Gadis Culun Dan Psycopath

Gadis Culun Dan Psycopath
Menolak Pembatalan Perjanjian


__ADS_3

" Sayangku Tamara." panggil Ronald kembali


hening


Ronald menggerakkan bahunya sedikit membuat Tamara terkejut dan tersadar dari lamunannya membuat Tamara langsung duduk dengan tegap.


" Ada apa kak?" tanya Tamara


" Kok aku panggil diam saja? jangan - jangan tadi aku cerita kamu tidak dengar." Ucap Ronald


" Memang kak Ronald cerita apa?" tanya Tamara


" Kamu mikir apa?" tanya Ronald


" Aku mikir..." ucap Tamara menggantungkan kalimatnya karena bingung mau mengatakan apa.


" Apa kamu memikirkan yang enak - enak?" goda Ronald


" Aish kak Ronald kenapa sich jadi mesum seperti ini?" tanya Tamara dengan wajah memerah.


" Aku juga tidak tahu sayang yang pasti sejak kita pertama kali melakukannya membuatku jadi ketagihan. Putri kita sudah tidur kita lanjutkan yang tadi ya?" pinta Ronald dengan tatapan mesumnya.


Tanpa menunggu jawaban Ronald menggendong Tamara ke kamar tamu. Mereka melakukan hubungan suami istri kembali entah kenapa tubuh Tamara membuat Ronald jadi kecanduan.


Ronald memeluk Tamara kemudian mengecup pucuk kepala Tamara. Tamara membalas pelukan Ronald sambil kepalanya bersandar di dada bidang Ronald.


" Sayang setelah Clarissa terbangun kita menikah secara sederhana karena aku tidak ingin kita berbuat dosa lagi." ucap Ronald


" Apakah tidak terlalu cepat?" tanya Tamara.


" Tidak sayang karena kamu tahu aku tidak bisa menahan hasratku jika dekat denganmu." Ucap Ronald.


" Apakah sayangku menikah denganku karena *****?" tanya Tamara sambil menatap mata Ronald.


" Aku jujur mengatakan padamu, aku sangat mencintaimu memang ini terasa cepat tapi itulah yang terjadi apapun yang kamu inginkan aku akan mengabulkannya dan mengenai ***** tentu saja hanya kamu wanita satu - satunya yang bisa membuat hasratku menjadi tinggi karena itu aku ingin secepatnya kita menikah agar kita melakukan ini tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Maaf aku tidak bisa menahan hasratku jika dekat denganmu." Ucap Ronald sambil menatap mata indah Tamara.


Tamara tidak ada kebohongan di mata Ronald membuat Tamara hanya diam tanpa bicara sedikitpun di satu sisi dirinya sangat bahagia tapi di sisi lain dirinya memikirkan keluarganya.


" Kenapa kamu diam lagi hhmmm." ucap Ronald

__ADS_1


" Aku sangat terharu mendengarnya jadi aku tidak bisa berkata - kata lagi karena aku sangat bahagia." ucap Tamara sambil memeluk Ronald dengan erat seakan takut kehilangan Ronald.


( " Bolehkah aku egois memikirkan kebahagiaanku sendiri tapi orang tuaku? Tuhan, aku sangat mencintai Ronald dan juga Clarissa tapi bagaimana dengan ke dua orang tuaku?" ucap Tamara dalam hati dan tidak berapa lama dirinya menangis ).


Ronald tersenyum mendengar ucapan Tamara wanita yang dicintainya. Kini dirinya bisa move on dari Clarissa karena saat ini dirinya sudah menemukan penggantinya yang lebih baik. Ronald merasakan tubuhnya basah membuat Ronald mendorong perlahan tubuh Tamara.


" Kenapa menangis? apakah aku menyakitimu?" tanya Ronald sambil menghapus air mata Tamara dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


" Tidak sayang, aku sangat mencintaimu sayang tapi aku sangat takut jika suatu saat nanti sayangku meninggalkan diriku karena itulah aku menangis." Ucap Tamara


" Aku tidak mungkin melakukan itu sayang karena aku sangat mencintaimu. Satu ronde lagi ya sayang." pinta Ronald sambil tersenyum menyeringai


Tamara hanya menganggukkan kepalanya dan merekapun melakukan kegiatan suami istri. Setelah selesai mengeluarkan laharnya ke dalam rahim Tamara mereka masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan lagi dan lagi hingga terdengar suara tangisan Clarissa.


" Sayang, anak kita menangis." ucap Tamara


" Sebentar lagi sayang." ucap Ronald sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang.


Selesai melakukan kegiatan panasnya mereka membersihkan diri dan secepat kilat memakai pakaian karena Clarissa menangis memanggil nama mereka.


" Sayang maafkan bunda dan ayah ya?" ucap Tamara sambil menggendong Clarissa kecil.


" Maaf sayang tadi bunda dan ayah lagi... " ucap Ronald menggantungkan kalimatnya karena bingung mau menjawab apa.


Ronald hanya menatap wajah cantik Tamara untuk meminta bantuan.


" Agi apa ayah?" tanya Clarissa kecil


" Tadi kepala bunda pusing sayang dan ayah nolongin bunda." ucap bunda Tamara


" Unda ucing?" tanya Clarissa sambil megang kening bunda Tamara.


" Iya sayang bunda pusing sekarang sudah tidak lagi." Ucap bunda Tamara


" Clarissa sini ayah gendong nanti bunda pusing lagi bagaimana?" ucap ayah Ronald berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Aik ayah." Jawab Clarissa kecil.


Ayah Ronald menggendong Clarissa kecil sedangkan Tamara menghembuskan nafasnya perlahan. Mereka duduk di ruang tamu, tiba - tiba ponsel milik ayah Ronald berdering, ayah Ronald memberikan Clarissa kecil ke Tamara kemudian mengambil ponselnya di saku kemejanya dan melihat tuan David menghubungi dirinya.

__ADS_1


Ayah Ronald menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya. Setelah beberapa menit ponselnya dimatikan secara sepihak oleh tua David. Ronald menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


" Aku di suruh ke rumah sakit sama tuan David. Besok kita pergi untuk membeli cincin pernikahan setelah itu kita mendaftarkan pernikahan kita. Kita mengadakan acara sederhana apakah kamu setuju?" tanya Ronald


" Aku tidak masalah menikah sederhana kok sayang." ucap Tamara.


cup


" Ok, besok pagi aku ke sini lagi ayo Tamara ikut ayah." Ajak ayah Ronald.


Ronald mengangkat tubuh Clarissa kecil yang berada di gendongan Tamara.


" Clarissa biar sama aku saja." Ucap Tamara


" Tidak kapan - kapan saja, kamu sekarang istirahat lah." ucap Ronald


" Baiklah." Jawab Tamara singkat


Ronald berjalan sambil menggendong Clarissa kecil menuju ke arah pintu apartemen dengan di temani Tamara. Tamara menemani sampai di depan pintu apartemen.


cup


" Nanti malam aku ke sini lagi." Bisik Ronald sambil tersenyum menyeringai


" Bisa tidak jangan memikirkan itu terus." ucap Tamara sambil memukul bahu Ronald.


Ronald hanya tersenyum melihat tingkah Tamara yang menggemaskan dan ingin cepat - cepat menikah agar setiap saat bisa melakukan hubungan suami istri.


Ronald masuk ke dalam mobil sambil memangku Clarissa dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan Tamara sendiri di apartemen.


Tamara kini duduk di balkon menatap langit - langit pikirannya benar - benar kalut. Tidak berapa lama ponselnya berdering membuat Tamara terpaksa berdiri dan membalikkan badannya berjalan menuju ke arah meja dekat ranjang.


Tamara melihat ada panggilan dari bosnya, Tamara langsung mengambil ponselnya dan menggeserkan tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya.


" Hallo." panggil Tamara dengan nada malas.


" Bagus rencana pertama sudah berhasil, kini rencana ke dua adalah menikah dengan tuan Ronald. Aku tahun kamu tadi melamun dan untung tuan Ronald tidak curiga. Ingat besok tuan Ronald mengajakmu untuk mendaftarkan pernikahan jangan melamun atau menangis karena nyawa keluargamu ada di tanganku." ancam pria itu.


" Bisakah perjanjiannya di batalkan?" tanya Tamara penuh harap.

__ADS_1


" Tidak bisa karena rencana ke dua sebentar lagi selesai karena kalian sebentar lagi akan menikah dan tinggal satu langkah lagi yaitu membunuh tuan Ronald di saat dirinya lengah." ucap pria itu menolak pembatalan perjanjian.


__ADS_2