
"Gimana sama tadi, hm? Capek banget ya?"
Seorang perempuan yang mendengarkan itu menganggukan kepalanya pelan. Raut wajahnya sangat jelas dia tengah kelelahan sekarang. Berulang kali dia memejamkan matanya, menahan kantuk yang melanda dirinya. Pria yang ada di hadapannya hanya terkekeh geli, merasa gemas dengan tingkah perempuan di hadapannya.
"Mau langsung pulang atau gimana?"
"Pulang aja," cetus perempuan itu dengan siara lesu.
Sepertinya, dia benar-benar kelelahan sekarang. Terbukti tubuhnya yang kian tak sanggup menahan berat badannya. Pria yang ada di hadapannya segera merengkuh pinggang ramping miliknya membuat jarak di antara mereka tak bersekat. Mata perempuan itu tiba-tiba saja terbuka saat merasakan jarak di antara keduanya tak sampai dua centimeter.
"Jauh, ih!" Dia merenggek sembari memukul dada bidang milik pria itu.
"Kamu kecapean, Sayang," lirih pria itu.
"Ish, Leon! Mau bakso," gumamnya.
Tanpa dijelaskan pun, kalian tahu siapa perempuan itu. Dia Yesha, entah bagaimana bisa perempuan dengan peringai dingin itu dibuat takluk. Namun, yang pasti dia terbiasa dengan kehadiran pria yang kini merengkuh pinggangnya dengan erat itu. Yesha awalnya memang risih, tetapi perlahan dia terbiasa dengan kehadiran Leon.
"Iya, udah, kita beli bakso dulu baru pulang ke rumah."
"Hm, Bakso aci, ya?" ujarnya seperti anak kecil.
"Anything for you, Baby."
...***...
Ara memandang kembarannya dengan bibir yang terus berceloteh. Sang Kakak berhasil membuatnya kesal, Aya tiba-tiba saja menolak untuk diajak pergi ke pantai. Apakah Ara kesal? Tentu, berlibur ke pantai adalah keinginannya sejak lama. Lantas sekarang Aya dengan sekali kedipan mata berhasil menghancurkan kebahagiaan miliknya.
Ara membanting mainan yang dirinya pegang. Perbuatannya itu berhasil mengundang atensi Aya yang tengah fokus membaca buku yang berada di tangannya. Aya memandang sang Adik dengan tajamnya, dirinya cukup terusik dengan kelakuan Ara. Sejujurnya, Ara takut dengan kembarannya itu. Namun, rasa amarahnya cukup menguasai dirinya sekarang.
__ADS_1
"Karena Kakak aku gak jadi ke pantai! Kakak seneng, 'kan sekarang?!" raung Ara.
Dia memejamkan matanya dengan erat. "Bisa gak usah teriak?" geram Aya dengan tangan terkepal.
Gadis cilik itu entah bagaimana bisa sejak kecil sudah pandai membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi hanya dengan tatapannya. Gadis kecil dengan perangai dingin itu seolah telah menunjukkan bakatnya sebagai pemimpin sejak kecil. Sikapnya benar-benar seperti sang Nenek saat muda dahulu.
Dari arah berlawanan, Anissa datang dengan dua gelas susu yang berada di tangannya. Wanita itu menghela napas melihat anaknya kembali beradu mulut. Ini bukan hal biasa lagi bagi dirinya, si kembar memang sering beradu mulut. Lantas tak lama kembali berbaikan. Perbedaan karakter mereka sering kali membuat Anissa dan Krishna lelah sendiri menghadapi keduanya.
"Udah ributnya?" ujar Anissa sembari meletakkan gelas berisi susu itu di atas meja yang ada di ruangan keluarga.
Ara yang melihat kedatangan Anissa segera berhambur ke dalam pelukan sang Ibu. Dia memandang sang Kakak tajam, tetapi tak setajam tatapan yang Aya layangkan kepada dirinya. Anissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah-udah, kalian itu kembar masa ribut, hm?" tegur Anissa.
"Ara minta maaf sama Kakak, ayo," pinta Anissa. "Kakak gak bakal marah kalau Adek gak ganggu, 'kan?" sambungnya sembari mengusap lembut surai Ara.
"Bukan karena Kakak, Sayang. Kakak ngasih tahu Daddy, kalau cuaca lagi buruk. Sebentar lagi bakal ada hujan sama petir. Yakin Ara mau ke pantai sekarang, Cantik?" papar Anissa.
Ara memandang sang Ibu dengan tatapan sendu. Gadis kecil itu berjalan menghampiri Aya yang tengah duduk sembari menghabiskan susunya. Dia mendudukkan dirinya di samping Aya, gadis kecil itu sedikit takut berbicara dengan sang Kakak.
"Maafin Ara," decitnya.
"Ya."
...***...
Darren membawa Cellyn dan Nata mengunjungi Toni di penjara. Bagaimanapun Toni harus tahu kabar bahwa dirinya akan menikah. Darren tak ingin menyembunyikan berita ini, dia mau seluruh dunia tahu bahwa sebentar lagi Nata akan resmi menjadi miliknya.
Di sisi lain, Nata tengah dilanda kegugupan. Dia takut Ayah dari mendiang Elena tak bisa menerima dirinya. Tidak ada orang tua yang mau anaknya diduakan ataupun posisinya diganti oleh seseorang. Bagaimanapun, Nata yakin keluarga mendiang Elena sangat sepantaran dengan keluarga Gautama.
__ADS_1
Cellyn yang sadar Nata tengah gugup, terkekeh pelan. "Mama tenang aja, ya. Kakek gak makan orang kok xixixi ...."
Nata menoleh ke samping lantas tersenyum tipis. Dia menghembuskan napasnya pelan, sedikit aneh Cellyn memanggilnya dengan sebutan 'Mama'. Bagaimanapun usia mereka terpaut tak begitu jauh. Dirinya juga belum terbiasa dengan panggilan itu.
Mereka kini tengah berada di ruang tunggu, ketiganya menanti kehadiran Toni. Berulang kali Nata menghembuskan napasnya kasar membuat Darren menatapnya dengan senyuman tulus. Dia sadar calon istrinya sejak dalam perjalanan ke mari tengah dilanda kegugupan yang luar biasa. Pria itu menggenggam tangan Nata seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Jangan takut ada saya di sini," bisik Darren membuat Nata tersenyum tipis.
"Kalian ...."
Ketiga orang berbeda usia itu segera mendongak. Mereka memandang sosok di hadapannya dengan tatapan berbeda-beda. Cellyn yang memandang sang Kakek dengan bahagia, Darren yang memandang Ayah dari mendiang istrinya dengan datar, dan Nata yang memandang Toni dengan ketakutan.
Sebenarnya, Toni sedikit kebingungan dengan kehadiran Darren dan Cellyn di hari yang tidak termasuk hari libur ini. Dia cukup hafal dengan kebiasaan keduanya yang mendatangi dirinya saat hari libur. Tak ingin membuang waktu Toni segera mendudukkan dirinya di hadapan ketiganya.
"Pa, kenalin ini Nata calon istri Darren."
Belum sempat Toni mengatur napasnya, dia dibuat terkejut dengan penuturan Darren. Cellyn yang melihat itu hanya bisa mencibir, dirinya tak habis pikir dengan kelakuan Darren. Sedangkan, Toni masih dalam keterkejutannya. Dia memandang Nata intens, ada perasaan sedih di hatinya saat Nata berhasil mengganti posisi sang Anak.
"Papa itu harusnya biarin Kakek atur napas dulu," cetus Cellyn.
"Maaf."
"Hallo, Om. Saya Nata, maaf kalau berita ini mengejutkan Om. Kehadiran saya ke sini hanya mau meminta restu dari Om, bagaimanapun Om juga orangtua Pak Darren," ujar Nata berusaha tenang.
Darren dan Cellyn tersenyum tipis melihat pembawaan Nata. Mereka secara tak sengaja dibuat sadar dengan tingkah anggun Nata setiap saat, wanita itu seolah terbiasa berperilaku layaknya putri dari kerajaan. Belum lagi, tatapan menenangkan milik wanita itu.
"Huft ... Jujur saya sedih saat tahu ini, tapi ini keputusan kalian. Semoga kalian bahagia, Cellyn dijaga dengan baik. Maaf jika saya tak bisa menghadiri pernikahan kalian," papar Toni berusaha tenang.
"Kakek tenang aja posisi Mama gak akan terganti di hidup aku dan Papa."
__ADS_1