GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Sah sekaligus Pisah


__ADS_3

Dan mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, dan malam semakin larut.


...****...


Keesokan harinya setelah melakukan aktifitas sehari-hari, Zulaikha dan yang lainnya mulai bersiap diri untuk acara itsbat Nikah Zulaikha dan juga Danar.


Setelah berhias dan berkemas-kemas, mereka segera melakukan perjalanan menuju ke Pengadilan Agama, untuk mengesahkan dan menceraikan pernikahan Zulaikha dan Danar Aji.


"Zulaikha, surat-surat yang di perlukan apa sudah dipersiapkan?" tanya Mbok Tinah yang mengingatkan


"Sudah mbok Zulaikha sudah persiapkan syarat yang perlu dibawa untuk mengajukan itsbat nikah siri sekaligus gugatan cerai yaitu Fotocopy KTP, Fotocopy kartu keluarga, Surat gugatan itsbat nikah, dan Fotocopy surat keterangan bahwa pernikahan tersebut tidak dicatatkan di KUA." jawab Zulaikha sembari mengulas senyumnya.


Kemudian mereka bersama-sama menuju ke pengadilan Agama dengan mengendarai mobil milik Zahra dengan dikemudikan oleh Baim.


Dengan oerlahan-lahan Baim mengemudikan mobil Zahra menyusuri jalan raya yang mengarah ke pengadilan agama.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di pengadilan Agama. Dan ternyata Danar Aji dan Melisa telah hadir di Pengadilan agama.


"Assalamu' Alaikum!" ucap salam Adam Rendra pada saat menghampiri Danar dan juga Melisa.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Danar dan semuanya saling menjabat tangan satu dengan yang lainnya.


"Apa sudah siap semuanya?" tanya dokter Adam Rendra pada Danar aji dan Melisa.


"Semuanya sudah siap!" balas Melisa.


"Zulaikha, sekali lagi apa kamu benar sudah mantap berpisah denganku?" tanya Danar yang menatap dalam-dalam wajah Zulaikha.


"Iya mas, Zulaikha sudah mantap berpisah dengan mas Danar." jawab Zulaikha.


"Baiklah kalau begitu kita masuk dan kita selesaikan semuanya!" seru Danar.


"Iya mas!" jawab Zulaikha dan semuanya melangkahkan kaki masuk ke ruang pengadilan Agama untuk melakukan itsbat Nikah sekaligus gugatan perceraian.


Setelah menyerahkan berkas-brkas yang diperlukan, acara pun berlangsung hingga tengah hari.


Selesai acara itsbat Nikah dan gugatan perceraian, mereka saling bersalaman.


"Zulaikha, maafkan mas Danar bila s3lama Ini selalu menyakiti kamu! Dan dengan perpisahan ini, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu idamkan." ucap Danar dengan kedua matanya.


"Aamiin ya Robbal alaamiin. Terima kasih mas Danar, dan Zulaikha sudah mema'afkan mas Danar. Zulaikha juga mau meminta maaf jika Zulaikha sering membuat mas Danar marah atau kesal." ucap Zulaikha yang kedua matanya juga berkaca-kaca.


"Iya sama-sama Zulaikha!" ucap Danar.

__ADS_1


"Oiya, Zulaikha! aku ada hadiah terakhir buat kamu. Ma'afkan aku jika selama menjadi suami kamu aku tidak memberi kamu nafkah." lanjut ucap Danar.


"Tidak apa-apa mas. Zulaikha mengerti kok!" seru Zulaikha sembari mengulas senyumnya.


"Mas mohon terimalah hadiah terakhir dari mas Danar ini !" ucap Danar yang memberikan sebuah map kertas yang perlahan dibuak oleh Zulaikha. Dan suasana pun menjadi haru.


"Sertifikat?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Iya, ini adalah tanah yang rencanany mas Danar hadiahkan untuk pernikahan kita, setelah mas Danar menceraikan Melisa. Namun takdir berkata lain, dan semoga kedepannya kamu lebih bahagia." jawab Danar yang membuat Zulaikha meneteskan air matanya.


"Mas Danar, sekarang kita bukan lagi suami istri, tapi Zualikha


Beberapa saat kemudian, mereka naik kendaraan mereka masing-masing. Dan melaju ke temapat mereka masing-masing pula.


Danar dan Melisa kembali kerumah Melisa, sementara Zulaikha dan yang lainnya kembali ke rumah Adam Rendra.


Sesampainya di rumah lama dan sederhana itu, mereka keluar dari mobil dan makan bersama.


Mereka saling berbincang-bincang tentang apa yang akan mereka lakukan kedepannya.


"Mbok Tinah dan dokter Adam Rendra, mungkin besok pagi kami mau pamit pulang ke kampung halaman kami." ucap Zulaikha tiba-tiba yang membuat Dokter Adam Rendra dan Mbok Tinah sangat terkejut.


"Pulang?" tanya Dokter Adam Rendra dan Mbok Tinah serempak karena mendengar apa yang ucapkan oleh Zulaikha.


"Lagi pula, Zulaikha perlu menyendiri dulu. Menata hati dan pikirannya kembali. Selain itu saya yakin Zulaikha sangat merindukan ayahnya." ucap Zahra yang ikut menambahi.


Dokter Adam Rendra diam sembari menatap wajah Zulaikha.


"Baiklah, tapi boleh dong jika saya kapan-kapan main ke tempat kalian?" tanya Dokter Adam Rendra sembari mengulas senyumnya dan masih menatap wajah Zulaikha.


"Tentu saja Dokter, dengan senang hati!" ucap Zahra seraya melirik ke arah Zulaikha.


"Zahra, apaan sih!" bisik Zulaikha seraya mencubit pinggang Zahra.


"Auw, sakit Zulaikha!" ucap Zahra yang pura-pura kesakitan.


"Habisnya kau ini ya!" masih bisik Zulaikha.


"Tapi benarkan?" ucap Zahra yang mengulas senyumnya.


"Hei, kalian ini ya! saling berbisik-bisik tentang apa?" tanya Mbok Tinah yang penasaran.


"Ah, mbok Tinah! ini kan urusan anak muda! he... he....!" jawab Zahra yang terkekeh.

__ADS_1


Hari berlangsung dengan cepat, dan tak terasa sudah menjelang malam dan mereka bersiap menuju ke peraduan mereka masing-masing.


Dini harinya, Zulaikha, mbok Tinah dan juga Zahra sudah berada di dapur. Mereka sibuk membuat sarapan untuk semuanya, dan saling bergantian pada saat menunaikan ibadah sholat Subuh.


Sedangkan Dokter Adam Rendra dan Baim membantu membersihkan rumah,


Setelah memasak, membersihkan rumah dan mandi, mereka sarapan bersama.


"Kalian akan pulang jam berapa?" tanya dokter Adam Rendra pada saat sudah menyelesaikan sarapan mereka.


"Iya, rencananya setelah sarapan ini nanti!" jawab Zulaikha.


"Oh, begitu ya!" ucap Dokter Adam Rendra, dan semuanya telah menyelesaikan sarapan mereka.


Tiba saatnya Zulaikha, Zahra dan Baim berpamitan pada dokter Adam Rendra dan juga pada Mbok Tinah.


"Kami berangkat ya mbok Tinah, dokter Adam Rendra!" ucap Zulaikha pada saat mengulurkan tangannya pada mbok Tinah dan mbok Tinah membalasnya, kemudian keduanya saling berpelukan.


"Iya, hati-hati dan hubungi kami jika sudah sampai dirumah kalian ya!" balas Mbok Tinah yang kemudian mencium kening Zulaikha.


"Pasti itu mbok!" balas Zulaikha yang mengulas senyumnya.


Dan mereka saling bersalaman, bergantian satu dengan yang lainnya.


"Assalamu'alaikum!" ucap sama pamit Zulaikha, Zahra dan Baim yang hampir bersamaan, masuk ke mobil dimana Baim di depan, Zahra dan Zulaikha di belakang.


"Wa'alaikumsalam!" balas Dokter Adam Rendra dan mbok Tinah yang bersamaan dan mereka saling membalas lambaian tangan mereka.


Kemudian mobil yang membawa satu orang laki-laki dan dua orang perempuan itu melaju menyusuri jalan raya dan meninggalkan tempat yang beberapa hari ini menjadi tempat berteduh mereka setelah keluar dari rumah Melisa.


Baim mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang, dan sesekali mereka berhenti di tempat pengisian bahan bakar dan juga di warung makan untuk mengisi perut mereka.


"


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2