
Dan dia membuka pintu karena tadi mendengarkan beberapa ketukan dan salam dari depan pintu utama rumah.
"Eh, tuan Danar! tumben pulang cepat?" tanya mbok Tinah yang terkejut karena tak biasanya Danar pulang lebih awal.
"Zulaikha tadi jalan sama siapa mbok?" tanya Danar yang wajahnya memerah, yang jelas bukan karena kepanasan sinar matahari. Namun panas hatinya yang dibakar rasa cemburu.
"Dia jalan sama Dokter Nugroho tuan" jawab Mbok Tinah dengan jujur, namun kejujurannya akan membuat petaka untuk Zulaikha.
Danar melangkahkan kakinya sampai ke ruang makan dan dia melihat Zulaikha yang sedang duduk berhadapan dengan Melisa di meja makan.
Zulaikha sedang menunggu Melisa yang sedang mengambil nasi dan lauk - pauknya.
"Zulaikha!" panggil Danar yang membuat Zulaikha dan Melisa terkejut.
"Mas Danar! tumben pulang cepat mas!" seru Zulaikha yang melangkahkan kakinya menghampiri suaminya. Dan ketika dia hendak mencium punggung tangan kanan suaminya, Danar tangan Danar menunjuk ke arah kamar.
"Cepat ke kamar sekarang juga!" seru Danar dengan nada tinggi yang membuat Zulaikha sangat terkejut, karena hal itu tidak pernah dia lihat dari diri Danar sebelumnya.
Sementara itu Melisa tersenyum kemenangan tanpa melihat kearah Zulaikha dan Danar.
Sedangkan mbok Tinah mulai sadar dengan apa yang akan terjadi dengan Zulaikha, mbok Tinah berusaha membela Zulaikha.
"Tuan - tuan Danar, tadi mbok Tinah yang menyuruh nyonya Zulaikha untuk ke rumah sakit. Saya yang menyuruh dokter Nugroho untuk memeriksakan kandungannya tuan!" jelas Mbok Tinah yang tanpa di gubris oleh Danar yang sudah dibutakan mata hatinya dengan rasa cemburunya.
"Mbok Tinah jangan membela Zulaikha, temani nyonya Lisa makan siang!" seru Danar yang sudah berada di depan kamar Zulaikha, sementara Zulaikha sudah berada di dalam kamar dengan perasaan tak menentu.
"Zulaikha semoga tuan Danar tak berbuat jahat padamu!" ucap dalam hati mbok Tinah yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
Sementara Danar masuk, kemudian menutup dan mengunci kamar tersebut.
"Mas, mas Danar ada apa? apa mas marah sama Ika?" tanya Zulaikha yang sedikit ketakutan saat melihat wajah suaminya yang memerah itu.
"Plakkk...!" sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Zulaikha memerah seketika itu juga.
"Aaaghh! brukk!"
Zulaikha yang dalam keadaan belum siap ambruk seketika itu juga ke lantai.
"Hiks, apa Zulaikha ada salah mas? ma'afkan Zulaikha jika Zulaikha salah!" seru Zulaikha yang berusaha untuk menenangkan hati suaminya.
Namun hal itu tak mampu membuat Danar luluh, kembali dia menampar Zulaika.
"Plakk..!"
__ADS_1
"Dasar murahan! tak tahu diuntung!" celetuk Danar yang sedang meluapkan emosinya.
"Hiks..hiks...!" Zulaikha hanya bisa menangis, percuma dia bicara karena sedari tadi suaminya sudah seperti kesetanan.
"Apa kamu masih kurang puas denganku hah! sampai - sampai kamu jalan sama orang lain! hah..!" seru Danar seraya menarik kerah bagian depan Zulaikha, dan kemudian menghempaskannya ke atas tempat tidur.
"Bugh..!"
"Agh..!" perut Zulaikha mulai sakit karena terjadi benturan - benturan berulang kali di tubuh mungil Zulaikha.
"Mas, sakit!" Zulaikha merasakan sakit yang luar biasa.mengalirlah darah di paha hingga lutut Zulaikha. Dan perempuan itu tak sadarkan diri.
"Zulaikha, istriku!" seru Danar yang terkejut saat melihat Zulaikha yang pingsan dan darah mengalir di paha sampai lutut istrinya.
Danar yang panik, kemudian mengangkat tubuh Zulaikha dan dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar ,
"Melisa! Mbok Tinah!" panggil Danar yang panik.
"Iya tuan!" jawab Mbok Tinah yang tergopoh - gopoh menghampiri Danar.
"A..ada apa mas?" tanya Melisa yang pura - pura panik.
"Melisa, kamu dirumah dulu. Kunci semua pintu kamar, mbok Tinah ikut aku ke rumah sakit!" perintah Danar yang masih membopong Zulaikha.
"Ke rumah sakit!" jawab Danar yang bergegas menuju ke pintu utama rumahnya dan diikuti oleh mbok Tinah.
Mbok Tinah membukakan pintu pada saat Danar sudah sampai di depan pintu utama rumah.
Setelah keluar dari rumah, Danar dan mbok Tinah melangkahkan kaki menuju ke mobil mewah milik Danar
"Bower, bangun!" seru Danar saat melihat sopirnya yang sedang malas - malasan di depan kemudi mobilnya.
"I..iya tuan!'' jawab Bower yang terkejut dan segera membuka kedua matanya dan melihat tuannya yang sedang membopong istri kedua tuannya.
Mbok Tinah segera membukakan pintu mobil di kursi belakang untuk Danar dan Danar masuk dengan posisi memangku Zulaikha.
Kemudian pintu di tutup oleh mbok Tinah dan mbok Tinah melangkahkan kakinya menuju ke pintu mobil di bagian depan samping kursi dimana Bower berada.
Setelah membuka pintu, kemudian mbok Tinah masuk ke dalam mobil dan Bower melajukan mobil mewah itu perlahan menuju ke jalan raya.
Lanjut Bower mengendarainya dengan kecepatan sedang menuju ke jalan raya.
"Zulaikha bangun! ma'afkan mas Danar! mas Danar tidak mau kamu jalan dengan laki - laki lain selain mas Danar! mas menyesal Zulaikha, mas menyesal!" racau Danar yang berkali - kali menciumi kening Zulaikha yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka telah sampai di halaman rumah sakit. Dan mobil mewah itu berhenti halaman parkir rumah sakit.
Setelah berhenti, mereka turun dari mobil dan Danar meletakkan Zulaikha di Brankar dorong yang telah disediakan oleh perawat yang menghampiri mereka.
Setelah Zulaikha berada di atas brangkar dorong dan para perawat mendorongnya menuju ke ruang Unit Gawat Darurat, guna menindak lanjuti pemeriksaan pada Zulaikha.
Sesampainya di ruang unit gawat darurat, Zulaikha langsung ditangani oleh dokter yang sedang bertugas jaga.
Sementara Itu mbok Tina sudah duduk di kursi dan sedangkan Danar berdiri mondar - mandir di depan pintu ruangan unit gawat darurat.
Mereka mengharap dengan cemas hasil pemeriksaan dokter.
"Tuan Danar, saya tadi mau menjelaskan pada tuan. Kalau tadi pagi, saya yang menyuruh nyonya Zulaikha diantarkan oleh dokter Nugroho untuk memeriksakan kandungan nyonya Zulaikha. Berhubung usia kandungan nyonya Zulaikha yang sangat muda, jadi sangat rentan dengan virus dan goncangan. Apa yang tuan lakukan pada nyonya Zulaikha?" penjelasan sekaligus tanya mbok Tinah.
"Ma'afkan saya, saya sangat menyesal! karena emosi dan rasa cemburu menutup mata hatiku. Akibatnya seperti ini! Zulaikha..!" racau Danar.
Tak berapa lama dokter keluar dari ruang gawat darurat yang membuat Mbok Tinah dan Danar bangkit dari duduknya.
"Adakah keluarga pasien disini ?" tanya Dokter yang menangani Zulaikha.
"Saya suaminya dok!" jawab Danar yang melangkah maju menghampiri dokter itu.
"Dokter, apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Danar yang sangat cemas.
"Mohon ma'af, bayi anda tidak bisa kami selamatkan. Dan saat ini nyonya Zulaikha sedang istirahat karena kehilangan begitu banyak darah.
"Jadi - Jadi a..anakku meninggal dokter?" tanya Danar yang merasa sangat bersalah itu.
"Iya, dan kami turut berduka cita karenanya" jawab singkat dokter dan mengajak Danar untuk melihat keadaan Zulaikha.
Sesampainya di dalam ruangan dimana Zulaikha dirawat, Danar segera menghampiri tubuh Zulaikha yang masih terbaring lemah dan berwajah pucat pasi itu.
"Sayang, ma'afkan aku. Ma'afkan suamimu yang bodoh ini!" racau penyesalan Danar yang berlinang air matanya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...