
"Sedangkan mbok Tinah pernah bercerita kalau dia mempunyai seorang putra yang bernama Adam Rendra yang katanya dia sedang belajar ke luar negeri." ucap Zulaikha.
"Sebaiknya tanyakan langsung saja sama mbok Tinah!" seru suara seorang laki-laku dari dalam ruang rawat dimana Baim dirawat.
Dan yang bersuara tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Baim yang turun dari tempat tidurnya, dan saat ini berada di belakang dokter Samsu.
"Baim!" panggil Zulaikha dan Zahra yang bersamaan saat melihat sesosok pemuda yang menyembul di belakang dokter Samsu.
"Iya ini Baim adik tiri dan sahabat kalian." jawab Baim yang mengulas senyumnya.
"Kenapa kamu turun dari tempat tidur?" tanya Zahra yang khawatir dan menghampiri Baim.
"Tenang saja, aku sudah tidak apa-apa, iya kan dok?" jawab Baim sekaligus minta pendapat pada Dokter Samsu.
"Iya, Baim sudah pulih. Dia sudah boleh pulang, tapi dia tbelum boleh beraktifitas yang yang berat-berat dulu!" ucap dokter Samsu.
"Tapi dokter, bagaimana dengan administrasi Baim? aku sama sekali tidak punya uang." ucap Zulaikha yang apa adanya.
"Zulaikha!" ucap Baim dan juga Zahra yang bersamaan.
"Bukankah kami istrinya orang kaya, apa suami kamu tidak memberimu uang sepeser pun?" tanya Zahra yang penasaran.
"Tidak, suamiku tidak pernah memberiku uang sama sekali. Untuk jajan cilok saja aku dibelikan sama mbok Tinah." ucap Sri yang apa adanya.
"Kamu kok betah saja sih hidup suami yang pelit begitu!" seru Zahra yang geram.
"Sudah tidak punya ponsel, uang pun tidak mendapat jatah. Kayak seperti itu kamu mau melayani suami kamu?" tanya Baim yang geram dan dokter Samsu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Iya, kan sudah menjadi kewajiban seorang istri. Masalah uang, mas Danar memang tidak memberikan uang, mas Danar khawatir kalau aku akan kabur pada saat punya uang lebih. Karena kami nikahnya bukan atas cinta, tapi jaminan hutang." jelas Zulaikha yang membuat semua tersadar
"Pernikahan siri sendiri merupakan pernikahan yang masih belum sah secara hukum negara atau belum bisa dikatakan adanya pernikahan. Sehingga bisa untuk bercerai, maka pernikahan tersebut perlu disahkan terlebih dulu melalui itsbat nikah. Pengajuan cerai ini juga bisa dilakukan bersamaan dengan itsbat nikah di Pengadilan Agama." jelas Dokter Samsu.
"Jadi aku harus itsbat nikah lebih dulu ya?" tanya Zulaikha yang memperjelas pendengarannya.
"Iya, itu sudah jadi aturannya. Setahu aku demikian." ucap Baim yang menatap Zulaikha dan Zahra bergantian.
"Sama halnya dengan hukum negara yang berlaku, cara cerai nikah siri dalam Islam juga perlu dilakukan itsbat nikah terlebih dahulu dimana pernikahan tersebut diajukan ke Pengadilan Agama untuk bisa dinyatakan sah. Kemudian baik suami atau istri bisa mengajukan cerai kembali. Jika kedua pasangan suami istri tersebut tidak mau mengurus cara cerai nikah siri, maka bisa diwakilkan oleh pengacara atau wakilnya." jelas dokter Samsu .
__ADS_1
"Oh begitu ya dok!" ucap Zulaikha dan Zahra yang hampir bersamaan.
"Kak Zulaikha, ini buat bayar rumah sakit." ucap Baim yang menyerahkan ATM dari dompetnya.
"Baim, kamu dapat dari mana?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Selama ini kakak pikir kerjaan Baim hanya main saja? Baim kerja kak. Baim sekolah dan pulangnya kerja di cafe sampai malam. Uangnya ya buat tabungan Baim. Karena selama papa sakit, tak ada yang memberi uang saku buat Baim." jawab Baim.
"Apa mama tidak kasih uang sama kamu?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Sama seperti yang kakak tahu, selama ini uang mama habis buat bayar hutang harian, mingguan dan lain-lainnya." jelas Baim yang mengulas senyum pahitnya.
"Sudahlah, kalian yang sabar saja. Ayo lekas di bayar, dan kita lihat keadaan mbok Tinah!" seru Zahra yang menarik lengan Zulaikha.
"Oiya ayo Baim!" seru Zulaikha yang menggandeng Baim.
"Ma'af aku tak bisa menemani kalian." ucap dokter Samsu pada saat itu juga.
"Lho kenapa dokter!" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Saya kan masih harus kerja lagi di Klinik!" jawab Dokter Samsu sembari mengulas senyumnya.
"Siap, makasih! Assalamu'alaikum!" ucap salam dokter Samsu pada semuanya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Baim, Zulaikha, dan Zahra bersamaan.
Dokter Samsu melangkahkan kaki meninggalkan mereka bertiga, dan sementara Zulaikha, Zahra dan Baim melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit dan menuju ke ruang instalasi gawat darurat.
Sesampainya di ruang tunggu dimana sebelumnya dokter Adam Rendra berada, ternyata dokter Adam Rendra tidak ada di ruang tunggu tersebut.
Mereka kebingungan mencari keberadaan dokter Adam Rendra, dan mbok Tinah yang juga tidak ada di ruangan tersebut.
"Hei, kemana mereka?" tanya Baim yang mondar-mandir di ruang tunggu dan menghampiri kedua perempuan yang bersamanya.
"Tadi dokter Adam Rendra benar berada disini!" seru Zulaikha yang juga kebingungan.
"Iya, mbok Tinah juga ada di ruangan itu!" ucap Zahra seraya menunjuk ke arah pintu ruang gawat darurat itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tanyakan pada perawat, siapa tahu mereka tahu keberadaan Dokter Adam Rendra dan mbok Tinah!" seru Zahra yang memberi usul.
'"Ah iya, tanyakan saja pada perawat itu!" seru Zulaikha seraya menunjuk ke arah perawat yang sedang berjaga di meja perawat.
"Ayo kita ke sana!" seru Zahra dan diikuti oleh Zulaikha dan juga Baim yang ketiganya melangkahkan kaki menuju ke meja di mana beberapa orang perawat sedang sibuk dalam pekerjaannya.
"Ma'af Sus, kami ingin bertanya!" seru Zulaikha pada saat sudah berada di depan meja suster itu.
"Iya, apa yang bisa saya bantu?" tanya Salah satu perawat itu yang saat ini berhadapan dengan Zulaikha.
"Dimanakah pasien yang ada di ruang instalasi gawat darurat disana?" tanya Zaulaikha seraya menunjuk ke arah ruangan yang dia maksudkan.
"Oh siapa nama pasiennya?" tanya perawat itu yang ingin tahu, untuk membantu menjawab pertanyaan Zulaikha.
"Ibu Sutinah, korban penusukan!" jawab Zulaikha.
"Sutinah, pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat kelas satu!" jawab perawat itu yang sebelumnya melihat ke buku catatannya.
"Jadi sudah dipindahkan?" tanya Zahra yang meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, sudah dipindahkan. Karena keadaannya sudah membaik. Jadi sekarang menunggu lukanya kering. itu saja!" jawwbperawt itu sembari mengulas senyumnya.
"Alhamdulillah kalau sudah sembuh, kalau begitu kami permisi!" ucap Baim yang baru bicara.
"Iya silahkan!" balas perawat itu seraya menganggukkan kepalanya dan tetap dengan senyumannya.
Baim, Zulaikha, dan Zahra melangkahkan kaki meninggalkan para perawat itu. Dan mereka kembali menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk mencari ruangan dimana Mbok Tinah dirawat.
Tak berapa lama tibalah mereka ke tempat dimana yang ditunjukkan oleh perawat tadi.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...