
Alika dan Yesha tengah memandang tiga pria di hadapan mereka dengan malas, lebih tepatnya ke arah satu pria yang tengah tersenyum senang ke arah keduanya. Yesha geram dengan kelakuan orang itu, tetapi dirinya hanya mampu terdiam. Sedangkan orang itu terus saja memamerkan gigi putihnya.
Gigi tu orang kaga kering apa, batin Alika.
Alika menoleh pada Yesha, perempuan itu memandang Yesha seolah memberikan kode untuk pergi dari kafe tersebut. Yesha yang paham maksud Alika segera mendekatkan dirinya ke telinga Alika. Perempuan itu sengaja berbicara dengan berbisik.
"Nata gimana? Dia masih di kamar mandi, 'kan," bisik Yesha.
"Kita tunggu di mobil aja."
Ketiga pria itu memandang perempuan di hadapan mereka dengan heran. Mereka dibuat penasaran dengan apa yang keduanya bicarakan. Tak lama, muncul seseorang dari arah kamar mandi. Alika dan Yesha saling pandang saat melihat orang itu.
Keduanya terus saja saling pandang seolah berbicara melalui mata. Alika berdehem dengan pelan sebagai kode agar mereka memutuskan kontak mata mereka. Tatapan mata Alika teralih pada pria yang baru saja tiba itu.
"Itu, 'kan bos si Nata," gumamnya.
Iya, dia Darren Aryan Gautama. Pria itu saat ini tengah berada di salah satu kafe untuk makan malam bersama sahabatnya. Mereka sudah lama tidak bertemu. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk melakukan makan malam bersama.
Yesha yang sedari tadi diam akhirnya merasa risih karena tatapan yang dilayangkan Leon. Perempuan itu menatap Leon dengan tajam seolah memberikan peringatan untuk Leon agar tak terus memperhatikannya. Namun, yang namanya Leon tidak akan peduli itu sampai perempuan yang dia incar berhasil dia dapatkan.
Namun, sepertinya akan sangat sulit untuk mendapatkan hati seorang Yesha. Mengingat perempuan itu memang susah untuk diluluhkan. Dia terlalu fokus mengejar karirnya sebagai pengacara dan fokus untuk membahagiakan sang Ibu.
Devan yang sedari tadi sadar jika sahabatnya itu tengah menatap perempuan yang ada di hadapannya pun ikut menatap Yesha. Alis Devan menyatu saat melihat raut wajah Yesha. Dirinya sangat yakin jika Yesha bukanlah orang yang mudah untuk menaruh hati. Leon itu tampan bahkan sangat, setiap perempuan yang melihat dirinya pasti akan jatuh hati. Namun, justru tak berlaku untuk sosok Yesha.
"Maaf lama."
Celetukan itu membuat mereka menoleh ke kanan secara bersamaan. Yesha dan Alika lantas meminta Nata untuk mendekati mereka dengan gerakan tangan. Nata sedikit kebingungan saat melihat sahabatnya tengah berkumpul dengan pria asing, terkecuali bosnya sendiri.
"Loh Pak Darren?" ucap Nata sedikit terkejut.
Darren tak menyahuti dirinya. Pria itu hanya memandang Nata dengan tatapan menilai. Malam ini, Nata tampak cantik dengan gaun berwarna putih polos miliknya itu. Tidak hanya itu, rambut yang digerai menambah kesan dewasa pada diri Nata.
"Eh Neng Cantik!" Leon menyentuh lengan Yesha dengan lancang.
Yesha yang memang tengah memperhatikan Alika yang tengah mengocehi Nata jelas terkejut. Dia memandang Leon dengan tajam. Perempuan itu kurang suka dengan tindakan lancang Leon, dirinya merasa dilecehkan oleh pria itu.
__ADS_1
"Don't touch me!" desis Yesha.
Alika menoleh lantas memandang Leon tajam. "Napa sih? Lu jadi om-om genit banget, heran."
Sahabat-sahabat dari Leon menaikkan satu alis mereka saat Alika berujar demikian. Mereka dibuat penasaran oleh tingkah Alika dan Yesha yang terkesan acuh. Walau sebenarnya, Alika mati-matian untuk tak kegirangan saat melihat paras tampan Refan dan Devan.
"Pul—" Ucapan Yesha menggantung begitu saja, karena Leon yang tiba-tiba membisikkan sesuatu padanya.
"Lain kali jangan pakai baju terbuka keluar rumah, Sayang. Apalagi sampai memperlihatkan perutmu itu," desis Leon.
Yesha sempat mematung, dirinya terkejut saat merasakan hembusan nafas Leon. Perempuan itu menahan nafasnya, tak ada satu pun yang berani bertindak demikian padanya dan perbuatan Leon jelas membuatnya terkejut. Sedangkan, Leon terkekeh dengan pelan saat melihat raut wajah Yesha.
Iya, perempuan itu saat ini tengah menggunakan croptop yang berwarna coklat dan dipadukan dengan celana kulot berwarna senada. Dirinya tampak cantik dengan rambut dikuncir kuda itu. Belum lagi leher jenjangnya yang terekpos menambah kesan manis dan sexy pada dirinya.
"Kita pulang, yuk? Ini udah jam sembilan malam," cetus Nata membuat sahabatnya menatap dirinya.
"Iya."
"Pak, saya duluan ya. Bapak jangan pulang kelarutan apalagi sampai begadang. Kasian tubuh Bapak."
"Pulang," celetuk Darren.
"Tumben cepet," kata Leon.
Devan menyeringai. Ucapannya benar bukan? Tanpa sadar, Darren selalu menuruti apa yang keluar dari mulut sekretarisnya itu. Devan pun yakin Darren merasa sedikit tertarik dengan Nata.
"Yang disuruh sama ayangnya mah langsung nurut," sindir Devan membuat Darren mendelik.
"Ayang?" tanya Refan yang sedari tadi terdiam.
Devan mengangguk pasti. "Iya si Sekretaris si duda."
"Mereka pacaran?!"
***
__ADS_1
Saat ini, Alika tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di sampingnya ada Nata yang tengah memperhatikan jalanan. Sepertinya menatap padatnya kota Jakarta saat di dalam mobil sudah menjadi hobi dari Nata. Di kursi belakang ada Yesha yang tengah memejamkan matanya erat. Dirinya merasa sangat lelah dengan kegiatannya hari ini.
Alika melirik Nata sekilas. "Perhatian banget sama Pak bos, Nat," celetuk Alika dengan pandangan fokus ke depan.
"Ha? Apasih?! Biasanya aja tau." Dirinya menatap Alika dengan kesal.
Alika terkekeh saat melihat jawaban dari Nata. Sudah jelas Nata menaruh perhatian lebih pada sosok yang menjadi atasannya itu, tetapi perempuan itu justru mengelaknya. Nata mendengus kesal saat mendengar kekehan yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Salah tingkah, Nat?" celetuk Yesha sembari memejamkan matanya.
Nata menjadi gugup sendiri mendengar ucapan dari Yesha. "Eng—enggak! Kata siapa?" ujarnya tak santai.
Alika yang mendengar itu lantas menoleh, dia terbahak saat melihat wajah Nata memerah. Tawanya bahkan semakin kencang setiap dirinya melihat wajah Nata. Sedangkan, Yesha hanya terkekeh dengan pelan. Nata yang merasa dipojokkan oleh sahabatnya hanya bisa mendengus kesal.
"Gak usah sok ketawa deh kamu, Sha! Siapa tuh cowok tadi? Apa yang dia bisikin ke kamu? Kamu punya gebetan gak bilang aku sama Alika?!" cerca Nata kesal.
Yesha yang mendengar itu lantas membuka matanya. Dia menghela nafasnya kasar. Perempuan itu mendengus saat mendengar tawa dari Alika. Dia tahu betul bahwa Alika tengah menertawakan dirinya.
"Gak usah ketawa, Kecap!" cetus Yesha.
"Ih! Nama gua Malika."
"Eh! Alika bukan Malika!" lanjutnya dengan raut wajah bingung.
"Alika kayaknya lagi butuh belaian," ujar Nata.
"Belaian suami orang," gurau Alika.
"Gila!" cetus Yesha.
Dia menggeleng. "Jawab, Sha. Bukan ngeladenin Alika yang gila," sentak Nata kesal membuat Alika mendengus kesal.
"Bukan siapa-siapa. Dia aja yang sok kenal, najis banget pacaran sama kail ikan pancing. Gak usah kepo."
Alika dan Nata sama-sama menghela nafas mereka kasar. Keduanya dibuat kesal oleh jawaban singkat yang Yesha berikan. Namun, bagaimana lagi itu sudah menjadi tabiat dari Yesha sendiri.
__ADS_1
"Jatuh cinta mampus!"