
Refan menghela napasnya kasar, Alika mengacuhkan dirinya sedari tadi. Pria itu telah mencoba untuk meminta maaf pada tunangannya, tetapi Alika tetaplah Alika, perempuan keras kepala. Refan dibuat kebingungan, dia tak tahu lagi harus seperti apa membujuk tunangannya itu.
Dirinya mulai dibuat terbiasa dengan kecerewetan Alika, dia juga mulai terbiasa dengan kehadiran Alika. Percaya atau tidak, Alika telah memiliki tempat spesial di hatinya. Namun, saat ini perempuan itu justru tengah merajuk. Ayolah, Refan dibuat pusing dengan tingkah Alika.
Sedangkan, Alika sendiri masih saja mengacuhkan Refan dengan terfokus pada lembaran kertas di hadapannya. Alika marah dengan sikap Refan semalam tentunya, dirinya layaknya orang bodoh di acara itu. Namun, Refan justru asik dengan perempuan lain. Bukannya cemburu, Alika kesal dengan pria itu.
"Lik, maafin saya."
Kembali, Alika kembali diam. Perempuan itu hanya melirik tak minat Refan. Saat ini, tumpukan berkas di atas mejanya seolah lebih penting. Apa dirinya kejam? Tentu saja, sudah empat jam Refan berada di ruangannya. Pria itu bahkan menunda pekerjaannya hanya untuk meminta maaf pada Alika.
"Aaaaaaa!"
Tiba-tiba saja perempuan itu terpekik. Alika memandangi Refan tajam yang justru dibalas dengan tatapan tak kalah tajam oleh Refan. Tubuh Alika dengan mudahnya Refan gendong tanpa sepatah kata, Refan membawa Alika menuju sofa yang berada di ruangan itu. Dirinya mendudukkan dirinya dengan Alika yang ada di pangkuannya.
Alika memandang sinis tunangannya itu. "Lepas!"
"Coba aja kalau bisa," cetus Refan datar.
Alika menghembuskan napasnya, perempuan itu baru saja ingin turun dari pangkuan Refan, tetapi pria itu sudah memeluk erat pinggang Alika. Dirinya bahkan terkekeh pelan saat melihat raut kesal Alika, Refan mendekatkan dirinya ke wajah Alika. Lebih tepatnya pada bibir Alika yang terbuka karena terkejut dengan tindakan Refan.
Cup!
Mata perempuan itu membulat, perutnya terasa tergelitik, dan jantungnya bertalu dengan kencang. Dirinya hanya terdiam saat Refan asik bermain dengan mulutnya, Alika tak tahu harus merespons seperti apa tindakan Refan. Pria itu baru melepaskan ciuman mereka saat dirasa pasokan udara mulai menipis, dia langsung memeluk Alika dengan erat.
"Udah ya marahnya?" tanya Refan lembut.
"Iya," sahut Alika dengan pelan.
Refan melepaskan pelukan mereka. "Ya, udah kita makan siang, yuk. Ini udah telat sepuluh menit," ajak Refan.
"Malas."
__ADS_1
"Kenapa, hm?"
"Mager jalan," sahut Alika dengan cengiran.
Refan menggelengkan kepalanya heran. Tanpa aba-aba pria itu membawa tunangannya ke dalam gendongannya membuat perempuan itu kembali terpekik. Secara reflek Alika mengalungkan tangannya di leher Refan, dirinya takut terjatuh. Selain itu, dia juga menyembunyikan wajahnya di dada bidang Refan.
"Ya udah kalau gitu kamu digendong aja."
...***...
Sekar memandang Leon yang kini berdiri di hadapannya. Semalam, Leon menelpon dirinya dan meminta ketemuan di sebuah kafe, mau tidak mau Sekar harus menuruti itu. Di sinilah mereka sekarang, di sebuah kafe kekinian anak muda.
Sekar memandang Leon dengan tatapan bertanya. Tak biasanya pria itu mengajaknya untuk ketemuan seperti ini, biasanya Refan pasti akan mengikuti pria itu. Perempuan itu justru dibuat kebingungan dengan perempuan yang ada di sebelah Leon.
"Kenapa?" tanya Sekar sembari mengaduk minumannya.
"Janji lu gak akan sedih?" tanya Leon.
"Darren bakal nikah, gua gak tahu sama siapa dan Darren cuman bilang mau nikah semalam," beber Leon.
"Ma—maksud kamu apa?" tanya Sekar dengan suara terbata.
Perempuan itu tentu saja dibuat terkejut dengan berita pernikahan Darren. Setahu dirinya Darren juga tak tengah dengan perempuan mana pun, tetapi dirinya justru telah menerima kabar pernikahan Darren.
"Kamu gak bercanda, 'kan?" tanya Sekar.
"Enggak, buat apa?"
"Gua duluan ya. Gua harus anter Yesha pulang ke rumahnya."
Sekar membiarkan saja kepergian Leon dan Yesha. Dirinya hanya terdiam dengan tatapan kosong. Perlahan, tetapi pasti air matanya akhirnya jatuh juga. Baru semalam dirinya ingin menemui Darren, tetapi dirinya justru mendapatkan fakta mengejutkan.
__ADS_1
"Apa sesakit ini mencintai kamu?
Sekar memejamkan matanya, perempuan itu mencoba menghalau air matanya agar tak terus keluar. Hati perempuan itu sesak rasanya, dia benar-benar dibuat terkejut dengan berita pernikahan Darren. Dirinya juga harus menghadapi kenyataan, Darren tidak akan pernah jatuh hati padanya.
Dia menghela napasnya kasar. Mau tak mau Sekar harus menerima fakta ini, dia tak mungkin terus mengharapkan Darren. Sampai kapan pun, Darren tetap akan menjadi sahabatnya bukan kekasihnya. Dia harus sadar akan hal itu, Sekar tak boleh terus berharap pada Darren.
"Aku mundur, Ren."
...***...
Sebulan telah berlalu sejak kejadian di mana Toni menculik Cellyn. Bicara tentang Toni, pria itu kini mendekap di penjara karena kasus pembunuhan berencana. Pria itu benar-benar menyesali perbuatannya, andai saja dirinya tidak egois mungkin keluarganya akan bahagia sekarang.
Toni memandangi wajah Cellyn yang sangat mirip dengan Elena. Tatapan pria itu bahkan tak bisa lepas dari paras cantik Cellyn. Dirinya masih tak percaya, putrinya sudah pergi meninggalkan dunia. Dia tahu itu, tetapi rasa sakitnya justru baru dirinya rasakan.
Hari ini, Cellyn memutuskan untuk menjenguk sang Kakek di penjara. Seperti biasa, dirinya datang seorang diri mengingat keluarganya tergolong super sibuk. Apa Cellyn sudah memaafkan Toni? Jawabannya, iya. Dirinya tak bisa terus memandang kebencian pada sang Kakek, baginya itu hanya cerita masa lalu yang harus dirinya jadikan pelajaran.
"Kakek kenapa?" tanyanya dengan lembut.
Toni menghapus air matanya dengan lembut, dirinya tersenyum manis. "Enggak papa, Sayang. Kamu kenapa enggak benci Kakek, hm?"
"Untuk apa? Aku bahkan selalu mencari kalian, aku mau mendapatkan kasih sayang dari kalian. Aku tahu perbuatan Kakek gak bisa dibenarkan, tapi dengan Kakek yang mau berubah jadi lebih baik itu udah lebih dari cukup," jelas Cellyn.
Toni memeluk cucunya dengan erat. "Maaf, ya."
Cellyn tersenyum manis, dirinya membalas pelukan sang Kakek tak kalah erat. Dia bahagia akhirnya bisa merasakan pelukan dari Ayah ibunya itu. Keinginan yang telah lama dirinya pendam akhirnya dapat dia rasakan saat ini.
"Cellyn seneng bisa dipeluk sama Kakek," akunya.
"Kakek juga seneng. Andai dulu Kakek gak egois, mungkin kita bakal deket," cetus Toni dengan pelan.
Andai saja dulu dia tak egois, mungkin dia akan dekat dengan Cucu semata wayangnya itu. Dirinya juga pasti bisa menghabiskan masa tuanya dengan cucunya bukan mendekam di penjaran seperti ini.
__ADS_1
"Cellyn tunggu Kakek keluar dari sini, ya."