
" Valen sudah meninggal mana mungkin dia masih hidup." Ucap Gavin
" Dia masih hidup dad, kalau daddy masih mencintai Valen, mommy mundur." Ucap mommy Clarissa sambil menahan air matanya dan melepaskan pelukan suaminya meninggalkan tempat tersebut.
grep
Daddy Gavin menahan tangan istrinya dan membalikkan badan mommy Clarissa.
" Apa maksudmu? Jika Valen masih hidup?" Tanya daddy Gavin
" Valen dan Celline masih hidup hanya saja cacat. Jika daddy ingin menemui mereka datanglah ke rumah sakit xxxxxxx." Ucap mommy Clarissa
" Kamu tidak bohong?" tanya daddy Gavin
" Tidak, datanglah ke sana jika daddy sudah bertemu dengannya dan ingin kembali padanya mommy akan melepaskan daddy agar daddy bisa menikah dengan Valen." Ucap mommy Clarissa sambil menarik tangannya dan meninggalkan daddy Gavin.
Mommy Clarissa berusaha tegar dan tidak menangis lagi karena dirinya tidak mau terlihat lemah.
" Tuan Gavin, aku kecewa sekali dengan tuan. Aku pikir tuan adalah suami yang setia tapi ternyata perkiraanku salah. Tuan Gavin membuang permata berharga dan memungut batu kerikil yang berasal dari sampah." Ucap mommy Karen.
" Tutup mulutmu mengatakan Valen seperti itu!!" bentak daddy Gavin sambil menggenggam tangannya dengan erat.
" Hei jangan membentak istriku!!" teriak daddy David tidak terima istrinya di bentak oleh daddy Gavin.
" Oh iya maaf aku salah, ayo kita pergi dari sini." Ucap mommy Karen sambil menarik tangan suaminya.
Namun Federick dan Ronald melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan Gavin karena bagaimanapun mereka bertiga adalah sahabat lama jadi jika ada sesuatu masalah yang disembunyikan oleh salah satu dari mereka maka mereka pasti akan tahu.
Daddy Gavin ikut keluar dan pergi meninggalkan mereka entah kemana.
" Mommy, daddy ada urusan sama Ronald." ucap daddy Federick.
" Baik dad, daddy dan Ronald hati - hati." Ucap mommy Sandra
__ADS_1
Daddy Federick dan Ronald hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Clarissa tunggu!!!" panggil mommy Karen dan mommy Sandra bersamaan diikuti oleh daddy David.
Clarissa langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kemudian memeluk ke dua sahabatnya.
" Hiks... hiks... aku sedih ternyata suamiku tidak mencintaiku." Ucap mommy Clarissa sambil terisak
" Sudahlah Cla, jangan menangis." Ucap mommy Karen sambil membalas pelukan sahabatnya.
" Iya Cla, ingat ada kita yang akan selalu mendampingi dirimu." Ucap mommy Sandra sambil membalas pelukan sahabatnya.
Setelah lama berpelukan mereka melepaskan pelukannya.
" Kalian temani Reynald dan Cavin." Ucap daddy David sambil mendekati istrinya dan mengecup singkat kening istrinya.
" Daddy mau pergi kemana?" tanya mommy Karen sambil menatap suaminya.
" Hati - hati dad." Ucap mommy Karen
" Kita ke ruangan Reynald dan Cavin." Ucap mommy Karen
Mommy Sandra dan mommy Clarissa hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ke tiga mommy berjalan memasuki ruang perawatan VVIP menunggu Reynald dan Cavin.
Di Tempat Yang Berbeda
Daddy Cavin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sambil menggenggam stir kemudi dengan kencang.
" Maafkan aku Cla, aku terpaksa berpura - pura masih menyukai Valen padahal perasaan itu sudah lama hilang sejak aku mengenalmu." Ucap daddy Gavin tidak berapa lama air matanya keluar.
Daddy Gavin teringat waktu anaknya yang bernama Cavin di culik dirinya mendapat pesan dari seseorang.
" Mommy yang kalian anggap sudah mati sebenarnya masih hidup. Jika nyawa mommy kalian selamat tinggalkan Clarissa katakan saja kamu masih mencintai cinta pertamamu. Jangan coba - coba mengatakan ke dua sahabatmu ataupun membawa bantuan karena nyawa mommymu tergantung dirimu."
__ADS_1
Pesan ke dua berupa gambar di mana mommynya duduk di kursi dan di ikat ke dua tangan dan ke dua kakinya dan di bawah gambar tertulis pergi ke tempat sebuah rumah tua.
Kini daddy Gavin sudah sampai di sebuah rumah tua dan banyak para penjaga yang menjaga rumah tua itu.
" Angkat ke dua tangan tuan." Perintah salah satu dari mereka.
Daddy Gavin mengangkat tangannya karena tubuh daddy Gavin diperiksa apakah membawa senjata tajam atau tidak. Di saku celana daddy Gavin di temukan pisau lipat dan di balik saku jasnya terdapat pistol.
" Simpan ke dua senjata ini." Perintah temannya sambil memberikan dua senjata milik daddy Gavin.
" Ok." Jawab temannya singkat sambil menerima dua senjata itu.
" Silahkan lanjutkan." Ucap salah satu dari mereka.
Daddy Gavin hanya diam saja sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Suara sepatu pantofel berbenturan di lantai yang berdebu hingga daddy Gavin menghentikan langkahnya.
" Mana mommyku?" Tanya daddy Gavin dengan nada dingin
" Pffftttt hahahaha.... dasar kamu bodoh tuan Gavin." ucap pria itu yang seumuran dengan daddy Gavin sambil tertawa.
" Apa maksudmu tuan Vincent?" tanya daddy Gavin.
prok prok
Tuan Vincent tidak menjawab ucapan daddy Gavin malah bertepuk tangan dan muncullah wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik dan anggun.
" Mommy." Panggil daddy Gavin sambil tersenyum bahagia karena mengira mommynya waktu itu sudah meninggal.
" Cih aku bukan mommymu? tapi aku tantemu, mommymu adalah kakak kembarku." ucap wanita paruh baya tersebut.
" Maksud mommy apa?" tanya daddy Gavin dengan nada bingung.
" Baiklah akan aku ceritakan agar kamu tidak mati penasaran." Ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1