
"Sayang, ma'afkan aku. Ma'afkan suamimu yang bodoh ini!" racau penyesalan Danar yang berlinang air matanya.
Danar terus menyalahkan dirinya sendiri, dan dia bertekad akan membeli tanah dan membuat rumah baru untuk mereka berdua.
"Mas janji akan menebus semua kesalahan ini, Zulaikha sayang kita akan hidup berdua." ucap lirih Danar sembari mencium punggung tangan Zulaikha, namun Zulaikha tetap saja terdiam dalam tak sadarnya.
"Tuan, sebaiknya tuan cari makan dulu. Tuan hari ini belum makan siang bukan?" tanya mbok Tinah pada majikannya, Danar.
"Aku tidak berselera makan mbok, aku sudah membunuh anakku!" jawab Danar yang terus meratapi nasibnya.
"Kalau begitu biar mbok belikan nasi bungkus di kantin rumah sakit sebentar ya tuan" ucap Mbok Tinah yang menawarkan diri untuk membelikan makanan untuk majikannya itu.
"Iya mbok!" balas Danar tanpa menatap mbok Tinah.
Kemudian mbok Tinah melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar da dari ruang rawat kelas satu itu. Kaki wanita setengah baya itu terus melangkahkan kakinya menuju ke kantin Rumah sakit.
Sementara Zulaikha tak kunjung siuman, hal itu membuat Danar semakin cemas.
"Kenapa aku juga merasakan kesakitan, seperti yang dirasakan oleh istri keduaku ini?" tanya dalam hati Danar yang tak henti - hentinya melihat ke wajah Zulaikah yang masih terlihat pucat itu.
"Zulaikha tunggu mas Danar akan buatkan istana buat kita, kita akan hidup berduaan saja di rumah itu!" ucap lirih Danar yang terus berada disamping Zulaikha
Tak berapa lama, mbok Tinah datang dengan membawa nasi bungkus dan minuman untuk majikannya.
"Tuan ini makanannya, lebih baik kalau tuan makan lebih dulu. Biarkan nyonya muda saya yang jaga" ucap mbok Tinah yang memberikan nasi bungkus dan minumannya pada Danar.
"Saya tak semangat untuk makan mbok! seakan tak ada daya ku menghadapi Zulaikha" ucap Danar yang masih menyalahkan dirinya sendiri.
"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Yang penting kesehatan tuan harus tetap dijaga. Agar bisa selalu menjaga nyonya." saran mbok Tinah.
"Benar juga mbok!" ucap Danar yang kemudian memakan - makanan yang dibelikan oleh mbok Tinah.
Tak berapa lama Danar mendapat telepon dari pelanggannya, yang mengharuskan untuk mengirim kelapa sekarang juga.
"Mbok Tinah, saya pergi dulu. Tolong jaga istriku, dan ini ada uang kalau ada sesuatu yang diperlukan yang harus di beli. Nanti biaya administrasinya akan saya lunasi mbok" ucap Danar seraya memberikan beberapa lembar uang pada mbok Tinah.
"Terima kasih, tapi tuan perginya lama atau tidak?" tanya mbok Tinah yang khawatir.
__ADS_1
"Kurang tahu, tergantung pelanggannya mbok!" jawab Danar yang kemudian bangkit dari duduknya dan mengecup kening istrinya.
"Baik tuan akan saya jaga nyonya Zulaikha, dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri tuan" ucap mbok Tinah seraya bergantian menatap Zulaikha dan Danar.
"Iya, anggap saja Zulaikha seperti pengganti putra kamu yang hilang ya mbok! Perhatikan dan sayangi dia" pesan Danar sembari menyeka air matanya dan kembali mengecup kening Zulaikha.
Mbok Tinah menganggukan kepalanya dan menjawab "Iya"
Sekali lagi Danar mengecup kening istrinya dan perlahan membalikkan badannya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat dimana Zulaikha di rawat itu.
Mbok Tinah memandang dengan perasaan haru, dia melihat perbedaan tuannya secara signifikan.
Beberapa jam kemudian Zulaikha sadar dari pingsannya.
Dia membuka mata dan menebarkan pandangannya kesekitarnya.
"A..aku dimana?" tanya Zulaikha secara lirih yang bisa didengarkan oleh mbok Tinah.
"Nyonya muda, kamu sudah sadar?" ucap mbok Tinah yang semula wajahnya sendu menjadi sumringah.
"Mbok, sa..saya ada dimana?" tanya Zulaikha pada mbok Tinah.
"Di...di rumah sakit mbok?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Iya di rumah sakit, tuan Danar yang membawa nyonya muda kemari" jawab mbok Tinah seraya memandang Zulaikha dengan tatapan iba.
"Apa yang terjadi dengan saya mbok? kanapa saya dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Karena anda mengalami pendarahan, dan anda baru saja kehilangan bayi anda nyonya" ucap Mbok Tinah dengan pelan - pelan namun dapat didengarkan oleh Zulaikha.
Bak disambar petir, Zulaikha saat mendengar ucapan mbok Tinah kalau dia baru saja kehilangan bayinya.
"Apa yang Ika dengar ini benar adanya? benarkah apa begitu mbok?" tanya Zulaikha yang tak percaya apa yang dia dengarkan.
"Be..benar nyonya, kamu yang tabah ya!" ucap Mbok Tinah yang tak tega mengutarakannya.
"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun, mas Danar kamu kejam! aku benci kamu!" seru Zulaikha seraya menggenggam selimut yang sebelumnya menutupinya dengan erat dan geram.
__ADS_1
Air mata Zulaikha tumpah dan raungan tangisannya pun terdengar pilu bagi yang mendengarkannya.
"Mbok Tinah merangkul dan mengusap dengan lembut dari kepala hingga punggung kepala Zulaikha.
"Kamu yang sabar ya nyonya muda, semoga bayi kamu nanti yang bisa membawa kamu menuju ke tempat surganya Allah Ta'alla. Aamiin ya Robbal alaamiin." kata mbok Tinah yang sedikit menenangkan hati Zulaikha.
"Aamiin ya Robbal alaamiin, iya mbok. Zulaikha akan mencoba untuk ikhlas dan bersabar. Namun Ika belum bisa mema'afkan mas Danar mbok, Mas Danar jika marah menakutkan sekali. Dia tak perdulikan Zulaikha bicara, hanya emosi yang dia utamakan mbok!" ucap Zulaikha dengan isakan yang mengiringi di setiap ucapannya.
"Mbok mengerti, sekarang kamu istirahat untuk pulihkan kondisi kamu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari, yang penting pulihkan kondisi kamu di rumah sakit ini dulu. Jika sudah benar - benar pulih, baru kita pulang." pesan mbok Tinah yang masih memeluk Zulaikha bagaikan putrinya sendiri dan hal itu membuat Zulaikha sangat nyaman.
"Iya mbok. Ika mau makan dan minum obat mbok, agar kondisi Ika lebih cepat pulih dan Ika bisa beribadah seperti sebelumnya." ucap Zulaikha yang merasakan sejak sakit, sholatnya jadi tak teratur.
"Ini ada makanan dari rumah sakit yang sudah disediakan oleh perawat tadi. Nyonya muda bisa makan sekarang juga, mbok Tinah suapi ya!" ucap mbok Tinah dengan lembut.
"Mbok, Ika makan sendiri saja. Mbok Tinah apa tidak makan juga?'' tanya Zulaikha yang merasa tak enak hati jika dirinya yang makan sendirian.
"Iya nanti setelah nyonya makan, mbok Tinah akan beli makanan di kantin. Sekarang nyonya makan saja dulu ya" ucap mbok Tinah sembari mengulas senyumnya.
"Iya, mbok mari makan" ucap Zulaikha yang kemudian berdo'a dan dilanjut makan - makanan yang telah disediakan oleh perawat rumah sakit tadi.
Selesai makan Zulaikha kemudian menelan obat - obat yang dianjurkan oleh dokter untuknya, dengan di bantu oleh mbok Tinah.
Tak berapa lama Zulaikha telah menelan dan minum obat tersebut, kemudian Zulaikha mulai mengantuk dan akhirnya dia tertidur pulas.
Sementara itu mbok Tinah melangkahkan kakinya keluar dari ruang di mana Zulaikha dirawat. Mbok Tinah pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang.
Sementara itu Danar yang sedang pergi menemui para pelanggan baru usaha kelapanya, dan saat ini sedang ditemani oleh Bower.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...