaha...anak mudah kau sangat beruntung bisa di undang secara langsung oleh tuan besar untuk bergabung dalam komunitas kami ini, kau bisa di pastikan akan sukses sama seperti kita semua haha" ucap salah satu orang disana sambil menepuk pundak sekretaris Jeno yang di ikuti oleh tawa renyah yang lainnya.
"Tunggu dulu, tuan apa yang sebenarnya kalian maksud kepada saya, dan tuan besar, apa tujuan anda mengundang saya pada pertemuan ini?" Ucap sekretaris Jeno langsung menanyakan pada intinya saat itu juga.
"Ayolah Sekretaris Jeno, bukankah adikmu tengah mengalami masalah yang sulit saat ini, kematian kedua orangtuamu beberapa tahun silam bukankah kau sangat terpukul dengan hal itu terlebih adikmu yang harus terus melakukan cuci darah karena penyakit yang dia idap bukan? Aku hanya ingin bersikap baik kepadamu, aku tahu kau tengah mengalami kesulitan dalam finansial, bagaimana jika kau bergabung dengan kami dan apapun yang kau inginkan termasuk kesembuhan adikmu akan aku selesaikan bukan begitu kawan-kawan" ujar tuan Briantoro yang dianggukkan secepatnya oleh para petinggi perusahaan lain yang ada disana.
Sekretaris Jeno segera bangkit dari duduknya dan dengan penuh keberanian dia menentang semua ajakan dari seorang tuan Briantoro dan menjadi satu-satunya orang yang berani menentang ucapan dari tuan Briantoro untuk pertama kalinya saat itu.
"Maafkan saya tuan besar dan yang lainnya tetapi saya tidak membutuhkan semua itu, saya masih sanggup untuk membiayai semua pengobatan adik saya, dan semuanya sudah lebih dari cukup bagi saya, terimakasih atas tawarannya" balas sekretaris Jeno dengan penuh keyakinan pada awalnya.
Namun sayangnya tuan Briantoro bukanlah orang yang bisa menerima sebuah penolakkan seperti itu, terlebih oleh orang yang finansialnya jauh di bawah dirinya, tuan Briantoro menahan baru sekretaris Jeno disaat sekretaris Jeno hendak keluar dari ruangan yang menyesakkan dadanya saat itu.
"Sekretaris Jeno tidakkan kau ingin melihat adikmu sembuh, aku bisa memberikan sebuah ginjal baru untuk adikmu itu, dan dia bisa sehat seperti sedia kala, dia bisa bersekolah dan melakukan aktivitas lainnya, selain itu kau akan mendapatkan kenaikan jabatan menjadi direktur di kantor pusat, apakah semua itu tidak membuatmu berubah pikiran?" Ujar tuan Briantoro kepadanya.
Sekretaris Jeno memikirkan semua itu dan dia benar-benar di kema dengan pilihan yang sangat berat hingga pada akhirnya terpaksa sekretaris Seno mulai menanyakan apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan semua itu.
"Apa yang sebenarnya anda ingin saya lakukan?" Tanya sekretaris Jeno kepadanya,
"Ohooho....bagus...haha...dia mulai tertarik dengan tawaran kita... Haha...mudah saja sekretaris Jeno, kau hanya perlu mengkhianati satu orang saja, membocorkan data dan rahasia pribadi yang dia miliki, bagaimana cara sahabat terbaikmu itu bisa membesarkan perusahaan dan meninggikan saham sampai sebesar saat ini, bukankah data rahasia itu kau mengetahuinya...maka berikan data itu pada kami" ujar tuan Briantoro kepada sekretaris Jeno.
Mendengar hal itu sekretaris Jeno langsung saja terdiam dan mematung tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia tidak tahu apakah dia harus melakukan semua itu atau tidak, dia tidak bisa mengkhianati temannya yang membantu dia sejak dia belum menjadi siapa-siapa sampai seperti saat ini, namun disisi lain lagi dia juga sangat membutuhkan banyak biaya untuk adiknya dan dia tahu bahwa sangat memalukan untuknya terus membebani Arfanka jika meminta bantuan kepadanya terus menerus saat ini.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan Briantoro, jika itu yang anda inginkan saya tidak bisa melakukannya" balas sekretaris Jeno sambil segera berbalik dan menurunkan tangan tuan Briantoro yang memegangi sebelah bahunya saat itu.
"Sekretaris Jeno, kau pikirkan dahulu tawaran kami semua, jika kau berubah pikiran kapan saja kami akan selalu terbuka untukmu, dan jangan lupa kau harus mendukung Kevin di bandingkan anak pungut itu!" Ucap tuan Briantoro dengan tatapan tajam dan sebuah senyum sinis pada sekretarias Jeno.
"Saya permisi tuan besar" balas sekretaris Jeno sambil segera pergi dari sana dengan kedua tangan yang dia kepalkan dengan sangat kuat saat itu.
Amarah begitu memuncak pada diri sekretaris Jeno saat itu dia bahkan mem*kul stir mobilnya sendiri dengan sangat kencang, sampai membuat tangannya labam menjadi membiru, dia terus saja berdecak kesat dan mengusap rambutnya dengan frustasi.
Sedangkan disisi lain tuan Arfanka yang baru pulang dan aku sudah menyiapkan makan malam untuknya, namun sialnya Kevin malah makan lebih dulu dan dia mengambil semua makanan secara acak sehingga dengan cepat aku langsung menahan tangannya yang terus saja mengacak semua lauk disana saat itu.
"Peletak....." Suara tepukan tanganku yang menyentuh tangan Kevin cukup kuat saat itu,
"Aaaww ..heh..apa apaan kau ini? Kenapa kau malah menepuk tanganku, bukannya membantuku mengambilkan makanan itu kau malah menepuk ku seperti itu!" Bentak Kevin kepadaku saat itu.
Aku langsung saja memberikan tatapan tajam dengan membelalakkan kedua mataku dan melipat bibirku dengan keras padanya.
"Kevin... berhenti mencoba semua makanan seperti itu, piringmu sudah penuh apa kau yakin bisa menghabiskan semuanya? Aku membuatkan semua ini untuk tuan Arfanka bukan untukmu dasar konyol!" Bentakku kepadanya dengan kesal.
"Apa kau bilang hah? Aishh...memangnya aku bukan majikanmu hah, berani juga kau terus saja memanggil aku dengan sebutan Kevin...Kevin...dan Kevin!" Balas dia tak kalah marah denganku,
"Kau memang bukan majikanmu jadi tentu saja aku berbicara dengan menyebut namamu memangnya kau mau aku memanggilmu apa, si bodoh hah?" Balasku melawannya tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kau ..beraninya terus mengataikundan membentakku seperti itu, mulai sekarang kau harus memanggilku tuan muda Kevin, apa kau mengerti hah!" Bentak dia menentukan nama panggilannya sendiri saat itu.
Aku tidak setuju untuk memanggilnya dengan sebutan tuan muda karena dia bukan majikanmu dia juga tidak membayar aku setiap kali dia menyuruh aku untuk melakukan pekerjaan untuk melayaninya, jadi bagiku tidak perlu aku menuruti dia sama sekali, apalagi memanggilnya dengan sebutan tuan seperti itu.
"CK ...jangan harap aku akan memanggilmu seperti itu dan menurutimu, jika kau menjadi tuanku dan membayar semua hal yang aku lakukan untuk melayani kebutuhanmu, baru aku akan memanggilmu dan menghormatimu sama seperti yang aku lakukan pada tuan Arfanka, apa kau mengerti hah!" Balasku dengan tegas kepadanya.
Terlihat ada tuan Arfanka yang baru masuk ke dalam rumah saat itu, aku segera meninggalkan si Kevin sialan itu dan segera berjalan cepat menghampiri tuan Arfanka untuk menyambut dia secepatnya.
"Selamat datang tuan, apakah kau mau mandi atau makan dahulu?" Ucapku menyambutnya dan langsung menanyakan apa yang akan dia lakukan terlebih dahulu.
"Aku akan pergi beristirahat, kau siapkan air hangat untukku mandi" balasnya kepadaku.
Aku langsung mengangguk patuh dan tersenyum kepadanya namun wajahnya terlihat sangat lelah sekali hari ini, dia bahkan tidak memandangku sedikit pun dan hanya memberikan tas kerja juga jas yang dia kenakan padaku saat itu sambil segera berjalan menaiki tangga.
Aku segera mengikutinya dan pergi merapihkan jas miliknya juga tas kerja dia ke atas meja kerja dia yang ada di kamarnya, aku juga segera pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya sedangkan tuan Arfanka sendiri terlihat merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap ke langit-langit kamarnya saat itu.
__ADS_1
Aku sendiri sedikit merasa kebingungan melihat keadaan dia yang seperti itu, dan cukup aneh namun aku tidak berani untuk menanyakannya terlalu dalam kepadanya, kecuali jika dia sendiri yang mengatakannya kepadaku, baru aku akan mendengarkan dia.