
Karen yang sudah berpamitan dengan Ronald langsung berjalan dengan cepat karena pemilik tubuh meminta dirinya untuk cepat - cepat menuju ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Karen berjalan ke ruangan ugd di sana sudah ada ibunya Elisabeth dan Ronald.
" Bu, bagaimana keadaan ayah?" tanya Karen sambil memeluk ibunya Elisabeth.
" Ayah semakin kritis." ucap ibunya Elisabeth sambil membalas pelukan putri semata wayangnya.
" Hiks... hiks.. hiks..." ibunya Elisabeth menangis dipelukan Karen.
ceklek
Seorang dokter keluar dari ruangan ugd dengan wajah lesu membuat ibunya Elisabeth, Karen dan Albert was - was. Mereka berdiri dan mendekati dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan suami ku dok?" tanya ibunya Elisabeth.
" Maafkan kami nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan suami nyonya tapi Tuhan lebih sayang dengan suami nyonya." ucap dokter tersebut dan tanpa sadar keluar lah air matanya karena dirinya gagal menyelamatkan pria paruh baya itu.
" Tidak??? Ayahhhh... hiks...hiks ..." teriak ibunya Elisabeth sambil menangis dan berlari ke dalam ruangan ugd di mana suaminya berbaring di ranjang.
Ibunya Elisabeth menatap tubuh suaminya yang sudah di tutupi kain putih. Ibunya Elisabeth mengulurkan tangan kanannya untuk membuka penutup kain yang menutupi kepala suaminya.
" Ayah... hiks..hiks..hiks... kenapa tega meninggalkan ibu sendiri." ucap ibunya sambil memeluk suaminya dan menangis di dada suaminya yang terbujur kaku.
" Ibu tidak sendiri masih ada aku dan Albert." ucap Karen sambil memeluk ibunya Elisabeth begitu pula dengan Albert.
Tidak berapa lama ibunya Elisabeth tidak sadarkan diri membuat Elisabeth berusaha menahan tubuh ibu Elisabeth agar tidak terjatuh.
" Albert panggil dokter cepat, ibu pingsan." perintah Karen
" Baik." Jawab Albert sambil melepaskan pelukannya kemudian berjalan keluar untuk memanggil dokter.
Setelah lima belas menit ibunya Elisabeth sudah tersadar.
" Bu, ayah mau dikubur di mana?" tanya Karen sambil membelai punggung ibunya Elisabeth.
" Kuburkan di kota xxxx, kita semua tinggal di sana." ucap ibunya Elisabeth.
" Baik mom." Jawab Karen dan Albert serempak.
Setelah selesai mengurus biaya administrasi mereka membawa jenasah ayahnya Elisabeth dengan mobil ambulance kemudian dilanjutkan menuju ke pesawat karena beda negara.
Karen sebelumnya menghubungi sahabatnya dokter Clarissa kalau dirinya berhenti kerja karena ingin menemani ibunya Elisabeth yang sedang berduka.
__ADS_1
Setelah kepergian Karen, ibunya Elisabeth, Albert dan jasad ayahnya Elisabeth bersama sopir bertepatan kedatangan David, Ronald langsung menemui bagian resepsionis.
" Selamat siang, apakah ada pasien atas nama Karen?" tanya Ronald
" Tunggu sebentar tuan." ucap salah satu resepsionis dengan nada sopan.
Setelah agak lama memeriksa data pasien bagian resepsionis menatap wajah tampan Ronald dengan jantung berdebar kencang.
" Maaf tuan, pasien atas nama Karen tidak ada." ucap resepsionis itu dengan nada sopan.
" Hmmm.. kalau salah satu keluarga pasien bernama nona Karen adakah?" tanya Ronald
" Tunggu sebentar tuan." ucap salah satu bagian resepsionis dengan nada sopan.
Setelah agak lama memeriksa data pasien bagian resepsionis menatap wajah tampan Ronald dengan jantung masih berdebar kencang tapi berusaha disembunyikannya.
" Maaf tuan tidak ada." ucap resepsionis itu dengan nada sopan.
Ronald berfikir sejenak kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah tuan David yang sedang duduk sambil membelai punggung putra kesayangannya yang bernama Daka.
"Tuan, apakah tuan punya foto nona Karen?tanya Ronald.
" Ada." ucap David singkat ssambil mengambil ponselnya di saku jasnya kemudian mencari foto Karen bersama dirinya kemudian di berikan ke Ronald.
" Apakah anda mengenal foto wanita ini?" tanya Ronald sambil memberikan ponsel milik David.
Resepsionis itupun menerima ponselnya dan melihat foto wanita itu.
" Saya kenal, namanya nona Elisabeth. Ayahnya meninggal karena kecelakaan dan sudah dibawa oleh keluarganya." ucap resepsionis itu.
" Apakah tahu di bawa ke mana?" tanya Ronald
" Maaf yang saya tahu mereka membawa jenasah ke bandara karena mereka mau dikuburkan di negara asalnya." ucap resepsionis itu.
" Ok." Jawab Ronald dengan singkat
Ronald membalikkan badannya kembali dan berjalan ke arah tuan David.
" Maaf tuan, namanya nona Elisabeth dan nona Elisabeth sudah pergi bersama keluarganya." Lapor Ronald.
David kecewa mendengar ucapan asisten kepercayaannya.
" Kita pulang saja ke negara kita." ucap David setelah agak lama diam
__ADS_1
" Mommy jangan pergi." gumam Daka
David mendengar gumaman anak semata wayangnya hatinya sangat sedih karena dirinya tahu anaknya setiap tidur selalu memeluk foto mommynya seperti yang dilakukan oleh dirinya.
" Sabar ya sayang, kita pasti bertemu dengan mommy." ucap David sambil membelai punggung anaknya dengan lembut.
" Kita pergi sekarang." ucap David sambil berdiri kemudian berjalan meninggalkan rumah sakit.
" Baik tuan." Jawab Ronald sambil berjalan mengikuti tuan David dari arah belakang.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda Karen memeluk ibunya Elisabeth sambil mengusap punggungnya agar mengurangi kesedihan ibu Elisabeth.
" Sabar ya Bu, ayah sudah tenang di sana jika ibu sedih ayah juga ikut sedih." ucap Karen dengan nada lembut.
" Hiks... hiks... ibu sedih kamu belum menikah dan ayahmu belum melihatmu menikah. Maukah kamu menikah dengan Albert di depan jenasah ayahmu?" tanya ibunya Elisabeth
Karen sangat terkejut begitu pula dengan Albert mendengar ucapan ibu Elisabeth.
" Bu, saya dan kak Albert hanya menganggap sebagai kakak dan adik." ucap Karen tidak berapa lama air matanya keluar.
( " Seandainya ibu tahu kalau aku sebenarnya adalah Karen sudah menikah dan mempunyai anak." ucap Karen dalam hati ).
" Kalau begitu sebelum ayahmu dikubur kamu harus sudah menikah kalau tidak kamu harus menikah dengan Albert." ucap ibunya Elisabeth dengan tegas.
" Tapi Bu..." ucapan Karen terpotong oleh ibunya Elisabeth.
" Selama ini ibu tidak meminta sesuatu darimu tapi kini ibu meminta kamu menikah di depan jenasah ayahmu." ucap ibunya Elisabeth sambil memejamkan matanya dan duduk di kursi pesawat.
" Kak Albert bagaimana ini?" bisik Karen meminta bantuan.
" Kita ikuti permintaan ibu." Ucap Albert
" Tapi kak Albert sudah aku anggap sebagai kakak dan Elisabeth tidak mempunyai perasaan sedikitpun sebagai seorang kekasih." ucap Karen jujur.
" Kak Albert tahu, tapi kak Albert tidak bisa menolak permintaan ibumu." ucap Albert
( " Seandainya kamu tahu, aku sangat mencintaimu sejak pertama kita bertemu tapi sayang kamu hanya menganggapku sebagai seorang kakak." keluh Albert dalam hati ).
( " Aku harus meretas data pribadi suamiku agar aku tahu dimana suamiku tinggal sekarang, terlebih aku sangat merindukan anakku Daka. Sabar sayang, mommy akan menemuimu juga daddy." ucap Karen dalam hati ).
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di rumah yang lama dan seperti pesan ibunya Elisabeth kalau jenasah suaminya tidak akan di kubur jika Elisabeth belum menikah.
__ADS_1
" Bu, sudah dua hari jenasah ayah kenapa belum di kubur, kasihan ayah bu?" mohon Karen