
"Mbok, panggil Zulaikha kemari. kita sarapan sama-sama!" perintah Danar pada saat masuk ke ruang kanan dimana Melisa sudah duduk di kursi yang biasa dia duduki pad saat makan.
"Ba..baik tuan!" ucap mbok Tinah yang kemudian membalikkan badannya.
"Tunggu mbok!" seru Melisa yang menahan langkah mbok Tinah.
"Lisa!" seru Danar yang menahan niat istri pertamanya yang mau melarang Mbok Tinah memanggil Zulaikha.
Rasa ingin marah didada Melisa, namun hal itu dia sembunyikan. Melisa tak mau kalau suaminya tahu kalau dia masih membenci Zulaikha, karena yang dia takutkan jika suaminya akan meninggalkannya bersama zulaikha dan dia ditinggal sendirian.
Danar memberi kode dengan tangannya untuk memanggil Zulaikha.Dan mbok Tinah mengerti akan hal itu, dengan segera mbok Tinah melangkahkan kakinya mencari keberadaan Zulaikha.
Setelah mencari ke kamar hingga ke sumur, akhir ya mbok Tinah menemukan Zulaikha yang sedang menjemur pakaian di lantai atas di rumah khusus pembantu.
"Zulaikha!" panggil mbok Tinah yang tersengal-sengal nafasnya karena menaiki beberapa anak tangga, yang menuju ke tempat penjemuran pakaian.
"Iya mbok!" jawab Zulaikha yang menggantung pakaian basah yang tinggal satu lembar itu.
"Tuan meminta kamu sarapan dengan tuan dan nyonya Melisa di ruang makan" ucap mbok Tinah dengan menatap Zulaikha.
"Mbok, aku tidak enak hati jika harus sarapan bersama mereka":ucap Zulaikha yang kini bersama mbok Tina bergantian menuruni tangga.
"Kalau kamu tidak mengikuti perintah tuan Danar, bisa-bisa simbok tidak digaji bulan ini!" seru mbok Tinah sembari mengulas senyumnya.
"Kenapa simbok malah senyum-senyum?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Iya karena seperti itulah ancaman para majikan! he..he..he...!" jawab mbok Tinah dengan terkekeh-kekeh.
"Ah mbok Tinah ini! Zulaikha mau ganti baju dulu, lihat nih basah semua!": seru Zulaikha .
"Iya, mbok tunggu ya!' ucap mbok Tinah yang melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Tak berapa lama, Zulaikha yang sudah berganti pakaian melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
"Maaf apakah kalian menungguku?" tanya Zulaikha yang melihat piring Danar dan Melisa yang masih kosong.
"Sudah tahu malah tanya!" gerutu Melisa dalam hati.
"Iya" jawab Danar sembari mengulas senyumnya.
"Ma'af" ucap Zulaikha yang kemudian duduk disamping Danar, sedangkan Melisa berhadapan dengan danar.
"Kamu dari mana saja sih?" tanya Danar yang menatap Zulaikha dengan lemah lembut, dan itu beda sekali pandangan matanya dengan Melisa. Dan Melisa merasakannya.
"Tadi mencuci pakaian dan sekalian menjemur pakaian diatas" jawab Zulaikha seraya mengambilkan nasi buat suaminya.
"Kamu mengangkat pakaian itu sendirian?" tanya Danar yang khawatir.
__ADS_1
"I..iya kan seperti biasanya!" jawab Zulaikha yang meletakkan piring yang sudah berisi nasi beserta lauk dan pauknya dihadapan suaminya.
"Lain kali kamu tidak boleh mengangkat beban ya! aku ingin anak kita lahir dengan sempuna dan sehat." ucap dari Danar.
"Kenapa aku serasa ingin muntah melihat mas Danar mesra dengan Zulaikha!" gerutu dalam hati Melisa.
"Iya mas, mari kita berdoa terlebih dahulu!" ucap Zulaikha yang membuat Melisa tercengang melihat Danar yang berdoa mengikuti seperti yang dilakukan Zulaikha.
Kemudian mereka menyantap masakan mbok Tinah yang berada diatas meja.
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai sarapan dan Danar bersiap untuk berangkat kerja.
"Melisa mengambil peralatan kerja Danar di ruang kerja yang berada disamping kamar tidur Melisa.
"Aku akan menyerahkan koperasiku pada Bower, dan aku akan khusus mengelola perkebunan kelapa serta penjualannya." ucap Danar seraya merangkul Zulaikha dan mereka berjalan menuju ke pintu keluar.
"Nah, kalau begitu pasti akan berkah suamiku. Kamu menghidupi kedua istri dan pembantu dengan nafkah yang halal."jelas Zulaikha.
"Iya, mas akan berubah sedikit demi sedikit" ucap Danar yang sudah berhenti di teras dan mereka menunggu Melisa.
Tak berapa lama Melisa datang dan membawa jas bersama tas kerja Danar.
"Ini mas jas sama tas yang tadi mas butuhkan'' ucap Melisa yang kemudian memberikan tas dan jas yang di bawanya, pada suaminya.
"Terima kasih istri pertamaku" ucap Danar seraya mengulas senyumnya.
"Iya sayang" balas Danar yang membalas aksi mencium dari istri pertamanya itu.
Setelah selesai, Danar menghampiri Zulaikha yang mengulas senyumnya,
,
Zulaikha kemudian mencium punggung tangan kanan suaminya.
"Mas hati-hati ya di perjalanan, dan semoga sehat dan selamat sampai kembali menemui Ika kembali" ucap do'a Zulaikha yang membuat Danar mengulas senyumnya.
"Aamiin ya Robbal alaamiin" jawab Danar seraya mencium kening istri keduanya itu.
Danar kemudian meraba perut Zulaikha, dan mencium perut yang masih belum terlihat tanda kehamilannya itu.
"Baik-baik dirumah ya nak? papa mau cari nafkah buat kita semua, kamu jangan rewel jaga ibu kamu ya" ucap Danar mengusap perut Zulaikha.
"Iya pa, dede In syaa Allah baik-baik saja. Papa yang semangat kerjanya ya" ucap Zulaikha seraya mengulas senyumnya.
Danar juga membalas senyuman Zulaikha.
"Mas harap kalian bisa seperti adik kakak, saling menyayangi dan mas harap jangan ada pertengkaran di hati kalian" pesan Danar yang menatap pada Melisa.
__ADS_1
"Iya, jangan khawatir tentang hal itu!" ucap Melisa dengan mencoba untuk tersenyum walaupun merasakan sakit di dadanya.
"Oke mas percaya denganmu sayang, mas berangkat ya! Assalamu'alaikum!" ucap pamit Danar seraya melambaikan tangan pada kedua istrinya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Zulaikha dan Melisa yang hampir bersamaan, dan mereka melambaikan tangan mereka.
Danar mengulas senyumnya dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke mobil mewah yang telah dicucinya tadi pagi, dimana Bower sudah membuka pintu mobil tersebut untuk tuannya.
Bower yang melihat kemesraan Danar pada kedua istrinya, apalagi dengan Zulaikha.
"Cih, seandainya saja tuan Danar menyerahkan Ika padaku! jika saja Ika menjadi milikku!" gerutu dalam hati Bower yang merasakan ketidak-adilan pada dirinya yang masih tetap menyendiri.
Setelah Danar masuk ke dalam mobil mewah tersebut, Bower menutup pintu dan melangkahkan kakinya menuju ke sisi kemudi pada mobil tersebut.
Bower membuka pintu mobil dan masuk tepat duduk di belakang kemudi mobil mewah tersebut.
Dinyalakannya mobil tersebut dan perlahan-lahan melaju meninggalkan rumah besar itu, namun sebelumnya Danar melambaikan tangannya pada kedua istrinya.
Melisa dan Zulaikha yang melihat Danar melambaikan tangannya, kemudian membalasnya dan mereka saling mengulas senyum mereka masing-masing.
Setelah mobil yang membawa Danar dan Bower itu menjauh dan menghilang dari pandangan mereka, Melisa segera masuk ke rumah tanpa menyapa Zulaikha.
Zulaikha yang melihat hal itu, menghela nafasnya panjang dan kemudian menghembuskannya dengan pelan-pelan.
Istri kedua Danar itu masuk ke rumah dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk membantu mbok Tinah yang membereskan peralatan memasaknya.
Sedangkan Melisa melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya kembali.
...****...
Sementara itu di sebuah bandara dikota dimana Zulaikha tinggal, nampak seorang pemuda yang gagah dan sangat tampan keluar dari bandara dan dia bertemu dengan seorang dokter yang tak lain dokter Samsu, dokter pribadi keluarga Melisa.
"Assalamu'alaikum, dokter Samsu ya!' ' sapa pemuda itu seraya mengulurkan tangannya.
"Wa'alaikumsalam, iya saya dokter Samsu. Saya kira setelah sekian tahun di luar negeri, anda sudah lupa adat istiadat negara kita tuan Adam Rendra! he..he..!" balas dokter Samsu seraya membalas uluran tangan pemuda tampan yang tak lain bernama Adam Rendra itu yang juga mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1