
Devan menjambak rambutnya dengan kasarnya. Pria itu menyesal telah lepas kendali, dia memiliki masalah yang cukup rumit pada pekerjaannya, hal itu jelas membuat emosinya mudah terpancing. Andai saja Hima tahu di balik emosinya itu terselip masalah yang cukup besar. Perusahaan miliknya mengalami kerugian yang cukup besar, karena proyeknya gagal. Mungkin saja Hima akan sedikit memahami emosi Devan.
Devan menghembuskan napasnya kasar. Pria itu memejamkan matanya sembari bersandar pada kursi. Saat ini dirinya tengah menanti kehadiran para sahabatnya, mengingat yang tahu hal ini adalah sahabatnya. Mereka meminta untuk bertemu di sebuah restoran ternama kota Jakarta.
"Sorry buat lo nunggu lama," ucap Leon sembari mendudukkan dirinya di kursi sebelah Devan diikuti yang lain.
Devan hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak masalah, dia tahu sahabatnya itu cukup sibuk. Lagi pula Devan sangat berterima kasih pada sahabatnya itu, mereka masih berdiri di sisinya hingga detik ini. Mungkin, akan lebih berat lagi masalahnya jika mereka pergi meninggalkan Devan.
"Ini restoran tunangan Refan bukan, sih?" tanya Leon yang diangguki yang lain.
"Hm, kenapa mau makan gratis lo?" tanya Darren.
"Idih, kaga!" ketus Leon sembari melihat buku menu.
Mereka terkekeh melihat raut wajah kesal Leon, cukup menghibur mereka. Setelah memesan makanan untuk makan siang, mereia mulai memasang mimik wajah serius. Tak terkecuali, Leon. Pria itu sangat peka dalam membaca sebuah situasi. Devan berdeham singkat, pertanda dirinya akan memulai topik.
"Semalam gua ribut sama Hima dan Yana ngeliat kita ribut." Devan menghembuskan napasnya kasar saat melihat ekspresi kesal sahabatnya.
"Emosi gua lepas kendali, gua beneran bingung. Perusahaan gua terancam bangkrut," sambungnya dengan wajah gusar.
Sahabatnya saling menatap. Baru pertama kali Devan seceroboh ini hingga bisa ditipu oleh karyawannya sendiri. Mungkin karena masalah yang dirinya hadapi membuat fokus Devan terpecah belah, pria itu bahkan sering kali melewatkan jam makan dirinya.
"Kerugiannya berapa?" tanya Refan.
"Empat belas milyar."
...***...
Sekar tersenyum cukup ramah pada Nata. Niat awal perempuan itu datang ke rumah Darren adalah untuk membawakan kue kesukaan Alisha yang dirinya buat. Namun, dirinya justru melihat Alisha dan Nata tertawa dengan bahagianya sembari menonton televisi. Hati perempuan itu rasanya tercubit, dia tidak tahu siapa Nata dan Darren akan menikah, yang dia tahu Nata masih berstatus Sekretaris Darren.
"Kue kamu selalu enak." Alisha tersenyum sembari mengunyah kue tersebut.
__ADS_1
"Nata, ayo dicoba," pinta Alisha.
Nata hanya mengangguk lantas mengikuti ucapan calon Ibu mertuanya itu. Dia mengangguk setuju, rasa kue buatan Sekar memang sangat lezat. Pantas saja Alisha sangat menyukai kue buatan Sekar, begitu juga dengan Darren.
"Enak. Mbak Sekar pinter masak ya?" tanya Nata.
Sekar tersenyum. "Enggak juga, Nat. Aku cuman bisa buat kue," sahutnya.
Alisha yang mendengar itu menggelengkan kepalanya heran. Dia sangat tahu perempuan dengan profesi seorang Psikolog itu sangat pandai dalam urusan dapur. Sering kali Sekar membuatkan keluarganya makanan yang akhirnya menjadi favorit keluarga Gautama. Cellyn bahkan sangat berharap jika kelak Sekar yang akan menjadi Ibu sambungnya, tetapi takdir justru berbicara lain.
Mereka terus mencolotehkan banyak hal, canda tawa saling dilemparkan. Tanpa sadar ada hati yang tengah merana di balik tawa. Sekar, perempuan itu tidak baik-baik saja. Dirinya dibuat penasaran dengan kedekatan Alisha dan Nata.
"Eh, ya, pasti Darren belum bilang kamu, 'kan? Dua hari lagi dia sama Nata bakal nikah. Kamu datang ya?" celetuk Alisha membuat Sekar terdiam.
"Me—menikah?"
...***...
Di sisi lain, ada dua orang pasangan yang terus berdebat. Sialnya, Sekar harus ada di antara keduanya. Ingin menjauh pun rasanya enggan, dia justru terpaku di tempatnya duduk. Walau dirinya harus menahan sesak yang bersarang di hatinya.
"Tapi, aku pengen kamu peluk dia," rengek wanita itu sembari menunjuk Sekar.
Sekar yang saat itu tengah meminum minumannya, jelas saja dibuat terkejut. Terbukti perempuan itu langsung kesedak. Sontak saja Sekar menjauhkan gelas yang ada di tangannya. Perempuan itu menatap tak percaya dua pasangan di hadapannya.
"Uhuk ... Uhuk ... Apa-apaan, sih? Aku daritadi diem, jangan dibawa-bawa, dong!" ketus Sekar.
Wanita yang mendengar nada ketus yang terlontar dari mulut Sekar sontak saja terkejut. Perlahan air mata mengenangi matanya, isak demi isak perlahan lolos begitu saja. Pria yang ada disampingnya jelas saja terkejut, dia segera menoleh ke samping.
Di sisi lain, Sekar menghembuskan napasnya perlahan. Dia yakin akan ada keributan setelah ini, seharusnya dia pergi sedari tadi. Perempuan itu memejamkan matanya erat, bersiap menerima amukan. Berulang kali dirinya menghela napasnya secara perlahan, ada sedikit ketakutan dalam hatinya.
Pria itu memeluk wanitanya dengan erat, mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Dia tengah berusaha menenangkan wanita yang ada di pelukannya saat ini. Namun, raut wajahnya tak bisa berbohong, dia tengah marah sekarang. Saat dirasa wanitanya telah tenang, pria itu melepaskan pelukannya. Dia memandang Sekar dengan tajam.
__ADS_1
"Lo harusnya tahu kalau Nata lagi hamil, susahnya lo nurutin apa? Cuman meluk doang lagian!" sentak Darren.
Sekar terdiam dengan mata yang masih terpejam. Perempuan itu tersenyum miris, Darren tak akan pernah tahu rasa sakit yang dirinya rasakan. Seharusnya dia sadar akan hal itu, anggap saja Sekar lebay. Namun, rasa sakitnya tak akan bisa orang lain rasakan. Kata 'cuman meluk' terlalu sepele, tetapi tidak untuk dirinya.
"Maaf." Sekar menundukkan kepalanya dalam, dia berusaha menahan sesuatu yang ingin meluncur bebas di sana.
"Lo itu Dokter, harusnya lo paham Ibu hamil itu sensitif!" bentak Darren lagi.
Sekar terkekeh sinis, dia melirik Nata yang terdiam dengan menundukkan kepalanya. Dia sempat berpikir, apa perempuan itu tak mau membuka suara? Karena dirinya penyebab keributan antara dia dan Darren, tetapi Nata justru diam saja.
"Kalau Anda lupa, saya Psikolog bukan Dokter Kandungan," balas Sekar dengan tatapan tajamnya.
"Mas Darren ...," lirih Nata membuat Sekar tersenyum culas.
"Baru bisa ngomong lo?" sindir Sekar.
Plak!
Tamparan itu menggema di ruangan minimalis milik Darren. Nata yang menundukkan kepalanya sontak terkejut, sedangkan Sekar memandang kosong ke depan sembari memegang wajahnya. Rasa sakit itu tak sebanding dengan luka hatinya sekarang. Dia memandang Nata dengan sinis.
"Apa Anda puas sekarang, Nona Natalia Defana? Pertama, Anda merebut Darren dari saya. Kedua, Anda menciptakan keributan antara saya dan Darren. Ketiga, Anda membuat calon suami Anda menampar saya. Selamat, Anda hebat," cetus Sekar sembari menepuk tangannya.
"Ma—maaf, bukan maksud—"
"Stop! Selamat, kalian menghancurkan saya dengan hebatnya."
Darren memandang kepergian Sekar dengan tatapan menyesal. Dirinya menjambak rambutnya dengan kuat, sedangkan Nata hanya memandangnya sendu.
"Arggghhh ... Sialan!"
Apa aku memang pembawa masalah?
__ADS_1