
Tamara hanya diam dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Aku tahu kalau kamu mulai mencintainya. Ingat aku bisa tahu apa yang kamu lakukan karena mata - mataku sangat banyak. Salah sedikit saja maka bersiaplah keluargamu akan aku bunuh tanpa sisa." Ancam pria itu lagi
tut tut tut tut tut
Setelah selesai berbicara dengan mengancam Tamara pria itu mematikan ponselnya secara sepihak membuat Tamara membanting ponselnya di kasur.
" Si*l kenapa tidak sesuai dengan apa yang kurencanakan? kenapa aku sangat mencintai kak Ronald? aku tidak ingin kehilangan keluargaku. Apa yang mesti aku lakukan." Tanya Tamara pada dirinya sendiri.
Tidak berapa lama Tamara berbaring sambil menangis karena lelah Tamara tertidur dengan pulas.
xxxxxxx
Sore harinya Ronald datang ke tempat Tamara seorang diri
" Kok sendirian? mana Clarissa?" tanya Tamara
" Clarissa sama baby sister." Ucap Ronald
" Kenapa tidak di bawa?" tanya Tamara
" Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ucap Ronald
Tanpa memberi aba - aba Ronald menggendong Tamara menuju ke kamar Tamara. Ronald yang sudah kecanduan dengan tubuh Tamara lagi - lagi melakukan hubungan suami istri.
Malam harinya Tamara terpaksa membuka matanya karena perutnya terasa sangat lapar. Tamara melihat Ronald dan dirinya tidur saling berpelukan.
( " Aku sangat mencintaimu tapi aku tidak mungkin bisa membiarkan keluargaku terbunuh. Apa yang mesti aku lakukan?" ucap Tamara dalam hati ).
Perlahan Ronald membuka matanya dan tersenyum menatap wajah Tamara.
" Aku tahu aku tampan." Ucap Ronald
" Aku tahu honey sangat tampan, aku lapar honey." ucap Tamara
cup
" Biar aku yang memasak, kamu pasti kelelahan melayaniku." Ucap Ronald sambil mengecup bibir Tamara singkat kemudian memakai boxernya yang berserakkan di lantai.
Ronald pergi meninggalkan Tamara sendirian menuju ke ruang dapur. Tamara menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Apa yang mesti aku lakukan? aku tidak mungkin membiarkan orang tuaku di bunuh tapi aku tidak sanggup jika aku membunuh orang yang aku cintai." gumam Tamara
Tamara menurunkan ke dua kakinya, tubuhnya sangat lemas karena Ronald hanya memberikan waktu istirahat hanya dua puluh menit kemudian melakukan lagi hingga tiga kali barulah Ronald berhenti itupun karena Tamara yang memintanya untuk berhenti.
__ADS_1
Selesai mandi dan memakai pakaian santai Tamara berjalan ke arah balkon bertepatan ponselnya berdering dua kali tanda ada dua pesan masuk. Tamara bergegas ke lemari dekat ranjangnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Tamara membuka pesan pertama mata Tamara membulat sempurna karena bosnya mengirimkan foto di mana ke dua orang tuanya dan adiknya masing - masing keningnya di todong pistol dan pesan ke dua tertulis.
" Ini foto keluargamu jika kamu ragu menembak tuan Ronald maka keluargamulah yang akan aku tembak."
Tamara buru - buru menghapus pesan itu karena takut Ronald membacanya namun bertepatan kedatangan Ronald.
" Ada apa Tamara?" tanya Ronald karena melihat wajah pucat Tamara.
" Tidak apa - apa honey, hanya saja tubuhku sangat lelah." Ucap Tamara sambil memijat tubuhnya sendiri.
Ronald meletakkan nampan yang berisi makanan kemudian mendekati Tamara.
" Maafkan aku gara - gara melayaniku badanmu jadi sakit." Ucap Ronald sambil memijat Tamara.
" Tidak apa - apa honey." Ucap Tamara sambil menikmati pijatan Ronald
" Pijatanmu enak honey, apakah kamu sudah terbiasa memijat wanita?" tanya Tamara dengan nada cemburu.
cup
Ronald mengecup pipi Tamara kemudian melanjutkan pijatannya.
" Sudah cukup sayang, badanku sudah agak mendingan." ucap Tamara
" Ok. Sekarang aku suapin dan tidak ada penolakan." Ucap Ronald
" Baiklah." Jawab Tamara pasrah
Ronald menyuapi Tamara kemudian menyuapi dirinya hingga tidak terasa piring yang berisi makanan habis tanpa sisa. Ronald memberikan minum ke Tamara hingga setengah gelas dan Ronald meminum setengahnya. Hati Tamara rasanya ingin menjerit mendapatkan perlakuan sebaik Ronald.
grep
Tamara memeluk Ronald dengan erat seakan takut untuk berpisah.
" Kamu kenapa memelukku dengan erat?" Tanya Ronald sambil membalas pelukan Tamara.
" Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memelukmu itu saja." Ucap Tamara
" Baiklah, sudah malam kita tidur karena besok pagi kita akan membeli cincin dan pakaian pernikahan kita menikah secara sederhana nanti resepsi nya sebulan kemudian." Ucap Ronald.
Tamara menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya begitu pula dengan Ronald. Ronald dan Tamara berbaring di ranjang sambil berpelukan tanpa melakukan hubungan suami istri karena tidak tega melihat Tamara kelelahan akibat ulah dirinya.
xxxxxxx
__ADS_1
Waktu berjalan dengan cepatnya malam berganti pagi. Ronald dan Tamara sudah memakai pakaian santai dan langsung pergi ke mall untuk membeli sepasang cincin dan pakaian untuk mereka menikah.
Singkat cerita kini Ronald dan Tamara sudah resmi menikah. Acara pernikahan sederhana hanya dihadiri oleh para sahabatnya dan juga beberapa anak buah kepercayaan Ronald. Ronald memboyong Tamara ke rumah minimalis.
" Sekarang rumah ini milik kita berdua." Ucap Ronald sambil memeluk istrinya.
" Terima kasih honey." Ucap Tamara
( " Semoga dengan pindah ke rumah Ronald pria itu tidak menghubungi diriku." Ucap Tamara dalam hati ).
" Unda." Teriak Clarissa kecil yang sedang di gendong oleh baby sister.
" Clarissa sayang." panggil Tamara sambil mendekati Clarissa kecil kemudian menggendongnya.
" Clarissa mulai sekarang dan seterusnya bunda akan tinggal di sini." ucap Ronald sambil mengusap rambut Tamara dan Clarissa kecil.
" Benal unda?" tanya Clarissa kecil.
" Benar sayang kita masuk ke dalam." Ucap Tamara
" Aik unda." Jawab Clarissa kecil.
Mereka masuk ke dalam rumah minimalis kehidupan mereka sangat bahagia. Ronald yang dulu setiap hari pulang larut malam kini berubah dirinya lebih sering pulang sore.
xxxxxxx
Dua Bulan Kemudian
Seperti biasa Tamara mengantar suaminya sampai depan rumah. Ronald mengecup singkat bibir istrinya kemudian dilanjutkan mengecup pipi Clarissa kecil kemudian masuk ke dalam mobil menuju ke kantor.
Tamara masuk ke dalam rumah sambil menggendong Clarissa kecil menuju ke kamarnya bertepatan ponselnya berdering. Tamara meletakkan Clarissa kecil ke ranjang kemudian mengambil ponselnya yang berada di meja untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.
" Apa? dia lagi? aku pikir dia sudah lupa karena sudah dua bulan tidak menghubungi diriku." keluh Tamara sambil menggeserkan tombol berwarna hijau.
" Hallo." Sapa Tamara
" Serena, kalian sudah menikah selama dua bulan dan pastinya sudah tahu kelemahan Ronald. Aku tidak mau tahu kamu harus membunuh Ronald kalau tidak maka keluargamulah yang akan aku bunuh." Ancam bosnya.
" Tapi aku tidak bisa melakukannya." Ucap Tamara sambil mengusap wajahnya.
" Tidak ada tapi - tapian ingat nyawa keluargamu ada di tanganmu." Ancam bosnya.
" Apakah kita bisa negosiasi tanpa melakukannya? misalnya membuat perusahaannya bangkrut." usul Tamara
( " Tidak apa - apa bangkrut karena harta bisa di cari lagi dari pada aku harus kehilangan orang yang aku cintai." ucap Tamara dalam hati ).
__ADS_1