GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Melisa, Bower mempengaruhi Danar


__ADS_3

"Bower! pasti dia punya rencana kejahatan yang lainnya!" dugaan pak Agus dan yang lainnya menganggukan kepala mereka.


"Ayo kita mulai berangkat ke tujuan masing-masing!" seru Briptu Setiawan.


"Baik Briptu!" balas seru yang lainnya secara bersamaan.


Mereka melangkahkan kaki mereka secara bersamaan, dan sesampainya di tempat parkir, mereka berpisah.


Pak Agus bersama Briptu Setiawan menaiki sepeda motor dinas Briptu Setiawan, sedangkan Zahra dan yang lainnya kembali naik mobil yang membawa mereka ke rumah sakit itu.


Perjalanan mereka beriringan dan berpisah di perbatasan kota, Briptu Setiawan dan Pak Agus menuju ke kantor polisi sedangkan Mobil yang dikemudikan Zahra menuju ke rumah Melisa.


Setelah sampai di halaman kediaman Melisa, Zahra menghentikan mobilnya. Dan mereka bertiga turun dari mobil tersebut, kemudian melangkahkan kaki mereka hingga sampai di depan pintu utama rumah tersebut.


Dokter Adam Rendra kemudian mengetuk pintu rumah tersebut.


"Tok...tok...tokk...!"


"Assalamu'alaikum!" ucap salam dokter Adam Rendra.


Tak juga mendapat jawaban, Zulaikha ganti yang mengetuk pintu.


"Tok..tok...tok..!"


"Assalamu'alaikum!" ucap salam dari Zulaikha.


"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah dan tak berapa lama terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam rumah.


"Klek..klek..ceklek..!"


Pintu itu terbuka dan nampaklah seorang wanita tua yang tak lain adalah mbok Tinah.


"Mbok Tinah!" panggil Zulaikha yang kemudian masuk sebelum mbok Tinah mempersilahkan masuk.


"Nyonya, tuan sudah pulang dan sekarang ada di ruang tamu. Hati-hati nyonya Zulaikha, sepertinya tuan sedang tak enak hati." ucap mbok Tinah yang merasa khawatir.


Cerita sebelumnya ;


Dimana saat mobil yang di kendarai Zahra, Zulaikha dan Dokter Adam Rendra yang membawa Baim ke rumah sakit, telah menjauh dari rumah besar Melisa.


Dan Bower kembali ke lantai atas menghampiri Melisa.

__ADS_1


Sementara itu mbok Tinah menutup dan mengunci pintu utama rumah itu, dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dapur karena jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Mbok Tinah memulai aktifitasnya memasak dan membersihkan seluruh rumah tersebut sendirian. Karena Zulaikha dan yang lainnya tidak ada di tempat, maka mau tak mau mbok Tinah mengerjakan semuanya sendirian.


Sedangkan Bower dan Melisa membuat rencana untuk menghancurkan Dokter Adam Rendra dan sekalian dengan Zulaikha.


"Sayang saya ada ide!" seru Bower yang menghampiri Melisa yang duduk di tepi tempat tidur.


"Apa ide kamu?" tanya Melisa yang penasaran, dan Bower membisikkan sesuatu pada majikan perempuannya yang sekarang menjadi pacar gelapnya.


Melisa tertawa pada saat mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh sopirnya itu.


"Kalau begitu, kita mau mandi dulu dan habis itu kita berangkat melaksanakan rencana kita!" seru Melisa yang Bower menyetujuinya.


Bower menutup dan mengunci pintu kamar Melisa, dia takut kejadian tadi akan terulang gara-gara pintu yang tidak dikunci.


Kemudian Bower mengikuti Melisa yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Keduanya terlibat permainan di dalam mandi hingga satu jam lamanya.


Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian mereka, kemudian mereka keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


Sesampai ya di dapur, keduanya sarapan bersama dam mbok Tinah tak berani menanyakan tentang keadaan saudara Zulaikha yang jatuh pada majikan perempuannya itu.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang tidak begitu ramai, dengan kecepatan sedang.


"Apa kamu yakin rencana kita ini akan berhasil?" tanya Melisa yang saat ini duduk di samping Bower.


"Kita lihat saja nanti!" jawab Bower seraya menoleh ke arah Melisa dengan menyunggingkan senyum miringnya.


Melisa pun ikut tersenyum walaupun dalam hati dia bertanya-tanya, seperti apa rencana sopirnya itu.


Tak berapa lama mobil yang di kendarai Bower itu memasuki area parkir rumah sakit dan Bower memberhentikan mobil tersebut.


Setelah mobil berhenti, keduanya keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke rumah sakit.


Kemudian mereka menuju ke bagian informasi dan menanyakan ruangan dimana Danar dirawat. Setelah itu mereka melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan mencari ruangan yang dimana Danar dirawat.


Tak berapa lama mereka menemukan ruangan tersebut. Kemudian mereka mengetuk pintu ruangan yang terdapat seorang pasien yang sedang duduk bersandar dengan disampingnya seorang polisi dan laki-laki paruh baya yang berdiri disamping pasien yang bersandar itu.


"Tokk... tokk... tokk....!"

__ADS_1


"Selamat siang!" ucap salam Bower dan Melisa. Ketiga orang yang didalam ruangan itu menoleh ke arah sumber suara, mereka yang tak lain adalah Danar Aji, Briptu Setiawan dan juga pak Agus.


"Selamat siang juga!" ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Melisa, Bower!" panggil Danar pada saat tahu siapa yang datang itu.


"Tuan Danar mengenal mereka?" tanya Briptu Setiawan yang penasaran.


"Iya, mereka istri dan sopir kami!" jawab Danar yang mengulas senyum saat Melisa dan Bower menghampiri mereka.


"Saya Melisa dan ini Bower sopir saya tuan!" sapa Melisa saat menjabat tangan pada Briptu Setiawan dan Pak Agus yang juga membalas jabat tangann dari Melisa. Bower pun mengikuti apa yang dilakukan Melisa.


"Briptu dan pak Agus, saya ingin bicara bertiga dengan mereka. Mohon ma'af, apakah kalian bersedia memberi kesempatan pada kami untuk berbicara?" pinta Danar, walaupun agak berat Briptu Setiawan dan Pak Agus meninggalkan korban kecelakaan dengan keluarganya itu.


"Baiklah, berhubung kami juga sudah lapar jadi kami mau ke kantin rumah sakit. Dan hal ini adalah kesempatan kalian untuk berbincang-bincang." ucap briptu Setiawan.


"Terima kasih Briptu!" ucap Danar dengan semangat. Kemudian Briptu Setiawan dan juga pak Agus meninggalkan ketiga orang tersebut, mereka melangkahkan kaki keluar dari ruang rawat inap dimana Danar dirawat itu.


Setelah Briptu Setiawan dan juga pak Agus melangkahkan kaki meninggalkan mereka bertiga.


"Mas, maaf Melisa baru sempat datang. Mas Danar tidak marahkan?" tanya Melisa yang mendekati suaminya dengan genitnya.


"Tidak apa-apa sayang. Kenapa tidak ajak Zulaikha?" tanya Danar yang penasaran.


"Ma'af tuan, saya tidak berani mengajak nyonya muda. Karena sejak tuan Danar tinggalkan, nyonya muda sering menghabiskan waktunya bersama dengan dokter muda Nugroho itu!" jawab Bower yang tentu saja inilah rencana Bower untuk membuat Danar dan Zulaikha berpisah.


"Apa? Zulaikha jalan bareng dokter sialan itu!" seru Danar yang geram.


"Iya mas, mas kalau mau bukti ini di ponsel Bower dan foto kebersamaan mereka!" jawab Melisa dengan bersemangat, karena Danar telah terpengaruh dengan perangkap Bower.


"Ini tuan!" seru Bower yang menunjukkan foto-foto dimana Zulaikha dan Dokter Adam Rendra yang tanpa sengaja saling membalas senyum, pada saat mereka mengangkat tubuh Baim.


"Kurang ajar kau dokter Nugroho!" seru Danar dengan geram dan meremas selimut yang ada di pangkuannya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2