
Alika memandangi Yanti tengah asyik menonton siaran televisi. Akhir pekan memang akan digunakan oleh semua orang untuk bersantai, tentunya itu semua dilakukan karena keinginan beristirahat. Selama lima hari orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka lantas pada akhir pekan mereka akan memilih bersantai.
Alika menghembuskan napasnya kasar saat melihat sang Ibu yang asyik menonton film di salah satu channel televisi. Alika ingin bermanja dengan Yanti, tetapi sang Ibu justru asyik menonton sinetron sekelas azab.
"Kamu kenapa?" tanya Yanti dengan pandangan fokus ke layar televisi dan tangan yang memasukkan kacang ke mulutnya.
"Mau manja-manjaan sama Bunda," sahut Alika dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.
Yanti menoleh ke samping, wanita paruh baya itu terkekeh geli melihat tingkah putri semata wayangnya. Diusapnya surai Alika dengan lembut lantas ditariknya Alika ke pelukannya. Alika tersenyum manis di balik pelukan sang Ibu, kehangatan yang selalu bisa menenangkan hatinya.
"Kata Refan, pernikahan kalian jadi minggu depan," ucap Yanti membuka percakapan di antara dirinya dan Alika.
Alika mendengus kesal. "Huh! You know, Mom?! Dia terlalu posesif."
Yanti tertawa pelan. Raut wajah putrinya sangatlah lucu sekarang. Yanti mengacak rambut Alika gemas membuat perempuan itu memberenggut dalam pelukannnya. Meski putrinya sudah beranjak dewasa, tetapi di mata Yanti, Alika tetaplah putri kecilnya.
"Wah, ada apa ini?" celetuk sebuah suara yang baru menuruni tangga.
Alika dan Yanti sontak saja menoleh ke belakang. Mereka berdua tersenyum manis menyambut kehadiran kepala keluarga itu, senyuman yang mampu menghangatkan hati seorang Wira Derata.
Wira berjalan menghampiri kedua perempuan yang berharga di hidupnya, pria itu mendudukkan dirinya di antara sang istri dan anak. Melihat hal itu, sontak saja Alika dan Yanti secara serempak memeluk tubuh Wira yang sudah tak sekekar dan sekokoh dulu. Namun, tubuh itu masih saja bisa menjadi pelindung untuk keluarganya.
"Yah, calon mantu Ayah majuin pernikahannya," adu Alika sembari membenamkan wajahnya di ketiak sang Ayah.
"Ayah tau, Refan udah bilang juga ke Ayah dan Bunda." Wira terkekeh kecil, dirinya sungguh terkejut saat Refan menemuinya di kantor dan mengatakan akan memajukan pernikahannya dengan Alika.
Pria paruh baya itu belum siap melepas putri semata wayangnya, tetapi itu harus tetap dia lakukan. Suatu saat dia memang akan melepas putrinya kepada lakil-laki lain yang akan menggantikan posisinya. Besar harapan Wira mengenai laki-laki yang akan menjadi pedamping putrinya, dia ingin laki-laki itu mampu menganyomi dan menjaga putrinya. Baik menjaga hati, fisik, kebahagiaan, dan kesejahteraan putrinya.
"Kalau kamu udah menjadi seorang istri, kamu harus bisa menjadi istri yang baik. Turuti perintah suami kamu, kamu udah bukan perempuan single lagi. Kamu udah punya tanggung jawab yang besar," tutur Yanti dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tapi, Alika enggak mau ninggalin kalian."
Pecah sudah bulir bening itu. Perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ayah. Isak tangisnya terdengar memilukan, Alika tak akan pernah siap meninggalkan kedua orangtuanya. Sosok yang selama ini menjadi sandaran dan penguat Alika.
Perempuan itu hanya takut Refan tak mampu menjaganya sebaik Wira dan Yanti menjaganya. Takut Refan tak akan sanggup dengan tingkah lakunya, dia takut Refan justru menemukan rumah lain yang lebih layak dihuni dan lebih nyaman.
"Kenapa nangis, cantiknya Ayah? Kalaupun kamu menikah nanti, kamu tetap putri Ayah dan Bunda. Jika kelak Refan menyakiti kamu, kembalilah ke sini, Sayang. Ini rumah kamu dan akan selamanya jadi rumah kamu," ucap Wira yang membuat tangis Alika semakin pecah.
"Sssttt . . . Udah mau jadi istri masa masih cenggeng?" sela Yanti.
"BUNDA!"
...***...
Akhir pekan selalu digunakan Nata untuk mengecek pakaian suaminya yang akan dibawanya ke laundry. Sebenarnya Nata ingin mencucinya sendiri, tetapi suami dan mertuanya melarang keras. Nata sangatlah bersyukur mendapati keluarga Gautama sebagai keluarganya. Dirinya diperlakukan layaknya putri bukan menantu.
Apa Mas Darren selingkuh? Pikiran wanita itu berkecamuk, segala hal buruk tiba-tiba saja menyapanya. Segala kemungkinan buruk itu menyesakkan hatinya. Nata tak akan siap jika harus mengetahui fakta bahwa suaminya bermain api di belakangnya.
"Sayang, kamu kenapa bengong di depan kamar mandi?"
Medengar suara itu, Nata segera menghapus air matanya. Dia dengan cepat membalikkan badannya menatap sang suami. Ditariknya sudut bibirnya membentuk senyuman yang amat manis. Sesak itu masih bertalu, tetapi dia mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Ha? Enggak papa, Mas," jawabnya dengan senyuman.
Darren melangkah mendekati Nata, setibanya di hadapan Nata, pria itu berjongkok. Diusapnya perut Nata dengan lembut lantas dikecupnya lama. Hangat, itulah yang hatinya rasakan. Berinteraksi dengan sang Anak selalu berhasil membuat dirinya tenang dan menghilangkan penatnya.
"Hallo, anak Papa. Sehat-sehat di dalam, ya. Jangan bandel apalagi nyusahin mamanya. Papa sayang kamu." Darren segera bangkit dari posisinya jongkoknya, lantas pria itu mengecup lembut bibir Nata.
"Love you, Baby."
__ADS_1
"Aku tau, Mas. Love you too."
Darren mengernyitkan keningnya saat melihat sang istri yang melamun. Ditangkupnya wajah Nata dan dikecupnya seluruh wajah istrinya. Dia menatap Nata dengan lembut, tatapan penuh cinta yang Devan berikan untuk istrinya.
"Sayangnya Mas kenapa, hm?"
"Enggak apa-apa, Mas. Cuman enggak sabar nunggu dedenya lahir," jawab Nata senyuman.
Semoga kamu enggak main api, Mas.
...***...
Seorang perempuan memandang seorang pria yang tengah berjalan seorang diri di sekitar taman. Wajah tampan, tubuh atletis, dan tatapan mata yang tajam. Tanpa sadar perempuan itu terpesona, matanya tak juga berkedip memandangi sang adam. Senyum malu-malu terbit dari wajahnya.
Setelah menghela napasnya kasar, perempuan itu berlari kecil menghampiri sosok laki-laki yang berhasil menarik perhatiannya. Dilihatnya laki-laki itu tengah mendudukkan dirinya di kursi taman, dia yakin laki-laki itu baru saja selesai melakukan olahraga pagi.
Dengan semangat dia menghampiri laki-laki itu, tanpa permisi dia duduk di sebelah laki-laki itu. Memandangi laki-laki itu dengan tatapan memuja.
"Hai, aku Via Tirava, panggil aja Via," ujarnya.
Pria itu menoleh ke samping, menatap sosok perempuan itu dengan tajam. Dinaikannya satu alisnya sebagai pertanda 'apa'. Wajah datar, tatapan tajam, paras rupawan. Pesona laki-laki itu berhasil membuat perempuan di hadapannya kembali terjerat pesonanya.
"Aku mau kenalan sama kamu," ucapnya.
"Maaf saya tidak ingin mengenal orang aneh seperti Anda."
Laki-laki itu bangkit dari duduknya meninggalkan perempuan itu seorang diri. Perempuan itu menggeram kesal, dia menatap laki-laki itu dengan tatapan marah.
"Gua akan buat lo jadi milik gua."
__ADS_1