
"Ada yang aneh, seharusnya kan Bower memberitahukan kejadian kecelakaan yang dialami oleh tuan Danar pada istri pertamanya?" gumam dokter Adam Rendra yang diliputi rasa penasarannya.
"Istri pertama? memangnya tuan Danar punya berapa istri?" tanya Zahra yang penasaran.
"Dua orang, yang pertama kakak tiriku dan yang kedua kakak kamu Baim, Zulaikha! Dan mereka saat ini tinggal seatap." jawab dokter Adam Rendra seraya menatap Baim.
"Zulaikha istri kedua tuan Danar?" tanya Zahra seolah tak percaya.
"Iya, dia baru saja pulang dari rumah sakit karena keguguran. Dan setahuku itu karena penganiayaan yang dilakukan oleh mas Danar padanya." jelas dokter Adam Rendra yang tentu saja membuat Zahra dan juga Baim terkejut mendengar kabar itu.
"Zulaikha keguguran? apa anda bisa mengantarkan kami menemui kakakku?'' tanya Baim yang merasa khawatir dan demikian pula dengan Zahra
"Iya, bisa. Saya bisa antarkan kalian menemui Zulaikha. Tapi bagaimana dengan tuan Danar?" tanya dokter Adam Rendra yang penasaran.
"Nanti biar dijaga sama pak Agus dan pak polisi. Karena polisi belum mendapat informasi yang lebih lanjut dari tuan Danar selaku korban." ucap Baim, dan baru saja Baim selesai bicara datanglah seorang polisi dan juga laki-laki yang sebelumnya bersama Baim dan Zahra. Yang merupakan saksi terjadinya kecelakaan yang dialami oleh Danar Aji.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam dari laki-laki setengah baya itu dengan polisi yang bersamanya dan hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam!" balas Zahra, Baim dan dokter ada Rendra yang juga hampir bersamaan.
"Apakah beliau keluarga dari korban?" tanya polisi yang bersama pak Agus tadi.
"Saya adik tiri istri tuan Danar sekaligus asisten dokter keluarga tuan Danar." jawab Dokter Adam Rendra sembari mengulurkan tangannya dan begitu juga polisi tersebut yang membalas uluran tangan dari dokter Adam Rendra.
"Salam kenal dokter! saya Briptu Setiawan" ucap polisi itu yang mengenalkan dirinya.
"Salam kenal juga Briptu Setiawan, saya Dokter Adam Rendra." balas dokter Adam Rendra yang kemudian melepaskan jabat tangannya dengan Briptu Setiawan dan mengulurkan tangannya pada pak Agus yang ada disamping Briptu Setiawan.
"Saya hanya mau mengabarkan, kalau terjadi kejanggalan pada mobil yang dikendarai oleh tuan Danar. Kami menemukan bukti kalau ada yang sebelumnya menyabotase rem pada mobil tersebut. Apakah dokter bisa memberikan informasi yang bisa saja menjadi petunjuk bagi kami dalam memproses kejadian kecelakaan tersebut." ucap Briptu Setiawan pada dokter Adam Rendra.
__ADS_1
"Sepengetahuan saya, kalau mas Danar itu jarang mengemudi. Dia selalu menggunakan jasa sopirnya, dan sebelumnya dia berangkat bersama sopirnya. Tetapi kenapa saya melihat kalau sopirnya berada di rumah?" tanya dokter Adam Rendra pada Briptu Setiawan.
"Dan satu lagi Briptu Setiawan, pada saat kami mendatangi rumah tuan Danar kami sempat bertemu dengan sopir dari tuan Danar. Dan yang kami lihat dia sangat tenang dan tidak terkejut, saat menerima kabar kalau majikannya sedang kecelakaan." jelas Baim dan Briptu Setiawan menganggukan kepalanya pertanda dia mengerti apa yang dijelaskan oleh Baim.
"Kedua anak buah saya, yang bersama kalian tadi juga menaruh curiga pada sopir tersebut. Tetapi kita harus punya bukti bukan prasangka." ucap Briptu Setiawan.
"Ada lagi Briptu. Jika sopir itu langsung memberikan kabar pada keluarga tuan Danar entah istri atau keluarga yang lainnya, tentunya siang ini ada keluarga yang mengunjungi tuan Danar. Sedangkan ini sampai sore, hanya dokter Adam Rendra yang menjenguk Tuan Danar." jelas Zahra yang membuat yang lainnya memegang dagu mereka masing-masing.
"Hal itu bisa menjadi bahan pertimbangan juga, kami akan berusaha dengan keras menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi." ucap Briptu Setiawan.
"Baiklah kalau begitu kami hendak pamit Briptu Setiawan. Karena menurut kata dari dokter Adam Rendra, saudara kami Zulaikha baru saja pulang dari rumah sakit!" seru Baim yang meminta ijin pada Briptu Setiawan dan juga pak Agus.
"Baiklah saya berikan kalian ijin, tapi sebisa mungkin jika kami membutuhkan informasi dari kalian, kalian bisa kami andalkan!'' seru Briptu Setiawan pada Baim dan Zahra.
"Kami mengerti Briptu Setiawan!" ucap Baim dan Zulaikha yang hampir bersamaan.
"Kalau begitu kami permisi, Assalamu'alaikum!" ucap pamit dokter Adam Rendra sembari kembali mengulurkan tangannya.
Dilanjutkan dengan yang lainnya, Baim dan Zahra yang ikut menyalami Briptu Setiawan dan juga pak Agus
Kemudian ketiganya melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan menuju ke tempat parkir dimana mobil Baim terparkir.
"Mbak Zulaikha! Malang sekali nasib kamu!" gumam Baim saat masuk ke mobil tepat di kemudi, sementara dokter Adam Rendra berada di samping Baim dan Zahra ada di kursi belakang.
Dengan kecepatan sedang mobil itu menyusuri jalan raya yang menuju ke arah rumah kediaman Melisa.
"Sahabatku yang paling baik, mengapa nasib kamu begitu tragis?" ucap Zahra yang berkali-kali mengusap air matanya.
"Dibalik kemalangan Zulaikha, dia beruntung mempunyai saudara tiri dan juga sahabat seperti kalian ini!" ucap Dokter Adam Rendra yang memperhatikan rasa persaudaraan dan juga persahabatan diantara orang-orang yang bersamanya saat ini.
__ADS_1
"Bukankan kamu juga mempunyai saudara tiri dokter?" tanya Baim yang sedang mengemudi dan sesekali melihat ke arah dokter Adam Rendra.
"Kami merasakan seperti keluarga yang seutuhnya pada saat papa saya masih hidup. tetapi setelah kematian papa saya semua berbanding sebaliknya. Dan saya sempat mengambil sampel DNA papa dan mamaku. Ternyata DNA saya sama denga papa dan tak ada satupun yang sama dengan DNA mama saya. Jadi saya beranggapan kalau saya dengan kak Melisa satu papa beda ibu. Karena itulah sejak kematian papa, aku sama sekali tidak diberi lagi kiriman dari kak Melisa. Sejak saat itu saya berusaha mandiri dan bekerja serabutan dengan gaji yang dibawah rata-rata." jelas Dokter Adam Rendra dan semuanya terdiam.
"Ternyata kita mempunyai masalah yang samam2 rumit juga" gumam Zahra yang menghela nafasnya.
Tak berapa lama mobil yang di tumpangi Zahra dan Dokter Adam Rendra dan dikemudikan oleh Baim saudara tiri Zulaikha, memasuki halaman rumah kediaman Melisa saat hari mulai gelap.
Setelah berhenti, ketiganya segera turun dari mobil satu persatu. Kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ke teras dan kemudian mengetuk pintu utama kediaman Melisa itu.
"Tokk.... tokk.... tokk....!"
"Assalamu'alaikum!" ucap salam dari dokter Adam Rendra. Dan tak juga mendapat jawaban dari dalam rumah, sekali lagi dokter Adam Rendra mengetuk pintu utama itu.
"Tokk.... tokk.... tokk....!"
"Assalamu'alaikum!" kembali ucap salam dari dokter muda itu. Dan tak juga mendapat jawaban dari dalam rumah.
"Mungkin kamu saja ya Baim yang harus mengetuk pintunya, siapa tahu yang didalam rumah mendengar ketukan pintu kamu!" seru dokter Adam Rendra yang menyerah karena sedari tadi pagi ketukan pintunya tak membuahkan hasil.
"Baiklah akan saya coba dokter!" ucap Baim yang kemudian bersiap untuk mengetuk pintu, pintu utama yang ada dihadapannya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...