
Semuanya keluar dari kantor polisi dengan wajah berseri, dan mereka melajukan kendaraan mereka menuju ke rumah Melisa.
Sesampainya di rumah Melisa, Melisa mengadakan syukuran kebebasan Danar dan semuanya makan-makan dan persiapan untuk itsbat nikah Danar dan Zulaikha.
Selain membantu memasak, mbok Tinah, Zulaikha, Zahra, dan juga Baim mengemasi barang-barang mbok Tinah dan juga Zulaikha.
Sedangkan dokter Adam Rendra sedang ada tugas di klinik dokter Samsu.
Pada malam harinya, semua berkumpul untuk makan malam bersama di rumah Melisa termasuk dokter Adam Rendra dan dokter Samsu.
Acara makan malam berlangsung secara meriah dan ada canda dan tukar informasi diantara mereka.
Setelah acara makan malam selesai, mbok Tinah mengambil sebuah album foto dan juga stopmap yang telah lama dia simpan.
"Mohon ma'af semuanya, jika wanita tua ini mengganggu kalian semuanya." ucap mbok Tinah mengawali ucapannya.
"Ada apa mbok?" tanya Melisa yang dibarengi semuanya yang menatap ke arah mbok Tinah.
"Saya hanya mau menunjukkan foto-foto sebagai bukti pernikahan mbok Tinah dengan papanya nak Melisa. Berikut surat pernyataan dari mamanya nak Melisa, bahwa Adam Rendra memang benar putra saya. Dan Adam Rendra juga berhak mendapatkan warisan dari papanya. Yaitu sebuah rumah lama dan satu hektar perkebunan kelapa," ucap Mbok Tinah seraya menunjukkan semua bukti-buktinya dan disaksikan oleh semuanya termasuk dokter Samsu.
"Jadi rumah yang saat ini ditinggali Dokter Adam Rendra, benar rumah warisan untuk kamu dokter Adam Rendra!" seru dokter Samsu yang membuat Melisa dan mbok Tinah terkejut.
"Dulu papanya Dokter Adam meminjamkan sebuah rumah untuk keluarga saya, karena harta benda kedua orang tua saya habis buat biaya sekolah saya di fakultas kedokteran. Kami tinggal di rumah itu, sampai kedua orang tua saya meninggal dunia. Setelah lulus dan saya mendapatkan pekerjaan, saya menikah. Kemudian saya pindah rumah dan Alhamdulillah mampu membeli rumah baru, semetara rumah itu saya sewa-sewakan sampai kedatangan dokter Adam Rendra dari luar negeri." ucap dokter Samsu dan semuanya mendengarkan apa yang dikatakan dokter Samsu.
"Nanti ibu bisa tinggal disana bersama Adam, tenang saja rumahnya sudah bersih dan tidak menyeramkan lagi!" ucap dokter Adam Rendra seraya mengulas senyumnya.
"Baiklah, tunggu apa lagi. Dari pada kita dari kontrakan, ayo bawa kami ke rumah kamu Adam!' seru Mbok Tinah yang bersemangat.
"Ayo! tapi sebelumnya beresi album dan kertas-kertas penting itu Bu!" seru Adam Rendra seraya menunjuk ke arah meja dengan tumpukan album dan kertas-kertas penting itu.
"Kami bantu!" seru Zulaikha dan Zahra yang bersamaan.
Setelah membereskan semuanya, mereka memindahkan barang-barang mbok Tinah dan Zulaikha ke dalam mobil.
Kemudian semuanya melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah secara bersamaan, Melisa dan Danar mengikuti mereka dari belakang.
Mereka berpamitan dengan Danar dan Melisa.
"Jadi kamu ikut mereka Zulaikha?" tanya Danar yang masih terlihat tak rela.
"Iya mas, ma'af! Selamat malam." jawab Zulaikha yang kemudian masuk ke dalam mobil bersama yang lainnya.
"Malam dan semoga mimpi indah Zulaikha!" ucap lirih Danar yang terus melihat ke arah mobil yang membawa Zulaikha, menghilang dari pandangannya.
"Mas Danar, ayo masuk! di luar dingin lho!" seru Melisa yang menarik lengan suaminya.
Danar menoleh dan mengulas senyum pada istri pertamanya itu.
Keduanya melangkahkan kaki dan masuk ke rumah. Setelah menutup pintu menguncinya, Danar dan Melisa melangkahkan kakinya sampai di ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu duluan saja ke kamar, biarkan aku sendiri dulu!" ucap Danar pada Melisa.
"Aku akan menemani mas Danar, aku tidak mau ke kamar kalau tidak bersama mas Danar." ucap Melisa sembari mengulas senyumnya.
"Hm...! baiklah, terserah kamu saja!" seru Danar yang kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar pembantu dan langkah kakinya menuju ke kamar sudut dimana Zulaikha pertama kali tinggal di rumah itu.
Danar membuka pintu dan menyalakan lampu gudang yang sempat menjadi kamar Zulaikha.
Bayangan bersama Zulaikha ada di pelupuk matanya.
"Zulaikha, kamu pernah tidur disini dan kita melakukannya di tempat ini!" ucap dalam hari Danar yang merasakan kebersamaan bersama Zulaikha di kamar sempit itu.
🗓️Flashback on.
Pada waktu itu jam dinding menunjukkan jam dua malam, Danar merasakan tenggorokannya yang kering. Kemudian dia turun dari kamar dan melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari air minum di lemari es.
Tiba-tiba Danar mendengar sesuatu dari kamar para pembantu.
Danar mengendap-endap karena penasaran untuk mengetahuinya.
Tampaklah seorang perempuan yang baru saja dari sumur dan berjalan menuju ke tempat sebuah ruangan paling sudut.
"Zulaikha? sedang apa dia di kamar sudut itu?" tanya dalam hati Danar yang merasa penasaran.
Danar mengendap-endap sampai di depan pintu kamar tersebut, dan pada saat itu Zulaikha hendak menutup pintu dan dia terkejut.
Danar kemudian masuk ke kamar Zulaikha dan dia menutup serta mengunci pintu kamar tersebut dari dalam kamar.
Zulaikha mundur beberapa langkah, dan dia mengambil mukenanya.
"Tuan, datang kesini mau apa?" tanya Zulaikha yang menggelar sajadahnya.
"Aku tak menyangka kalau kamu ada di ruangan ini!" ucap Danar yang kemudian duduk di tikar yang memang untuk tidur Zulaikha.
"Memang aku ada disini tuan" ucap Zulaikha yang kemudian memakai mukenanya.
"Aku mau meminta jatah!" ucap Danar yang memandang ke arah Zulaikha.
"Hm..., Sudah aku duga!" seru dalam hati Zulaikha yang tetap melanjutkan memakai mukenanya.
"Boleh, tapi setelah saya sholat malam dan mengaji" ucap Zulaikha seraya mengulas senyumnya.
"Ok, aku tunggu!" balas Danar yang kemudian dia duduk bersandar dengan memainkan ponselnya.
Sementara itu Zulaikha tetap menjalankan sholat malam dengan khusyuk, dilanjutkan dengan mengaji beberapa ayat Al Qur'an.
Danar tertegun pada saat melihat dan mendengar istri keduanya melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an.
"Zulaikha, suara kamu merdu sekali!" ucap dalam hati Danar.
__ADS_1
"Ke..kenapa aku bergetar begini ya? kenapa aku merasa kalau selama ini aku banyak berbuat dosa ya? Ah, Zulaikha suara kamu membuat jantungku serasa mau copot saja!" Danar yang terus membatin.
Jam tiga dini hari, karena lamanya menanti akhirnya Danar tertidur dengan pulasnya di kamar sempit itu.
Karena tak terbiasa tidur beralaskan tikar, Danar mendadak demam dan tetap memejamkan kedua matanya.
Merasa cukup lama tidur dan perutnya yang lapar, Danar membuka kedua matanya dan melihat Zulaikha yang baru saja masuk ke kamar dimana dirinya terbaring lemah, dengan membawa makanan dan minuman.
"Tu..tuan sudah bangun" ucap Zulaikha yang meletakkan makanan dan minumannya di lantai dan kemudian membantu Danar untuk duduk bersandar.
"Tu..tubuhku lemas sekali!" ucap Danar yang begitu lemah sekali.
"Tuan sakit, makan dulu ya!" ucap Zulaikha yang mengambil sepiring nasi yang kemudian dia mulai menyuapi suaminya.
Sesuap demi sesuap dan Danar melihat ada ketulusan di wajah dan mata Zulaikha. Tanpa dia sadari ada benih-benih rasa cinta dihati Danar.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Danar saat dia menyudahi makannya.
"Belum, nyonya baru saja makan di ruang makan" jawab Zulaikha seraya menyodorkan minuman teh hangat ke mulut Danar.
Seteguk demi seteguk Danar meminumnya dan berhenti di setengah gelas teh hangat itu.
Zulaikha hendak beranjak dari duduknya untuk mengembalikan piring dan gelasnya. Namun tiba-tiba tangan hangat memegang lengannya.
"Di sini dulu, temani aku dulu" ucap lirih Danar.
"Iya, tapi tuan harus minum obat. Zulaikha mau mencarikan obat buat tuan di kotak obat" bisik Zulaikha.
"Cepat kesini lagi ya!" ucap Danar yang kemudian membaringkan tubuhnya kembali diatas tikar.
"Iya tuan" jawab Zulaikha yang trenyuh melihat keadaan suaminya yang tak berdaya seperti itu.
Zulaikha melangkahkan kakinya ke pintu kamar, dan membukanya. Setelah Zulaikha keluar, dia menutup dan mengunci kembali kamarnya.
🗓️Flashback off.
"Waktu itu Zulaikha merawat dan mengobatiku dengan tulus, dan aku awal aku jatuh cinta padanya." gumam dalam hati Danar yang tak terasa kedua matanya berkaca-kaca.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1