
Hei, apa menurutmu aku menyiksa dia?" tanya Danar yang mulai ada kebimbangan dalam dirinya.
"Tanyakan saja pada istrimu, apakah dia tertekan dengan pernikahan kalian!" seru dokter Adam Rendra.
"Ika, apa kamu benar tertekan dengan pernikahan ini?" tanya Danar yang menatap Zulaikha dengan tajam.
"A...aku!" ucap Zulaikha dengan gugup.
"Jawab jujur sahabatku, ingat perjuangan kami yang kemari untuk membebaskanmu!" seru Zahra yang ingin Zulaikha berkata jujur dari dalam hatinya.
"Zulaikha, ingatkan saat kita bercinta bersama. Kamu begitu puaskan denganku, dan kita sama-sama puas!" seru Danar yang bingung cara merayu Zulaikha.
Istri kedua Danar itu seperti mengulang kembali memori awal perjumpaannya dengan Danar.
"Mas Danar, Zulaikha mau jujur dengan mas Danar. Zulaikha pada awalnya sangat tertekan dengan pernikahan ini, namun Zulaikha mencoba untuk ikhlas. Walaupun hati ini selalu menentangnya." ucap Zulaikha yang menatap Danar dan demikian pula dengan Danar yang menatap Zulaikha dengan tajam.
"Jadi kamu masih mau bersamaku kan?" tanya Danar yang sangat berharap.
Zulaikha menggelengkan kepalanya, dan kemudian dia menjawab pertanyaan Danar.
"Tidak, Zulaikha tidak mau bersama mas Danar lagi. Hal ini Zulaikha putuskan sejak mas tega menganiaya Zulaikha, yang mengakibatkan Zulaikha keguguran!"
...☁️☁️☁️☁️☁️...
Saat itu Danar yang gelap mata karena provokasi dari Melisa. Danar menyuruh Zulaikha untuk masuk ke kamarnya, kemudian Danar menutup dan mengunci kamar tersebut.
"Mas, mas Danar ada apa? apa mas marah sama Ika?" tanya Zulaikha yang sedikit ketakutan saat melihat wajah suaminya yang memerah itu.
"Plakkk...!" sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Zulaikha memerah seketika itu juga.
"Aaaghh! brukk!"
Zulaikha yang dalam keadaan belum siap ambruk seketika itu juga ke lantai.
"Hiks, apa Zulaikha ada salah mas? ma'afkan Zulaikha jika Zulaikha salah!" seru Zulaikha yang berusaha untuk menenangkan hati suaminya.
Namun hal itu tak mampu membuat Danar luluh, kembali dia menampar Zulaika.
"Plakk..!"
"Dasar murahan! tak tahu diuntung!" celetuk Danar yang sedang meluapkan emosinya.
"Hiks..hiks...!" Zulaikha hanya bisa menangis, percuma dia bicara karena sedari tadi suaminya sudah seperti kesetanan.
"Apa kamu masih kurang puas denganku hah! sampai - sampai kamu jalan sama orang lain! hah..!" seru Danar seraya menarik kerah bagian depan Zulaikha, dan kemudian menghempaskannya ke atas tempat tidur.
"Bugh..!"
"Agh..!" perut Zulaikha mulai sakit karena terjadi benturan - benturan berulang kali di tubuh mungil Zulaikha.
__ADS_1
"Mas, sakit!" Zulaikha merasakan sakit yang luar biasa.mengalirlah darah di paha hingga lutut Zulaikha. Dan perempuan itu tak sadarkan diri.
"Zulaikha, istriku!" seru Danar yang terkejut saat melihat Zulaikha yang pingsan dan darah mengalir di paha sampai lutut istrinya.
Danar yang panik, kemudian mengangkat tubuh Zulaikha dan dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
...☁️☁️☁️☁️☁️...
"Saat itu mas Danar sama sekali tidak mau mendengar apa penjelasan dari Zulaikha. Mas Danar hanya menuruti emosi mas Danar saja. Suami yang Zulaikha harapkan bisa melindungi dan menyayangi Zulaikha. Tapi nyatanya apa? mas Danar menyiksa Ika. Mas Danar tidak mendengar omongan Ika, jadi buat apa Ika masih bersama mas Danar! kalau cuma jadi boneka hidupnya mas Danar saja." jelas Zulaikha.
"Jangan percaya omongan mereka mas, mereka bermain dibelakang kamu!" seru Melisa yang mengompori Danar Aji suaminya.
"Iya, ingat foto yang aku tunjukkan tadi!" seru Bower yang menambahi seruan Melisa.
"Aku tidak akan melepaskanmu!" seru Danar yang hendak menarik lengan Zulaikha.
Namun dengan cepat Zulaikha ditarik mundur oleh Dokter Adam Rendra.
"Kau, apa-apaan kau!'' seru Danar yang geram dan melayangkan pukulannya.
"Zulaikha sudah bilang kalau tak mau lagi bersamamu!'' seru dokter Adam Rendra seraya menangkis serangan Danar.
"Kurang ajar kau! tak kan ku biarkan kau memilikinya, dia masih milikku!" seru Danar dan baku hantam pun tak terelakkan lagi.
"Aku dan Zulaikha tidak ada hubungan apa pun, kamu salah menerima informasi!" seru dokter Adam Rendra dan hal itu tetap jadi kebiasaan Danar yang tak menerima pendapat orang lain jika sedang kalap.
"Bagh.... bugh.... bagh.... bugh....!"
"Bagh.... bugh.... bagh.... bugh....!"
"Aaaghh.....!"
"Bagh.... bugh.... bagh.... bugh....!"
"Aaaghh.....!"
Danar geram dengan kekalahannya, dan tiba-tiba dia mengambil pisau buah yang berada di atas meja.
"Awas dokter!" jerit Zulaikha dan juga Zahra, sementara mbok Ni yang melihat hal itu dengan rasa cemasnya sebagai seorang ibu.Takut terjadi sesuatu dengan Dokter Adam Rendra.
Sedangkan Melisa dan Bower saling melempar senyum saat menyaksikan hal itu.
Pisau yang dibawa oleh Danar terus mengarah ke tubuh dokter Adam Rendra.
"Wett... wett.... wett.....!"
Sabetan pisau itu mengenai ruang hampa, karena dokter Adam Rendra berhasil menghindari benda tajam tersebut.
Danar semakin geram dan kini dia berusaha menusuk perut Dokter Adam Rendra. Kembali dengan cepat dokter Adam Rendra berhasil mengelak, dan tiba-tiba ada kejadian dimana Dokter Adam Rendra yang dalam situasi tak bisa mengelak lagi karena Dokter Adam Rendra yang sedang dalam keadaan tersudut.
__ADS_1
Tiba-tiba mbok Tinah bergerak dengan cepat, dia menjafika dirinya sebagai tameng. Agar dokter Adam rendra tidak celaka.
"Jlebb....!"
Ujung mata pisau itu tepat menghujam perut mbok Tinah.
"Mbok Tinah!' jerit Zulaikha dan Zahra.
"Mbok Tinah!" panggil Dokter Adam Rendra yang terkejut, karena dirinya yang tidak terluka. Namun mbok Tinahlah yang terluka.
"Berhenti! angkat tangan!" seru suara tegas yang tak lain dari Briptu Setiawan dan para polisi yang membantu Briptu Setiawan dalam tugasnya.
"Polisi, kenapa ada polisi?' tanya Danar yang terkejut dan reflek dia menjatuhkan pisaunya di lantai.
Dua orang polisi menangkap Danar yang terdiam tak berkutik lagi karena secara jelas para polisi itu mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh Danar.
"Siapakah yang bernama Bower?" tanya Briptu Setiawan yang bertanya pada dokter Adam Rendra.
"Dia Briptu!" jawab dokter Adam Rendra yang menunjuk ke arah Bower yang perlahan melangkah pergi, lari dari penglihatan para polisi yang dirinya telah menebak kalau dirinya yang akan ditangkap para polisi itu.
"Berhenti...! atau kami tembak!" seru Briptu Setiawan yang mengarahkan pistolnya pada kaki Bower.
Namun Bower yang ketakutan itu, tak menggubris seruan dari Briptu Setiawan.
"Dorr...!'" sebuah benda kecil terbuat dari timah emas itu melesat mengenai kaki kanan Bower.
"Aaaghh....!"
Bower mengerang kesakitan dan seketika itu juga langkah kakinya menjadi terseok-seok.
"Ampun-amoun...!" seru Bower yang meminta ampun, dia menyerah.
Setelah menangkap Bower dan Danar, para polisi membawa barang bukti pisau buah yang diamankan oleh Briptu Setiawan.
Sementara itu Dokter Adam rendra, Zulaikha dan Zahra sibuk membawa mbok Tinah ke dalam mobil Zahra dan melaju ke rumah sakit.
Sedangkan para polisi terbagi menjadi dua, yaitu ke kantor polisi dan ke rumah sakit khusus untuk para tahanan.
Mobil yang dikendarai Zahra terus melaju menyusuri jalan raya, dan tak berapa lama mereka telah sampai di Unit gawat darurat rumah sakit dimana dokter Adam Rendra dan dokter Samsu bertugas.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...