
Tak berapa lama tibalah mereka ke tempat dimana yang ditunjukkan oleh perawat tadi.
"Sepertinya itu ruangannya!" seru Baim seraya menujuk ke arah pintu ruangan rawat itu.
"Iya, ayo kita kesana!" sahut Zahra dan mereka melangkahkan kaki menuju ke ruangan rawat tersebut.
"Tokk.... tokkk.... tokk....!"
Baim mengetuk pintu, sementara Zahra dan Zulaikha mengucap salam secara bersama'an.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" balas seorang laki-laki dari dalam ruang rawat itu, yang tak lain adalah dokter Adam Rendra.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga!" seru Zulaikha yang mengulas senyumnya.
"Hai apa kabar bro!" sapa Baim yang kemudian menjabat tangan dokter Adam Rendra.
"Alhamdulillah baik!" jawab Dokter Adam Rendra seraya membalas jabat tangan Baim.
"Dimana mbok Tinah?" tanya Zulaikha yang masuk ke ruangan dan melihat mbok Tinah yang sedang tidur dengan pulasnya.
"Baru saja tidur, habis minum obat tadi!" jawab Dokter Adam Rendra seraya menatap mbok Tinah.
"Zulaikha, aku dan Baim mau keluar sebentar ya!" seru Zahra yang menepuk pundak sahabatnya itu.
"Oh, iya! Jangan lama-lama ya!" seru Zulaikha, karena merasa canggung bila hanya dokter Adam Rendra yang saat ini bersamanya.
"Kami pergi ya bro! Coba usaha deketin kakak ku, karena aku ingin kita saudaraan! he...he...!" bisik Baim seraya mengulas senyumnya.
"Huss...! kakak kamu itu masih milik orang!" balas bisik dokter Adam Rendra pada Baim.
"He... he...! kali aja dokter ada rasa sama kakak tiriku." bisik Baim sambi menyenggol pinggang Dokter Adam Rendra.
__ADS_1
"Kau ini ya!" gerutu dokter Adam Rendra.
"Tapi bener kan ada rasa?" tanya Baim dengan berbisik.
Zulaikha penasaran dengan apa yang para laki-laki bisikan itu.
"Hm...hmm....! ternyata laki-laki bisa menggosip juga ya!" seru Zulaikha sambil mengulas senyumnya.
"Apa sih! enggak ah, kami kan cuma bicara hal tentang laki-laki. Perempuan dilarang mendengarkannya!" sahut dokter Adam Rendra yang menutupi rasa malunya, karena jika sampai ketahuan sama Zulaikha bahwa dirinya menyukai istri siri kakak ipar dari suami kakak tirinya itu.
"Ah, sudah-sudah! Baim, ayo kita jalan. Perutku sudah tak tahan lagi!" seru Zahra yang menarik tangan Baim dan mereka bergegas melangkahkan kaki meninggalkan ruangan dimana Zulaikha dan Dokter Adam Rendra berdiri saat ini.
Zulaikha mengulas senyumnya melihat sahabat dan adik tirinya pergi.
"Mereka serasi ya" ucap Zulaikha yang terus menatap kepergian Zahra dan Baim.
"Kita juga serasi." ucap dokter Adam Rendra tanpa sadar.
"Hah, apa yang dokter bilang?" tanya Zulaikha yang seakan belum percaya dengan pendengarannya.
"Dokter, aku dengar ucapan kamu. Ketahuilah aku sebenarnya ada rasa dengan kamu dokter. Tapi aku masih ada ikatan dengan mas Danar." kata dalam hati Zulaikha yang menatap punggung Dokter Adam Rendra.
Zulaikha menghela nafas panjang dan menghempaskannya pelan-pelan, dia kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Dokter Adam Rendra.
Keduanya berdiri disamping tempat tidur Mbok Tinah, yang perlahan-lahan membuka kedua matanya dan menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan termasuk melihat laki-laki dan perempuan yang ada disampingnya.
"A....aku ada dimana?" tanya mbok Tinah dengan suara lirih.
"Mbok, mbok Tinah sekarang ini ada di rumah sakit. Mbok Tinah kemarin mendapat luka tusukan dari mas Danar yang membawa pisau buah!" jelas Zulaikha.
"Oiya, aku ingat itu!" ucap mbok Tina yang menatap Zulaikha dan juga Adam Rendra.
"Mbok Tinah, Zulaikha boleh minta mbok Tinah ceritakan masa lalu mbok Tinah. Ma'af mbok Tinah, saya ingin dokter Adam Rendra tahu masa lalu mbok Tinah dan nantinya dokter Adam Rendra yang bergantian menceritakan masa lalunya. Apakah ada kesamaan dalam cerita kalian, itu saja yang ingin saya ketahui." ucap Zulaikha yang menatap wajah mbok Tinah.
__ADS_1
"Ada apa dengan kamu nyonya Zulaikha?":tanya mbok Tinah yang penasaran.
"Ma'af mbok, karena Zulaikha ingat perkataan mbok Tinah yang dulu dan tanpa sengaja golongan darah Dokter Adam Rendra sama dengan golongan darah Mbok Tinah." jawab Zulaikha.
"Jadi, dokter menyumbangkan darahnya buat mbok Tinah?" tanya mbok Tinah yang menyakinkan dirinya.
''Iya mbok!" ucap Zulaikha yang membenarkan ucapan Mbok Tinah.
"Dulu aku masih muda seperti kalian ini di bawa ayahku untuk berkerja di rumah yang saat ini ditempati oleh nyonya Melisa. Saat itulah itu ayah punya hutang pada keluarga ini banyak sekali, dan aku di jadikan jaminannya. Aku sampai tidak ingat berapa tahun aku kerja di sini tanpa digaji waktu itu. Yang jelas sampai nyonya Lisa lahir, simbok belum merasakan menerima uang dari hasil keringat aku sendiri." cerita mbok Tinah.
"Jadi mbok Tinah juga jadi jaminan hutang juga? tapi bedanya mbok Tinah tidak diperistri majikannya, sedangkan aku? ah, sudahlah mau bagaimana lagi?" gumam dan tanya Zulaikha uanb
"Ika, aku cerita ini hanya pada kamu. Entah kenapa aku merasakan kalau kita punya nasib yang sama." ucap mbok Tinah yang menatap Zulaikha dengan berkaca-kaca.
"Nasib sama? apa maksud mbok Tinah? Ika tidak mengerti?'' tanya Zulaikha yang penasaran karena memang pada awalnya memang sama, yaitu sebagai jaminan hutang.
"Simbok waktu itu bekerja disini pada keluarga a Melisa, awalnya baik-baik saja, ya seperti pada umumnya bekerja walaupun tanpa gaji. Waktu itu nyonya ibunda dari nyonya Lisa setelah melahirkan nyonya Lisa, mendapat vonis dari dokter kalau beliau menderita kangker rahim dan sudah tidak boleh berhubungan badan dengan suami. Sedangkan Tuan waktu itu sangat menginginkan mempunyai lagi anak laki-laki yang nantinya akan menjadi penerusnya." jelas mbok Tinah berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya dan melihat ke arah .
"Terus kelanjutannya bagaimana mbok?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Tuan menikahi simbok dan nyonya sangat mengijinkannya waktu itu dengan syarat, anak yang saya kandung menjadi anaknya dan aku tak boleh mengakuinya sebagai anak. Waktu itu aku mau saja, asalkan tuan mau membiayai ibuku yang sakit-sakitan karena ulah bapakku yang suka main judi dan mabuk-mabukan yang menjadi-jadi hingga semua harta ibu dan bapakku di jual untuk melunasi hutang judi bapak. Belum lagi biaya rumah sakit bapak pada saat bapak kecelakaan dan pada akhirnya bapak meninggal. Semua itu butuh banyak biaya dan Ibukku pun meninggal dunia karena tak mampu menahan beban pikiran dan rasa sakit yang mendera beliau." ucap mbok Tinah yang kini Zulaikha paham dengan apa yang di ceritakan mbok Tinah, memang nasibnya sebelas dua belas dengan mbok Tinah.
"Lantas dari pernikahan mbok Tinah dengan tuan, bagaimana? apakah dikaruniai putra atau putri?" tanya Zulaikha yang penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...