
Pagi ini seperti biasa Laila akan mengerjakan segala pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kampusnya. Laila masih memikirkan ucapan Bu Nina kemarin tentang Raksa yang calon suaminya.
"Kenapa coba harus bilang calon suami aku segala? Padahal kan Dia memang seharusnya bertanggung jawab padaku" Laila terus menggerutu sambil menata makanan di atas meja makan
"Ekhem" suara deheman membuat Laila terperanjat kaget dan langsung membalikan badan nya
"Tuan" kata Laila gugup sambil menundukan kepalanya
"Berani sekali kau mengumpat di belakang ku" Raksa menatap tajam pada Laila
"Ma..maaf Tuan, aku tidak bermaskud" ucap Laila semakin gugup
"Benarkah?" mendekat kan wajah nya ke arah Laila membuat hembusan nafas Raksa bisa terasa oleh Laila
"Lalu apa maksud dari ucapan kau barusan yang aku harus bertanggung jawab padamu?" tanya Raksa masih di posisi yang sama
"It..itu karna aku.. hanya..." Laila gugup dan bingung harus bicara apa
"Hanya apa?" tanya Raksa semakin mendekatkan wajahnya
'Berhenti Tuan, dua centi lagi bibir kita akan bersatu' Laila
'Cepat cari alasan Laila' Laila
"Hei aku bertanya padamu" posisi Raksa sudah menjauh dari Laila dan cukup membuat Laila lega.
__ADS_1
"Hanya.... ngasal aja berkata seperti itu Tuan " kata Laila
'Percayalah ayo percayalah dan jangan menanyakan apapun lagi' Laila
"Benarkah?" tanya Raksa menyelidik
"Iya Tuan" jawab Laila cepat
Raksa mengangguk dan langsung duduk di kursi meja makan. Tapi fikiran nya masih melayang pada ucapan Laila tadi. Entah mengapa Raksa merasa kalau Laila menyembunyikan hal besar padanya.
"Aku berangkat ke kampus dulu ya Tuan " pamit Tania setelah mengambil tasnya di dalam kamar
"Kau berangkat sama siapa?" tanya Raksa dingin
"Saya naik ojol Tuan" jawab Laila singkat
"Tidak usah Tuan, saya bi.."
"Jangan membantah" Raksa berlalu pergi ke kamar nya untuk mengambil kunci mobil dan tas kerja nya
"Ayo" Raksa menarik tangan Laila menuju mobilnya
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan keduanya hanya diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
Sesampainya di kampus Laila langsung keluar dari mobil setelah mengucapkan terimakasih pada Raksa.
__ADS_1
"Kenapa wanita ini susah sekali untuk di tebak. Hidup nya sangatlah misterius. Apa yang terjadi sebenarnya sama Dia" gumam Raksa kembali melajukan mobilnya menuju kantor
...----------------...
Malam harinya Laila sedang duduk di bangku taman sambil memegangi perutnya yang teras tidak enak. Sudah beberapa kali Dia bolak balik kamar mandi sejak pulang dari kampusnya. Entah kenapa perutnya terasa sangat mual hari ini.
"Ada apa denganku? Apa mag ku kambuh ya" gumam Laila
Laila memejamkan matanya menikmatai semilir angin malam yang terasa sangat menenangkan.
'Ayah Ibu, aku merindukan kalian. Kenapa hidupku seperti ini. Tidak kah bahagia mau menghampiri ku. Hidupku hancur sekarang, aku capek jika harus terus berpura pura tegar. Aku lelah'
Laila meneteskan air matanya, hidup nya hancur setelah tragedi malam itu. Tak menyangka hidupnya akan seperti ini. Di usianya yang baru 12 tahun, Laila terpaksa harus hidup mandiri karna kedua orang tuanya meninggal karna kecelakaan.
Terpaksa Laila harus tinggal di panti asuhan dan bekerja di usia dini untuk mencari biaya sekolahnya karna panti asuhan tidak punya biaya jika harus membiayai sekolahnya.
Dimana rumahnya? Kenapa Laila harus tinggal di panti asuhan? Itu karna orang tua Laila hanya seorang pembantu dan supir.
Selama ini keluarganya tinggal di rumah majikan nya dan setelah orang tua Laila yang meninggal akibat kecelakaan, majikan nya itu malah menyalahkan orang tua Laila karna waktu itu mereka sedang mengantar anak mereka ke sekolah nya. Untung nya anak majikan nya itu selamat dari kecelakaan itu.
Sejak itulah Laila memilih tinggal di panti asuhan karna Dia tidak mau terus terusan di salahkan oleh majikan nya.
Di sisi lain Raksa menatap bingung pada Laila yang sedang duduk sambil menangis di bangku taman.
"Kenapa Dia menangis di malam hari seperti ini"gumam Raksa
__ADS_1
Laila beranjak dari duduk nya dan berjalan ke dalam rumah. Raksa pun segera masuk kembali ke kamarnya. Takut ketahuan kalau Dia mengintip Laila yang sedang menangis di taman.