
" Apa maksudmu?" tanya Ronald dengan nada terkejut
" Hahahaha dari tadi aku sudah bicara tidak dengar sampai aku mengulangi perkataan ku baru dengar sungguh lucu. Tuan Ronald tanyalah pada Serena Evangelista Reagen karena namanya adalah Serena bukan Tamara." Ucap wanita muda itu.
" Benar begitu Tamara?" tanya Ronald masih tidak percaya.
Serena hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Ronald. Ronald mendorong ke dua pria yang memegang tangannya dan duduk agar sejajar dengan Serena. Ronald menarik dagu Serena dengan keras.
Serena hanya pasrah walau wajahnya sakit karena dicengkeram kuat oleh Ronald tapi Serena tidak bisa membalas Ronald karena dirinya sudah di ancam terlebih dahulu.
" Iya aku adalah Serena bukan Tamara. Aku sengaja menjebak mu untuk datang ke sini." Ucap Serena
plak
plak
Ronald melepaskan tangannya kemudian menampar Tamara kanan dan kiri hingga ke dua pipinya memerah dan ke dua sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar.
" Aku sangat membencimu!!!" bentak Ronald
" Hahahaha... kenapa menyesal? Asal kamu tahu kamu bukanlah pria pertama yang menyentuh tubuhku. Kamu pikir aku masih menjaga mahkota berharga ku?" tanya Serena sambil tertawa yang bertentangan dengan kata hatinya.
Serena berusaha berdiri dan menghadap Ronald, orang yang sangat dicintainya dengan sepenuh jiwanya.
" Aku melakukan operasi agar ketika melakukan itu kamu mengiranya aku masih menjaga mahkota berhargaku dan ternyata aku bisa menipumu. Hahahaha betapa bodohnya kamu Ronald." Ucap Serena sambil tertawa dan menahan air matanya agar tidak keluar.
" Breng**k aku memberikan semua hatiku padamu tapi ternyata kamu menipuku mentah - mentah. Aku benar - benar membencimu." Ucap Ronald sambil ke dua tangannya diarahkan ke leher Serena.
" Cukup, sekarang waktunya kamu mati tuan Ronald." Ucap tuan Alex sambil menarik tubuh Serena ke arah samping kemudian menodongkan pistolnya ke arah dada tuan Ronald.
dor
grep
Tuan Alex menekan pelatuk pistol yang sudah diarahkan tepat di jantungnya Ronald tapi Serena berusaha menarik tangan yang di genggam oleh tuan Alex kemudian memeluk Ronald orang yang dicintainya. Serena berusaha menahan rasa sakit karena punggungnya tertembak.
bruk
akhhhhh
Ronald yang masih dikuasai amarah melepaskan pelukan Serena kemudian mendorong tubuh Serena hingga terjatuh di lantai.
" Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh kotormu itu." bentak Ronald.
Tuan Alex tersenyum sinis dan mengarahkan kembali pistolnya ke arah Ronald.
__ADS_1
" Matilah kamu tuan Ronald." Ucap tuan Alex.
dor
akhhhhh
dor
akhhhhh
dor
akhhhhh
dor
akhhhhh
Dua pria tampan dan dua orang bodyguard tiba - tiba datang dan langsung menembak kening mereka membuat tuan Alex, kekasihnya dan bodyguardnya mati di tempat. Siapa lagi kalau bukan daddy David dan daddy Federick.
" Maaf bro kami terlambat." Ucap daddy Davi
" Tidak apa - apa, ayo kita pulang." Ajak Ronald
" Biarkan saja dia mati kehabisan darah." Ucap Ronald dengan nada dingin sambil membalikkan badannya tanpa memperdulikan Tamara.
Daddy David dan daddy Federick yang memang tidak mempunyai rasa empati sedikitpun ikut membalikkan badannya meninggalkan Serena yang terkena tembakan karena melindungi orang yang dicintainya.
Mereka meninggalkan gedung tua itu menuju ke rumah Ronald. Kesedihan Serena teramat dalam hanya bisa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dengan tatapan sendu dan tidak terasa air matanya keluar.
" Maafkan aku suamiku, aku terpaksa berdusta agar keluargaku dan anak kita Clarissa tidak terluka. Lebih baik aku terluka atau mati asalkan orang - orang yang aku cintai tidak terluka." Ucap Serena lirih
Serena berusaha bangun kemudian mencari sesuatu di saku celana pria paruh baya itu setelah menemukan Serena berjalan keluar dari gedung itu. Serena berusaha menarik mayat - mayat tersebut untuk dijadikan satu di dalam gedung. Serena mengambil dua jas milik salah satu mayat mereka kemudian memakainya agar darah tidak merembes ke lantai.
Setelah semua mayat dikumpulkan jadi satu Serena keluar lagi dan berjalan sambil memegangi tiang dan tembok, Serena masuk ke dalam mobil kemudian menabrakkan mobilnya ke arah gedung dimana ada mayat berkumpul.
brak
Serena turun dari mobil kemudian merobek gaun wanita itu kemudian membuka tangki mobil untuk memasukkan ujung kain ke dalam tangki dan ujung satunya Serena menyalakan pemantik api yang tadi di ambil di saku celana pria paruh baya tadi.
Serena berlari dengan cepat sebelum gedung tua itu meledak dan bisa saja membakar dirinya.
" Aku harus cepat berlari sebelum mobil itu meledak. Biarlah kak Ronald mengira kalau aku ikut mati terbakar di gedung ini. Aku akan pergi menyelamatkan keluargaku dulu setelah itu aku akan pergi sejauh mungkin dari kota ini dan melupakan semua yang terjadi." Ucap Serena.
duar
__ADS_1
duar
Mobil itupun meledak dan membakar mobil, dan benda - benda yang mudah terbakar termasuk para mayat yang bergelimpangan di lantai.
Setelah agak jauh Serena melepaskan ke dua jas tersebut dan membuangnya di tong sampah kemudian membakarnya karena dirinya tidak mau dikenali. Serena berjalan tapi makin lama tenaganya melemah dan tidak lama Serena tidak sadarkan diri.
bruk
" Kepalaku pusing, aku sudah tidak kuat jika memang takdirku mati di tempat ini aku sudah ikhlas. Honey, Clarissa, ayah, ibu dan adik aku mencintai kalian semua semoga kalian semuanya selamat dan bahagia." Ucap Serena lirih kemudian ambruk tidak sadarkan diri.
xxxxxxx
Daddy David, daddy Federick dan Ronald kini sudah sampai di rumah minimalis Ronald. Ronald di sambut oleh Putri semata wayang yang sedang di gendong oleh Sandra istrinya Federick.
" Ayah, unda mana?" tanya Clarissa kecil
" Bunda pergi sayang dan tidak kembali lagi." Ucap Ronald sambil menggendong Clarissa kecil dari gendongan Sandra dengan di temani Karen.
" Kenapa ayah?" tanya Clarissa kecil dengan sendu.
" Bunda kini berada di atas menjadi bintang." ucap Ronald
" Huhuhuhuhu.." Tangis Clarissa
Ronald bingung dan menatap Karen dan Sandra meminta bantuan. Karen dan Sandra yang mengerti tatapan Ronald hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Clarissa sayang, sama mommy Karen dan mommy Sandra ya? katanya mau es krim kita makan es krim sama - sama yuk?" ajak Sandra sambil mengambil Clarissa dari gendongan Ronald kemudian menggendongnya.
" Benal mommy?" Tanya Clarissa kecil.
" Benar sayang, kita makan bareng sama kakak Daka, kakak Reynald dan kakak Rose." Ucap Karen.
xxxxxxx
kakak Reynald dan kakak Rose adalah anak dari pasangan Federick dengan Sandra.
xxxxxxx
Clarissa kecil tidak menangis lagi karena di sogok es krim membuat Ronald bernafas lega. Mereka berjalan ke arah meja makan di mana ada kulkas. Sandra membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa es krim dan merekapun memakan es krim bersama.
" Darimana aku tahu kalau aku di tangkap?" tanya Ronald penasaran.
" Kamu ingat waktu kamu mengalami kecelakaan dan istrimu meninggal?" tanya Federick
" Ya aku masih mengingatnya, lalu apa hubungannya?" tanya Ronald dengan nada bingung.
__ADS_1