Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Ikan


__ADS_3

Alika menghembuskan napasnya kasar. Saat ini perempuan itu berada di restoran miliknya bersama kedua sahabatnya. Dengan segala bujuk rayu akhirnya Darren membiarkan istrinya itu pergi dari istana megahnya untuk sesaat. Dia juga merasa kasihan karena telah mengurung istrinya.


"Kamu kenapa, Ka?" tanya Nata sembari memasukan kentangnya ke mulut.


Alika memandang Yesha dan Nata dengan hembusan napas kasar. Melihat tingkah Alika jelas menimbulkan kebingungan bagi Yesha dan Nata sendiri. Keduanya kini saling pandang, berbicara melalui mata. Mereka tak paham dengan sikap Alika sekarang.


"Mau cerita?" tawar Yesha sembari memandang Alika serius.


Dia menghembuskan napasnya kasar. "Re—refan," ucap Alika terbata.


"Refan kenapa?" tanya Nata penasaran.


"Dia percepet pernikahan kita, jadi lima hari lagi," tandas Alika membuat kedua sahabatnya membulatkan matanya.


"APA?!" teriak Nata dan Yesha serempak.


Alika meringgis, perempuan itu menutup wajahnya dengan tangan. Para pengunjung restoran secara serentak melihat ke arah mereka. Alika benar-benar malu sekarang, sekarang perempuan itu paham semalu apa mereka saat Alika berteriak di tempat umum.


"Sssttt . . . Gua malu," desis Alika.


Nata dan Yesha tersadar, keduanya meringgis saat merasakan banyak pasang mata yang menatap mereka. Keduanya tersenyum kaku menatap seluruh pengunjung. Mereka kembali menatap Alika meminta penjelasan dari perempuan itu.


"Jelasin! Itu si Refan kebelet kawin apa gimana?" desak Yesha.


Alika mendelik. "Mulut lo, Sha! Ada Nata, nih! Nanti kalau dia denger gimana?!"


"Lebay," cibir Yesha sembari memutar malas bola matanya. "Nata bahkan kawin sebelum nikah," sindir Yesha membuat Nata meringgis.


"Ish! Kenapa jadi bahas aku? Buruan cerita, Ka!" protes Nata dengan wajah kesal.


Alika menghembuskan napasnya kembali. Dia mulai menjelaskan semuanya pada kedua sahabat, sedangkan sahabatnya menyimak dengan wajah serius. Setelah selesai menjelaskan semuanya, Alika meneguk minumannya hingga tandas. Tenggorokannya terasa kering setelah berbicara panjang lebar.


Nata dan Yesha mengangguk paham. Mereka mengerti kekhawatiran Refan akan diri Alika, laki-laki itu wajar saja takut jika tunangannya dilirik oleh laki-laki lain. Alika tergolong perempuan yang cantik, dia juga perempuan yang cerdas. Sifat uniknya itu menjadi daya tarik tersendiri untuk lawan jenisnya, sifat unik Alika-lah yang membuat Refan jatuh hati pada perempuan itu.


"Itu artinya Kak Refan tulus sama kamu, Ka. Dia takut kehilangan kamu," cetus Nata.


Dia mengangguk. "Bener, harusnya lo seneng," tambah Yesha.

__ADS_1


Alika menghembuskan napasnya kasar. Ucapan sahabatnya ada benarnya. Lagi pula selama ini, Refan selalu memperlakukan dirinya dengan baik, menjaga dirinya dengan baik.


"Leon kemarin nangis karena gua," celetuk Yesha membuat sahabatnya memandang dia penasaran.


"Dia mau nikah sama gua, tapi maknya enggak setuju. Dia sampe mabuk," lanjut Yesha, perempuan itu menghela napasnya gusar.


"Itu tandanya dia serius sama lo," ucap Alika yang diangguki oleh Nata.


Yesha diam, dirinya merana. Dirinya tak tahu harus mengambil sikap seperti apa, yang dia hadapi adalah Ibu dari Leon bukan lagi sahabatnya. Melihat Leon yang menangis karenanya membuat keraguan di hati perempuan itu hilang. Dia yakin bahwa Leon benar-benar tulus kepadanya.


"Lo harus berjuang sama Leon sih," usul Alika.


"Bener, berdua ya jangan sendiri. Kamu harus temenin Kak Leon juga, kalau Kak Leon sendiri jelas dia akan gagal. Tenang, kita selalu sama kamu," imbuh Nata.


Yesha tersenyum tipis sembari mengangguk. "Pernikahan kamu sama Om Darren gimana?"


"Baik, tapi kemarin ada aroma parfum cowok di mejanya." Nata menghembuskan napasnya kasar, raut wajahnya berubah menjadi sendu.


Brak!


"Malu-maluin mulu lo," kesal Yesha.


"Suka-suka gua, ini resto gua," sungut Alika dengan wajah angkuhnya.


"Konsepnya enggak gitu, Alika!" decak Nata memandang Alika malas.


Alika terkekeh pelan. "Sampe Darren mendua, gua potong adeknya terus gua rebus, gua bakar. Gua buatin sambel matah," cecar Alika dengan seringaian.


Nata dan Yesha bergidik ngeri melihat senyum yang terpampang indah di wajah ayu Alika. Keduanya menatap Alika takut-takut, mereka sangat tahu Alika tak pernah main-main dengan ucapannya.


"Kamu mau makan anu Mas Darren, dong?" tanya Nata polos.


"Enggak, mau gua jual jadi menu spesial selama sehari."


***


"Kay! Ikannya ndak napas."

__ADS_1


Teriakan Ara membuat Aya dengan cepat melangkah ke aquarium milik Krishna berada. Mata gadis kecil itu membuat sempurna saat melihat ikan-ikan sang Ayah yang tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan. Aya memandang sang Adik dengan tatapan horor, dia yakin ini semua ulah Ara.


"Kamu apain ikan Daddy, Ara?" tanya Aya dengan intonasi lembut.


"Tadi Ala liat ikan Daddy mangap-mangap. Ya udah Ala kelualin dari aqualium pakai salingan itu. Terus Ala taruh di lantai, ikanna malah pingcan," jelas Ara dengan wajah polos.


Aya memijit keningnya yang berdenyut. Dia memandang Ara tak percaya, ada saja tingkah kembarannya yang berhasil menguji kesabaran dirinya sendiri. Aya memandang ikan-ikan itu yang terkapar di lantai, gadis kecil itu yakin bahwa ikan sang Ayah telah menghembuskan napasnya.


"Ara, dengerin aku. Ikan hidupnya emang di air, dia enggak akan mati," jelas Aya gemas.


Ara memandang Aya penuh tanya. "Telus kok mangap-mangap?"


"Iya, itu ikannya lagi napas ceritanya," sahut Aya malas.


Gadis kecil itu tak paham dengan IQ kembarannya sendiri, terlalu pintar. Aya sering kali dibuat memijit kening karena ulah Ara, akhirnya memijit kening sudah menjadi kebiasaan gadis jenius itu. Ara yang terlalu polos dan Aya yang terlalu jenius, perpaduan yang tepat.


"Belalti Ala juga bisa hidup di ail." Ara menganggukan-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Serah kamu, Ra!"


***


Laras memandang televisi di hadapannya dengan tatapan tenang. Perempuan itu tengah menonton kartun kembar botak yang telah menjadi favoritnya sejak lama. Meski akan menjadi seorang Ibu, kartun itu tetap menjadi favorit Laras. Daripada harus menonton sinetron, Laras memilih menonton kartun asal negara Malaysia itu.


"Ya ampun, Kak. Udah mau jadi mak-mak masih aja nonton kartun," celetuk sebuah suara membuat atensi Laras teralih.


Laras memandang perempuan itu dengan senyum manisnya. "Sini, Dek. Temenin Kakak nonton," panggil Laras.


Perempuan itu mendekat ke arah Laras dengan senyuman manisnya. Dia mendudukkan dirinya di sebelah Laras, tangannya terulur mengelus perut buncit milik Laras.


"Ponakan Aunty cepet lahir, ya," ucapnya dengan tulus.


Laras yang melihat itu tersenyum dengan manisnya. Hidupnya benar-benar berubah sekarang, kini dia hidup jauh lebih baik. Vero yang sangat memperhatikannya dan Adik Ipar yang baru kembali dari London juga sangat peduli dengannya. Laras benar-benar bersyukur kepada pencipta.


"Kamu enggak sekolah, Dek?" tanya Laras.


Perempuan itu menggeleng. "Enggak, Kak. Dosen Vena lagi ada urusan."

__ADS_1


__ADS_2