Gadis Misterius

Gadis Misterius
Part 56


__ADS_3

Satya memandang sendu pada seorang pria yang terbaring lemah di tempat tidur khusus pasien. Hendarto hanya diam memandang Satya yang belum bersuara dari tadi. Sementara Vano sudah pulang duluan karna khawatir pada istrinya yang sedang hamil.


Tiba tiba mata yang tadinya terpejam mengerjap beberapa kali. Satya yang melihat itupun langsung keluar untuk meamanggil dokter.


Tak lama kemudian Satya datang bersama dokter. Hendarto yang melihat itupun langsung menghampiri Satya.


"Cepat periksa dok" kata Satya pada dokter


Dokter pun mengangguk dan segera memeriksa keadaan Hendika. Satya dan Hendarto hanya menunggu dengan perasaan harap harap cemas. Tak lama kemudian dokter pun datang menghampiri mereka.


"Gimana keadaan nya dok?" tanya Hendarto


"Kita tunggu saja perkembangan selanjutanya. Kalau gitu saya permisi dulu" ucap dokter berlalu pergi


Hendarto dan Satya menghampiri Hendika yang sudah sadar tapi masih lemah. Hendarto menggenggam tangan kaka nya itu dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Bang maafkan aku. Ini adalah anakmu dari Yunia Bang namanya Satya" kata Hendarto


Hendika hanya melihat Satya lalu Dia mengedipkan matanya seolah memberi isyarat agar Satya mendekat. Satya pun segera mendekat dan Hendarto mundur beberapa langkah ke belakang memberi ruang pada Satya.


"Pa ini aku Satya. Papa harus sembuh ya" kata Satya menggenggam tangan Hendika


Hendika tersenyum dan mencoba menggerakan tangan nya ingin menyentuh wajah Satya. Satya yang tahu itu segera mengangkat tangan Hendika dengan tangan nya dan meletakan di pipi Satya.

__ADS_1


"Sa..tya Pa..pa hanya mau kau ja..di a..nak yang nurut sa..ma Pa..pimu. Ma..afkan jika sela..ma ini Papa gak bi..sa membu..at kamu bahagi...a. "kata Hendika terbata dengan nafas yang sudah tersengal sengal


Satya yang melihat Papa nya seperti itu hanya bisa meneteskan air mata. Hendarto pun sudah menangis sedari tadi.


"Hen..dar" panggil Hendika


"Iya Bang" Hendarto segera menghampiri Kakanya itu


"Titip Sat..ya beri..kan lah yang ter..baik untuknya. Carikanlah pendam...ping yang ba..ik untuk Sat..ya. Kalau bisa yang seper..ti Ibu..nya" kata Hendika yang tiba tiba meregang dan mengucapkan kata terakhir.


"Laa Ilaa Ha...Ilaullah" Hendika pun menghembuskan nafas terakhirnya.


"Innalillahi Wainnalillahi rajiun" kata Hendarto sambil meneteskan air mata.


"Pa. Papa bangun Pa jangan tinggalkan Satya. Satya bahkan belum bisa membahagiakan Papa" tangis Satya pecah dan terus memeluk Papa nya yang sudah tak bernyawa.


Dokter pun segera mencopot semua alat medis yang menempel di tubuh Hendika lalu menutup seluruh bagian tubuh Hendika dengan selimut pasien.


Hendarto pun segera memapah Satya keluar dari ruangan itu dan mendudukan Satya di kursi tunggu. Hendarto segera menghubungi Vano dan yang lainnya. Setelah itu Dia kembali duduk disamping Satya yang tak bergeming dan hanya menatap kosong.


Tak lama kemudian Vano dan yang lainnya datang dan segera menghampiri Satya dan Hendarto.


"Bang lo yang sabar Bang. Lo pasti kuat Bang " Vano langsung memeluk Satya yang tak bergeming

__ADS_1


"Lo kuat Sat. Lo harus bisa ikhlasin bokap lo biar Dia tenang. Lo harus buktikan kalo lo bisa dibanggakan sama Dia. Bokap lo pasti udah bahagia di surga bersama nyokap lo Sat" kata Reno menguatkan Satya


"Bang lo pasti bisa ikhlasin Bokap lo. Setidaknya Bokap lo udah bisa lihat lo sebelum Dia meninggal. Lo kuat Bang" kata Kevin


Hendarto sangat terharu melihat persahabatan mereka yang saling menguatkan dan mendukung. Hendarto kembali teringat masa lalu nya yang malah merusak persahabatan nya sendiri dengan kelakuan nya.


"Sat kamu harus kuat, disini masih ada Papi yang akan selalu merawat mu dan menyayangimu" kata Hendarto memeluk Satya.


.................


Semuanya kini telah pulang ke rumah yang dulu sitempati Vano. Semuanya terlihat sedih dan berduka. Pakaian serba hitam dan kaca mata hitam yang dipakai oleh mereka menandakan bahwa mereka sedang berduka. Setelah acara pemakaman selesai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah ini dulu.


Satya masih diam membisu tanpa suara sejak dari rumah sakit tadi. Aura dingin nya kembali menyelimuti diri seorang Satya. Sedih itulah kata yang pas untuk Satya saat ini. Pertama kalinya bertemu dengan Papa nya, ternyata adalah yang terakhir kali Satya melihat Papa nya.


Semuanya hanya memandang sendu ke arah Satya yang duduk di sofa tanpa bergeming, tatapan nya kosong. Satya tak menghiraukan keadaan sekitar.


"Bang jangan kaya gini dong. Lo harus kuat dan bangkit kembali Bang " kata Vano sedih melihat abangnya yang seperti mayat hidup.


"Gue gak nyangka Van kalo pertemuan gue sama bokap kandung gue ternyata adalah pertemuan terakhir" Suara berat Satya yang terlihat sangat terpukul. Tanpa sadar air mata telah mengalir di pipi nya.


"Gue tau Bang, tapi lo harus bisa ikhlas biar Papa lo tenang disana Bang" Vano memeluk Satya mencoba menguatkan abang nya ini.


"Cobalah mengikhlaskan Kak. Karna ikhlas itu bisa membuat kita tidak berlarut larut dalam kesedihan lagi Kak" kata Alisya yang mengerti bagaimana perasaan Satya karna Dia juga pernah merasakan nya.

__ADS_1


"Gue akan coba ikhlas" kata Satya akhirnya membuat semua tersenyum


Jangan lupa Vote nya guys😃😃


__ADS_2