
Mereka kemudian terdiam dengan pikiran mereka masing - masing, dan masih tetap berada di kursi ruang tunggu di depan ruang praktek dokter kandungan di rumah sakit tempat dokter Adam Rendra bekerja nantinya.
"Dokter Adam Rendra!" panggil Zulaikha yang lirih namun bisa di dengarkan oleh dokter Adam Rendra.
"Ya, ada apa nyonya kecil?" tanya Dokter Adam Rendra yang penasaran.
"Bisakah anda membantu saya?" tanya Zulaikha yang memberanikan dirinya.
"Bisakah anda bantu saya untuk menebus resep obat ini?" tanya Zulaikha dengan terbata - bata.
"Menebus resep obat? apa anda tidak punya uang lagi nyonya kecil?" tanya Adam Rendra yang penasaran.
Zulaikha menggelengkan kepalanya dan menjawab "ya" dengan pelan.
"Biasanya kalau istri kedua itu banyak uang, kamu malah sebaliknya!" seru Dokter Adam Rendra dengan sinis.
"Sepertinya anda belum paham ya dengan apa yang saya ucapkan tadi?" tanya Zulaikha yang menatap dokter Adam Rendra dengan kesal.
"Apa maksud kamu karena kamu jaminan hutang, trus tidak dinafkahi oleh suami kamu. Apakah seperti itu?" tanya dokter Adam Rendra yang penasaran.
"Iya, memang seperti itulah!" ucap Zulaikha seraya menundukkan kepalanya.
"Baiklah, demi kamu Dan bayi kamu. Kalau menurut keluarga, seharusnya aku bela kak Melisa. Tapi karena kita terikat rahasia, apa boleh buat!" seru Dokter Adam Rendra yang mengulas senyumnya.
"Ma'af ya dokter jika saya merepotkan. Dan terima kasih banyak ya dok!" ucap Zulaikha yang mengangkat wajahnya dan mengulas senyumnya.
"Tunggu apa lagi? ayo kita tebus resep obat itu sekarang juga!" seru dokter Adam Rendra yang kemudian dia bangkit dari duduknya dan Zulaikha mengikutinya.
Keduanya melangkahkan kaki menuju ke apotik dan benar saja dokter Adam Rendra menebus resep obat untuk Zulaikha.
Setelah itu keduanya melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari rumah sakit dan dokter Adam Rendra memesan taksi online.
Tak berapa lama, taksi online telah datang dan keduanya masuk ke dalam taksi online tersebut.
"Sesuai lokasi ya pak!" seru dokter Adam Rendra pada sopir taksi tersebut.
"Baik tuan" ucap sopir taksi tersebut dan taksi tersebut melaju dengan kecepatan sedang keluar dari rumah sakit dan menyusuri jalan raya.
"Nyonya kecil, jangan lupa kalau kamu rahasiakan identitas saya! panggil saya Dokter Nugroho dihadapan anggota keluarga kak Danar dan kak Melisa!" seru Dokter Adam Rendra yang mengingatkan pada Zulaikha untuk berhati - hati, agar penyamarannya tidak terbongkar.
"Iya dokter, bereslah!" jawab Zulaikha seraya mengulas senyumnya.
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan rumah Melisa dan Danar.
__ADS_1
Setelah itu Zulaikha dan Dokter Adam Rendra keluar dari taksi tersebut dan melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah.
Di halaman rumah besar dan mewah itu nampak mobil kesayangan Melisa terparkir di depan rumah. Menandakan pemiliknya berada di dalam rumah.
Benar saja Melisa sudah berada di kamarnya, dan dia melihat Zulaikha berjalan bersama dokter muda yang dikenalkan oleh dokter Samsu kemarin.
Melisa yang berada di balkon kamarnya, dengan sengaja mengabadikan momen tersebut. Dia berkali - kali memotret setiap gerakan Zulaikha dan dikter Adam Rendra yang sedang berjalan masuk ke rumah itu.
"Dapat! akhirnya aku bisa membuatnya keluar dari rumahku!" ucap Melisa dengan senyum sinisnya.
Setelah itu dia masuk kembali ke kamarnya, dan memperbesar hasil jepretannya. Kemudian dia mengirimkan ke ponsel suaminya.
Sementara itu Zulaikha dan dokter Adam Rendra masuk ke rumah dan disambut oleh mbok Tinah.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Zulaikha pada saat mereka masuk ke rumah karena kebetulan pintu rumah tidak ditutup.
"Wa'alaikumsalam!" jawab wanita setengah baya yang datang menghampiri Zulaikha dan Dokter Adam Rendra.
"Alhamdulillah kita akhirnya sampai juga!" ucap Zulaikha yang merasa lega, karena cuaca di luar rumah sedang panas.
"Iya, huft panas sekali di luar!" seru dokter Adam Rendra yang juga kepanasan dengan cuaca di luar rumah.
"Bagaimana hasilnya Zulaikha?" tanya mbok Tinah pada saat sudah berada di depan hadapan Zulaikha dan juga dokter Adam Rendra.
"Oh begitu ya, sekarang ayo kita sholat dhuhur! Kalian pasti belum sholat ya?" tanya mbok Tinah seraya menatap Zulaikha dan dokter Adam Rendra.
"Belum mbok!" jawab Zulaikha yang apa adanya.
"Iya kami belum sholat. Karena kami tak sempat untuk singgah ke masjid" ucap Dokter Adam Rendra dan mereka bertiga kemudian bergantian untuk berwudlu.
Setelah berwudlu, mereka sholat Dhuhur berjama'ah, di ruang tamu dan dokter Adam Rendra sebagai imamnya.
Selesai sholat, Dokter Adam Rendra undur diri untuk pulang.
"Ma'af ya mbok Tinah dan Nyonya kecil, saya mau pamit pulang. Karena sore ini ada jadwal praktek di klinik dokter Samsu" ucap Dokter Adam Rendra pada mbok Tinah dan juga Zulaikha.
"Nyonya kecil? nyonya kecil itu siapa dokter?" tanya mbok Tinah pada dokter Adam Rendra dengan penasaran.
"Nyonya kecil itu ya Zulaikha, bukankah dia masih muda dan sedang hamil!" jawab Dokter Adam Rendra dengan hati - hati.
"Oh begitu ya!' balas mbok Tinah seraya melihat ke arah Zulaikha dan dokter Adam Rendra secara bergantian.
"Kalau begitu, Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit dari dokter Adam Rendra.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" balas Mbok Tinah dan juga Zulaikha secara bersamaan.
Kemudian Dokter Adam Rendra melangkahkan kaki keluar dari rumah dan diikuti oleh mbok Tinah, sedangkan Zulaikha yang memegang mukenanya melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Namun tak sengaja dia melihat dilantai atas, Melisa melihatnya dengan tatapan penuh kebencian ke arah Zulaikha.
Zulaikha mengulas senyum sembari menganggukan kepalanya dan tetap melangkahkan kakinya menuju ke kamar tidurnya, dengan masih membawa mukenanya dan perlengkapan sholat milik suaminya yang dipinjamkan pada Dokter Adam Rendra.
Sesampainya di kamar, Zulaikha kembali lagi ke luar kamar dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Di dapur dia membantu mbok Tinah dalam menyiapkan makan siang.
"Menu makan siang kita apa mbok?" tanya Zulaikha sembari membantu memindahkan sayuran dari dapur ke meja makan.
"Sayur asam , ikan asin sama sambal terasi. Sederhana tapi pasti nikmat!" jawab mbok Tinah sembari mengulas senyumnya.
"Wah, benar juga mbok! Segar lagi!" Zulaikha seraya kembali ke dapur dan mengambil ikan asin beserta sambal terasinya.
Dan mbok tinah mengulas senyumnya, karena membalas senyuman dari Zulaikha.
Dan tak berapa lama mereka telah selesai memindahkan semua peralatan makan dan menu makan siang.
Mbok Tinah memanggil Melisa untuk makan siang.
"Nyonya Lisa, makan siang telah siap" ucap mbok Tinah dan di luar terdengar sebuah mobil berhenti.
"Nampaknya mas Danar sudah tiba, siap - siap lihat yang bakal seru nih! ha..ha..ha.!" gumam dalam hati Melisa.
Melisa turun dari kamarnya melalui tangga, sementara mbok Tina yang lebih dulu turun melangkahkan kaki menghampiri pintu utama rumah.
Dan dia membuka pintu karena tadi mendengarkan beberapa ketukan dan salam dari depan pintu utama rumah.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1