
"Nah sekarang setelah tahu apa hukum dan larangan renternir dan Riba, apakah mas Danar masih mau berkenan menjalani pekerjaan itu?" tanya Zulaikha seraya menatap wajah suaminya dengan rasa ingin tahunya yang amat dalam.
"Baiklah, aku akan bubarkan usaha aku itu, dan para pekerja kopeasimu aku tarik ke usaha kelapaku saja!"do ucap Danar yang penuh semangat.
"Terima kasih mas" ucap Zulaikha dengan bahagia dan baru kali ini dia tidur diatas tempat tidur yang mewah dan juga kamar yang luas.
Tiba-tiba ada chat masuk di ponsel Danar. Danar kemudian membuka dan membacanya.
"Ada apa mas?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Tidak ada apa-apa' jawab Danar yang menyembunyikan sesuatu.
"Kalau penting, Zulaikha sudah tidak apa-apa kalau mas Danar tinggal!" ucap Zulaikha yang tak enak hati.
"Ini ada yang mau jual tanahnya di pelosok dekat rumah kampung halaman kamu, rencananya mau aku beli. Dan kali ini tidak akan bawa-bawa Melisa. Karena tanah ini akan aku beli dengan tabunganku, Tujuanku aku mau beli tanah itu dan kita mulai hidup baru disana. Bagaimana menurut kamu?" tanya Danar yang menatap wajah istri keduanya dengan rasa kasih sayangnya.
"Wah bagus, Zulaikha setuju. Kita memulai hidup baru, dan Zulaikha bisa merawat Orang tua Zulaikha" ucap Zulaikha bersemangat.
"Iya, kita bisa punya anak cucu disana nanti" ucap Danar dan mereka saling bercerita dengan berandai-andai jika kelak mereka lepas dari belenggu Melisa.
Terlihat wajah mereka berdua yang berseri dan sangat bahagia, walaupun tak tahu apa yang terjadi di keesokan harinya.
"Mas mau nabung dulu, tabungan mas masih kurang setengahnya. Kamu bersabar ya"' ucap Danar seraya mencium kening istrinya.
"I..iya, Zulaikha akan tetap bersabar" ucap Zulaikha yang mendongakkan kepalanya dan menatap intens suaminya itu.
Perlahan-lahan Danar mendekatkan mulutnya ke mulut istrinya dan Danar mulai bermain di mulut istrinya. Zulaikha pun menerimanya dan kali ini perasaannya bukan keterpaksaan lagi, dia berusaha membuka hati buat suaminya, walaupun dia suami tiri yang sewaktu-waktu bisa menghempaskannya.
Suasana semakin lama semakin menggebu, dan akhirnya Zulaikha dan Danar tenggelam dalam permainan mereka.
Suara kecupan dan dessahan terdengar seperti melodi yang mengiringi mereka. Dan perlahan mereka menutup kedua mata mereka karena merasakan kepuasan walaupun tubuh mereka sangatlah letih dan lelah.
Keduanya tidur dengan saling berpelukkan diatas ranjang di kamar tamu siang hari itu juga.
Sementara itu di dalam kamarnya, Melisa merasakan ketakutannya jika sampai Danar pergi dari kehidupannya.
Wanita itu sudah terlanjur Cinta dengan laki-laki yang menikah dengannya beberapa tahun yang lalu dengan bantuan papanya pada waktu itu papa Melisa masih hidup.
"Mas Danar, kalau tidak diiming-imingi hartanya papa, kamu tak mungkin akan mau menikah dengan aku. Yang nota bene seorang janda, yang setahun ditinggal meninggal suami dan belum dikaruniai anak." ucap dalam hati Melisa.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu mendua, kamu selalu begitu diawal pernikahan kita?" tanya dalam hati Melisa.
"Apakah kamu tak menemukan kebahagiaan bersama aku?" lanjut tanya dalam hati Melisa yang merebahkan dirinya dengan tengkurap di tempat tidurnya.
Rasa takut kehilangan yang ada didalam hatinya, lambat lain akhirnya Melisa tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Sedangkan mbok Tinah yang sedang makan siang bersama Bower di dapur termenung dengan pikirannya sendiri.
Dia mengingat betul kejadian yang telah menimpanya, dan saat ini terulang pada Zulaikha.
"Gadis itu benar-benar jadi istri kedua tuan Danar, dan dia saat ini sedang hamil. Bedanya dulu tuan Wongso tak mempunyai anak laki-laki, karena anak laki-lakinya yang merupakan kakak nyonya Melisa meninggal sejak kecil. Dan beliau sangat berharap mempunyai anak lagi, yang tak bisa dia dapatkan lagi dari istrinya yang saat itu menderita kangker rahim. Karena itulah rahim ibu Wongso di angkat," ucap dalam hati mbok Tinah.
Tuan Wongso menikahi mbok Tinah untuk mendapatkan seorang anak laki-laki. Dan tuan Wongso sangat senang sekali sehingga memberikan pendidikan yang terbaik untuk putranya dengan mbok Tinah yang bernama Adam Rendra.
Sementara itu yang ada dipikiran Bower yang ternyata punya niat yang lainnya.
"Kenapa semakin hari aku semakin menyukaimu Zulaikha? walaupun aku tahu kamu milik Danar, dan saat ini kamu telah mengandung anak dari Danar. Aku tak perduli, aku sangat menyukaimu. Aku harus memilikimu, apapun caranya akan aku jalankan!" gerutu dalam hati Bower yang tangan kanannya memegang sendok dan tangan kirinya mengepal.
...****...
Pada saat makan malam di rumah kediaman keluarga Danar.
"Mbok Tinah, nyonya Melisa kemana?" tanya Zulaikha pada saat Danar menarik kursi untuk Zulaikha dan Zulaikha pun menduduki kursi tersebut.
"Nyonya tidak mau turun tuan, beliau masih saja menangis" jawab mbok Tinah seraya meletakkan piring ke depan Zulaikha dan juga Danar.
"Coba nanti kita tengok mbak Lisa mas" usul Zulaikha seraya mengambilkan nasi untuk suaminya.
Dan inilah baru pertama kalinya dia melakukanya, Danar pun melihatnya dengan mengulas senyumnya.
"Sebaiknya hanya tuan saja yang menemui nyonya Melisa, mengingat situasi yang masih memanas seperti ini" usul mbok Tinah yang mengingatkan suasana hati Melisa yang masih memanas.
"Baiklah nanti setelah makan, aku akan ke atas" ucap Danar pada saat menerima piring yang berisi nasi bersama lauk pauknya dari Zulaikha.
Ketika Danar hendak menyendok nasi tersebut, Zulaikha yang memperhatikannya pun berseru.
"Mas berdo'a dulu, mas!" seru Zulakha yang membuat Danar menghentikan aksinya dan dia mulai berdoa sebisa dia.
Namun terdengar Zulaikha yang menuntun doa untuk makan, secara tak langsung.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim"
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.”
(Artinya: "Ya Allah berikanlah keberkahan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.")
Zulaikha mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya dan mengulas senyum saat melihat suaminya.
"Degh...!"
Jantung Danar bergetar dan secara tak sadar Danar membalas senyum istri keduanya.
"Ayo kita makan mas'' ajak Zulaikha dan Danar menganggukan kepalanya dan mereka saat ini menyendokan nasi itu kemulut mereka masing-masing yang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya habislah nasi yang ada di atas piring mereka.
Kemudian Zulaikha berdo'a sesudah makan yang diikuti oleh Danar, walaupun dalam hatinya.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ
“Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin.”
(Artinya: "Segala puji bagi Allah yang memberikan makan dan minum kepada kami. Dan Menjadikan kami orang Islam.")
Danar dan Zulaikha mengusap wajah mereka dengan telapak tangan mereka masing-masing.
"Ika, mas mau ke kamar Melisa dulu ya" ucap Danar yang bangkit dari tempat duduknya.
"I..iya mas" ucap Zulaikha yang juga bangkit dari duduknya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...