Gadis Misterius

Gadis Misterius
Part 55


__ADS_3

Setelah pembicaraan waktu itu di rumah Siska. Kini semuanya kembali normal Satya selalu ikut bergabung jika sedang ada acara berkumpul dimana pun.


Alisya dan Vano sedang berada di kamar mereka. Seperti biasa Vano selalu memeluk istrinya sambil duduk bersandar di tempat tidur.


"Sayang hari ini aku mau ke rumah Papi ada yang mau aku bicarakan sama Dia " kata Vano hati hati


"Pergilah tapi maaf aku belum bisa ikut dengan mu" kata Alisya


"Apa kamu masih marah sama Papi sayang?" tanya Vano


Alisya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Vano.


"Tidak. Aku kan sudah bilang kalau aku sudah ikhlas dan memaafkan semuanya. Tapi hari ini aku ada janji sama Siska dan Fiya mereka mengajak ku untuk membantu memilih konsep pernikahan Fiya. Karna Kevin menyerahkan semuanya pada Fiya" kata Alisya


"Oh ya sudah kalo gitu. Kamu jangan sampe kelelahan ya. Kalo cape istirahat jangan memaksakan" kata Vano perhatian


"iya sayang" kata Alisya tersenyum


.................


Vano telah sampai di rumah Hendarto. Kini mereka telah duduk di sofa ruang tamu. Keduanya masih diam membisu sebelum seseorang datang dan masuk menghampiri mereka.


"Ada apa kalian mengundangku?" tanya Satya datar dan langsung duduk di depan mereka.


"Tenang dulu Bang" kata Vano yang sudah melihat aura dingin dari abang nya.


"Langsung saja pada intinya" kata Satya dingin


Hendarto hanya bisa menghela nafas melihat sikap Satya padanya. Ini adalah pertama kalinya Satya menemui nya kembali setelah kejadian waktu itu. Jika bukan Vano yang memaksa mungkin Satya tidak akan mau mendatangi rumah ini lagi.

__ADS_1


"Sat Papi minta maaf sama kamu. Papi mohon maafkan lah Papi Sat" kata Hendarto yang sudah berlinang air mata


"Papi menyesali semuanya Sat. Papi mohon" kata Papi sesenggukan


"Bang cobalah lo buka hati lo untuk memaafkan Papi. Lo gak liat gimana Alisya dan Alifiya yang bahkan lebih sakit dari pada lo aja masih bisa memaafkan orang yang telah menghancurkan keluarga nya" kata Vano membujuk Satya


Sebenarnga Vano juga sangat marah pada Papi nya. Tapi saat Vano melihat ketulusan dari istrinya dan adik ipar nya membuat Vano sadar bahwa dendam tidaklah membawa kebaikan untuk hidup nya.


Satya hanya terdiam mencoba mencerna semua kata kata Vano. Sebenarnya Satya juga tak mau terus terusan membenci Papi nya, apalagi Papi nya lah yang sudah membesarkan Satya selama ini. Papi nya tak pernah membeda bedakan antara Satya dan Vano membuat Satya tak pernah sedikit pun menyangka kalau Dia bukan lah anak kandung Papi nya.


"Papi mohon Satya.. Maafkan lah Papi" kata Hendarto lagi masih dengan berlinang air mata.


Satya menarik nafas dalam lalu menghembuskan dengan berat.


"Baiklah Satya akan memaafkan Papi tapi Satya punya permintaan pada Papi" kata Satya masih dengan ekspresi datar


"Satya ingin bertemu dengan Papa nya Satya" kata Satya


Hendarto tersenyum lalu mengangguk kan kepala nya.


"Baiklah Sat. Sebenarnya sudah lama Papa mu ingin bertemu dengan mu. Kalo gitu sekarang saja kita pergi temui Papa mu" kata Hendarto semangat


"Baiklah ayo kita pergi sekarang " kata Satya dan berdiri dari duduk nya


Mereka pun langsung pergi menuju ke penjara tempat Hendika di penjara. Mereka sengaja pergi dengan satu mobil dan tidak membawa mobil masing masing.


Sesampainya disana Hendarto langsung berbicara pada petugas untuk meminta izin bertemu dengan Hendika. Namun jawaban petugas itu membuat mereka terkejut.


"Maaf pak sekarang tahanan yang bernama Hendika sedang berada di rumah sakit karna Dia mengalami muntah darah" jelas petugas itu

__ADS_1


"Apa? kenapa kalian tidak menghubungiku hah?" teriak Hendarto emosi


"Pak Hendika sendiri yang melarang nya. Maafkan kami" kata petugas itu menunduk takut


"Di rumah sakit mana Papa ku dirawat?" tanya Satya


"Di rumah sakit Marquez hospital" kata petugas itu


"Baiklah terimakasih. Ayo Van, Pi kita kesana sekarang" ajak Satya


Mereka pun langsung berlari keluar dan segera masuk ke dalam mobil. Di perjalanan Satya dan Hendarto terlihat sangat gelisah.


Mereka telah sampai di rumah sakit Marquez hospital. Sekarang mereka sedang berlari menuju ruangan ICU yang sudah di beri tahukan oleh perawat tadi. Dari kejauhan mereka sudah melihat 2 orang polisi sedang duduk di ruang tunggu.


"Bagaimana keadaannya ?" tanya Hendarto pada polisi setelah mereka sudah berada di hadapan kedua polisi itu.


"Masih diperiksa oleh dokter" jawab polisi yang satu


"Kita tunggu saja" kata polisi yang satunya lagi


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menunggu dengan perasaan khawatir dan harap harap cemas.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan. Hendarto dan yang lain nya segera berdiri dan menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya Satya cemas


"Pasien masih keritis. Mohon doanya saja. Sekarang pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat" kata Dokter


Mereka pun mengikuti blangkar yang didorong beberapa perawat ke arah ruang rawat inap. Satya yang baru pertama kali melihat wajah Papa nya tak terasa cairan bening telah menetes ke pipi nya. Dada nya terasa sesak melihat orang tua yang baru Dia ketahui dan sekarang sedang berbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2