GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Diskusi di Rumah Sakit


__ADS_3

"Nah sekarang kak Melisa bisa makan semua nasi dan lauk pauknya." ucap Zahra sembari mengulas senyumnya.


Melisa melanjutkan makan makananya denga lahap dan dalam waktu yang sekejap saja makanan itu telah habis.


"Nah sekarang kak Melisa sudah kenyang, saya dan Zahra mau ke rumah sakit dulu ya. Kasihan mbok Tinah di rumah sakit sendirian." ucap Zulaikha sembari menatap ke arah Melisa.


"Tunggu Zulaikha!" seru Melisa yang menahan Zulaikha yang hendak bangkit dari duduknya.


"Ada apa kak?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Apakah kamu bisa mencabut laporan tentang apa yang telah dilakukan mas Danar pada mbok Tinah?" tanya Melisa yang penuh harap.


"Mas Danar juga suami aku, Zulaikha juga berharap kalau mas Danar bisa bebas dari dari hukuman. Tapi semua itu terserah pada pelapornya, yaitu dokter Adam Rendra."Jawab Zulaikha yang menatap ke arah Melisa.


"Aku mohon Zulaikha, bujuk Adam agar mau mencabut laporannya!" seru Melisa dengan sangat memohon.


"Baiklah nanti akan saya bicarakan pada dokter Adam Rendra, sekarang kami akan pamit untuk kembali ke rumah sakit." ucap Zulaikha.


"Iya, Zulaikha! dan aku menyesal telah berbuat mesum dengan Bower. Karena ternyata aku lebih mencintai mas Danar!" ucap Melisa dengan Isak tangisnya.


"Aku mengerti kak, dan aku ingin berpisah dari mas Danar. Zulaikha akan bantu bujuk dokter Adam Rendra mencopot laporannya, asalkan kak Melisa bantu Zulaikha supaya mas Danar mau berpisah dengan Zulaikha. Bagaimana kak, kak Melisa setuju kan?" tanya Zulaikha seraya menepuk punggung tangan kanan Melisa.


Mendengar hal itu Melisa terdiam sejenak dan dia sedang berpikir.


"Baiklah, aku kan juga berharap supaya kamu pisah dengan mas Danar. Biar mas Danar jadi milikku seorang!" ucap Melisa seraya menatap ke arah Zulaikha dan Zahra.


"Terima kasih kak, kami pamit mau ke rumah sakit. Jaga diri baik-baik ya kak Melisa. Assalamu' Alaikum!" ucap salam pamit Zulaikha.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Melisa sembari mengulas senyumnya.


Sementara itu Zahra menunduk dan membalas senyum Melisa.


Kedua sahabat itu kemudian melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar dan menuruni tangga.


"Kita ambil pakaian serta makanan yang sudah kita siapkan buat di rumah sakit nanti!' seru Zahra.


"Oiya, ayo kita ambil lebih dulu!' balas Zulaikha dan mereka segera mengambil pakaian serta makanan yang telah mereka siapkan tadi.

__ADS_1


Setelah itu mereka keluar lewat pintu utama rumah Melisa. Zulaikha dan Zahra melangkahkan kaki mereka menuju ke tempat dimana mobil Zahra terparkir.


Sesampai di samping mobil, mereka segera memasukkan tas yang berisi pakaian dan juga makanan di kursi belakang.


Kemudian mereka masuk ke mobil dan melangkahkan kaki menyusuri jalan raya yang mengarah menuju ke rumah sakit.


"Zulaikha!" panggil Zahra sembari mengemudi.


"Iya, ada apa Zahra?" tanya Zulaikha Yaang kemudian melihat ke arah sahabatnya itu.


"Aku setuju dengan rencana tadi!" jawab Zahra yang tetap menatap ke arah jalan raya dihadapannya.


"Oh, tentang mas Danar tadi ya?" tanya Zulaikha yang menebak.


"Iya, benar!" jawab Zahra yang sesekali melihat ke arah Zulaikha.


"Aku sih setuju saja, tapi alangkah baiknya kalau kita diskusikan dengan mbok Tinah dan dokter Adam Rendra." ucap Zulaikha dan tak berapa lama mobil yang membawa kedua sahabat itu telah sampai di tempat parkir rumah sakit.


Setelah mobil berhenti, keduanya kemudian turun dan melangkahkan kaki masuk ke rumah sakit dengan membawa pakaian dan juga makanan untuk mereka saat di dalam rumah sakit nanti.


"Assalamu'alaikum!" ucap salam Zulaikha dan Zahra secara bersamaan.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Baim dan mbok Tinah.


"Dokter Adam Rendra dimana?" tanya Zulaikha saat masuk ke ruangan tersebut.


"Sedang ada tugas di rumah sakit!" jawab Baim yang bangkit dari duduknya.


"Hm... hmm...!" ada yang mencarimu rupanya!" seru seorang laki-laki dari belakang Zahra dan Zulaikha.


"Dokter Adam Rendra, sudah selesai dinasnya?" sapa Zahra saat membalikkan padannya dan mengetahui siapa Yanga ada di belakangnya


"Iya, jadwal saya sudah selesai! Ngomong-ngomong apa kalian membawa informasi penting?" tanya dokter Adam Rendra seraya mengulas senyumnya.


"Benar dokter, kami ada berita yang penting. Tadi kami bertemu dengan kak Melisa, dia terlihat sangat sedih sekali dan seperti depresi begitu." jawab Zulaikha seraya memandang Dokter Adam Rendra, Baim dan mbok Tinah satu persatu.


"Depresi?" tanya Dokter Adam Rendra yang penasaran.

__ADS_1


"Iya, karena dia merasa sangat kesepian jadinya seperti depresi, sering nangis dan teriak-teriak begitu!" jawab Zahra yang mencoba menjelaskan.


"Oh, lantas apa yang dia inginkan?" tanya dokter Adam Rendra yang penasaran.


"Dia menginginkan dokter mencabut laporan atas penusukan mas Danar agar mas Danar bebas." jawab Zulaikha .


"Apa? seenaknya saja dia! aku tidak mau melakukannya!" gerutu dokter Adam Rendra yang menatap Mbok Tinah ibunya.


"Tapi kami mengajukan syarat, apabila laporan penusukan yang dilakukan mas Danar akan dicopot asalkan kak Melisa dan mas Danar mau melepaskan Zulaikha, yaitu menceraikan secara sah! itu yang kami minta. Bagaimana menurut dokter Adam Rendra dan mbok Tina?" tanya Zulaikha yang menatap dokter Adam Rendra dan juga mbok Tinah secara bergantian.


"Bagaimana menurut ibu?" tanya dokter Adam Rendra yang menatap kearah ibunya mbok Tinah.


"Kalau ibu setuju saja,dengan demikian Zulaikha cepat terbebas dari tuan Danar. Yang terpenting aku sudah tidak apa-apa, dan saat ini dalam pemulihan. Setelah itu kita urus semuanya." usul mbok Tinah yang membuat Dokter Adam Rendra berpikir keras karenanya.


"Bagaimana dokter?" tanya Zulaikha dan Zahra yang hampir bersamaan karena penasaran.


"Baiklah, saya akan mencabut laporan penusukan mas Danar. Tapi dia harus benar-benar menceraikan Zulaikha, kalau tidak aku akan menyeret dia ke kasus yang lainnya!" balas Dokter Adam Rendra dengan sedikit penekanan.


"Menyeret Danar pada kasus lain? apa maksudnya Dokter Adam Rendra?" tanya Baim yang penasaran.


"Aku akan menyeretnya dengan pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT ini memuat aturan terkait hukuman atau sanksi bagi pelaku tindak pidana KDRT dengan perbuatan kekerasan secara fisik pada Zulaikha dan hinnga menghilangkan nyawa bayi yang di kandung Zulaikha. Walaupun bayi itu juga anak kandung Mas Danar. Dan tindak pidana terhadap “Nyawa” dalam KUHP dimuat pada Bab XIX dengan judul “Kejahatan Terhadap Nyawa Orang” yang diatur dalam Pasal 338 sampai dengan Pasal 350." jelas Dokter Adam Rendra yang dipahami oleh semuanya.


Beberapa hari kemudian, mbok Tinah sudah diperbolehkan untuk pulang.


Dan mereka membuat janji untuk saling bertemu dengan Melisa di kantor polisi.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2