
Sementara itu Zulaikha yang tak bisa keluar, terpaksa tetap diam ditempat dan dia pasrah jika akan di lahap suaminya malam ini di kamar mandi itu juga.
Selesai menggosok gigi, Danar mendekati Zulaikha dan membuka jilbab istri keduanya itu.
"Siap tak siap kamu harus siap sayang!" bisik Danar di telinga Zulaikha, dan Zulaikha diam dan menganggukkan kepalanya.
Danar mulai menciumi wajah Zulaikha, dan kali ini Zulaikha tak menghindar karena mulut Danar tak bau alkohol lagi.
Mulut Danar terus bermain sampai di tengkuk leher Zulaikha dan tangannya merayap di dalam pakaian Zulaikha dan mulailah bermain di gundukan kembar Zulaikha.
Satu persatu pakaian Zulaikha di tanggalkan oleh Danar, dan Danar pun menanggalkan pakaiannya satu persatu.
Danar pun siap bermain dan Zulaikha melayaninya karena sudah kewajibannya sebagai istri kedua Danar.
Satu jam berlalu, mereka merasa kelelahan dan duduk di lantai kamar mandi dengan nafas yang masih tersengal-sengal dan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka.
"Kamu hebat sekali sayang, kalau nanti ada kesempatan lagi bolehlah kita bermain lagi" bisik lembut Danar yang kemudian mencium pipi kanan dan kiri Zulaikha dan kemudian memakai pakaiannya satu persatu.
Demikian pula dengan Zulaikha yang memakai pakaiannya satu persatu.
Danar melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar mandi dan membukanya pada saat Zulaikha selesai memakai semua pakaiannya.
Kemudian Danar melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang masih pulas dalam tidurnya, sedangkan Zulaikha keluar dari kamar mandi dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Danar dan Melisa.
Jam dinding menunjukkan pukul empat dini hari, Zulaikha tidak langsung pergi ke kamarnya. Melainkan dia mengambil sapu dan memulai pekerjaannya, menyapu semua bagian rumah besar itu selain kamar suaminya dan istri pertama suaminya.
Setelah menyapu, Zulaikha kemudian mengepel lantainya yang tadi dia sapu.
Tak berapa lama mbok Tinah keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudlu, menunaikan sholat Subuh.
Pada saat kembali dari sumur, Mbok Tinah melihat Zulaikha yang sudah selesai mengepel.
"Ika, kamu sudah selesai mengepel?" tanya mbok Tinah yang terkejut dengan Zulaikha yang sangat rajin itu.
"Iya mbok, habisnya dari semalam Ika tidak bisa tidur." ucap Zulaikha seraya mengulas senyum nya.
"Kalau sudah selesai semua pekerjaan kamu, kamu bisa tidur. Kalau kamu sakit, nanti mbok yang repot! he..he..!" ucap mbok Tinah yang terkekeh.
"Iya mbok, Ika ngerti kok!'' ucap Zulaikha yang kemudian melangkahkan kakinya ke sumur dan mencuci kain alat pelnya. Dan kemudian dia mengambil sapu lidi untuk menyapu halaman dan depan pagar rumah.
Setelah selesai, Zulaikha melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan dilihatnya mbok Tinah sudah bersiap-siap memasak.
__ADS_1
Jam dinding menunjukkan pukul lima tiga puluh menit.
"Ah, masih sempat sholat subuh, tapi aku mandi dulu. Selain tadi habis melakukan kewajiban seorang istri, badanku juga penuh keringat dan juga debu karena habis menyapu dan mengepel tadi" gumam dalam hati Zulaikha.
"Mbok Tinah, Ika mandi dan sholat subuh dulu ya" ucap Zulaikha.
"Iya" balas mbok Tinah seraya menyiangi sayurannya.
Zulaikha melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dan mengambil handuk dan juga pakaian gantinya.
Bergegas Zulaikha menuju ke kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.
Sementara itu Bower yang baru bangun dari tidurnya menuju ke dapur menghampiri mbok Tinah.
"Mbok, Zulaikha sudah bangun mbok?" tanya Bower dengan berbisik.
"Sudah, kamu mau apa?" jawab sekaligus seru mbok Tinah seraya mengernyitkan kedua alisnya.
"He..he...! namanya juga usaha mbok!" ucap Bower seraya tertawa terkekeh.
"Kami jangan ganggu dia, dia sepertinya anak yang rajin. Aku nggak mau kehilangan partner kerja lagi! mengerti!' seru mbok Tinah dengan wajah galaknya.
"Idih partner! kayak kerja kantoran saja! ha..ha..!" goda Bower yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Ampun mbok, ampun...!' seru Bower yang menangkupkan telapak tangannya di depan depan hidungnya, seperti tokoh - tokoh wayang orang atau kethoprak.
"Sudah-sudah! pasti mau ngopi bukan?' tebak mbok Tinah yang menyalakan kompor dua tungku di depannya dan yang satu tungku untuk menggoreng lauk pauk dan tungku sebelah satunya untuk merebus air untuk membuat minuman panas.
"Wah, simbok tahu juga keinginanku, pasti punya mata batin nih!" celetuk Bower yang dibalas dengan spatula yang pura-pura dipukulkan ke Bower oleh mbok Tinah sebagai candaan.
"Eh ampun mbok!" seru Bower yang mengelak.
"He..he...!" semuanya pun tertawa.
Mbok Tinah kemudian membuatkan secangkir kopi untuk Bower setelah air yang direbusnya sudah mendidih.
"Ini kopinya tuan muda Bower!" goda mbok Tinah seraya menghidangkan secangkir kopi yang dibuatnya tadi ke hadapan Bower.
"Nah mantap nih! kalau bisa tambah gorengannya mbok!" ucap Bower dengan mengulas senyumnya.
"Gorengan! No..no..no...! ini untuk lauk tuan dan nyonya!" seru mbok Tinah dengan disertai isyarat pada tangannya.
__ADS_1
"Hmm...!pelit...!" seru Bower yang kemudian membawa minumannya ke teras rumah.
Sementara Zulaikha telah selesai sholat dan menghampiri mbok Tinah.
"Mbok, apakah ada cucian baju yang harus saya kerjakan?" tanya Zulaikha .
"Ada disamping mesin cuci, kamu bisa menggunakan mesin cucinya?" tanya mbok Tinah seraya mematikan kompornya karena acara memasaknya telah selesai.
"Ma'af mbok belum bisa, keluarga saya belum pernah menggunakannya" jawab Zulaikha yang memang jujur apa adanya.
"Kalau begitu, ikut simbok. Simbok ajarin sampai bisa!" seru mbok Tinah yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke sumur dan mengajari Zulaikha cara menggunakan mesin cuci.
Setengah jam lamanya mbok Tinah dan Zulaikha di depan mesin cuci dan akhirnya Zulaikha bisa melakukannya sendiri.
"Mbok, mbok Tinah!" terdengar suara perempuan yang memanggil mbok Tinah.
"Nyonya sudah bangun! aku ke dapur dulu ya!" seru mbok Tinah.
"Iya mbok" balas Zulaikha yang kemudian mbok Tinah melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan Zulaikha menjemur cuciannya yang sudah selesai dia cuci.
"Mbok Tinah, sarapannya mana?" tanya prempuan yang tadi memanggil mbok Tinah, yang tak lain dia adalah Melisa.
"Sudah siap nyonya, tinggal menghidangkan saja." ucap mbok Tinah yang kemudian memindahkan nasi, sayur, lauk pauk dari dapur ke ruang makan.
Mbok Tinah juga membawa piring dan kemudian minuman ke ruang makan.
"Mbok Tinah tadi kemana saja, kok nggak ada di dapur?" tanya Danar yang menerima nasi di atas piring yang diambilkan oleh Melisa untuk Danar.
"Oh saya sedang mengajari Zulaikha menggunakan mesin cuci" jawab mbok Tinah sambil menunduk hormat pada melisa dan jujur apa adanya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
,
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...