GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Nasib yang sama


__ADS_3

"Oh saya sedang mengajari Zulaikha menggunakan mesin cuci" jawab mbok Tinah sambil menunduk hormat pada melisa dan jujur dan apa adanya.


"Apa dia tidak bisa menggunakan mesin cuci?" tanya Melisa yang penasaran.


"Tidak nyonya. Seperti saya di kampung juga tidak ada mesin cuci. Kami di desa suka mencuci di sungai nyonya" ucap mbok Tinah yang sedikit menceritakan tentang hidupnya sembari menyiapkan sarapan majikannya.


"Mbok kami mau pergi melihat tanah yang dijual orang, kalau cocok rencananya mau dibuat menambah lahan kebun kelapa. Mbok Tinah sudah Lisa anggap orang tua Lisa, jadi Lisa mohon doanya semoga tanah itu cocok untuk usaha lisa." ucap Melisa yang mengambil piring dan mengambil nasi untuknya dan juga untuk suaminya.


"Iya, mbok doakan semoga berhasil. Dan tambah sukses usahanya!" ucap mbok Tinah sembari mengulas senyumnya dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Tak berapa lama Danar turun dari lantai atas dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.


"Lama sekali kamu turunnya mas?" tanya Melisa yang menghidangkan satu piring berisi nasi dan lauk pauknya pada suaminya.


"Tadi dapat telepon katanya tanah itu ada yang menawar dengan harga tinggi!" ucap Danar seraya duduk di kursi makan itu dan menerima satu piring nasi komplit itu


"Oh, kirain tadi balik tidur lagi!" goda Melisa seraya mengulas senyumnya.


"Kau ini bisa saja!" seru Danar yang membalas senyuman istri pertamanya.


Kemudian sepasang suami isteri itu sibuk dengan sarapan mereka.


Sementara Zulaikha yang dibantu mbok Tinah telah selesai mencuci baju dan kemudian Zulaikha menjemur pakaian yang tadi dicuci oleh Zukailah.


Tak berapa lama Danar dan Melisa selesai sarapan dan berangkat ketempat yang mereka tuju.


Tak berapa lama Zulaikha selesai menjemur pakaian yang sudah di cucinya.


Setelah itu keadaan di rumah kembali sepi, dan Zulaikha menuju ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Dan ternyata mbok Tinah, menemui nya di kamarnya itu.


"Ika, apa aku boleh masuk?" tanya mbok Tinah yang pertama kali ini datang di kamar Zulaikha dengan rasa mnasaran.


Keduanya saling bercerita dan sesekali bercanda.


"Jika simbok berkerja disini dari sebelum nyonya Lisa lahir, pastinya mbok Tinah melihat saat nyonya masih dalam kandungan sampai lahirnya?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Iya, tentu saja. Dulu aku masih muda seperti kamu ini di bawa ayahku untuk berkerja di rumah ini. Karena ayah punya hutang pada keluarga ini banyak sekali, dan aku di jadikan jaminannya. Aku sampai tidak ingat berapa tahun aku kerja di sini tanpa digaji waktu itu. Yang jelas sampai nyonya Lisa lahir, simbok belum merasakan menerima uang dari hasil keringat aku sendiri." cerita mbok Tinah.


"Jadi mbok Tinah juga jadi jaminan hutang juga? tapi bedanya mbok Tinah tidak diperistri majikannya, sedangkan aku? ah, sudahlah mau bagaimana lagi?" gumam dalam hati Zulaikha.


"Ika, aku cerita ini hanya pada kamu. Entah kenapa aku merasakan kalau kita punya nasib yang sama." ucap mbok Tinah yang menatap Zulaikha dengan berkaca-kaca.


"Nasib sama? apa maksud mbok Tinah? Ika tidak mengerti?'' tanya Zulaikha yang penasaran karena memang pada awalnya memang sama, yaitu sebagai jaminan hutang.


"Simbok waktu bekerja disini pada awalnya baik-baik saja, ya seperti pada umumnya bekerja walaupun tanpa gaji. Waktu itu nyonya ibunda dari nyonya Lisa setelah melahirkan nyonya Lisa, mendapat vonis dari dokter kalau beliau menderita kangker rahim dan sudah tidak boleh berhubungan badan dengan suami. Sedangkan Tuan waktu itu sangat menginginkan mempunyai lagi anak laki-laki yang nantinya akan menjadi penerusnya." jelas mbok Tinah berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya.


"Tuan menikahi simbok dan nyonya sangat mengijinkannya waktu itu dengan syarat, anak yang saya kandung menjadi anaknya dan aku tak boleh mengakuinya sebagai anak. Waktu itu aku mau saja, asalkan tuan mau membiayai ibuku yang sakit-sakitan karena ulah bapakku yang suka main judi dan mabuk-mabukan yang menjadi-jadi hingga semua harta ibu dan bapakku di jual untuk melunasi hutang judi bapak. Belum lagi biaya rumah sakit bapak pada saat bapak kecelakaan dan pada akhirnya bapak meninggal. Semua itu butuh banyak biaya dan Ibukku pun meninggal dunia karena tak mampu menahan beban pikiran dan rasa sakit yang mendera beliau." ucap mbok Tinah yang kini Zulaikha paham dengan apa yang di ceritakan mbok Tinah, memang nasibnya sebelas dua belas dengan mbok Tinah.


"Lantas dari pernikahan mbok Tinah dengan tuan, bagaimana? apakah dikaruniai putra atau putri?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Iya, aku mengandung dan melahirkan pada saat nyonya Lisa masih berusia tiga tahun. Anakku laki-laki dan aku meminta menamainya sebelum putraku menjadi milik tuan dan nyonya. Aku memberikan dia nama 'Adam Rendra' dan saat ini Adam tak mengetahui siapa ibu kandungnya, karena dia sejak kecil di sekolahkan di luar negeri." ucap Mbok Tinah yang mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca.


Zulaikha memegang tangan mbok Tinah dan berusaha menenangkan hati mbok Tinah.


"Kenapa Adam tidak di sekolahkan disini saja mbok? kenapa harus ke luar negeri sih, mbok?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Karena nyonya memang menjauhkan simbok dari putra simbok, agar simbok lupa akan siapa Adam." jawab mbok Tinah yang saat ini sedang terisak, yang sesekali menyeka air matanya.

__ADS_1


"Namanya anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu, mana mungkin ibunya bisa melupakannya. Walaupun dipisahkan dalam waktu yang lama dan jarak yang sangat jauh!' ucap Zulaikha yang menyeka kedua air matanya.


"Benar, dan mbok mendapat berita kalau putra simbok Adam Rendra sudah menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter dan saat ini bekerja di rumah sakit ternama di luar negeri sana." jelas mbok Tinah.


"Apa mbok Tinah tidak hamil lagi?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Iya dua kali simbok hamil dan simbok tidak tahu kalau simbok hamil, simbok terlalu capek dalam bekerja jadi simbok dua kali mengandung dan dua kalinya simbok keguguran." jawab mbok Tinah yang membuat Zulaikha semakin iba dengan nasib mbok Tinah.


"Apakah nantinya nasibku akan seperti mbok Tinah ya?'" gumam dalam hati Zulaikha.


"Mbok, mbok yang sabar ya, anggap saja Zulaikha ini putri mbok Tinah. Karena Zulaikha juga sudah tidak punya ibu kandung lagi. Dan adanya ibu sambung yang saat ini merawat ayah kandung Ika di kampung Ika." ucap Zulaikha yang jujur.


"Oh, jangan-jangan benar filling aku kalau nasib kamu sama seperti nasib simbok?" tebak mbok Tinah yang membuat Zulaikha terkejut karenanya.


"Iya, kurang lebihnya hampir sama dengan mbok Tinah!" ucap Zulaikha seraya menganggukan kepalanya.


"Astagfirullah, nasib nyonya Lisa sama juga dengan ibunya. Awalnya dikhianati dengan diam-diam oleh suaminya yang sekarang!"ucap mbok Tinah yang menatap Zulaikha dalam-dalam.


"Suaminya yang sekarang? maksud mbok Tinah apa?" tanya Zulaikha yang penasaran.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2