
"Iya, mbok Tinah kehilangan banyak darah dan dia minta di transfusi darah yang bergolongan AB. Dan kebetulan golongan darah itu ada pada Dokter Adam Rendra." jelas Zulaikha.
"Kok bisa kebetulan ya, golongan darah Mbok Tinah dan dokter Adam Rendra itu bisa sama. Setahu aku golongan darah AB itu golongan darah yang jarang ditemui, karena langka!" ucap Zahra yang sambil berpikir.
"Iya, aku menduga kalau dokter Adam Rendra itu putra dari mbok Tinah." ucap Zulaikha yang menebak.
"Bisa jadi!" ucap Zahra yang menatap Zulaikha dengan rasa penasarannya.
"Waktu itu mbok Tinah dan aku sedang bicara dari hati ke hati, dan mbok Tinah menceritakan apa yang telah terjadi padanya." ucap Zulaikha yang menatap sahabatnya.
"Coba ceritakan Zulaikha!" seru Zahra yang menatap sahabatnya, yang berharap supaya sahabatnya menceritakan hal yang bisa menjawab rasa penasarannya.
"Baiklah akan Zulaikha ceritakan, saat itu keadaan di rumah sedang sepi dan Zulaikha menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Tiba-tiba saja mbok Tinah, datang menemui Zulaikha di kamar." ucap Zulaikha yang kemudian membayangkan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
🗓️Flashback On
"Ika, apa aku boleh masuk?" tanya mbok Tinah yang pertama kali ini datang di kamar Zulaikha dengan rasa penasaran.
Keduanya saling bercerita dan sesekali bercanda.
"Jika simbok berkerja disini dari sebelum nyonya Lisa lahir, pastinya mbok Tinah melihat saat nyonya masih dalam kandungan sampai lahirnya?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Iya, tentu saja. Dulu aku masih muda seperti kamu ini di bawa ayahku untuk berkerja di rumah ini. Karena ayah punya hutang pada keluarga ini banyak sekali, dan aku di jadikan jaminannya. Aku sampai tidak ingat berapa tahun aku kerja di sini tanpa digaji waktu itu. Yang jelas sampai nyonya Lisa lahir, simbok belum merasakan menerima uang dari hasil keringat aku sendiri." cerita mbok Tinah.
"Jadi mbok Tinah juga jadi jaminan hutang juga? tapi bedanya mbok Tinah tidak diperistri majikannya, sedangkan aku? ah, sudahlah mau bagaimana lagi?" gumam dalam hati Zulaikha.
"Ika, aku cerita ini hanya pada kamu. Entah kenapa aku merasakan kalau kita punya nasib yang sama." ucap mbok Tinah yang menatap Zulaikha dengan berkaca-kaca.
"Nasib sama? apa maksud mbok Tinah? Ika tidak mengerti?'' tanya Zulaikha yang penasaran karena memang pada awalnya memang sama, yaitu sebagai jaminan hutang.
__ADS_1
"Simbok waktu bekerja disini pada awalnya baik-baik saja, ya seperti pada umumnya bekerja walaupun tanpa gaji. Waktu itu nyonya ibunda dari nyonya Lisa setelah melahirkan nyonya Lisa, mendapat vonis dari dokter kalau beliau menderita kangker rahim dan sudah tidak boleh berhubungan badan dengan suami. Sedangkan Tuan waktu itu sangat menginginkan mempunyai lagi anak laki-laki yang nantinya akan menjadi penerusnya." jelas mbok Tinah berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya.
"Terus kelanjutannya bagaimana mbok?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Tuan menikahi simbok dan nyonya sangat mengijinkannya waktu itu dengan syarat, anak yang saya kandung menjadi anaknya dan aku tak boleh mengakuinya sebagai anak. Waktu itu aku mau saja, asalkan tuan mau membiayai ibuku yang sakit-sakitan karena ulah bapakku yang suka main judi dan mabuk-mabukan yang menjadi-jadi hingga semua harta ibu dan bapakku di jual untuk melunasi hutang judi bapak. Belum lagi biaya rumah sakit bapak pada saat bapak kecelakaan dan pada akhirnya bapak meninggal. Semua itu butuh banyak biaya dan Ibukku pun meninggal dunia karena tak mampu menahan beban pikiran dan rasa sakit yang mendera beliau." ucap mbok Tinah yang kini Zulaikha paham dengan apa yang di ceritakan mbok Tinah, memang nasibnya sebelas dua belas dengan mbok Tinah.
"Lantas dari pernikahan mbok Tinah dengan tuan, bagaimana? apakah dikaruniai putra atau putri?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Iya, aku mengandung dan melahirkan pada saat nyonya Lisa masih berusia tiga tahun. Anakku laki-laki dan aku meminta menamainya sebelum putraku menjadi milik tuan dan nyonya. Aku memberikan dia nama 'Adam Rendra' dan saat ini Adam tak mengetahui siapa ibu kandungnya, karena dia sejak kecil di sekolahkan di luar negeri." ucap Mbok Tinah yang mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca.
Zulaikha memegang tangan mbok Tinah dan berusaha menenangkan hati mbok Tinah.
"Kenapa Adam tidak di sekolahkan disini saja mbok? kenapa harus ke luar negeri sih, mbok?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Karena nyonya memang menjauhkan simbok dari putra simbok, agar simbok lupa akan siapa Adam." jawab mbok Tinah yang saat ini sedang terisak, yang sesekali menyeka air matanya.
"Namanya anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu, mana mungkin ibunya bisa melupakannya. Walaupun dipisahkan dalam waktu yang lama dan jarak yang sangat jauh!' ucap Zulaikha yang menyeka kedua air matanya.
"Apa mbok Tinah tidak hamil lagi?" tanya Zulaikha yang penasaran.
"Iya dua kali simbok hamil dan simbok tidak tahu kalau simbok hamil, simbok terlalu capek dalam bekerja jadi simbok dua kali mengandung dan dua kalinya simbok keguguran." jawab mbok Tinah yang membuat Zulaikha semakin iba dengan nasib mbok Tinah.
🗓️Flashback off
"Waktu itu Zulaikha sempat berpikir kalau nasibku akan seperti mbok Tinah." ucap Zulaikha yang menyelesaikan ceritanya.
"Saya yakin kalau dokter Adam Rendra itu putra mbok Tinah!" seru Zahra yang menatap Zulaikha dan Zulaikha juga menatap ke arah Zahra.
"Aku juga berpikir demikian, dari namanya saja sudah jelas kalau Adam rendra. Dan ditambah golongan darah yang sama!" ucap Zulaikha.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada sesosok laki-laki yang mendengarkan perbincangan mereka. Yang mereka tak menyadari akan kedatangan laki-laki itu yang duduk di belakang mereka.
"Jadi mereka juga membicarakan tentang aku dengan mbok Tinah ya?" ucap laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah dokter Adam Rendra.
"Hm... hm...!" laki-laki itu berdehem yang tentu saja membuat kedua perempuan yang sedang berbincang-bincang itu kaget setengah hati karenanya.
"Dokter Adam Rendra!" seru Zulaikha dan Zahra yang terkejut.
"Kenapa? kaget ya? kalau kaget, pasti kalian membicarakan tentang aku!" ucap Dokter Adam Rendra yang mengulas senyumnya.
"Lha, sejak kapan dokter berada disini?" tanya Zulaikha yang menatap wajah tampan dokter muda itu.
"Ya sejak tadi!" jawab dokter Adam Rendra yang menatap ke arah Zulaikha dan Zahra satu persatu.
"Kalau begitu pasti sudah tahu apa yang kami bicarakan, jadi jangan buat pertanyaan lagi. Ok!" seru Zahra yang sedikit kesal dengan sikap dokter Adam Rendra tersebut.
"Ha...ha....! jangan marah, nanti cepat tua lho!" goda Dokter Adam Rendra yang tertawa lepas.
"Habisnya sudah tahu malah nanya! jadi kesal kan!" sahut Zahra yang sedikit bersungut-sungut.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...