Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Masa Lalu Nata


__ADS_3

Nata menghela napasnya kasar saat dirinya tengah berada di hadapan sebuah gerbang megah. Wanita itu menundukan kepalanya, dia mengusap perutnya dengan lembut. Di sampingnya ada Darren yang tengah merangkul bahunya. Setidaknya, sedikit ketakutan itu teratasi berkat Darren.


Tak berselang lama, seorang penjaga menghampiri mereka. Penjaga itu menatap keduanya dengan heran, bagaimana tidak dia merasa asing dengan wajah dua manusia berbeda jenis kelamin itu. Namun, setelah diamati dengan teliti, penjaga itu merasa tak asing dengan wanita yang berada di sebelah pria itu.


Sedangkan, Darren tengah berperang dengan pikirannya. Dia tak tahu mengapa calon istrinya itu membawanya ke sebuah rumah megah, bahkan rumah itu lebih pantas dikatakan sebagai rumah. Darren bahkan dibuat tercenggang, kediaman Gautama bahkan tak semegah ini. Dia penasaran dengan orang terkaya selain dirinya maupun sahabatnya yang lain.


"Maaf, kalian mencari siapa Tuan dan Nona?" tanya penjaga itu dengan ramah.


"Tuan dan Nyonya Triwiya, ada?" sahut Nata dengan nada dingin.


Lagi dan lagi, itu membuat Darren terperangah. Triwiya? Aku baru tahu ada keluarga ber-marga itu, batin Darren.


"Apakah Anda sudah membuat janji?"


"Apa seorang pewaris tunggal keluarga Triwiya harus membuat janji dulu?" tanya Nata dengan tatapan sinisnya.


Penjaga itu dibuat terkejut oleh pernyataan dari Nata, sedangkan Darren semakin dibuat tak mengerti dengan apa yang terjadi. Penjaga itu dengan cepat membukakan pintu gerbang agar keduanya bisa masuk ke dalam. Dia bahkan mengantarkan Nata dan Darren menuju tempat keluarga Triwiya berada.


"Sayang, bisa kamu jelasin semuanya?" tanya Darren.


Nata memasang senyum manisnya, dia menoleh pada Darren. "Nanti juga kamu tahu."


Darren yang mendengar itu hanya menghembuskan napasnya kasar. Sejak kemarin dirinya dibuat penasaran oleh apa yang terjadi, orang-orang di sekitarnya hanya menutup mulut untuk itu. Mereka bahkan tak ingin memberi tahu sedikit saja.


Setibanya mereka di dalam, dapat mereka lihat dua orang pasangan paruh baya tengah menikmati secangkir coklat panas di halaman belakang. Mereka nampak anggun dan elegan walau sekadar meminum coklat panas saja. Nata menggenggam tangan besar milik Darren, membawa Darren menuju dua pasangan paruh baya itu.


"Permisi," ucap Nata membuat dua pasangan itu menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Kalian siapa?" tanya pria paruh baya itu dengan dingin.


"Natalia Defana, ingat?" balas Nata.


Wanita paruh baya itu segera bangkit dari duduknya, berdiri sejajar dengan sang suami. Dia memandang sendu sosok Nata, pikirannya dihantui kilasan-kilasan tangis seorang gadis kecil. Perlahan dia mendekati Nata, meninggalkan sang suami yang masih terdiam dengan tubuh kakunya.


Dia meraba wajah Nata, matanya berkaca-kaca. "Li—lia? Ii—ini beneran kamu, Sayang?" tanya wanita paruh baya itu.


Nata terdiam, begitu juga dengan Darren. Pria itu bahkan semakin tak paham dengan apa yang terjadi.


"Iya," balas Nata sekenanya.


"Maaf, bisakah kita duduk terlebih dulu? Masalahnya calon istri saya tengah mengandung saat ini," celetuk Darren membuat Nata mendelik kesal.


"Ha—hamil? Ah, oke, silakan duduk," ucap wanita itu paruh baya itu.


Nata menghela napasnya kasar ....


Flashback On ....


*Sebuah keluarga nampak bahagia 17 tahun silam. Tawa mewarnai keluarga tersebut, mereka merupakan keluarga harmonis yang cukup dipandang baik di masyrakat luas. Mereka bukan keluarga sembarang, darah bangsawan mengalir di tubuh mereka. Hal itu, jelas menunjukkan gaya hidup mereka yang sangat berbeda jauh dengan orang kalangan atas lainnya. Tak ada yang tahu apa marga mereka, mereka dengan pandainya menyembunyikan silsilah keluarga mereka.


Triwiya, sebuah marga yang berasal dari keluarga bangsawan Mesir dahulu. Marga yang bahkan tidak ada dalam catatan sejarah, bukankah sangat hebat leluhur mereka menyembunyikan itu semua? Keturunan ketujuh jatuh pada seorang gadis cilik dengan mata indah. Untuk pertama kalinya, keluarga itu mendapatkan seorang anak perempuan, jelas itu suatu keberuntungan.


Keturunan mereka saat ini menetap di Indonesia, mereka memilih hidup dengan menjalankan bisnis yang bahkan berkembang cukup pesat. Menjadi orang terkaya dengan nama yang tidak diketahui, lagi, mereka menyembunyikan identitasnya. Dalam hal bisnis pun mereka tak ingin dunia tahu identitas mereka.


"Ma, Pa, Lina pengen lolipop," celetuk seorang gadis berusia 7 tahun.

__ADS_1


Saat ini mereka tengah berada di sebuah taman yang sangat jauh dari kerumunan. Keluarga itu sangat tidak suka hidup terekspos oleh banyak hal, mereka hanya ingin menikmati waktu mereka tanpa harus orang lain ketahui. Hidup dengan damai dan tenang.


"Tidak boleh, Lia. Kamu baru saja sembuh," ucap sang Ibu dengan nada lembut mencoba membuat sang putri memahami semuanya.


"Ma, aku mau lolipop!" rengek gadis yang dipanggil Lia itu.


"Sekali tidak tetap tidak, Natalia Defana Triwiya," celetuk sang Ayah dengan tatapan tajamnya.


Lia yang mendengar itu segera bangkit dari duduknya yang beralaskan sebuah tikar. Dia berlarian menuju sebuah jalan yang kondisinya sangat sepi saat itu. Orangtuanya membelalakan mata mereka melihat kelakuan sang anak yang sangat sulit untuk mengerti. Mereka dilanda cemas, takut jika tiba-tiba saja ada kendaraan yang melintas.


"Kamu tunggu di sini aja. Lia biar aku yang kejar," ucap seorang pria.


Pria itu mengejar sang putri, karena langkah kakinya yang besar jelas memudahkan dirinya untuk menyusul langkah kecil putrinya. Sebentar lagi putrinya akan melangkah menuju jalan raya, rasa takut pria itu menggebu. Meski jalanan itu sepi tak menutup kemungkinan tiba-tiba saja kendaraan akan melintas.


Pria itu tanpa sengaja melihat kendaraan melaju dengan kencangnya dari sebelah kiri. Dia menatap sang putri yang saat itu tengah berada di tengah jalan, putrinya itu tengah menolong sebuah burung yang tidak bisa terbang, karena sayapnya terluka. Pria itu segera berlari ke arah putrinya saat melihat mobil tersebut semakin dekat dengan putrinya, hingga ....


Bruk!


Suara itu menggema, membuat orang-orang berlarian menuju asal suara. Sedangkan, di sisi lain seorang wanita memandang hal itu dengan terkejut. Dia menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dilihat. Dia terus mematung, hingga suara sirine ambulans menyadarkannya.


Di sisi lain, seorang gadis tengah memandangi tubuh seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya. Tubuh gadis itu bergetar dengan hebatnya, jangan lupakan tangis pilu yang menyertainya. Orang-orang berhamburan melihat kejadian itu, mereka cukup prihatin dengan gadis kecil yang terus meraung.


"Ini semua salah kamu! Karena kamu suami saya harus koma!" berang wanita itu.


"Ta—tapi aku gak sengaja hiks ...," lirih gadis kecil itu.


Wanita itu menjambak rambut putrinya cukup kuat, dia bahkan tanpa belas kasihan dengan sengaja membenturkan kepala sang putri ke tembok. Kondisi koridor rumah sakit saat itu entah mengapa sangat sepi, membuatnya semakin lancar melakukan aksinya.

__ADS_1


"Pergi Anda dari sini dan jangan pernah mendatangkan keluarga Triwiya lagi*."


__ADS_2