Gadis Misterius

Gadis Misterius
[Bab 9]


__ADS_3

"Anaaaa..." teriak Arsyad membelalakkan matanya terkejut.


Tiba-tiba saja hal tak terduga terjadi antara keduanya, Ana yang melihat peluru nyasar ke arah Arsyad langsung memutar badannya dan menghalangi peluru itu hingga ialah menjadi orang yang terkena peluru nyasar.


Kedua Tangan Arsyad kini dipenuhi dengan darah segar Ana yang sudah merambas kemana mana akibat terkena peluru, matanya pun kini hanya terbuka setengahnya saja menahan rasa sakit dari luka nya yang dalam, benar-benar diluar perkiraan karena peluru itu tepat kena di dada sebelah kirinya hingga membuat nya menjadi tak sadarkan diri sekarang.


"Na bangun naaa.." teriak Arsyad panik.


"Samuelllllll" teriakan keras Arsyad berhasil menghentikan pertarungan yang sedang terjadi.


Samuel yang mendengar teriakan itu langsung saja berlari kearah sumber suara, karena pada kenyataannya ia pun sudah mengetahui kebenaran dari seorang Arsyad dan tak benar-benar memusuhi dirinya.


"Apa yang terjadi" tanya Samuel dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Cepat bantu aku membawanya ke rumah sakit" kata Arsyad dengan tangan yang bergetar memegang tubuh Ana yang semakin mengeluarkan darah yang begitu banyak.


Mendengar apa yang Arsyad katakan Samuel langsung saja mengalihkan pupil matanya menengok ke arah seorang wanita yang kini terkapar tak berdaya ditangan samuel dengan darah yang sudah merembes kemana mana.


"Nonaaaa!!" teriak nya terkejut setengah mati ketika baru menyadari siapa wanita tersebut.


Dengan langkah cepat Samuel langsung mengambil alih Ana yang berada di dekapan Arsyad.


"Kauuu!!" tunjuk Samuel pada Arsyad dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Jangan salah paham, lebih baik kau bawalah Ana kerumah sakit terlebih dahulu" kata Arsyad berusaha menghentikan pemikiran buruk dari tangan kanan orang yang dicintainya itu.


"Ck.. jika saja terjadi sesuatu pada nona, maka jangan harap kau bisa hidup di dunia ini lagi" ancam Samuel melangkahkan kakinya cepat, dirinya tak boleh menunda waktu lagi sekarang, mau bagaimana pun kesadaran dari pemimpin nya ada prioritas utama saat ini.


Namun...


"Uhukkk.."


Baru saja Samuel bergerak beberapa langkah, tiba-tiba saja Ana yang berada dalam gendongannya kini melepaskan diri dan memuntahkan seteguk darah yang begitu pekat.


"Nona" kata Samuel ingin berjalan mendekat, namun langsung terhenti ketika melihat isyarat tangan Ana.


Begitu pula dengan Arsyad yang menyadari apa yang sedang terjadi antara dua orang berbeda gender itu.

__ADS_1


"Rupanya ada yang ingin bermain dengan ku" gumam Ana tak jelas dengan bibir melengkung menciptakan seringai menyeramkan.


Dirinya bukanlah orang bodoh yang tak mengetahui jika sebenarnya peluru itu memanglah ditujukan kepada dirinya dengan memancing Arsyad sebagai umpan yang begitu empuk.


Tak memperdulikan Arsyad dan Samuel yang menatap dirinya heran, kini Ana langsung berlari cepat mengambil katana nya yang berada ditempat dirinya terkena tembakan peluru tadi.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, rupanya tak berhenti disitu saja, matanya menelisik mencari keberadaan seseorang yang sudah tak sabar ingin dicincang nya menjadi beberapa bagian-bagian kecil hingga tak berbentuk lagi.


"Ketemu" ucapnya dengan suara berbisik ketika melihat seseorang yang berada tepat di arah jam 10, tak lupa dengan seringai an yang tak menghilang dari bibir indahnya.


Disisi lain, Arsyad dan Samuel langsung mengambil tindakan untuk kembali ke pertarungan karena mengingat jika semuanya masihlah belum selesai sepenuhnya.


Arsyad yang awalnya ingin memberantas orang di pihak Ana, kini justru berbalik arah membantai anak buahnya sendiri dengan kejam dan tak berperasaan.


Aksi dari Arsyad tentu saja tak luput dari penglihatan Bram yang sedari tadi memang terus saja memantau pergerakan nya.


"Brengsekk!! apa yang sedang dia lakukan" geram nya menggenggam erat katana panjang ditangannya.


Dengan segera ia langsung berlari menuju Arsyad dan ingin menikamnya dari belakang dengan ancang ancang yang sangat bagus.


Trangg...


"Ingin melakukan hal yang sama untuk kedua kali? tentu saja tak bisa" ucap orang yang kini berhadapan dengan nya, memperlihatkan sorot mata yang begitu tajam bak elang.


"Kauuu"


Bram mundur beberapa langkah ketika melihat siapa yang telah menghalangi jalannya.


"Menyusun rencana begitu besar dengan menghasut seseorang yang tidak bersalah dan menjadikan nya dalang dari semua ini, lalu kau arahkan dia untuk menghancurkan orang lain tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang tengah dia lawan! apakah yang saya ucapkan benar.. DAMIAN" ucap Ana dengan sengaja menekan nama dari orang yang tengah dihadapi nya yang ternyata bernama asli Damian!.


Arsyad yang memang berada didekat mereka pun lantas saja langsung membalikkan badannya tak percaya, dimasa lalu memangnya siapa dari mereka yang tak mengenal sosok damian, si culun yang sangat pendiam dikelas mereka.


"Omong kosong" sergah Bram atau yang kini kita sebut dengan Damian itu mengelak apa yang diucapkan oleh Ana.


"Siapa orang yang kau sebut Damian itu! jangan berbicara sembarangan nona, atau kau akan ku bunuh dengan katana kesayangan ku ini" teriak Damian penuh ancaman.


"Oh apakah wajah ku ini terlihat perduli?" ejek Ana tak perduli.

__ADS_1


"Sialan!"


Dengan gerakan cepat Damian terus saja memberikan serangan demi serangan yang tajam, namun memiliki begitu banyak celah karena emosi nya kini yang tak stabil.


Sedangkan Ana hanya menyambut serangan itu dengan begitu santai dan sesekali melakukan serangan balik yang langsung berhasil melukai tubuh Damian.


"Memiliki dendam masalalu yang begitu menyakitkan dan membalasnya pada orang yang salah, apakah kau tak menyesal Damian?"


"Apa maksud mu" tanya Damian menghentikan serangannya secara tiba-tiba, dirinya merespon dengan begitu baik ucapan Ana dan membuat nya secara tidak sadar mengakui jika dirinya memanglah Damian.


"Arsyad bukanlah pembunuh kedua orang tuamu" kata Ana tersenyum penuh arti.


Sebelum memulai sebuah peperangan tentu saja Ana akan mencari dengan jelas asal usul dari orang yang akan menjadi lawan nya dan apa sebenarnya niat orang itu dibalik semua yang tengah dilakukan nya.


Tentu saja ia sempat terkejut jika pemberontakan ini sebenarnya adalah rencana dari Damian yang ingin membalas dendam dan telah mengatur siasat nya pada Arsyad dengan mengorbankan nya untuk bertarung melawan Queen Mafia yang tentu saja sudah ia ketahui kehebatannya.


"HENTIKANLAH OMONG KOSONG MU ITU!!" teriak Damian mengangkat katanya mengarahkan tepat didepan wajah Ana karena merasa dipermainkan.


Aksi nya membuat orang disekitar menjadi waspada karena takut katana laki laki itu mengenai wajah Queen mereka.


Saat ini tak ada lagi pasukan para pemberontak, yang tersisa hanyalah pasukan Ana dan para tangan kanannya termasuk Damian seorang diri.


||Kembali ke topik||


"Jelas-jelas aku melihat dengan mataku sendiri jika mobil Arsyad lah yang menabrak kedua orang tua ku pada malam itu" ucap Damian dengan mata memerah menahan rasa sakit yang ia tahan selama ini.


"Bukankah yang kau lihat hanyalah mobil nya dan bukan orang yang mengendarai nya??" tanya Ana dengan tatapan tajam.


"A-aku"


Damian tak tahu harus menjawab seperti apa lagi, karena pada kenyataannya ia hanyalah melihat mobil yang telah menabrak kedua orang tuanya dan tak tahu siapa orang yang tengah mengendarai mobil tersebut.


Katana yang tadi ia arahkan pada Ana kini sudah kembali diturunkannya.


Melihat itu Ana langsung merogoh sesuatu di kantong celana nya dan langsung ia lemparkan ke arah Damian.


"Kau lihatlah baik-baik rekaman yang ada di hp itu" datar Ana dan mendudukkan dirinya dikursi yang entah sejak kapan telah disediakan oleh anak buahnya.

__ADS_1


"APAAA!!!"


__ADS_2