
"Aaarrghhh.... Kapan aku akan sembuh dari penyakit sialan ini aishhh!" Gerutu tuan Arfanka sambil segera mengambil obat di dalam laci kecil yang ada di samping ranjangnya lalu dia segera meminum obat tersebut sekaligus dua tablet agar bisa tidur lebih cepat dan lebih nyenyak.
Setelah meminum obat tersebut barulah dia mulai merasa lemah dan sedikit mengangguk hingga tidak butuh lama dia langsung menutup matanya dan tertidur dengan cepat berkat efek dari obatnya tersebut.
Sampai ke esokan paginya aku terus tertidur karena semalam sangat lelah juga tidur begitu larut sampai bunyi alarm yang terus berdering sangatlah kencang, aku memang terbiasa memasangkan alarm di samping tempat tidurku untuk berjaga-jaga agar tidak kesiangan karena aku sendiri tidak sanggup jika harus menghadapi amarah seorang tuan Arfanka yang bisa membeludak kapan saja.
Tapi kali ini karena aku sangat lelah dan begitu mengantuk aku tidak sadar jika tanganku sendiri yang mematikan dan menepuk alarm tersebut secara tidak sengaja, sehingga aku langsung saja mematikan alarm tersebut begitu saja.
Aku juga kembali menutup mataku dan kembali tertidur karena aku pikir saat itu masih terlalu pagi untuk bangun, dan aku juga berpikir karena hari itu adalah hari Minggu sehingga tuan Arfanka juga selalu bangun siang ketika hari Minggu jadi aku tidak perlu membuatkan sarapan untuknya.
Tapi tidak lama kemudian disaat aku baru saja merasa akan kembali tidur dengan lelap lagi, pintu kamarku terdengar di ketuk dengan keras oleh seseorang di luar sana dan suaranya terdengar begitu menggelegar dengan kuat memanggil namamu berkali-kali hingga membuat aku sangat jengkel di buatnya.
"Tok....tok....tok.....hey....gadis sialan...buka pintunya, aishh.....hey aku sudah lapar kapan kau akan membuat sarapan dasar kau hey.....cepat bangun buk....buk...buk" suara ketukan pintu dan teriakkan dari tuan Arfanka di balik pintu kamarku saat itu.
"Aishh.....siapa sih yang mengetuk pintu kamarku sepagi ini, aaahhh aku masih mengantuk aku tidak ingin bangun" ucapku yang masih enggan untuk bangun dan memilih kembali tidur dengan menutup kedua telinga menggunakan bantal di sana.
Aku berusaha untuk menutupi telingaku karena merasa sangat jengkel dan kesal dengannya tetapi sampai tidak lama kemudia aku mulai tersadar bahwa suara itu adalah suara tuan Arfanka yang memanggil aku, dan aku langsung terperanjat dari ranjangku secepat yang aku bisa hingga terduduk dengan tegak diatas ranjangku sambil langsung melirik ke arah pintu kamarku yang masih saja di gebrak dengan kuat dari luar oleh tuan Arfanka saat itu.
"Oh....astaga....memangnya sudah jam berapa sekarang ini?" Tanyaku merasa bingung dan panik sendiri.
Aku segera memeriksa ke arah jam dinding yang ada di kamarku saat itu dan aku begitu kaget saat melihat jam dinding itu menunjukkan pukul sepuluh pagi, hingga aku langsung saja membelalakkan mataku dengan kaget dan segera aku berlari membukakan pintu untuk tuan Arfanka secepatnya.
"Ya ampun matilah aku, aishhh......iya tuan sebentar" ucapku membalas teriakannya.
Dan aku segera saja membuka pintu kamarku secara pelan dan menunduk menghadap ke arah tuan Arfanka saat itu, sampai aku melihat tuan Arfanka menatapku dengan sangat tajam dan dia berkacak pinggang dengan nafasnya yang menderu dan sepertinya saat itu dia sudah beres berolahraga.
Aku benar-benar merasa takut dan gugup berada di hadapannya saat ini, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi dan sangat kebingung hanya bisa menunduk sambil memegangi kedua tanganku dengan kuat dan berusaha untuk meminta maaf kepadanya karena sudah benar-benar kesiangan hari ini.
"Tu....tu...tuan....saya akan memasak secepatnya, mohon tunggu sebentar" ucapku kepadanya.
Aku langsung saja berniat berlari dan pergi dari sana secepat yang aku bisa untuk menyiapkan makanan baginya tapi tiba-tiba saja tuan Arfanka langsung menahan tanganku dan dia mendorong tubuhku cukup kuat sampai aku sendiri langsung saja tersentak ke dinding dengan menelan salivaku sendiri secara susah payah sebab melihatnya menatap aku dengan tatapan yang tajam dan begitu bengis.
"Kau.... Beraninya kau mau pergi dan meloloskan diri dariku begitu saja, nafsu makanku sudah hilang karena kau, kau ini aishh....membuat aku selalu saja naik darah dan jengkel, lalu ini apa-apaan kau beraninya keluar dari kamarmu memakai piyama yang sangat pendek dan terbuka seperti itu, cepat kau masuk kembali ke dalam dan ganti pakaianmu, cepat!" Teriak tuan Arfanka yang langsung saja membentakku dengan sangat keras.
Aku tersentak kaget dan tidak bisa melawan atau membalas ucapannya saat itu, aku hanya mengangguk patuh dan segera kembali masuk ke dalam kamar lalu mengganti pakaian secepat yang aku bisa sekaligus menggosok gigi juga membersihkan wajahnya secepat kilat.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain tuan Arfanka merasakan jantungnya yang berdetak kencang dan dia yang merasa sangat panas ketika melihat Klara keluar dengan rambut sedikit berantakkan juga pakaiannya yang begitu terbuka sampai dia bisa melihat bentu tubuhnya dengan begitu jelas juga kulitnya yang mulus itu.
Tuan Arfanka hanya bisa menggerutu kesal dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, juga mengesampingkan perasaannya yang tidak menentu seperti itu.
"Aishhh...ada apa denganku saat ini, aahhh....dia benar-benar membuat aku kebingungan dan terus merasa aneh seperti ini dasar jantung sialan!" Gerutu tuan Arfanka yang terus saja menolak perasaannya sendiri terhadap Klara saat itu.
Tuan Arfanka yang sudah benar-benar kehilangan nafsu makannya karena dia pikir Klara terlalu lambat dan lama untuk mengganti pakaiannya saja, sehingga saat itu tuan Arfanka langsung saja pergi dari sana untuk membersihkan dirinya yang saat itu baru saja selesai olahraga.
Hingga ketika aku keluar dari kamar dan hendak menemuinya aku sudah tidak melihat keberadaan tuan Arfanka di depan kamarku atau di sekitar tempat yang ada di sana.
"Tuan aku sudah se.....ehhh....diamana dia? Apa tuan Arfanka sudah ke dapur lebih dulu ya?" Ucapku yang merasa kebingungan sendiri.
Segera saja aku pergi ke dapur dengan terburu-buru untuk mencari keberadaan tuan Arfanka saat itu namun sayangnya aku benar-benar tidak bisa menemukan sosoknya disana kala itu, sehingga aku segera saja bersiap untuk memasak karena aku pikir dia mungkin akan segera dapat ke dapur dan segera sarapan jika aku sudah menyelesaikan masakannya.
"Aaahhh....kemana perginya tuan Arfanka apa dia ke kamarnya ya?" Tanyaku samb terus menatap mengintip ke arah tangga saat itu.
Aku hanya bisa menghembuskan nafasku sendiri dengan lesu sambil menggerutu kesal kepadanya karena pagi ini dia benar-benar membuat aku sangat kesal dan jengkel bahkan hanya perkara piyama yang aku kenakan saja dia bisa sampai semarah itu kepadaku dan aku sangat kesal dengan sikapnya seperti itu.
"Huh....dasar manusia sialan, sangat menjengkelkan aku sangat membencimu, awas saja kau tahu...aishh....aku akan memberikanmu sedikit kejutan pada makanamu hehe lihat saja nanti" gerutuku sambil terus memasang wajah kesal sendiri.
Aku segera saja pergi ke dapur dan langsung saja memasak makanan disana untuk sarapan tuan Arfanka dan tidak lupa aku menambahkan banyak sekali saus pedas ke dalam sandwich yang sudah aku buat tersebut, aku terus saja memenambahkan lebih banyak lagi saus bahkan beberapa cabai yang sengaja aku iris kecil-kecil karena agar tidak di ketahui olehnya.
Aku sangat tidak sabar untuk menunggunya sehingga aku tidak bisa diam dan terus saja membayangkan semua hal dan kemungkinan yang akan terjadi terhadapnya saat menyantap sandwich tersebut nantinya.
"Ahaha....itu pasti akan sangat menyenangkan dia bisa sampai mengeluarkan api dari telinga dan mulutnya, haha....rasakan saja nanti kau akan mendapatkan balasan atas perbuatanmu kepadaku semalam huh" gerutuku pelan sambil terus membenarkan posisi sandwich tersebut.
Dan tanpa aku sadari saat itu justru sebenarnya tuan Arfanka sudah berada di belakangku dan dia dengan sengaja diam-diam mendengarkan gerutuanku sehingga dia mengetahui rencana terselubung saat itu dan dengan wajah yang datar dia berjalan masuk sambil berdehem pelan ke dalam ruang makan seakan dia tidak mengetahui apapun tentang sandwich yang aku sajikan saat itu.
"Ekhmmm....apa yang kau masak ini?" Tanya tuan Arfanka yang tiba-tiba saja muncul saat itu.
Aku sedikit kaget karena dia muncul dari belakang tetapi aku segera saja mengubah ekspresi kagetku agar dia tidak merasa curiga terhadapku dan apa yang sebenarnya aku berikan ke dalam sandwich tersebut.
"Ahhh....tuan ini aku membuatkan sandwich spesial kesukaanmu, ayo silahkan duduk" ucapku kepadanya sambil menarikkan kursi disana untuknya.
Tuan Arfanka hanya menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya dalam beberapa saat, seakan dia menatapku dengan penuh perhatian dan begitu lekat saat itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi baik seperti ini, kau tidak merencanakan apapun yang berbahaya untukku bukan?" Ujar tuan Arfanka membuat aku sedikit gugup dan kaget ketika mendengarnya.
Aku sedikit tersentak kaget dan langsung membuka mulutku terbuka setengah, hingga aku segera saja tersenyum canggung dan mengalihkan pembicaraan darinya agar dia tidak mencurigai apapun kepadaku saat itu.
"O..AA..oohh...tuan Arfanka kau ini bicara apa sih, haha...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu kepadamu, kau itu kan malaikat penyelamat adikku dan kau adalah orang yang paling baik untukku, haha mana mungkin aku berperilaku seperti itu" ucapku sambil tersenyum canggung dan memalingkan pembicaraan berusaha dengan sekeras yang aku bisa agar dia tidak mencurigai diriku saat itu.
Namun sialnya tuan Arfanka tiba-tiba saja dia menyuruh aku untuk mencicipi sandwich miliknya secara tiba-tiba, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah bersikap terlalu hati-hati seperti ini, aku langsung kaget dan terperangah ketika mendengar ucapan darinya yang langsung saja meminta aku untuk mencicipi sandwich miliknya lebih dulu saat itu.
"Baiklah jika kau memang tidak melakukan apapun, makanlah sandwich milikku, kau hanya perlu mencobanya sepotong untuk memastikan apakah sandwich itu aman untuk aku konsumsi atau tidak" ujar tuan Arfanka kepadaku.
Aku membuka mataku dengan lebar dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku dengan cepat berusaha mencari alasan sebaik yang aku bisa agar bisa kabur dan pergi dari hal tersebut.
"Tu...tu...tuan... Maafkan aku tapi aku tidak terlalu menyukai sandwich, aku juga sebelumnya sudah makan jadi kau bisa memakannya saja aku bertanggung jawab penuh atas makanan itu aku tidak memasukkan apapun ke dalam sandwichmu, kau bisa mempercayai aku tuan" balasku kepadanya dengan wajah yang berusaha untuk meyakin dirinya saat itu.
Tapi tuan Arfanka justru malah terlihat tersenyum kecil sambil menaikkan sebelah alisnya dan menyipitkan matanya ketika menatap ke arahku saat itu, hal tersebut tentu saja membuat aku merinding takut dengan apa lagi yang akan dia katakan kepadaku saat itu.
"Astaga...kenapa dia harus melemparkan tatapan maut yang sangat menyeramkan seperti itu, aduh ....jangan sampai aku benar-benar harus memakan sandwich itu, aku tidak suka pedas" batinku penuh harap saat itu.
Dan ternyata semua harapanku musnah aku benar-benar hanya melangitkan sebuah harapan kosong karena tuan Arfanka masih terus menyuruh aku untuk mencicipi sandwich miliknya tersebut meski aku sudah berusaha menolak dengan berbagai alasan yang sudah aku buat sebaik mungkin, mulai dari yang aneh, yang masuk akal hingga yang tidak normal aku ucapankan semuanya kepada dia.
"Ya sudah jika memang kau tidak memasukkan apapun kepada makananmu itu berarti bagus kau juga tidak perlu keberatan untuk mencicipinya bukan?" Balas tuan Arfanka sambil menggeser piringnya tersebut kepadaku saat itu.
Aku langsung menelan salivaku sendiri dengan begitu kesulitan sambil menatap penuh rasa takut kepada sandwich yang sudah aku beri banyak potongan cabai juga saus pedas di dalamnya, tidak tahu lagi bagaimana rasa sandwich itu nantinya.
"Ta..ta..tapi tuan...saya...saya" ucapku merasa sangat gugup untuk mencari alasan lain lagi kepadanya,
"Saya apa, ayo cepat cicipi saya hanya minta untuk kau mencicipinya sepotong kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu, ayo cicipi baru aku akan percaya jika sandwich buatanmu ini benar-benar aman untukku" balasnya sambil menatap aku dengan datar dan menaikkan kedua alisnya sekaligus.
Dia juga menggeser lagi piring berisi sandwich tersebut sambil memotongkannya untukku lalu menusuknya dengan garfu yang sudah aku sediakan untuknya lalu dia mulai memberikan potongan sandwich yang cukup besar itu kepadaku.
Aku sungguh tidak memiliki pilihan lain lagi saat itu, seakan aku tengah berdiri di depan sebuah jurang yang begitu tinggi dan mulai berhadapan dengan pilihan yang sangat sulit dimana semua pilihannya akan membuat aku mati pada akhirnya.
"Ohhh ..tuhan tolong selamatkan lah lidah dan perutku dari makanan super pedas ini, aku mohon kepadamu tuhan" batinku merasa sangat takut dan cemas.
Dengan tangan yang gemetar cukup hebat aku berusaha meraih sandwich yang di ambilkan oleh tuan Arfanka saat itu, aku terus mengangkat tanganku dan meraih gagang garfu tersebut hingga ketika aku sudah mendapatkannya tuan Arfanka langsung saja kembali mendesak aku lagi untuk segera memakan sandwich tersebut.
__ADS_1
"Nah...sekarang ayo makan, cepat masukkan sandwich spesial buatanmu itu ke dalam mulutmu, ayo cepat!" Ujar Tuan Arfanka yang mendesak aku dengan keras.
Entah kenapa saat itu aku merasa bahwa dia seperti sudah mengetahui semua perbuatan yang aku lakukan kepada roti lapis miliknya tersebut sampai dia harus memaksa aku sendiri yang memakannya dengan cara yang begitu kasar saat itu.