Gadis Misterius

Gadis Misterius
Part 33


__ADS_3

Kehidupan seorang manusia bisa berubah dengan seiring nya waktu. Seperti sewaktu kecil kita menangis kencang supaya keinginan kita dipenuhi. Tapi setelah besar kita akan menangis diam diam supaya keinginan kita tidak ada yang mengetahui. Kita pasti bisa mengerti keadaan orang tua kita jika kita sudah beranjak dewasa.


Itulah kehidupan Alisya sekarang. Dulu Dia mempunyai keluarga yang harmonis. Tapi semuanya berakhir dan Alisya pun harus menerima kenyataan bahwa Dia harus hidup seorang diri. Alisya mencoba menutupi kesedihan nya dengan menjadi perempuan penuh misteri.


Hingga saat hari ini Alisya bisa merasakan kembali kehangatan keluarga. Hidupnya kembali normal tanpa rasa takut lagi karna sekarang Dia mempunyai suami yang akan melindungi nya setiap waktu. Bahagia itulah kata yang mencerminkan perasaan nya saat ini.


"Kamu ke kantor sekarang sayang?" tanya Alisya seraya menyiapkan pakaian suaminya.


"Iya sayang , Tadinya males banget kerja hari ini "


Vano berjalan menghampiri Alisya lalu memeluknya dari belakang. Menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Alisya menghirup aroma istrinya yang terasa menenangkan.


"Kenapa males hmm?" tanya Alisya lembut


"Karna aku mau bersama kamu terus" kata Vano manja


"Dasar... Cepat mandi sana" Alisya membalikan badan nya dan mendorong tubuh Vano ke kamar mandi.


"Iya honey aku mandi dulu " Vano pun masuk ke dalam kamar mandi setelah mengecup bibir istrinya.


"Dasar.. Cari kesempatan banget" Alisya menggerutu tapi bibirnya tersenyum


.................


"Mas bangun kamu kan kerja hari ini ayo kita pulang" Siska menggoyang goyangkan tubuh Reno.


"Hmmm. Kita gak perlu pulang dulu sayang. Aku berangkat dari sini saja" kata Reno masih dengan mata terpejam


"Tapikan kamu gak bawa baju untuk kerja. Masa iya pake baju kemarin" Siska bingung


"Sayang kamu coba buka lemari deh" Reno menunjuk ke arah lemari yang ada di kamar itu.


Siska pun berjalan ke arah lemari dan membuka nya. Mata nya langsung terbelalak melihat pakaian laki laki yang tertata rapi mulai dari pakaian santai hingga pakaian kerja sampai daleman pun ada disana.


"Sayang ini" kata Siska meminta penjelasan pada Reno


Reno pun bangun dan berjalan ke arah istrinya lalu memeluk Siska dari belakang.

__ADS_1


"Ini baju aku sayang. Dulu aku dan Kevin sering tinggal disini " jelas Reno


"Ohh. kalian emang kaya saudara ya" Siska tersenyum dan menoleh ke arah Reno lalu mencium pipi nya.


"Nakal kamu ya" Reno menggelitik pinggang Siska.


"Sayang setop... Aku geli tahu" Siska mencoba menahan tangan Reno yang menggelitik nya.


"Ya udah aku mandi dan siap siap dulu ya" Reno menghentikan aksinya


"Iya. Aku juga mau keluar dulu bantuin Alisya bikin sarapan" kata Siska


Reno pun masuk ke kamar mandi dan Siska berjalan keluar kamar menuju dapur.


..............


Setelah selesai sarapan mereka pun berpamitan kepada Alisya dan Papi Hendarto. Kini tinggal Hendarto dan Alisya yang berada di ruang keluarga. Suasana menjadi canggung.


"Sya kamu selama ini tinggal dimana sebelum menikah dengan Vano?"tanya Papi memecah keheningan diantara mereka.


"Alisya tinggal di kosan Pi. Kenapa Papi tanya itu?" tanya Alisya sedikit heran


Alisya hanya mangut mangut mengerti. keheningan kembali lagi diantara mereka sekarang.


"Pi Alisya ke kamar dulu ya" Alisya beranjak dari duduk nya


"iya" Papi tersenyum sambil mengangguk


Alisya pun berlalu ke kamar nya. Bingung juga harus berdua bersama Papi mertuanya karna Alisya belum terlalu mengenal mertuanya itu.


Setelah Alisya pergi Hendarto hanya melamun. Memikirkan sesuatu yang mungkin hanya Dia yang tahu apa itu. Sesekali Hendarto mendesah memejamkan matanya sambil menyenderkan kepala nya di sandaran sofa.


Tiba tiba dering ponsel menyadarkan Hendarto dari lamunan nya. Hendarto segera mengangkat telepon itu.


"Hallo"


"Hallo Tuan Hendarto saya memberikan kabar bahwa saudara anda sekarang sakit. Tapi anda tidak perlu khawatir kami sudah memanggil dokter kesini" jelas seseorang disebrang sana.

__ADS_1


"Baik saya segera kesana" jawab Hendarto


"Baik Tuan " sambungan telepon pun terputus.


Hendarto pun segera bersiap dan pergi ke tempat tujuan nya. Dia membawa mobil sendiri karna Hendarto belum bisa memberi tahukan siapa siapa dulu untuk saat ini. Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan nya.


Sesampainya di tempat tujuan Hendarto langsung masuk dan bertanya pada petugas yang ada disana. Lalu Hendarto diantarkan ke tempat seseorang yang ingin ditemuinya.


"kau kenapa?" tanya Hendarto


"Kenapa kau kesini?" malah balik bertanya


"karna aku peduli padamu" jawab Hendarto


"Hahaha. Peduli kau bilang kalau memang kau peduli kau tak akan melakukan itu padaku" jawab orang itu penuh penekanan


"Aku kan sudah minta maaf padamu. Kenapa kau masih dendam padaku?" tanya Hendarto sedih


"Karna semuanya gara gara kau. Hingga aku kehilangan semuanya anak dan istriku" teriak orang itu penuh emosi


"Ku mohon maafkan lah aku " Hendarto berurai air mata


"Aku menyesal" tambah nya lagi


"Percuma kau menyesal bahkan sekarang kau tak bisa mengembalikan anak dan istriku" bentak nya pada Hendarto


"Kau salah aku masih bisa mengembalikan anak mu. " jawab Hendarto lemah


"Apa maksudmu?" tanya orang itu bingung


" Anak mu masih hidup. Sekarang Dia bersamaku dan keadaan nya baik baik saja" jelas Hendarto yang tak bisa menutupi kebenaran nya.


"Benarkah yang kau bilang. Apa kau tidak membohongiku" antusias


"Tidak. Maka cepatlah kau keluar dari sini jika kau mau menemui anakmu" kata Hendarto menyemangati


"Baiklah"

__ADS_1


Setelah perbincangan itu Hendarto pun pergi dari ruangan itu.


__ADS_2