
Selamat membaca ...
****************
Aidan mendongak saat mendengar ucapan sekertaris Ren yang sudah di depannya.
“Ck! Kau kenapa masih ada di sini? Sekarang kau boleh pergi!” ucap Aidan dengan nada ketus. Membuat Sekertaris Ren menjadi kesal.
“Maafkan saya Bos, saya tidak mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap sekertaris Ren kemudian pergi meninggalkan ruangan itu, yang hanya menyisakan Aidan dan Rissa saja.
“Apa tuan membutuhkan sesuatu?” tanya Rissa hanya berbasa basi saja untuk mencairkan suasana yang begitu canggung.
“Kenapa semalam kau menolak ajakan ku?!” tanya langsung tanpa berbasa basi lagi, karena ia memang tidak suka membuang banyak waktu. Ternyata pria itu masih kesal dengan penolakan Rissa semalam.
“Apa maksud anda tuan? Ini jam kerja, dan saya tidak ingin membahas hal di luar pekerjaan saya. Tidak bisakah anda membicarakannya secara baik-baik saat istirahat atau setelah pulang kerja? Maaf, saya harus segera pergi. Masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan!” ucap Rissa dengan tegas dan segera berbalik ingin pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Namun, Aidan yang melihat pergerakan Rissa langsung berdiri dan menarik tangan wanita itu hingga membentur dada bidangnya. Sedangkan, Rissa langsung memberontak di pelukan Aidan berusaha untuk melepaskan diri dari pria gila tersebut.
“Lepaskan saya tuan!” bentak Rissa yang masih meronta di pelukan Aidan. Wanita itu memukul dada bidangnya. Namun, Aidan hanya membiarkannya saja, seolah tidak merasakan pukulan dari Rissa, dan malah mengeratkan pelukannya.
“Apa kau tidak punya hati? Apa kau lebih mencintai pria beristri itu di bandingkan aku? bahkan, kau sudah berani berteriak padaku!” bentak Aidan tepat di depan wajah Rissa, hingga wanita yang ada di pelukannya itu kini menjauhkan kepalanya dari hadapan Aidan.
“Tentu saja aku bisa teriak padamu. Kau sendiri yang membuat ku berani melakukan hal ini dan sikap mu ini semakin membuat ku yakin, jika kau tidak pantas untukku! Kau selalu berbuat sesuka hati dan sangat mendominasi!” bentak Rissa yang sedikit meninggikan suaranya di hadapan Aidan.
“Ya, kau memang benar. Sesuai ucapan mu, bahwa aku suka berbuat sesuka hati dan mendominasi. Maka, aku tidak akan mudah untuk melepaskan mu!” ucap Aidan dengan tegas, sambil mendesis.
“Cih! Apa mau mu sebenarnya? Tidak seharusnya aku tinggal lebih lama di sini. Sebentar lagi, kita ada meeting. Jadi, cepat lepaskan aku!” ucap Rissa dengan nada perintah, yang mulai melembutkan suaranya, agar Aidan bisa melepaskan pelukannya.
“Cukup tuan! Jika tuan tidak bisa menerima keputusan saya. Tolong jangan rendahkan saya! Tuan boleh menghina saya, tapi tidak dengan tubuh saya, karena saya lebih baik mati daripada harus melayani anda!” bentak Rissa yang tersulut emosi, sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Aidan.
“Kenapa? Apa aku terlalu buruk di matamu. Atau kau bisa beritahu aku di mana letak kekurangan ku,” ucap Aidan dengan sarkas.
“Ya, kau memang benar. Kau bahkan jauh lebih buruk daripada kata buruk itu sendiri. Kau tidak pantas untuk bersama ku, dan kau pun jangan pernah berharap untuk mendapatkan aku, karena itu adalah hal yang sia-sia bagimu. Aku permisi,” ucap Rissa yang sudah tidak tahan dengan semua ucapan Aidan. Rissa pun langsung pergi dari ruangan Aidan, karena masih ada banyak perkerjaan yang tertunda akibat waktunya yang terbuang sia-sia.
__ADS_1
“Sialll! Wanita itu tidak bisa di kendalikan dengan amarah maupun ancaman. Jika aku semakin membuatnya kesal, maka ia tidak akan bisa di kendalikan. Sungguh, wanita itu di luar dugaanku selama ini. Haiss! Kenapa aku malah memikirkan dia,” gumam Aidan yang merasa kesal sendiri.
Tokk! Tokk! Tokk!
“Masuk,” titah Aidan malas.
“Bos, meeting akan segera di mulai. Semua dewan direksi sudah berkumpul dan menunggu anda,” ucap sekertaris Ren dengan santai. Tanpa ingin bertanya ada apa dengan sang Bos, yang menampilkan wajah kesalnya. Sungguh tidak peka, begitu pikir Aidan.
“Hmm, tumben sekali kau tidak bertanya saat melihat keadaan ku seperti ini. Apa kau sudah tidak sepeka dulu lagi, Ren?” tanya Aidan dengan tatapan mengintimidasi.
“Bos kesal karena di tolak oleh nona Rissa,” jawab sekertaris Ren dengan santai, hingga membuat Aidan mendelik tidak suka dengan jawaban sang sekertaris yang selalu benar.
“Cih! Jawabanmu salah,” ucap Aidan berkilah.
“Menurut semua perkiraan yang pernah saya ketahui. Sembilan puluh sembilan persen jawaban yang keluar dari mulut saya adalah kebenaran, Bos,” ucap sekertaris Ren dengan penuh percaya diri, dan semakin membuat Aidan terpojokkan.
“Cih! Kau ini sekarang banyak bicara sekali. Ayo cepat, kau membuat mereka menunggu,” ucap Aidan santai, dengan menampilkan wajah tanpa dosa, dan ia pergi mendahului sekertaris Ren yang senyum penuh arti di belakangnya.
__ADS_1
****************
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...