
Hari hari berlalu begitu cepat, kini usia kehamilan Laila sudah memasuki bulan ke delapan. Beruntung nya akhir akhir ini Raksa bersikap lebih baik padanya. Tapi itu semua justru membuat Laila semakin takut kehilangan Raksa. Laila tak bisa membohongi perasaan nya. Dia benar benar sudah jatuh hati pada Raksa. Tapi Laila pun bingung harus bagaimana mengatur perasaan yang tiba tiba hadir di hatinya itu.
Laila duduk di bangku taman sambil mengelus perutnya. Fikiran nya melayang ke saat Laila melahirkan anaknya. Hanya satu yang Laila khawatirkan. Raksa akan memisahkan nya dengan anaknya ini mengingat waktu perjanjian kontrak pernikahan nya tinggal satu bulan lagi.
'Jika nanti Bunda harus ninggalin kamu. Kamu harus nurut sama apa yang Ayah kamu katakan ya sayang. Jadilah anak berbakti'
Laila meneteskan air mata ketika mengingat semuanya akan segera berakhir. Baru saja Laila merasa bahagia karna merasa di perhatikan oleh Raksa. Tapi kini Dia harus menerima kenyataan kalau itu semua hanya sementara.
"Minum dulu susunya" Raksa yang tiba tiba muncul dengan membawa segelas susu ibu hamil untuk Laila
"Terimakasih" Laila mengambil gelas susu itu dan meminumnya sampai habis
Raksa duduk di samping Laila, Dia sedang memikirkan bagaimana caranya menyatakan perasaan nya pada Laila. Sungguh Raksa sangat tersiksa karna harus menahan perasaan nya yang entah sejak kapan sudah tumbuh di hatinya.
"La aku mau bicara" kata Raksa serius
Deg
Jantung Laila tiba tiba berdetak cepat. 'Apa Dia akan membicarakan kontrak pernikahan itu ya'
"Ekhem" Raksa mencoba mengusir kegugupan nya
"Jadi gini La, aku mau membicarakan soal pernikahan kita. Aku mau kalau kita...."
"Tuan nanti saja ya bicaranya, saya kebelet" Laila langsung pergi tanpa mau mendengar dulu ucapan Raksa sampai selesai
'Kenapa Dia kaya takut gitu si'
__ADS_1
Raksa menatap bingung pada Laila yang berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah.
"Aduhhh kenapa aku harus menghindar si? Itu akan tetap terjadi Laila. Selama apapun kau mengundur waktu tapi semuanya tetap akan terjadi"
Laila duduk di tempat tidur dengan berlinang air mata "Aku gak siap..Hiks... Aku mencintainya, kenapa aku harus jatuh cinta padanya"
Karna terlalu lelah menangis Laila pun akhirnya tidur dengan mata yang masih menyisakan air mata.
Ceklek
Raksa masuk ke dalam kamarnya dan berjalan pelan ke arah tempat tidur dimana Laila terlelap disana. Raksa mengusap sayang kepala Laila dan menghapus sisa air mata yang ada di sudut matanya.
"Kenapa kau menangis Sayang" gumam Raksa
Raksa menyelimuti Laila dan mencium keningnya "Istirahat lah sayang, kau terlihat sangat lelah"
Raksa pun pergi keluar dari kamar Laila. Setelah pintu kamar tertutup Laila membuka matanya dan kembali duduk di tempat tidur dengan tangis yang semakin menjadi.
Sementara itu Raksa sedang membuka laci di dalam kamarnya. Raksa mengambil amplop coklat dari dalam laci itu dan membacanya. Ada rasa sakit saat Raksa membaca surat perjanjian pernikahan nya dengan Laila. Bagiamana bisa Dia dulu sekejam itu padahal disini Dia laha yang salah bukan Laila. Tapi Raksa malah menyalahkan Laila.
Sekarang dalam waktu kurang dari 9 bulan sesuai dengan apa yang ada di perjanjian Raksa sudah jatuh cinta pada Laila yang sangat baik dan tulus.
Raksa turun ke bawah sambil membawa surat perjanjian itu. Saat Raksa menuruni tangga ternyata Di sana sudah ada Laila yang sedang duduk melamun di sofa ruang tamu.
"La kenapa?" Raksa segera menghampiri Laila dan Laila pun tersadar dari lamunan nya
"Eh tidak papa Tuan" jawab Laila tersenyum
__ADS_1
Raksa duduk di samping istrinya dan keduanya hanya saling diam tanpa ada yang membuka pembicaraan. Cukup lama mereka diam sampai Raksa berdehem dan membuat Laila menoleh padanya.
"La ini" Raksa menyerahkan amplop berwarna coklat tadi
Laila mengerutkan keningnya dan membuka amplop itu dan seketikan matanya sudah berkaca kaca.
"Ini kan surat perjanjian pernikahan kita" kata Laila mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah
"Iya dan kamu boleh melakukan apapun pada surat perjanjian itu" kata Raksa tersenyum
"Ma...maksudnya?" tanya Laila
"Kau boleh merobek atau bakar surat perjanjian itu. Semuanya sudah berakhir tak perlu ada surat perjanjian lagi " jelas Raksa
Tangis Laila pun tak bisa di tahan nya lagi "Kamu akan menceraikan aku"
Raksa terskejut mendengar ucapan Laila. Bukan itu maksudnya tapi Laila malah salah mengartikan uacpan nya.
Raksa meraih tangan Laila "Bukan begitu La, aku tidak akan menceraikan kamu. Justru aku menyuruh kamu merobek surat perjanjian itu karna aku mau memulai hidup baru dari awal lagi bersamamu"
Laila menatap mata Raksa mencari kebohongan dari sana tapi tidak ada kebohongan disana.
"Aku mencintaimu Laila, maukah kau memulai hidup baru bersamaku? Kita mulai lagi dari awal bersama anak kita nanti" Raksa mengelus perut buncit Laila
Laila menatap tidak percaya pada Raksa "Kau serius?"
"Iya aku sangat sangat serius. Aku telah jatuh cinta padamu" kata Raksa penuh keyakinan
__ADS_1
"Aku juga mencintai mu" jawab Laila
Mereka pun saling berpelukan dengan perasaan bahagia.