GADIS JAMINAN HUTANG

GADIS JAMINAN HUTANG
Memberitahu Zulaikha dan Mbok Tinah


__ADS_3

"Baiklah akan saya coba dokter!" ucap Baim yang kemudian bersiap untuk mengetuk pintu, pintu utama yang ada dihadapannya itu.


Kemudian Baim mengetuk pintu rumah tersebut.


"Tok...tok...tokk...!"


"Assalamu'alaikum!" ketukan dan ucap salam Baim.


Tak juga mendapat jawaban, Baim terus mengulanginya kembali.


"Tok..tok...tok..!"


"Assalamu'alaikum!" ucap salam lagi dari Baim, adik tiri Zulaikha.


"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah dan tak berapa lama terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam rumah.


"Klek..klek..ceklek..!"


Pintu itu terbuka dan nampaklah seorang wanita tua yang tak lain adalah mbok Tinah.


"Eh, dokter Nugroho eh Adam Rendra. Kami tak merasa memanggil dokter, ada gerangan apa dokter kemari?" tanya mbok Tinah yang penasaran seraya memandang dua orang yang bersama dokter Adam Rendra.


"Ma'af sebelumnya, bolehkah kami masuk?" kata dokter berbalik yang berbalik bertanya.


"Oh, tentu saja boleh. Mari - mari silahkan masuk Dokter" ucap mbok Tinah yang mempersilahkan tamunya itu untuk masuk ke rumah.


Dokter Adam Rendra, Baim dan juga Zahra itu melangkahkan kaki dan masuk ke rumah Melisa, sementara mbok Tinah menutup kembali pintu yang tadi dia buka.


"Bagaimana keadaan nyonya kecil Zulaikha mbok?" tanya dokter Adam Rendra sembari berjalan mensejajarkan dirinya dengan mbok Tinah dan diikuti oleh Baim dan juga Zahra, kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah sudah mendingan dok" jawab mbok Tinah.


"Eh ada tamu ya mbok?" tanya Zulaikha yang menghampiri mbok Tinah dan kedua dokter itu.


"Kak Zulaikha!" panggil Baim yang kemudian berdiri saat melihat kemunculan Zulaikha.


"Baim!" balas panggil Zulaikha saat melihat saudara tirinya yang ada dihadapannya, bergegas dia mengulurkan tangannya pada adik tirinya itu.


"Zulaikha!" panggil seorang gadis yang sangat di kenal oleh Zulaikha.

__ADS_1


"Zahra!" balas panggil Zulaikha pada saat melihat sahabat karibnya yang berada di hadapannya, dan tanpa sungkan-sungkan Zulaikha memeluk Zahra dan Zahra menerima pelukan hangat dari sahabatnya Zulaikha itu.


Cukup lama pelukan itu terjadi, karena mereka saling melepaskan rindu mereka.


"Zulaikha, aku turut prihatin dengan keadaan kamu. Bukannya kamu menginginkan suami seorang dokter? kenapa kamu jadi istri seorang renternir dan kamu jadi istri keduanya. Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali!" ucap panjang lebar Zahra.


"Iya, mungkin ini suratan takdir aku yang harus aku jalani." ucap Zulaikha sembari menyeka air matanya.


"Kata dokter Adam Rendra kamu habis keguguran ya?" tanya Zahra yang memegang perut sahabatnya itu.


"Iya, tapi aku sudah mengikhlaskannya. Mungkin saja aku belum diberi amanah untuk mendapat momongan. Jadi tetap ikhlas dan bersyukur saja, In syaa Allah jika Allah berkenan aku mendapat momongan. Yang terpenting tetap ikhtiar dan juga berdo'a. Semoga yang terbaik selalu diberikan oleh-Nya untuk kita. Aamiin ya Robbal alaamiin." Ucap Zulaikha saat melepas pelukannya pada sahabatnya.


"Aamiin ya Robbal alaamiin" jawab semuanya.


"Oiya, bisa kalian jelskan kenapa kalian sisa sampai disini?" tanya Zulaikha yang penasaran.


"Sebelumnya entah ini kabar duka atau kabar kalau suami kamu tuan Danar sedang menjalani hukuman apayang dia lakukan terhadap kamu" ucap Baim yang menyangkut pautkan apa yang terjadi dengan balasan yang diterima oleh Danar.


"Apa maksud kamu Baim? aku tak mengerti!" Seru Zulaikha seraya memandang ke arah semuanya satu persatu.


"Zulaikha, kami bisa sampai kesini karena kami menolong seorang laki-laki yang sedang mengalami kecelakaan. Tang tak lain adalah suami kamu Danar yang juga merupakan orang pemberi hutang pada ibunya Baim." ucap Zahra seraya menatap kearah Zulaikha.


"Mas Danar kecelakaan?" tanya Zulaikha yang sangat terkejut.


"Terus bagaimana dengan kondisi mas Danar saat ini?" tanya Zulaikha. Sementara Mbok Tinah dari dapur membawakan mereka minuman dan juga makanan.


"Tuan eh, mas Danar masih berada di rumah sakit. Masih berada di ruang perawatan, dan ternyata baru aku yang menengok mas Danar. Bower yang sedari pagi sudah tahu, tak juga menjenguk mas Danar!" jawab dokter Adam Rendra yang menatap kearah mbok Tinah dan juga Zulaikha.


"Aneh, tadi pagi dia juga bersama kak Melisa menyiram bunga kesayangan kak Melisa. Apa dia tak memberitahu kak Melisa? dan kenapa juga tak memberitahukan pada kami?" tanya Zulaikha seraya berpikir.


"Nah itulah yang membuatku penasaran!" seru Dokter Adam Rendra yang penasaran dan juga dengan yang lainnya.


"Setahuku Bower bukan tipe pelupa akan suatu berita, apakah ada udang dibalik bakwan?" ucap mbok Tinah yang semula keadaan tegang sedikit ada candaannya.


"Mbok, besok kita jenguk mas Danar ya!" pinta Zulaikha yang menatap Mbok Tinah.


"Iya, sekarang malam sudah larut. Sebaiknya kita segera beristirahat!" jawab sekaligus seru mbok Tinah.


"Kita tidu berdua ya Zahra, jadi teringat semasa kita di pondok pesantren." ucap Zulaikha dengan semangat, dan hal itu disambut semangat pula oleh Zahra.

__ADS_1


"Iya, aku kangen masa2 kita di pondok. Ngaji bareng, makan bareng dan dapat hukuman juga bareng! he... he..!" sahut Zahra dan Zulaikha tersenyum karenanya. Mereka seakan bernostalgia saat sama2 senasib di pondok dimana mereka menimba ilmu.


"Apakah masih ada kamar buat kami mbok?" tanya Dokter Adam Rendra yang bangkit dari duduknya.


"Oiya, Masih ada. Sebentar saya persiapkan kamarnya." jawab mbok Tinah yang kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar tamu yang berada disamping kamar Zulaikha.


Sementara itu Zulaikha dan juga Zahra membereskan makanan dan minuman yang berada di atas meja dan sesekali pandangan mata dokter Adam Rendra dan juga Zulaikha saling bertemu.


"Ah, andai saja kamu tak menikah dengan Mas Danar!" gumam dalam hati Adam Rendra yang mengulas senyum pada perempuan yang tanpa make up namun tetap wajahnya bersinar itu.


Tak berapa lama Zulaikha dan Zahra gelas selesai dengan urusan dapurnya, demikian pula dengan mbok Tinah yang sedang menyiapkan tempat istirahat untuk kedua tamu laki-lakinya itu.


"Nah, kamarnya sudah selesai. Sekarang kalian boleh menempatinya!" ucap mbok Tinah yang menghampiri mereka.


"Baik mbok! selamat malam semuanya!" ucap Baim dan Dokter Adam Rendra yang hampir bersamaan.


"Selamat malam, mimpi yang indah!" balas Zulaikha dan juga Zahra yang serempak.


"Selamat malam Zulaikha!" ucap dokter Adam Rendra pada Zulaikha.


Ada rasa terkejut dan rasa tersipu malu dalam diri Zulaikha.


"Selamat malam dokter Adam Rendra!" balas Zulaikha dan keduanya saling mengulas senyum mereka.


Sementara itu Baim dan juga Zahra, melakukan hal yang sama.


"Selamat malam Zahra!" ucap Baim seraya mengulas senyumnya.


"Selamat malam juga Baim!" ucap Zahra yang membalas salam dan senyum Baim.


Keempat anak manusia itu saling mengulas senyum dan memerahlah kedua pipi mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel GADIS JAMINAN HUTANG...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2