
"Kau pasti tidak akan menduga jika aku adalah orang yang telah kau khianati" lanjut Ana menyeringai.
Selama ini identitas nya sebagai seorang pemimpin memang tak banyak yang mengetahui nya karena ia yang selalu menggunakan topeng ketika terjadi pertemuan, terkecuali para pasukan khusus dan pasukan elit nya yang memang ia biarkan mengetahui siapa wajah dari pemimpin mereka sebenarnya.
"Kapan kita akan ikut bertarung Queen" tanya salah satu pasukan elit yang menaiki helikopter.
"Tunggu sampai pria itu menampakkan dirinya" datar Ana.
"Baik"
Beberapa menit telah berlalu, pertempuran dahsyat dibawah sana semakin menegangkan, karena banyak sekali korban yang telah berjatuhan, namun itu semua hanya dari pihak pemberontak saja, sedangkan para pasukan Ana tak ada satupun yang terjatuh, bahkan terluka pun tidak ada, sungguh pantas disebut sebagai pasukan khusus dan pasukan elit, mereka semua benar-benar telah terlatih.
Pria yang mereka tunggu-tunggu sampai saat ini masih saja belum menunjukkan dirinya, ataukah ia kini sedang meremehkan kekuatan pasukan Ana? sehingga ia seperti tak berniat untuk ikut terjun kedalam pertarungan.
Karena sudah bosan menunggu, Ana langsung saja mengambil bom waktu yang memang sengaja dibawa nya.
Tanpa basa-basi Ana langsung melempar bom itu ke tengah-tengah pasukan pemberontak dengan waktu bom yang hanya berdurasi 30 detik saja.
"Jangan salahkan diriku, itu semua karena kau yang terlalu memandang rendah kekuatan pasukan ku" gumam Ana datar.
Ia memang sengaja melakukan hal itu untuk segera membuat si dalang menunjukkan batang hidung nya, karena jika tidak seperti itu maka akan membutuhkan waktu lumayan lama baru ia menyadari kekuatan dari pasukan mereka.
Tit.. Tit.. Tit..
"Semuanyaaa!! cepatlah menyingkir, ada bom waktu yang akan segera meledak" teriak seorang anggota pemberontak yang paling awal menyadari bom waktu itu.
Para rekan pemberontak yang lain langsung saja berlari menjauh ketika mendengar ucapan temannya, namun...
Duarrr...
Semuanya benar-benar sudah terlambat, banyak dari anggota pemberontak yang langsung kehilangan nyawanya.
"Apa yang terjadi" pria tampan yang memang tak niat mengikuti pertarungan kini langsung terlihat ditengah-tengah kerumunan para pemberontak.
"Akhirnya" seringai Ana karena umpan yang tadi ia lemparkan kini telah dilahap oleh sasaran yang telah ditunggu-tunggunya.
__ADS_1
"Turunkan semua helikopter sekarang!"
"Baik Queen"
Angin semakin bertiup dengan kencang ketika sepuluh helikopter mulai mendaratkan dirinya ke tanah kosong yang berada tak jauh dari tempat lokasi pertempuran.
Seketika saja semuanya berhenti dengan pertarungan mereka karena tercengang dengan kedatangan sepuluh helikopter.
"Apa yang kalian semua lakukan, cepatlah lanjut bertarung" teriak pria tampan karena melihat jumlah korban yang semakin banyak akibat mereka yang sedang melamun.
Mendengar teriakan dari bos nya para pemberontak menjadi sadar, namun sudah terlambat karena tebasan dari katana para pasukan khusus dan pasukan elit.
Akhhhh...
Jeritan kesakitan terdengar memilukan di telinga pria tampan.
"Sialan, ini masih terlalu awal jika harus melakukan peperangan" gumam pria tampan mengepalkan tangannya.
Tapi ia benar-benar sudah tak bisa berbuat apa-apa, untuk mundur pun semuanya terasa mustahil karena pertempuran ini terjadi di markas mereka sendiri.
"Bramm.. cepatlah kau bantu mereka" perintah pria tampan sambil berlari ingin memasuki wilayah pertempuran.
Sringg...
Sebuah katana yang sangat tajam tiba-tiba saja diarahkan tepat didepan wajahnya hingga mau tak mau ia harus menghentikan lariannya.
"Ck, siapa yang..."
"Gue!" datar Ana menghentikan ucapan marah dari pria tampan.
"Apa????" melihat siapa orang yang telah menghadangnya, pria tampan membelalakkan matanya terkejut dan merasa heran.
"Ana.. ngapain lo disini? ini bukan tempat yang cocok buat lo, mending lo pergi dari sini sekarang" ucap nya merasa khawatir.
"Cih, tentu saja tempat ini sangat tidak cocok untukku, bahkan kini diriku merasa sangat gatal karena berada disekeliling hama pemberontak seperti kalian" ucap Ana menatap pria tampan sinis.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu Ana, berhentilah membual dan cepat pergi dari sini sekarang"
"Apa hak yang anda miliki untuk mengusir pemimpin kami tuan ARSYAD" ucap Samuel yang dengan sengaja menekan nama dari pria tampan didepannya.
"S-siapa kau? mengapa kau mengetahui namaku dan siapa pemimpin yang kamu maksud kan itu??" tanya pria tampan yang ternyata adalah Arsyad seorang sahabat dari Danny dan teman satu kelas mereka.
Ketakutan mulai dirasakan oleh Arsyad sekarang ini, ia sudah berusaha menutupi identitas asli dirinya yang sebagai seorang Arsyad selama ini, bahkan para pemberontak tak ada satupun yang mengetahui nama dari dirinya, namun pria bertopeng didepannya itu justru dapat mengenalinya dengan sangat mudah, yang ia tau pria itu adalah salah satu dari tangan kanan pemimpin yang dikhianati nya karena melihat dari tampilan topeng yang berwarna biru, ciri khas dari para tangan kanan pemimpin.
"Hahh baiklah, karena kau akan segera menemui raja Yama maka diriku tak perlu lagi menutupi identitas penting ini" ucap Samuel melepaskan topeng yang terpasang di wajahnya.
"Apaa???" lagi dan lagi Arsyad harus dibuat terkejut ketika mengetahui siapa orang dibalik topeng biru itu.
"Sialan! siapa sebenarnya kalian ini? dimana pemimpin jal*ng kalian itu hah?" teriak Arsyad.
"Dasar bodoh! apakah matamu itu buta sehingga tak melihat keberadaan Queen kami disini" bentak Samuel menatap tajam.
"Jaga ucapanmu sialan!" teriak salah satu pasukan elit yang mendengar ucapan kasar dari Arsyad.
"Siapa yang kau maksud? sungguh tidak mungkin bukan jika gadis lemah itu yang menjadi pemimpin kalian" ucap Arsyad menantang.
Syutt..
Trangg...
Pedang yang berada ditangan Asryad terlempar sangat jauh karena berusaha menahan tebasan katana yang diberikan Ana.
"Siapa yang kau maksud gadis lemah brengsek" geram Ana berjalan mendekati nya.
"Cih, tentu saja dirimu.. seharusnya kau merasa beruntung karena sudah disukai dan diberi perhatian olehku Ana, namun sepertinya semua itu sangat kurang sehingga kau menjadi gila dan mengaku-ngaku seperti ini" ucap Arsyad yang masih menyangkal kebenaran.
"Ternyata masih saja belum berubah, kau tetap saja bodoh dan serakah" ucap Ana dengan tatapan menghina.
"Diamlah Ana, kau itu hanyalah gadis polos yang tak tahu apa-apa, jadi lebih baik kau pergi saja dari sini dan jangan mengganggu pertempuran ku"
"Cih, seharusnya kau lah yang diam, telingaku sudah sangat sakit mendengar segala ocehan dan bualan mu yang sangat tidak penting itu"
__ADS_1
"Ck, minggirlah" ucap Arsyad mendorong bahu Ana, ia sama sekali tak memikirkan lagi perasaan cinta yang telah disimpan nya selama ini kepada Ana, tidak-tidak bukan perasaan cinta yang tepat untuk apa yang telah dilakukan nya selama ini, semua itu hanyalah obsesi gila yang dimilikinya karena tak bisa menjadikan Ana jadi sebagian hidupnya.