
"Bagaiman ini, kalau aku bilang ke semuanya pastinya mereka akan curiga kenapa tuan Danar ada di kamarku ini? dan rahasia aku dengan tuan Danar bisa terbongkar." ucap dalam hati Zulaikha yang terus menatap Danar dengan rasa khawatir.
"Sebaiknya aku rawat tuan Danar sampai sembuh saja, tapi bagaimana kalau nyonya mencarinya?" gumam dalam hati Zulaikha yang kemudian mencari benda pipih di saku celana suaminya.
Tak berapa lama dia menemukannya dan mematikan ponsel Danar.
"Entah yang aku lakukan ini benar atau salah, yang jelas aku tak mau ada keributan dan juga dia suamiku. Aku harus merawatnya sampai sembuh." ucap dalam hati Zulaikha yang merasa kasihan saat melihat wajah tampan suaminya yang tak berdaya itu.
"Akan aku buatkan dia sarapan, bubur atau apa yang ada!" kata dalam pikiran Zulaikha yang kemudian keluar, menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Zulaikha melangkahkan kakinya ke dapur dan disana mbok Tinah masih sibuk memasak.
"Mbok, masak apa hari ini?" tanya Zulaikha yang menghampiri mbok Tinah.
"Sayur sop ayam sama goreng tahu sama tempe." jawab mbok Tinah yang sembari menggoreng tempe dan tahu.
"Biar Zulaikha yang menggorengnya mbok!" ucap Zulaikha yang meminta spatula yang dibawa mbok Tinah.
"Baiklah mbok mau mengiris sayuran sama buat bumbunya" ucap mbok Tinah yang mulai melakukan pekerjaannya.
Satu jam lamanya mereka berkutat di dapur, acara memasak pun selesai dan mbok Tinah memindahkan masakannya ke meja makan.
"Mbok, Zulaikha boleh ambil sisanya ini?" tanya Zulaikha dengan berbisik.
"Apa kamu sudah lapar?" tanya mbok Tinah yang penasaran.
"Iya mbok, dari semalam perut Ika lapar sekali." ucap Zulaikha seraya memegang perutnya.
Memang benar Zulaikha dalam keadaan lapar saat ini, namun dia mengingat suaminya yang sakit di kamarnya.
"Ambil saja, tapi kamu harus memakannya di kamar. Jangan di dapur, nanti kalau ketahuan nyonya bisa gawat. Kita tidak boleh makan mendahului majikan kita." ucap mbok Tinah dengan berbisik.
"I..iya terima kasih mbok!" balas Zulaikha yang kemudian mengambil makanan dan minuman untuknya.
"Ika cepetan ke kamar kamu! nyonya sudah turun dari lantai atas!" seru mbok Tinah yang ikut panik saat melihat Melisa menuruni tangga.
"Oiya..iya mbok!" ucap Zulaikha yang kemudian mempercepat langkahnya menuju ke kamarnya dengan membawa sepiring nasi berisi sayuran dan lauk tahu tempe serta teh manis hangat.
Sementara itu Melisa sudah turun dari lantai atas dan menuju ke ruang makan.
"Mbok! apa tadi mas Danar pergi berpamitan sama mbok Tinah?" tanya Melisa seraya duduk di kursi meja makan dan mengambil nasi, sayur dan lauk-pauknya.
__ADS_1
"Tidak Nya" jawab mbok Tinah yang apa adanya.
"Kemana dia! mana ponselnya dimatikan lagi!" gerutu Melisa yang kesal namun masih bisa dia memakan makanan yang ada dihadapannya.
"Mungkin ada bisnis dadakan Nya, sabar saja. Pasti tuan akan memberi kabar." ucap mbok Tinah yang menuangkan teh manis ke dalam gelas dan memberikannya pada Melisa.
"Mbok nanti ikut belanja seperti biasanya ya!" seru Melisa sebelum memasukkan sesendok dasi ke mulutnya.
"Oh, baik nyonya!" ucap mbok Tinah yang kemudian ke dapur untuk membereskan alat-alat memasaknya.
Sedangkan Zulaikha saat ini sudah berada di dalam kamarnya, yang sudah dia kunci dari dalam.
Zulaikha melihat Danar yang sudah bangun dan berusaha untuk duduk walaupun sedikit gemetaran.
"Tu..tuan sudah bangun" ucap Zulaikha yang meletakkan makanan dan minumannya di lantai dan kemudian membantu Danar untuk duduk bersandar.
"Tu..tubuhku lemas sekali!" ucap Danar yang begitu lemah sekali.
"Tuan sakit, makan dulu ya!" ucap Zulaikha yang mengambil sepiring nasi yang kemudian dia mulai menyuapi suaminya.
Sesuap demi sesuap dan Danar melihat ada ketulusan di wajah dan mata Zulaikha. Tanpa dia sadari ada benih-benih rasa cinta dihati Danar.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Danar saat dia menyudahi makannya.
Seteguk demi seteguk Danar meminumnya dan berhenti di setengah gelas teh hangat itu.
Zulaikha hendak beranjak dari duduknya untuk mengembalikan piring dan gelasnya. Namun tiba-tiba tangan hangat memegang lengannya.
"Di sini dulu, temani aku dulu" ucap lirih Danar.
"Iya, tapi tuan harus minum obat. Zulaikha mau mencarikan obat buat tuan di kotak obat" bisik Zulaikha.
"Cepat kesini lagi ya!" ucap Danar yang kemudian membaringkan tubuhnya kembali diatas tikar.
"Iya tuan" jawab Zulaikha yang trenyuh melihat keadaan suaminya yang tak berdaya seperti itu.
Zulaikha melangkahkan kakinya ke pintu kamar, dan membukanya. Setelah Zulaikha keluar, dia menutup dan mengunci kembali kamarnya.
Istri kedua Danar itu melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Saat di dapur Zulaikha melihat mbok Tinah yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Sudah selesai sarapan nya Ka?" tanya mbok Tinah sesudah meminum minumannya.
"I..iya sudah mbok!" jawab Zulaikha yang kemudian mencuci piring dan peralatan makan lainnya yang sudah menumpuk di tempat pencucian piring.
"Nanti kami jaga rumah ya, Nyonya mau belanja. Aku dan Bower pastilah ikut menemaninya."ucap mbok Tinah.
"Iya mbok" ucap Zulaikha yang telah menyelesaikan mencuci piringnya.
"Pakaian kotor sudah ada di dekat mesin cuci, kamu sudah bisa kan mencuci pakai mesin cuci?" tanya mbok tinah yang mencuci piring bekas dia makan.
"Iya, Ika sudah bisa mbok!" jawab Zulaikha.
Zulaikha kemudian menuju ke sumur untuk mencuci pakaian, sementara mbok Tinah mandi dan mengganti pakaiannya.
Tak berapa lama Melisa turun dari lantai atas dan mencari keberadaan mbok Tinah.
Setelah bertemu dengan mbok Tinah, keduanya melangkahkan kaki menuju ke mobil mewahnya dimana Bower sudah ada di dalamnya. Namun sebelumnya, mbok Tinah mengunci pintu rumah dan juga pagarnya.
Kemudian mobil itu melaju meninggalkan rumah besar itu dengan kecepatan sedang menyusuri sepanjang jalan raya.
Sementara itu Zulaikha yang sedang mencuci pakaian, sudah selesai dan dia menjemur pakaian-pakaian tersebut.
"Perutku lapar sekali, ah kesempatan nih semua tidak ada di rumah. Aku akan sarapan tanpa sepengetahuan mereka!" ucap Zulaikha yang kemudian menuju ke dapur dan mengambil nasi untuk dia sarapan.
Setelah sarapan dan mencuci piringnya, Zulaikha melangkahkan kakinya menuju ke laci ruang tamu. Dimana mbok Tinah pernah memberitahukan tempat menyimpan obat di laci tersebut.
Setelah menemukan laci tersebut, Zulaikha membuka dan mencari obat penurun panas.
"Ini dia obatnya!" ucap dalam hati Zulaikha yang mengambil obat itu, kemudian menutup kembali laci tersebut.
Zulaikha kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dengan membawa satu botol air putih bersama gelasnya dan baskom yang berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres.
Setelah membuka dan menutup kembali pintu kamarnya, Zulaikha menghampiri suaminya yang masih terbaring.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...