GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Mengobati Suami


__ADS_3

Setelah membuka dan menutup kembali pintu kamarnya, Zulaikha menghampiri suaminya yang masih terbaring.


"Tuan minum obat dulu ya?" pinta Zulaikha dengan menggoyangkan lengan suaminya.


"Argh...i..iya!" balas Danar yang berusaha bangkit untuk memposisikan dirinya duduk.


Zulaikha pun membantunya untuk duduk dan tanpa sadar pandangan mata keduanya saling beradu.


"Kenapa kamu mau merawatku? padahal aku telah menyakitimu!" ucap Danar lirih.


"Bicara apa sih anda ini? saya kan istri anda, jadi sewajarnya lah kalau saya merawat anda." ucap Zulaikha sembari tersenyum dan kemudian membukakan obat untuk suaminya.


Obat tersebut kemudian diberikan pada suaminya, dan Danar menerimanya lalu menelan obat penurun panas itu dan Zulaikha memberikan air minum itu pada suaminya.


"Nah sekarang tuan tidur, biar obatnya merasuk dan tuan bisa segera sembuh" ucap Zulaikha dengan mengulas senyumnya.


"Tapi kamu jangan kemana-mana ya!" pinta lirih Danar.


"Iya, aku akan tetap disini menjagamu tuan" ucap Zulaikha yang kemudian mengompres suaminya.


Perlahan-lahan Danar memejamkan kedua matanya, dan dia sudah terlelap dalam mimpinya.


Zulaikha sibuk dengan mengompres suaminya, dan melihat suaminya yang sudah tertidur dengan pulasnya.


Istri kedua danar itu kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dia mengambil jemuran yang sudah kering untuk di seterika maupun dilipat.


Semua pakaian kering itu diletakkan di kamarnya dan dia melakukan pekerjaannya sembari menunggui suaminya.


Beberapa jam kemudian, Zulaikha telah selesai menyeterika dan meletakkan semua pakaiannya di keranjang.


"Argh, sudah waktunya makan siang. Aku letakkan pakaian ini di depan kamar mbok Tinah. Karena aku tak boleh masuk ke kamar nyonya" ucap dalam hati Zulaikha yang mengangkat pakaian-pakaian yang sudah diseterikanya itu dan dibawa ke depan kamar mbok Tinah.


Setelah itu, Zulaikha menuju ke dapur untuk mengambilkan makan siang untuk suaminya.


Zulaikha mengambil nasi, sayur dan lauk serta teh hangat. Yang kesemuanya itu diletakkan di atas nampan dan membawanya menuju ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian Zulaikha telah sampai di dalam kamar dan dia menghampiri suaminya setelah menutup dan mengunci kamarnya.


"Tuan-tuan, tuan makan dulu ya!"ucap Zulaikha yang membangunkan suaminya.


"Argh...! A..ada apa?" tanya Danar yang barusaha bangkit dari tidurnya dengan dibantu oleh Zulaikha.

__ADS_1


Kembali Zulaikha menyuapi suaminya sesendok demi, dan pada akhirnya makanan yang ada di piring tersebut sampai nasinya habis dan Zulaikha memberi Danar obat penurun panas.


"Saya ke dapur sebentar ya tuan, mencuci piring ini sekalian mau makan siang." ucap Zulaikha seraya menatap suaminya yang terlihat sayu itu .


"Iya, tapi nanti kamu ke sini lagi ya?" pinta Danar dengan lirih.


"Iya tuan" jawab Zulaikha yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Danar sendirian di dalam kamar, dan Zulaikha melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Zulaikha mengambil makanan dan minuman untuk dirinya sendiri, dan dia memakannya setelah itu juga.


"Tuan kalau sakit begini lemah lembut dan seperti menggantungkan dirinya padaku? Kalau sikapnya manis begini, aku kan tidak benci padanya" ucap dalam hati Zulaikha yang telah menyelesaikan makan siangnya dan kemudian mencuci piringnya.


Selesai melakukan itu, Zulaikha melangkahkan kakinya menuju ke sumur dan kemudian dia berwudlu.


Setelah berwudlu, Zulaikha berjalan menuju ke kamarnya dan menutupnya kembali.


"Kenapa lama sekali?" tanya Danar yang menatap Zulaikha dengan tajam.


"Ma'af saya kan harus mencuci piring serta berwudlu tuan" jawab Zulaikha yang kemudian mengambil mukenanya dan mulai untuk sholat dhuhur, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


Zulaikha menunaikan sholat dhuhur dan Danar duduk tertegun bersandar di dinding kamar menatap istri keduanya itu.


Tak berapa lama Zulaikha telah selesai dalam menjalankan sholat Dhuhurnya.


"Zulaikha, apa nyonya ada dirumah?" tanya Danar tiba-tiba.


"Tidak tuan, nyonya dan mbok Tinah pergi belanja. Begitu pamit mbok tinah tuan." ucap Zulaikha seraya melipat mukenanya.


Danar kemudian bangkit dengan tertatih-tatih karena badannya yang masih lemas.


"Tu..tuan, tuan mau kemana?" tanya Zulaikha yang dengan cepat membantu Danar untuk berjalan.


"Aku tak boleh disini terus, jika sampai ketahuan Melisa kita berdua bisa jadi bulan-bulanannya." jawab Danar lirih namun masih bisa didengarkan oleh Zulaikha.


"Benar juga tuan, sebentar biar saya lihat keadaan di luar sana!" seru Zulaikha yang keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu.


"Hmm... masih sepi, berarti nyonya dan mbok Tinah belum pulang?!" ucap dalam hati Zulaikha.


Istri kedua Danar itu kemudian kembali ke kamarnya dan memapah Danar dengan perlahan-lahan keluar dari kamarnya, melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang tamu.


"A..aku tak sanggup lagi, bi..biar aku di sofa ini. Yang terpenting tidak di kamar kamu!" seru Danar yang kemudian duduk lalu berbaring di atas sofa.

__ADS_1


Zulaikha membantu memposisikan dengan benar, tubuh suaminya itu. Kemudian Zulaikha mengambil selimut yang tadi ada diantara tumpukan pakaian yang telah dia seterika.


Setelah mendapatkan selimut tersebut, Zulaikha melangkahkan kaki dan menyelimutkan selimut itu pada suaminya.


Ketika Zulaikha hendak ke dapur untuk membuatkan minuman hangat buat suaminya, terdengar suara dari mulut suaminya.


"Kamu mau kemana?" tanya Danar lirih namun masih bisa di dengar oleh Zulaikha.


"Mau membuatkan minuman buat tuan." ucap Zulaikha dengan jujur.


"Oh, cepat sedikit ya!" seru Danar dari balik selimutnya.


"I..iya tuan!" jawab Zulaikha dengan mengulas senyumnya dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Tak berapa lama ada sebuah mobil mewah yang berhenti di halaman rumah.


Turunlah dua orang wanita yang berbeda usia dan juga seorang laki-laki yang membukakan pintu serta menutup pintu mobil ketika wanita yang usianya lebih muda itu keluar dari mobil.


"Bower, angkat semua belanjaan itu masuk ke dalam rumah, nanti biar mbok Tinah yang memilah-milahkan belanjaannya!" seru Melisa yang bersama mbok Tinah melangkahkan kakinya masuk ke rumah, dengan sebelumnya mbok Tinah membuka kunci rumah besar tersebut


"Klek..klek...ceklek...!"


Pintu terbuka dan mereka berdua masuk dan diikuti oleh Bower yang membawa barang belanjaan.


Ketika langkah kaki Melisa tiba di antara sofa ruang tamu, betapa terkejutnya Melisa pada saat melihat suaminya yang terbaring diatas sofa tersebut.


"Suamiku! mas Danar!" panggil Melisa yang kemudian menghampiri Danar.


Danar yang mendengar suara Melisa sangatlah terkejut dan dia mencoba bangkit dari posisinya terbaring diatas sofa itu.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2