Gadis Misterius

Gadis Misterius
[Bab 10]


__ADS_3

Tangan Damian bergetar hebat ketika mengetahui siapa sebenarnya pembunuh asli dari kedua orang tuanya.


Matanya memerah menahan amarah dengan tangan yang mengepal dengan sangat kuat.


"DANNY WASHINGTON" tekannya menggertak gigi dengan sangat keras.


Ia benar-benar tidak menyangka jika pembunuh asli kedua orang tuanya adalah sepupu nya sendiri.


Orang tuanya yang perempuan memanglah adik dari papahnya Danny, oleh sebab itulah mereka menjadi saudara sepupu dan mengalirkan darah yang sama didalam nadi mereka, namun tak banyak orang yang mengetahuinya karena sifat keduanya yang terbilang berbanding terbalik, si Danny yang begitu famous sedangkan Damian yang begitu pendiam dan sangat culun.


Bertahun-tahun ia menyusun siasat balas dendam untuk menghancurkan orang yang ia pikir telah menjadi pembunuh kedua orangtuanya dengan sangat tragis, kini justru hanyalah menjadi sia sia saja.


Dendamnya kepada Arsyad tentu saja ia gunakan dengan sebaik mungkin, ia yang mengetahui jika sebenarnya Arsyad sedang mati-matian mencari keberadaan Ana pun memanfaatkannya dan menghasutnya menjadi pemimpin pemberontak dengan jaminan akan mengatakan keberadaan Ana saat ini.


Arsyad yang memang sudah prustasi pun langsung menyetujui nya saja dan tak berfikir apa tipu muslihat dari seorang Damian yang menyamar menjadi bram.


"Jadi selama ini aku hanyalah mainan saja?" gumam Arsyad menatap Damian tak percaya.


Pantas saja Damian selalu bergerak sendiri dibelakang nya dan akan selalu melawan apa yang diucapkannya.


"Cih, kau baru mengetahuinya" sinis Samuel yang juga tak menyangka jika Arsyad sebodoh itu hingga bisa ditipu oleh orang seperti Damian.


"Maafkan kesalahan saya Queen" Damian berlutut dihadapan Queen Ana, matanya sungguh tak berani sekarang untuk menatap orang yang berada didepannya.


Sungguh! jika bisa pun ia ingin berlari sekarang, menyinggung sosok kejam seperti Ana bukanlah hal yang tepat buat orang seperti dirinya, ia benar-benar tak menyangka jika orang yang ia jadikan umpan untuk Arsyad justru Queen Mafia nya sendiri dan malah berakhir seperti sekarang.


"Queen" panggil Damian mendongakkan kepalanya bingung, karena tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Ana atas permintaan maaf nya.


Damian melototkan matanya terkejut ketika menyadari tak ada lagi sosok Ana didepannya, kepalanya mengarah kesana kemari mencari keberadaan sosok penting itu.


Crashhhhh..


"Arghhhh..." Damian berteriak dengan sangat keras ketika punggung nya tiba tiba disayat oleh sesuatu yang tajam dan begitu dingin.


Crashhhhh..


"Arghhhh.." "Hh-hentikann, ku mohon" pinta Damian bersujud memohon ampun, bohong sekali jika ia tidak merasa kesakitan sekarang.


"Hanya orang bodohlah yang akan memaafkan bedebah seperti dirimu" ucap Ana dengan raut wajah yang sangat dingin.


Pemandangan seorang Ana sungguh begitu menyeramkan sekarang, bagai seorang iblis yang tengah haus darah.


Bagaimana tidak? tangan mungil yang mulus dan bersih itu kini sedang memegang katana yang dipenuhi dengan darah segar dari Damian.

__ADS_1


Pakaian nya pun tak luput dari cipratan darah yang sangat menggugah seleranya.


"Kau pikir dengan mengetahui kau hanyalah salah sasaran maka diriku akan mengampuni mu??"


"Hahahaha, hanya dalam mimpi mu saja"


Crashhhhh..


Dengan tak berperasaan ia memenggal tangan kiri Damian hanya dengan sekali tebasan.


"A-apa m-aksud ucapan mu" bata Damian berusaha bertanya dengan sekuat tenaga nya yang tersisa.


"Sampah seperti dirimu sungguh tak tahu malu" sarkas Ana menendang keras kepala Damian hingga mengenai mata sebelah kirinya dan mengeluarkan darah yang begitu banyak.


"Tanpa Arsyad kau itu hanyalah seorang culun yang tidak berani berbuat apa-apa"


"Mengandalkan orang lain hanya untuk ambisi mu, sungguh benar-benar memalukan"


"Kau pikir aku tak mengetahui apa niat mu yang sebenarnya??"


"Dasar pengecut!!"


Kata demi kata yang Ana ucapkan membuat Damian langsung mengerti apa maksud dari ucapan Ana.


"Huhh.. ternyata kebenaran itupun telah kau ketahui rupanya" Damian tiba-tiba saja berdiri dengan seringai an dibibir nya.


"Brengsek! apa yang kau lakukan" teriak Samuel membelalakkan matanya terkejut.


"Queen, kau tenanglah!" teriak nya lagi khawatir.


"Cihh, sebentar lagi aku akan menjadi orang yang sangat berkuasa.. tunggu saja pembalasan dariku" ucapnya kemudian menarik pelatuk dengan begitu santai.


Dor..


Crashhh..


"Uhukk.. kauu" Damian memuntahkan seteguk segar karena tusukan katana yang berada di jantung nya, sedangkan peluru nya entah menyasar kemana tak ada yang mengetahuinya.


"Matilah kau brengsek!" teriak Arsyad memperdalam sayatan katana nya hingga Damian menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali.


Brughh..


Damian langsung jatuh ambruk ke tanah dengan mata yang masih terbuka.

__ADS_1


"Ana.. apakah kau tak apa apa" tanya Arsyad khawatir.


"Hm" dehem Ana menatap nya datar.


"Kenapa dengan jawaban mu itu?? apakah kau marah padaku?" tanya Arsyad tak mengerti, ia sudah menyelamatkan nyawa wanita itu, tapi kenapa justru mendapatkan respon seperti dia adalah orang yang bersalah.


"Ck! kau telah mengganggu permainan nya" ucap Samuel menatap malas Arsyad.


"Sia-sia aku bersandiwara seperti tadi, ternyata ujung-ujungnya malah dihancurkan oleh mu" sambung Samuel.


"APAAA!!" Arsyad dibuat tak mengerti oleh pikiran orang orang yang ada disekitar nya ini.


Bagaimana mungkin disaat denting seperti sekarang mereka justru bermain.


"Kembali ke Markas" perintah Ana.


"Baik Queen" serempak para pasukan menundukkan kepalanya hormat dan langsung kembali ke markas dengan transportasi masing-masing.


"Terus, aku gimana? Samuel? Ana?" tanya Arsyad linglung tak tahu harus seperti apa.


"Terserah kau" acuh Samuel berjalan santai menuju mobil yang dikendarainya, sedangkan Ana sudah kembali memasuki Helikopter nya dan siap untuk berangkat.


"Samuel sialannn! tunggu kedatangan ku" teriak nya berlari menuju Samuel dan langsung masuk ke dalam mobil nya.


"Merepotkan" kata Samuel pelan.


"Apa kau bilangg???" emosi Arsyad yang ternyata mendengar apa yang Samuel ucapkan tadi.


"Tidak ada" acuh Samuel menjalankan mobil nya.


"Cih, jika saja kau mengucapkan kembali kata yang tadi, maka aku sama sekali tak akan memaafkan mu" ucap Arsyad yang tak merasa takut sama sekali dengan Samuel, karena jika dibandingkan maka kemampuan mereka berdua hanya berbeda tipis saja, oleh sebab itulah Damian memanfaatkan kemampuan dari Arsyad agar dapat mengambil kekuasaan Queen Mafia dan akan membunuhnya setelah berhasil.


"Orang bodoh seperti dirimu tak pantas mengancam ku" ucap Samuel tak perduli dengan ucapan Arsyad.


"Kauuuuu!!!!" geram Damian yang sudah siap dengan ancang-ancang nya untuk melemparkan bogem mentah ke wajah Samuel.


"Hentikan atau mobil kalian ku ledakkan" ancam suara seorang wanita yang tiba-tiba saja berbunyi di mobil modifikasi itu.


Glekk.. dengan susah payah keduanya menelan saliva ketika mendengar ancaman itu.


"Hehehe ga kok, kami tadi cuman bercanda" cengir Arsyad membuat Samuel menatap nya geli.


"Menjijikkan" Samuel menggosok pergelangan tangan nya merinding melihat kelakuan Arsyad.

__ADS_1


"Kauuu"


"Ekhemmm" dehem wanita itu kembali membuat keduanya langsung diam tak bersuara.


__ADS_2