
Tok tok tok
"Assalamualaikum " Kini mereka sudah berada di depan kontrakan Alifita dan Alisya.
"Waalaikumsalam " Alisya membukakan pintu
"Kenapa sudah pulang dhe?" tanya Alisya yang masih menunduk
Deg
Saat Alisya mendongakan kepalanya matanya langsung melihat sosok yang selama ini dirindukan nya. Alisya tak bisa berkata kata, matanya sudah berkaca kaca. Perasaan nya campur aduk saat ini.
Vano menatap Alisya dari atas sampai tatapan nya berhenti di perut Alisya yang membuncit. Mata Vano terasa panas dan siap akan mengeluarkan cairan bening.
Alifiya dan Kevin pun hanya diam dengan fikiran masing masing. Mereka belum ada yang mau bersuara sampai Vano memberanikan diri memeluk Alisya.
"Aku merindukanmu sayang" ucap Vano parau menahan tangis nya
Alisya hanya diam didalam pelukan Vano. Tangisnya pun pecah Alisya terisak dipelukan suaminya. Dada nya terasa sesak. Alisya tak mampu bicara lidahnya kelu, tenggorokan nya terasa kering.
"Kita masuk dulu aja Kak" kata Alifiya mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Mereka pun masuk, Vano sama sekali tak melepaskan genggaman tangan nya pada istrinya itu. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Alifiya segera membuatkan mereka minum.
"Sayang aku mohon kamu ikut aku pulang ya. Kita bicarakan semuanya baik baik" kata Vano menatap istrinya yang selama ini dirindukan nya sampai hampir membuatnya gila.
"Aku belum siap bertemu Papi kamu" kata Alisya dengan suara parau
"Gini aja kita pulang ke apartemen aku oke" Vano masih berusaha membujuk istrinya
Alisya diam masih memikirkan keputusan apa yang akan Dia ambil saat ini. Alisya tahu kalau Vano tidak terlibat bahkan tidak tahu apa apa dengan pembunuhan kedua orang tua nya. Alisya tak mungkin seegois itu hingga menyalahkan orang yang tidak bersalah. Apalagi Dia harus memikirkan nasib anaknya jika sudah lahir nanti.
"Sayang.. Aku mohon pulang lah bersamaku" Vano mencium tangan Alisya yang sedari tadi di genggam nya.
Alifiya langsung bingung mendapat tatapan dari Vano. Dia juga tak mungkin terus terusan lari dari kenyataan. Alifiya tak jauh berbeda dengan Alisya yang tak bisa egois dalam mengambil satu keputusan.
"Fiya kamu mau kan ikut kita pulang?" tanya Kevin yang mulai membujuk kekasihnya itu
"Kita mulai dari awal lagi sayang. Aku minta maaf atas kesalahan Daddy pada keluargamu. Jika kamu mau aku akan menjebloskan Daddy ke penjara" kata Kevin mantap
Selama ini Kevin belum meminta penjelasan pada Daddy nya. Dia terlalu sibuk untuk mencari kekasihnya yang menghilang. Jujur Kevin sangat marah pada Daddy nya yang lari dari tanggung jawab. Kevin merasa Daddy nya sangat lah pengecut karna masih bisa hidup bebas sementara Hendika dan teman nya di penjara. Seharusnya Dia juga merasakan hal yang sama.
"Aku kerja disini dan kalau Kak Syasya mau kembali ke kota A pergi aja Kak. Aku masih mau disini" kata Alifiya tegar
__ADS_1
"Kaka gak akan pergi kalau kamu gak ikut dhe"kata Alisya berjalan dan duduk di samping adiknya.
Tiba tiba Alifiya memeluk kaka nya. Dia terisak di pelukan kaka nya. Alifiya cape harus terus berpura pura tegar di depan semua orang. Di balik sikapnya yang ceria dan tegar sebenarnya Alifiya sangat rapuh. Hidup yang Dia jalani terlalu sulit.
"Aku bingung kak. Aku masih belum bisa melupakan semuanya. Gimana dulu penjahat itu menembakku tanpa ada rasa kasian sedikit pun dan aku masih ingat jam tangan yang di pake penjahat itu. Dia adalah Daddy nya orang yang selama ini aku cintai kak" Alifiya mengeluarkan uneg uneg nya yang selama ini di pendamnya.
Kevin yang mendengar ucapan Alifiya merasa dada nya sesak. Matanya terasa panas dan memerah. Kevin masih tak menyangkan kalau yang menembak dan membunuh kedua orang tua kekasihnya adalah Daddy nya sendiri. Kevin mengerti apa yang kekasihnya rasakan. Alifiya tak setegar yang Dia lihat selama ini. Alifiya begitu rapuh.
"Kaka ngerti dhe. Jika kamu belum siap kembali ke kota A. Kaka akan tetap disini menemani kamu sayang " Alisya mengelus kepala adiknya itu.
" Oke kalau begitu aku kasih kalian waktu berfikir dulu karna kita disini juga masih lama" kata Vano memberi saran. Dia bertekad akan terus membujuk istri dan adik ipar nya.
"Be aku akan selalu menunggu kamu memaafkan aku dan mau kembali padaku" hanya itu yang dapat Kevin katakan dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan ini Mas" kata Alifiya yang sudah melepaskan pelukan nya.
"Kita akan memikirkan dulu apa keputusan yang akan kita ambil" kata Alisya
"Baiklah. Kita akan setia menunggu kalian. Tolong beri kita kesempatan untuk menjelaskan dan memperbaiki semuanya" kata Vano
"Aku akan selalu menunggu mu Fiya" kata Kevin lagi dengan suara parau.
__ADS_1