
Bosnya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Baiklah." Jawab bosnya
" Benarkah? terima kasih banyak." Ucap Tamara bahagia.
" Aku tidak mau kalau membuat tuan Ronald bangkrut karena perusahaannya milik bosnya aku minta negoisasi yang lain." Ucap bosnya
" Apa itu?" tanya Tamara penasaran.
" Besok pagi ajak suamimu ke gedung tua di jalan xxxx." ucap bosnya.
" Untuk apa kami ke sana?" tanya Tamara dengan nada curiga
" Jangan banyak tanya lakukan saja atau kamu ingin aku menghabisi seluruh keluargamu dan juga seluruh keturunan keluargamu." Ancam bosnya.
" Baik, tapi berjanjilah untuk tidak menyakiti keluargaku dan juga suamiku." mohon Tamara
" Baiklah Serena atau Tamara." ucap bosnya
tut tut tut tut tut
Tamara menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Kenapa perasaanku tidak enak ya?" tanya Tamara
Tamara berusaha membuang perasaan yang tidak enak dengan bermain bersama Tamara. Tidak terasa waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Tamara menggendong Clarissa dan keluar dari kamarnya karena waktunya memasak.
" Clarissa sayang, bunda mau memasak Clarissa sama mbak ya?" ucap Tamara
" Aik unda." Jawab Clarissa kecil patuh
Tamara memberikan Clarissa kecil ke baby sister kemudian Tamara berjalan ke arah dapur untuk memasak karena biasanya suaminya akan pulang untuk makan siang bersama keluarga.
Tidak terasa akhirnya selesai juga acara masak memasak. Tamara meletakkan semua makanannya ke meja makan kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk memberikan diri.
Selesai mandi dan berpakaian Tamara berjalan ke luar kamar, Tamara menuruni anak tangga dan melihat suaminya sedang menggendong anaknya.
" Honey, cepat sekali datangnya." ucap Tamara
" Iya kebetulan tidak ada rapat dan bertemu klien jadi pulang cepat." Ucap Ronald menjelaskan.
" Kita makan sekarang." Ucap Tamara
" Ok." Jawab Ronald singkat sambil menggendong Clarissa kecil.
Tamara mengambil piring untuk Ronald kemudian mengisi nasi, lauk dan sayur kemudian mengambil makanan untuk dirinya dan juga untuk Clarissa mereka makan satu piring untuk berdua setelah selesai Tamara menggendong Clarissa dan duduk di samping Ronald suaminya.
__ADS_1
Selama makan tidak ada yang bicara sedikitpun hingga setengah jam kemudian mereka selesai makan. Seperti biasa mereka bertiga duduk di ruang keluarga.
" Honey, besok liburkan?" Tanya Tamara
" Libur, mau jalan-jalan ya? boleh sayang kita jalan - jalan ke mana?" tanya Ronald
" Aku ingin kita berdua pergi ke gedung tua di jalan xxxx." Ucap Tamara
" Gedung tua? Setahuku di sana gedung kosong tidak ada yang menarik." ucap Ronald.
" Temanku membutuhkan uang dan menjual gedung tua itu. Aku ingin membantu temanku karena temanku di kejar - kejar rentenir." ucap Tamara berbohong.
" Lebih baik kamu pinjamin uangnya masalah gantinya terserah dia kapan sempatnya." Ucap Ronald
" Tapi aku ingin membeli gedung tua itu untuk usaha, aku bosan honey kalau di rumah terus tanpa melakukan apa-apa." ucap Tamara dengan wajah di buat sedih.
Ronald tersenyum menatap wajah cantik istrinya.
" Baiklah sayang besok kita pergi bertiga ke sana." Ucap Ronald
" Kok bertiga honey? satu lagi siapa?" Tanya Tamara
" Tentu saja putri kita Clarissa." Ucap Ronald.
" Tidak honey lebih baik Clarissa sama baby sister karena Clarissa masih kecil dan di sana pasti ada debu aku tidak ingin Clarissa jadi batuk - batuk nanti saja kalau gedung sudah di renovasi barulah ajak Clarissa." ucap Tamara
" Benar juga katamu sayang, baiklah kalau itu permintaanmu." Ucap Ronald sambil tersenyum
Tamara memeluk Ronald dari arah samping.
" Terima kasih honey, honey memang suamiku yang sangat tampan dan baik hati." Puji Tamara
" Tapi itu tidak gratis sayang, bayarnya nanti malam dan dobel." bisik Ronald
" Honey, kenapa pikiran honey seperti itu sih." protes Tamara
cup
" Dekatmu bikin aku selalu mesum." Ucap Ronald sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
" Aku berangkat dulu sayang." sambung Ronald.
" Hati - hati honey." Jawab Tamara berjalan ke arah pintu utama.
" Ok sayang." Jawab Ronald berjalan berdampingan dengan istri tercinta.
Ronald duduk di kursi pengemudi dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sedangkan Tamara menggendong Clarissa kecil karena waktunya tidur siang.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Clarissa sudah tertidur pulas di ranjangnya. Tamara berjalan ke arah kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Clarissa.
Tamara berbaring di ranjang sambil melamun dan tidak berapa lama ponselnya berdering. Tamara meraba ranjang dan mengambil ponselnya tanpa melihat Tamara menggeser tombol berwarna hijau.
" Hallo." Panggil Tamara.
" Bagus juga idemu membohongi suamimu dengan alasan ingin membeli gedung tua." Ucap bosnya
Tamara terkejut dan menatap ponselnya dan memang benar bosnya yang menghubungi dirinya.
" Tuan, kenapa tuan bisa tahu apa yang aku lakukan?" tanya Tamara
" Aku sudah bilang apapun yang kamu lakukan aku tahu semuanya." Ucap bosnya.
Tut Tut Tut Tut Tut
Ponsel langsung dimatikan secara sepihak membuat Tamara frustasi.
( " Apakah di sini ada mata - mata? tapi siapa? apakah dia memasang cctv di rumah suamiku?" tanya Tamara dalam hati ).
Karena lelah berfikir Tamara tertidur pulas hingga menjelang sore barulah Tamara bangun. Tamara berjalan ke arah kamar mandi untuk panggilan alam Tamara berjalan dengan langkah gontai memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Kini Tamara sudah keluar dari kamar mandi dan mencuci muka agar wajahnya menjadi segar. Tamara menuruni anak tangga dan melihat Clarissa kecil sedang bermain dengan baby sister.
" Anak bunda sedang apa?" tanya Tamara sambil membelai rambut Clarissa kecil.
" Main unda." ucap Clarissa kecil.
" Bunda masak dulu sayang." Ucap Tamara
" Aik unda." Jawab Clarissa kecil.
Tamara berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Tamara mengambil udang, cabe dan kentang kemudian mengambil bawang merah dan bawang putih karena rencananya mau bikin udang balado. Selesai memasak udang balado Tamara memasak yang lainnya.
Tidak terasa selesai sudah Tamara memasak dan menghidangkan makanan di meja makan. Selesai memasak Tamara menaiki anak tangga untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
Kini Tamara sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai. Tamara berdiri di depan pintu utama menunggu kedatangan Ronald. Entah kenapa dirinya merasakan bahwa hari ini adalah hari terakhir menunggu suaminya pulang.
Tidak berapa lama Ronald datang dan turun dari mobil, dirinya sangat terkejut karena untuk pertama kalinya istrinya menunggu di depan pintu.
cup
" Kok tumben menunggu di depan pintu?" tanya Ronald sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
" Tidak tahu honey, aku ingin sekali menunggu suamiku pulang kerja." Ucap Tamara sambil tersenyum.
Tamara mengambil tas milik Ronald kemudian mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke kamarnya. Ronald langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya selesai mandi dan memakai pakaian santai yang sudah di siapkan istrinya mereka berdua keluar dari kamarnya menuju meja makan.
__ADS_1
" Masakanmu selalu enak sayang dan lihat perutku semakin buncit." Ucap Ronald memperlihatkan perutnya yang buncit.