Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Elena dalam diri Cellyn


__ADS_3

Cellyn menatap langit yang sudah mulai menggelap dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Dirinya tak paham dengan apa yang dia rasakan, tetapi yang pasti dirinya merasa tak terima dengan kehamilan Hima. Perasaan kecewa, hancur, dan terluka menyatu dalam hatinya.


Tidak mungkin dia menyukai sahabat ayahnya yang sudah jelas usia mereka berpaut sangat jauh. Apa ini karena dirinya dulu dekat dengan Devan? Pikirnya. Namun, jika dirinya pikir-pikir lagi itu tidak mungkin. Kedekatan itu sudah bertahun-tahun lalu.


"Jangan sampe aku jadi pelakor." Helaan nafas dan hembusan angin menyapu wajah Cellyn.


Perempuan berusia 24 tahun itu memilih memasuki kamarnya. Ini sudah larut dan ia harus tidur, jika tidak besok dia akan bangun terlalu siang. Sebelum dirinya pergi tidur, Cellyn menyempatkan diri ke kamar ayahnya. Ia harus memeriksa apakah ayahnya sudah tertidur atau belum.


Perempuan itu tersenyum saat melihat ayahnya masih sibuk dengan pekerjaannya. Cellyn menghampiri Darren yang terlihat sibuk dengan laptopnya, ia memeluk leher Darren erat sembari mencium pipi pria itu sekilas. Darren yang tengah fokus dengan pekerjaannya jelas terkejut.


Darren melirik Cellyn sekilas. Dirinya selalu dibuat terkejut dengan Cellyn, bukan tanpa alasan. Perilaku Cellyn sangat mirip dengan Elena, hal itu selalu berhasil membuat Darren mengingat mendiang istrinya. Dirinya selalu terbayang wajah dan sikap Elena jika melihat Cellyn.


"Papa kenapa belum tidur?" tanya Cellyn lembut.


Lamunan Darren buyar, ia menatap Cellyn dengan lembut. "Bentar lagi ya, Sayang. Papa harus kelarin ini dulu."


"Sekarang! Cellyn gak mau dibantah, nanti kalau Papa sakit gimana?!" tukasnya.


Darren tak menjawab, dia hanya terkekeh pelan. Anaknya ini sangatlah lucu, dia jadi tak rela melepas Cellyn untuk pria mana pun. Darren menarik Cellyn ke depan, dipeluknya erat pinggang anaknya. Posisi mereka saat ini, tentu akan mengundang kesalahpahaman bagi yang melihat.


Cellyn memilih tak berkutik. Dirinya memandang sang Ayah dengan tajam. Darren selalu saja mementingkan pekerjaannya daripada kesehatan. Hal itu selalu berhasil membuat Cellyn kesal.


"Nanti ya, Sayang? Terus kenapa sayangnya Papa belum tidur, hm?" ujar Darren sembari mendongak.


Dia mendelik. "Sekarang! Papa lebih pentingin berkas-berkas itu daripada kesehatan Papa? Mau Cellyn bakar kertas-kertas gak guna itu?" celos Cellyn.

__ADS_1


Mata Darren membulat sempurna. Anaknya baru saja mengatakan kertas-kertas itu tak berguna. Memang selama ini anaknya hidup mewah karena apa? Tuyul? Pikir Darren.


"Okey, Papa ngalah. Papa bakal tidur. Sekarang kamu ke kamar cuci muka, gosok gigi, terus tidur."


Cellyn tak mengidahkan ucapan Darren. Dia melepas lilitan tangan Darren di pinggangnya. Perempuan iru memilih berjalan ke sofa yang berada di ruangan Darren. Ia memandang Darren dengan tajam.


"Enggak. Sekarang Papa tidur."


Darren yang melihat sang Anak tengah merajuk padanya menghela nafasnya kasar. Cellyn akan terus marah padanya jika tak bujuk, anak gadisnya itu memang cukup keras kepala persis sosok Elena. Bahkan tutur kata Cellyn saat memintanya untuk istirahat sama persis dengan apa yang Elena ucapkan padanya.


Darren berjalan menghampiri Cellyn, pria itu berjongkok di hadapan sang Anak. Diraihnya tangan Cellyn lantas digenggamnya dengan sang Anak dengan erat. Dia mendongak menatap Cellyn dengan senyum tulusnya. Cellyn yang melihat senyum tulus Ayah akhirnya luluh, tetapi perempuan itu memilih mempertahankan raut wajah datarnya.


"Maafin Papa, ya? Papa janji bakal jaga kesehatan Papa setelah ini. Maaf ya, Cantik?" tuturnya dengan lembut.


Cellyn memeluk Darren dengan erat. "Cellyn khawatir Papa sakit itu aja, kalau Papa sakit nanti siapa yang bakal jaga Cellyn nantinya?" ucapnya dengan lemah.


...***...


Saat ini, Leon dan Refan tengah berada di salah satu club. Memang memutuskan untuk menghabiskan beberapa gelas wine. Keduanya memang sering pergi ke club, mengingat mereka telah lama menetap di luar Negeri. Kebiasaan itu akhirnya terbawa hingga saat ini.


Dentuman musik yang bergema dan banyaknya wanita yang mendekati keduanya tak membuat niat mereka untuk bersenang-senang padam. Mereka justru mengabaikan perempuan-perempuan yang saat ini tengah menyentuh tubuh mereka dengan sensual. Tergoda? Tentu saja tidak, walau Leon terkenal sebagai player, pria itu bukan tipekal pria yang akan menikmati sembarang perempuan.


"Gila ni p**l**u* udah gak dinotice masih aja ngegoda," celos Leon.


"Murahan," cetus Refan dengan nada beratnya.

__ADS_1


Para wanita itu menghentikan aktivitas mereka saat mendengar ucapan Refan. Kedua wanita itu cukup tertampar dengan perkataan Refan, tetapi itulah faktanya. Mereka memang tak memiliki harga diri lagi, tetapi mereka bisa apa? Nasi sudah menjadi bubur.


Sejatinya tak ada perempuan yang ingin menjadi atau bekerja dengan mengorbakan diri mereka. Namun, sering kali mereka dipaksa keadaan, dipaksa oleh sulitnya keadaan saat itu. Mereka pun pasti memiliki lukanya sendiri, mereka harus siap dipandang rendah dan mungkin para pria akan menjauh dari mereka. Bagaimanapun, pria mencari sosok yang tepat sebagai tempat tinggal calon penerusnya selama sembilan bulan.


...***...


Diana menyesap tehnya dengan pandangan yang tak lepas dari televisi. Wanita itu tengah menonton sinetron yang menjadi favorit warga Indonesia sebuah drama yang mengisahkan kehidupan rumah tangga. Ikatan cinta, siapa yang tidak mengetahui sinetron andalan RCTI itu? Semua orang jelas tahu.


Diana sangat fokus menonton sinetron kesayangannya ditemani oleh setoples keripik ubi. Wanita itu bahkan tak bergerak sama sekali sebelum akhirnya iklan yang ditayangkan muncul. Kelakuan Diana yang satu ini, sering kali mengundang kegemasan sang Anak.


"Ih! Elsa nyebelin banget! Kenapa harus jadi jahat sih?!" omelnya.


Refan yang kebetulan baru pulang dari club, menghela nafasnya kasar melihat kelakuan Diana. Pria itu berjalan menghampiri sang Ibu lantas memeluknya erat. "Itu cuman film, Bu. Santai aja nontonnya," celos Refan.


Diana tak menyahutinya. Wanita itu justru mencubit tangan sang Anak pelan lantas melepaskan pelukan Refan. Refan hanya bisa menghela nafasnya kasar, kelakuan Diana saat menonton televisi cukup membuatnya kesal. Wanita itu sangat fokus pada apa yang ditayangkan oleh channel televisi favoritnya.


"Kamu ke club lagi he?!" ucap Diana sembari melirik anaknya tajam.


Refan menyengir, pria itu menggaruk tengkuknya yang tak merasakan gatal sama sekali. "Hehe ... Maaf, Bu."


Diana tak menjawab, tetapi tatapan mata wanita yang berstatus janda itu telah menjelaskan kekesalannya. Refan hanya bisa menghembuskan nafasnya saat tahu sang Ibu tengah marah. Dirinya hanya minum sebotol wine, tidak lebih. Namun, yang namanya Diana tidak akan peduli itu. Wanita itu tak mau organ tubuh anaknya rusak karena rokok atau minuman keras.


Refan memeluk Diana erat dari samping. Pria jtu mengecup pipi sang Ibu sekilas lantas merebahkan kepalanya di bahu Diana. Dia saat ini tengah mencoba membujuk Diana. Dia tahu, ibunya tak akan bisa terlalu lama marah padanya.


"Kamu ke club lagi, Ibu akan pergi selamanya dari kamu," cetus Diana.

__ADS_1


"Bu, ah! Ucapan Ibu mah. Ya deh, gak minum lagi."


__ADS_2