
" Ibu sudah bilang kalau kamu menikah maka jenasah ayahmu langsung di kubur." ucap ibunya bersikeras.
Karen hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan meninggalkan ibunya di ruang tamu di mana ayahnya Elisabeth sedang terbaring di dalam peti dengan tubuh yang kaku dan dingin.
Karen berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil laptopnya untuk meretas data tentang informasi suaminya David. Setengah jam lamanya akhirnya dirinya berhasil meretas data tentang informasi suaminya.
xxxxxxx
Di negara yang sama seorang pria yang sedang sibuk bekerja tiba - tiba ponselnya berdering kencang tanda ada orang yang sedang meretas datanya membuatnya menghentikan pekerjaannya.
ceklek
" Tuan David, suara ponsel tuan berdering kencang, siapa yang berani meretas data tuan?" tanya Ronald karena suara ponsel David terdengar di ruangan Ronald yang berada di sebelahnya
" Aku juga tidak tahu, aku akan menyerang balik." ucap David sambil mengutak atik laptopnya.
Tidak berapa lama ponselnya yang tadi berdering kencang mendadak berhenti membuat David dan Ronald saling menatap. Tiba - tiba ponsel milik David berdering membuat David mengambil ponselnya yang berada di meja kerjanya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
" Nomer tidak di kenal, biarkan saja." ucap David bicara sendiri dengan mengabaikan panggilan ponselnya.
Panggilan pertama hingga panggilan ketiga David tetap mengabaikannya. Hingga panggilan ke empat barulah David mengangkatnya.
" Honey.." panggil Karen
deg
deg
deg
Jantung David berdetak kencang mendengarkan suara wanita yang bertahun-tahun sangat dirindukannya.
" Honey, apakah honey baik - baik saja?" tanya Karen dengan nada kuatir
( " Kenapa suara itu sangat mirip dengan istri yang kucintai?" tanya David dalam hati ).
tut tut tut tut tut
Ponsel pun langsung terputus membuat David terkejut.
" Kok putus." ucap David sambil telephone balik tapi hanya terdengar suara operator.
" Kenapa ponselnya tidak aktif? kenapa suaranya seperti suara Karen?" tanya David pada dirinya sendiri.
Ronald yang mendengar ucapan tuan David dari awal hingga sekarang hanya setia mendengarkan ucapan tuan David.
" Apakah kamu tidur Ronald?" tanya David dengan nada naik satu oktaf.
" Tidak tuan." Jawab Ronald.
__ADS_1
" Kenapa kamu diam saja?" tanya David sambil menatap tajam ke arah Ronald.
" Maaf tuan." Jawab Ronald.
" Hahhhh... sudahlah... pergilah keluar aku ingin sendiri." ucap David
" Baik tuan." Jawab Ronald sambil menunduk hormat kemudian pergi meninggalkan tuan David sendiri di ruangan pribadinya.
" Apa karena aku sangat merindukan istriku makanya aku sampai berhalusinasi." Ucap David
David berusaha melupakannya dengan cara menyibukkan dirinya bekerja. Satu jam lamanya David sudah sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk hingga terdengar pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu.
David paling tidak suka jika ada orang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat David menghentikan pekerjaannya tanpa menatap siapa yang berani membuka pintu.
" Apakah kamu tidak diajarkan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu ketika berada di perusahaan atau di rumah orang lain?" tanya David dengan nada dingin.
hening
hening
brak
David yang merasa kesal langsung menggebrak meja sambil berdiri dan wajahnya diarahkan ke orang yang tidak tahu sopan santun. Mata David yang tajam dan aura ingin membunuh berubah menjadi sorotan kerinduan yang teramat sangat terhadap wanita yang sangat dicintainya.
" Kamu... Karen?" tanya David seakan tidak percaya wanita yang dirindukan datang.
" Jangan di kucek tidak bagus untuk matamu honey." jawab Karen dengan nada lembut sambil tersenyum
grep
David melepaskan ke dua tangan Karen dan langsung memeluknya dan tidak berapa lama air matanya keluar. Air mata kerinduan bertahun - tahun merindukan istrinya. Wangi pada rambut dan tubuh Karen sama sekali tidak berubah wangi yang selalu dirindukan oleh David.
" Aku sangat..... sangat merindukanmu. Oh iya kata Ronald, Federick dan Sandra kamu menyumbangkan..." ucap David menggantungkan kalimatnya.
" Ke dua mata, ke dua ginjal dan jantung, apakah honey sudah menerima pesanku lewat email untuk menjaga ke dua mata, ke dua ginjal dan jantung pemberianku?" tanya Karen sambil membalas pelukan suaminya yang sangat dirindukannya.
David terkejut dan mendorong perlahan tubuh Karen untuk menatap mata Karen.
" Honey pasti terkejut kenapa aku masih hi...." ucapan Karen berhenti karena ada orang yang mengetuk pintu.
David langsung duduk di kursi kebesarannya sedangkan Karen duduk di kursi sofa.
" Masuk." Ucap David
ceklek
" Daddy." panggil Daka sambil kakinya yang masih kecil berlari menuju ke arah daddynya.
" Hallo jagoan daddy." ucap David sambil berdiri kemudian ke dua kakinya melangkah ke arah anaknya.
__ADS_1
grep
David langsung memeluk dan menggendong anaknya Daka sambil mengecup ke seluruh wajah anaknya membuat Daka tertawa karena merasakan geli.
" Daddy.... hihihi... geli daddy." Ucap Daka sambil tertawa.
" Daka.." panggil Karen dengan nada lembut dengan sorot mata akan kerinduan teramat sangat terhadapat putranya dan juga suaminya hingga air matanya keluar.
Daka langsung menengok ke arah samping karena mendengar suara yang sangat dirindukannya.
" Mommy... daddy turunkan Daka." pinta Daka
David menurunkan anaknya secara perlahan kemudian Daka langsung berlari dengan ke dua tangan direntangkan untuk memeluk mommynya. Karen langsung berjalan dengan cepat agar dapat memeluk putra semata wayangnya.
" Mommy, Daka kangen sama mommy... Mommy kangen sama Daka ya? makanya nemuin Daka." ucap Daka
grep
" Iya sayang, mommy kangen banget sama Daka." ucap Karen sambil memeluk Daka kemudian menggendongnya.
" Mommy jangan pergi lagi ya kasihan daddy, setiap malam nangis sambil berbicara dengan mommy lewat foto." ucap Daka
" Benarkah?" ucap Karen sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
" Daka, sama paman Ronald ya? Daddy mau bicara sebentar dengan mommy." pinta David
" Tapi daddy, Daka masih kangen dengan mommy." tolak Daka
" Daka!!!" bentak David untuk pertama kalinya.
" Hiks...hiks..hiks..." Daka langsung menangis
Karen menatap tajam ke arah suaminya sambil membelai punggung Daka dengan lembut.
" Sayang, jangan menangis ya, daddy dan mommy hanya bicara sebentar saja. Mommy janji setelah selesai berbicara mommy akan menemui Daka.
" Mommy janjikan?" ucap Daka dengan mata yang masih menangis.
" Mommy janji sayang, sekarang jangan menangis lagi ya?" ucap Karen sambil menghapus air mata Daka.
" Baik mommy." Jawab Daka
Karen langsung berjalan ke arah meja suaminya kemudian tangan kanannya mengambil telepon kemudian menekan tombol ke asisten suaminya.
" Hallo tuan David ada yang bisa saya bantu?" tanya Ronald dengan nada sopan.
" Kak Ronald ini Karen tolong titip Daka sebentar ada yang ingin aku bicarakan dengan tuan David." ucap Karen.
" Baik nyonya." Jawab Ronald walau dirinya masih bingung dan ragu karena setahunya Karen sudah meninggal.
__ADS_1