
Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi hari, waktunya untuk sholat subuh.
Zulaikha membuka kedua matanya dan hendak bangun dari tidurnya namun tangan dokter Adam rendra masih merangkul perutnya.
"Mas Adam rendra, Zulaikha mau mandi dulu" bisik Zulaikha sembari mengecup kening suaminya. Dan dokter Adam Rendra melepaskan kaitan tangannya.
Zulaikha kemudian memakai pakaiannya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Setelah sampai di depan kamar mandi, Zulaikha membuka dan kemudian hendak menutup pintu kamar mandi, tiba - tiba dokter Adam Rendra menyelonong masuk ke kamar mandi.
"Eh, suamiku! kamu mau ngapain? tadi saya kan sudah pamit mau mandi!" seru Zulaikha yang penasaran.
"Aku juga mau mandi, masak nggak boleh?" tanya dokter Adam Rendra yang penasaran.
"Boleh tapi kan..!" belum sempat melanjutkan bicaranya, Bima sudah menyumpal mulut zulaikha dengan mulutnya.
Dan permainan itu terulang kembali di kamar mandi.
"Siap tak siap kamu harus siap sayang!" bisik Dokter Adam Rendra di telinga Zulaikha, dan Zulaikha diam dan menganggukkan kepalanya.
Dokter Adam Rendra mulai menciumi wajah Zulaikha, dan Zulaikha membalas dengan mencium wajah suaminya pula.
Mulut Dokter Adam Rendra terus bermain sampai di tengkuk leher Zulaikha dan tangannya merayap di dalam pakaian Zulaikha dan mulailah bermain di gundukan kembar Zulaikha.
Satu persatu pakaian Zulaikha di tanggalkan oleh dokter Adam rendra, dan Dokter Adam rendra pun menanggalkan pakaiannya satu persatu.
Dokter Adam Rendra pun siap bermain dengan berdiri bersandar pada dinding kamar mandi.
Dan sebagai istri sah seorang dokter, Zulaikha melayaninya karena sudah kewajibannya.
Satu jam berlalu, mereka merasa kelelahan dan duduk di lantai kamar mandi dengan nafas yang masih tersengal-sengal dan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka.
"Kamu hebat sekali sayang, kalau nanti ada kesempatan lagi bolehlah kita bermain lagi" bisik lembut Dokter Adam rendra, yang kemudian mencium pipi kanan dan kiri Zulaikha
Zulaikha kembali menikmati sensasi yang lain dan dokter Adam rendra juga demikian, mereka pun sama - sama merasakan kepuasan.
Mereka pun saling berpelukan dan kembali melakukan permainana mulut mereka.
Selesai dengan permainan mereka, keduanya saling memandikan, senyum dan tawa mengembang saat saling memandikan satu sama yang lainnya.
Setelah selesai mandi, Zulaikha memakai pakaian gantinya. Sementara dokter Adam Rendra masih di dalam kamar mandi, menunggu Zulaikha mengambilkan pakaian gantinya.
Selesai berganti baju, mereka bergantian berwudlu dan kemudian sholat Subuh berjama'ah.
Sholat subuh telah usai mereka jalankan, kemudian mereka bercengkrama di atas tempat tidur, sampai matahari keluar dari peraduannya.
...****...
Zulaikha hidup bahagia serumah dengan suaminya dan juga ibu mertuanya mbok Tinah.
__ADS_1
Tiga bulan kemudian Baim menikahi Zahra, dan Baim tinggal di rumah Zahra.
Dibulan keenam pernikahan Zulaikha dan Adam Rendra berencana berkunjung ke rumah orang tua mereka, dan demikian pula dengan Baim dan juga Zahra.
Mereka sebelumnya saling menghubungi satu sama yang lainnya.
Sementara itu di rumah keluarga Pak Rahman, rumah terlihat sepi. Hanya mereka berdua yang tinggal di rumah besar itu dan sore ini pak Rahman dan Dahlia menikmati indahnya matahari pagi.
"Pak, kita seperti pengantin baru saja ya!'' seru Dahlia saat berada di teras rumah bersama suaminya pak Rahman.
Mereka sedang bersantai sambil menikmati secangkir teh dan makanan kecil.
"Iya, anak-anak kita sudah punya keluarga masing-masing. Dan semoga mereka bahagia sampai akhir hayat mereka. Aamiin ya Robbal alaamiin." ucap Rahman yang sekaligus mendo'akan putra-putrinya.
"Aamiin ya Robbal alaamiin." balas Dahlia ikut mendoakan.
"Seandainya saja, ada salah satu putra kita yang tinggal bersama kita. Pasti akan lain ceritanya" ucap lirih.
"Sudahlah mas, suatu saat nanti pasti mereka akan menjenguk kita.' ucap Dahlia yang mengulas senyumnya.
Tak berapa lama sebuah mobil sedan hitam masuk ke halaman rumah Pak Rahman.
"Bukan kah itu mobilnya nak Adam ya!" tanya Rahman pada istrinya.
"Iya, itu mobil menantu kita. Ada apa gerangan mereka kemari?" jawab sekaligus tanya Dahlia.
Setelah keluar dari mobil, Zulaikha dan dokter Adam Rendra menghampiri kedua orang tua yang telah menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Zulaikha yang bersamaan dengan Dokter Adam Rendra.
"Wa'alaikumsalam!" balas pak Rahman dan juga Dahlia yang juga bersamaan.
Mereka kemudian saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Ayah dan ibu, mohon ma'af jika baru sempat datang menjenguk kalian." ucap Zulaikha sembari memeluk ayahnya dan juga ibu tirinya.
"Kalian sehat dan bahagia saja, ayah sangat senang sekali." ucap tulus dari sang ayah, pak Rahman.
"Benar kata ayah, melihat kalian sehat dan bahagia itu sudah membuat kami bahagia." ucap Dahlia yang menambahi.
Semuanya tertawa dan kemudian bercerita hal-hal selama tidak menjenguk ayah dan ibu Zulaikha.
"Ayah dan Ibu, sebentar lagi kalian akan menimang cucu. Zulaikha hamil, sudah empat bulan!" ucap Zulaikha dengan riang dan itu membawa kabar yang membahagiakan buat pak Rahman dan juga Dahlia.
"Apa, kamu hamil Zulaikha?" tanya Dahlia yang memastikan.
"Iya Bu!" jawab Zulaikha dan Dahlia memeluk putrinya kemudian menciumi kening dan pipi putri tirinya dengan penuh kebahagiaan.
Tak berapa lama, datanglah mobil pick up hitam yang melaju perlahan dan berhenti di samping mobil Adam Rendra.
__ADS_1
"Bukan kah itu mobil Zahra dan Baim?" tebak Dahlia yang hafal mobil anaknya.
"Iya Bu, itu memang mereka." jawab Zulaikha. Dan tak berapa lama keluarlah orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Dan memang benar mereka adalah Baim dan juga Zahra.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Zahra yang bersamaan dengan Baim.
"Wa'alaikumsalam!" balas pak Rahman, Dahlia, Zulaikha dan juga dokter Adam Rendra yang juga bersamaan.
Mereka kemudian saling berjabat tangan satu sama yang lainnya.
"Apa kalian saling janjian begitu? kok datang bisa barengan begini?" tanya Pak Rahman yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"He...he....! kami kan memang sehati, yah! iya kan kak Zulaikha dan kak Adam Rendra?" jawab Baim seraya meminta dukungan pada kakak tisri dan kakak tiri iparnya itu.
"Kita kan sudah satu keluarga, ya pantaslah kalau sejati!" jawab Zulaikha dan semuanya tertawa kecil.
"Oiya, kami punya kabar menggembirakan buat kita semuanya!" ucap seru Zahra yang membuat semuanya penasaran.
"Apakah itu?" tanya dokter Adam Rendra yang mewakili semuanya.
Zahra memandang Baim dan Baim menganggukkan kepalanya.
"Sebentar lagi ibu dan ayah akan menggendong cucu!" ucap Zahra sembari tersenyum.
"Iya cucu dari kakak kalian Zulaikha kan? ayah dan ibu sudah tahu!" ucap Dahlia.
"Apa? kak Zulaikha juga hamil?" tanya Zahra yang penasaran.
"Iya, eh tunggu! kamu bilang juga hamil? itu berarti kamu hamil juga ya?" jawab sekaligus tanya Zulaikha yang penasaran.
"Benar, sudah menginjak sebulan." jawab Baim dengan mengulas senyumnya.
"Ini berarti, kebahagiaan untuk kita semua. Kalian akan mendapat momongan dan kami akan mendapatkan cucu! wah bakal rame nantinya Bu!" seru pak Rahman.
"Iya, rumah ini akan ada suara tangisan dan tawa bayi nantinya. Oh tak sabar rasanya!" balas Dahlia dan mereka kemudian masuk ke rumah dan merayakan kebahagiaan mereka dengan makan bersama.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...SEKIAN...
__ADS_1